
Merenung dibawah rembulan adalah cara yang terbaik daripada terus berkeliaran dengan membawa banyak pikiran dalam hidup ini. Jadi aku memilihnya untuk diam.
"Lihatlah Ani, pelawak kita benar-benar sedih. Biasanya dia yang membuat kita tertawa tapi sekarang dia yang bersedih" Ucap Ira dan Ani terus saja mengganggu pikiranku yang saat ini benar-benar tidak teratur.
"Hey kamu kenapa sih Key" Tangan Ani memukulku untuk menyadarkan dari sebuah lamunan.
"Tidak apa-apa, ayo masuk. Malam sudah semakin larut dan hembusan angin telah menyesap di tubuhku" Aku mengalihkan pembicaraan mereka dan kami bertiga langsung masuk ke dalam kamar tanpa ada perkataan apapun.
"Tidurlah, sudah malam. Besok kita akan liburan bukan? "
"Iya benar Key, aku akan berbelanja lagi"
"Aku juga Ani, akan membeli makanan yang banyak"
Dasar mereka berdua, disuruh tidur tapi terus mengoceh tidak ada habisnya. Manusia langka ini kadang membuatku kesal, kadang membuatku nyaman dan kadang juga membuatku tertawa. Tapi kali ini pikiranku mengarah pada ayah dan ibu.
"Andai saja kalian melihat kesuksesan Key, lalu kalian bersorak di bangku penonton sambil menonton Key. Tapi itu cuma hayalan Key saja karena kalian itu tidak nyata" Selembar foto bertiga masih aku bawa.
Kemanapun langkah ini pergi, aku akan merasa lengkap saat melihat selembar foto yang berisi ayah, ibu dan aku yang masih mungil tanpa dosa. Keluarga kecil yang bahagia, tapi di pikiranku bukan di alam nyata.
Biarlah terlelap damai dalam keinginan yang akan terwujud satu per satu. walau tanpa dukungan kedua orang tua kandungku akan akan selalu berjalan di manapun dan kapanpun hingga tanganku meraih bintang yang tinggi.
Pagi
"Wahhh asik banget nih, pagi-pagi sudah duduk sendiri di taman" Aku dan Ani menghampiri Bela yang duduk sendirian. Padahal masih pagi, dia bertemu dengan seseorang secara diam-diam.
"Eh Ira, sini" Teriakku memanggil Ira yang mengekori kami tapi dia terlambat karena harus ke kamar mandi terlebih dahulu.
"Eh tunggu dong, kalian pasti mau ngerumpi lagi ya" Kalau urusan ngerumpi, Ira dan Ani juaranya. Jadi aku mengajak mereka untuk ngerumpi.
"Kalian" Wajah Bela terkejut saat melihat kami bertiga berkumpul bersamanya di taman ini.
"Sepertinya kamu selesai bertemu seseorang" Ucapku sambil tersenyum kecil.
"Ahh, tidak. Kalian pasti salah lihat" Sahutnya padaku, dirinya mencoba tenang.
Bela mengatakan bahwa dia hanya ingin bersantai pagi ini menikmati suasana terakhir di penginapan ini. Karena sebentar lagi semua pemain akan pulang. Jadi Bela berkata ingin menyempatkan waktu sendirian.
"Hmmmm" Sahut kami bertiga secara bersamaan.
"Oh iya Bela, makasih ya karena pemberitahuan kamu kemarin kita semua tidak jadi memakan racun yang kamu katakan" Aku membuka pembicaraan saat Bela terlihat diam dan termenung.
Sebenarnya bukan racun, tapi lebih tepatnya obat terlarang yang akan dicampurkan pada makanan kami sebagai kunci awal timbulnya fitnah.
"Ahhh benar kataku kan, mereka jahat. Iya benar-benar jahat" Bela menanggapi pernyataan yang aku berikan. dia juga bercerita ingin menghajar orang yang akan melakukan hal itu.
Dia juga bercerita ingin memukuli dan sangat membenci orang yang ingin membuat tim kami didiskualifikasi karena fitnah kemarin tentang obat-obatan terlarang.
"Cantik juga permainanmu Bel, kamu pikir aku tidak tau semua itu" Ani tersenyum licik pada Bela yang sedang asik menceritakan kebohongannya tentang dia yang ingin menolong kami. Padahal dia sendiri yanga akan membunuh kemengan kami.
"Maksud kalian apa? " Wajahnya masih bertanya-tanya. Dengan polosnya menampakkan wajah kebingungan. Kami bertiga tersenyum menatap bela.
"Saat itu....... "
FLASHBACK ON
Latihan sore telah selesai. Semua pemain melakukan pembersihan diri dan makan malam di ruangannya masing-masing. Aku tidak sengaja melihat seseorang yang ingin menambahkan sesuatu di makanan kami yang sudah terbungkus rapat.
Aku segera berlari dan mengambil kayu untuk menghantam orang itu, dan pada akhirnya mereka berdua berlari karena ketakutan. Untung saja obat itu tidak sampai di tuangkan ke makanan.
Barang yang mereka bawa hampir sama dengan barang yang ingin di campurkan pada saat makan pagi. Untung saja Bela mengingatkan, jadinya aku sudah siap siaga untuk mengawasi. Begitu juga Ani dan Ira melakukan hal yang sama.
Aku sempat menghilangkan pikiran buruk pada Bela karena sesuatu yang dia bocorkan membuat kami semakin hati-hati untuk persiapan pertandingan besok.
Tapi seketika rasa simpati ku menghilang saat Ani melihat Bela meletakkan sesuatu di beberapa tas pemain tim kami. Dia meletakkan benda yang mirip dengan garam diletakkan di dalam plastik kecil.
__ADS_1
Untung saja Ani segera memberitahuku sebelum kami berangkat ke pertandingan. Aku membuangnya dengan cepat dan memeriksanya lagi takut ada hal lain yang diletakkan.
Ternyata benda itu adalah obat terlarang, yang digunakan sebagai jebakan agar kami didiskualifikasi. Bela yang bodoh, benda itu sudah aku hancurkan. Jadi polisi dan panitia tidak menemukan benda itu diamanapun.
FLASHBACK OFF
"Kamu pikir aku bodoh Bel, awalnya aku mempercayaimu tapi ternyata kamu salah satu anggota mereka" Aku mendekati Bela dengan mata yang ketakutan.
"Benar yang aku katakan saat itu Key, bahwa dia hanya pura-pura" Sambung Ira dengan tatapan yang kesal. Karena saat Bela masuk ke kamar, Ira sudah mengingatkan pada malam itu bahwa Bela hanya memainkan peran.
Begitu juga dengan Ani yang mengatakan bahwa Bela sedang membuat kita bertiga masuk ke dalam permainannya. Tapi sayang sekali permainan Bela dan orang itu tidak berhasil.
"Lebih baik serahkan saja dia ke polisi Key" Ani memprovokasi ku untuk menyerahkan barang bukti pada coach Jaka.
"Benar Ani, buat apa di tim kita ada penghianat sepertinya" Aku setuju dengan Ani, karena mungkin ini jalan terbaik agar dia menjadi sadar.
"Jangan, tolong jangan adukan hal ini pada coach Jaka. Aku janji tidak akan mengulangjnya" Janji yang terus berulang dari mulut Bela tapi tidak ada satupun yang ia tepati.
Dia terus menangis sambil menyentuh kakiku. Aku menjauhinya karena yang patut di sembah adalah Tuhanku yaitu Allah SWT bukan makhluknya.
"Kamu melakukan kesalahan besar Bel, apa kamu pernah berfikir dengan perjuangan teman-teman yang ingin menang. Dan lihat Ani, kakinya hingga cidera tapi dia memiliki keinginan yang tinggi untuk membawa tim kebanggaan menang".
Alasan apa lagi yang harus aku berikan padanya. Dan pengertian apa lagi yang harus aku jelaskan padanya. Sedangkan sudah berulang kali aku berbicara dengan Bela namun tidak ada yang masuk dalam sanubarinya.
"Burung dalam sangkar saja bisa berterima kasih saat dia dilepas ke alam bebas, sedangkan kamu bukannya berterima kasih tapi mencekik satu persatu kepercayaan yang diberikan" Wajahku mulai kesal melihatnya.
"Iya benar, apa gunanya kamu berlatih jika ujung-ujungnya kamu bermain curang agar kalah" Sambung ani.
Aku mengangkat Bela agar dia mau berdiri dan duduk kembali di bangkunya. Karena percuma saja dia mengemis maaf padaku karena pikiran ini sudah bulat untuk menyerahkan Bela pada coach Jaka.
Kejahatan yang Bela perbuat sudha diluar batas kejahatan. Karena dia berani membawa barang haram untuk memfitnah kami semua.
"Aku tau jika kamu juga bersekongkol dengan Rani untuk menculik ku saat itu. Tapi aku hanya melaporkan Rani saja karena walnya aku belum percaya jika kamu terlibat" Sedikit aku mengingatkan Bela tentang penculikan saat itu.
Mata Bela langsung terbelalak melihatku dengan tatapan tajam namun menyedihkan. Air matanya terus mengalir meminta belas kasihan pada kami bertiga.
Mungkin dia pikir aku tidak mengetahui kebusukannya yang ingin mencelakai ku. Dia bersekongkol dengan Rani agar aku tidak bermain di pertandingan tersebut. Tapi mereka lupa jika aku masih punya Allah di hidup ini.
"Sudahlah Bel, mungkin kamu akhiri semuanya disini. Dan kesabaranku sudah berhenti, jadi kamu jelaskan saja pada coach Jaka saat kami tiba di kota nanti. Dan sekarang kamu santai saja serta nikmati liburan hari ini" Ucapku padanya
"Benar kata Key, kami nikmati saja liburan hari ini"
"Iya Bel, setelah itu nasibmu sama seperti Rani. Karena itu semua salahmu yang sudah jahat Bel" Memang kalau di suruh ngeroasting temen, mereka berdua jagonya.
"Jangan, tolong jangan laporkan karena aku masih memiliki mimpi yang tinggi untuk bermain bola" Dia terus melepas namun aku tidak peduli.
Karena sudah berulang kali aku mengingatkan dirinya namun terus dihiraukan. Dan sekarang sepertinya sudah terlambat.
"Sudahlah, ayo kita pergi" Kami bertiga pergi meninggalkan bela sendirian yang sendag memikirkan nasibnya saat ini. dia kembali mengeluh dan emmegang kepalanya dengan kesal.
Itu semua terjadi karena kesalahannya sendiri, jadi apa yang kamu tanam makan itulah yang kamu tuai. Mungkin oerbiahasa ini cocok untuk Rani dna juga bela.
Sekarang waktunya naik ke dalam bus untuk menikmati liburan di wahana yang terkenal di kota ini. Aku akan menikmati semuanya dengan luas, karena belum tentu suatu sata akan kembali lagi ke kota yang indah ini.
__ADS_1
Setelah itu kami akan pulang meninggalkan kenangan di kota ini. Kenangan yang manis, pahit dan berbagai macam sudah dirasakan. Dan yang terakhir adalah kenangan yang sangat manis seperti gula-gula.
"Key lihat, gunungnya indah banget. Seperti jalan-jalan di atas bukit"
"Bukannya kita di atas bumi ya? "
"Eh benar juga katamu, tapi aku bukan pengendali bumi"
"Aku pengedali air" Pembicaraan konyol kami berdua disatukan.
Selalu saja membuat suasana yang penuh dengan tawa. di dalam bus semua pemain bergembira serta menyanyikan lagu sayonara sampai berjumpa lagi.
Kami sudah benar-benar akan pergi dari kota ini, aku juga tidak lupa dengan barang bawaan serta oleh-oleh untuk orang-orang yang aku sayangi. Jadi hatiku sudah senang dan tenang, tidak ada beban yang harus di pikirkan lagi.
"Key bangun woy, sudah sampai" Tumben sekali aku tidur biasanya yang selalu tidur dan ngorok adalah Ani.
"Cepet banget Ani"
"Perjalananya satu jam koplak emang" Kantuk menghipnotis ku hingga lupa bahwa perjalanan juga jauh.
Kami semua turun dari bus dan masuk untuk menikmati wahana yanga da di sini. Aku terkesima melihatnya karena suasana yang indah dan baru kali ini aku menikmati wahana yang sebesar ini.
"Gila, itu kolam renang? "
"Bukan, kolam ikan" Ketua Ani sambil tertawa.
"Hahahah" Ira dan Ani mengejekku karena pertanyaan konyol. Bagaimana tidak heran sedangkan aku baru kali ini melihat kolam renang sebesar ini.
"Ayo kita renang key"
"Aku gak bisa renang" Aku melepaskan genggaman Ira yang mengajakku untuk berenang. Aku sangat takut masuk ke dalam air karena tidak bisa berenang.
"Tenang saja, aku bisa berenang kok" Ani menghampiriku dan dia juga sudah berganti baju biasa untuk berenang. Padahal kakinya sakit, tapi dia memaksa untuk berenang menikmati wahana yang ada.
"Ahhh tidak, aku duduk saja di samping sambil menikmati jus. Biar aku merasakan seperti orang-orang bule itu" Aku menolak mereka berdua dan memilih untuk duduk di kursi samping kolam renang.
"Baiklah, kamu duduk disana dan nanti kita bermain wahana yang lain"
"Oke siap" Ira dan Ani berenang dan sambil tertawa bersama pemain lainnya.
Ternyata bukan hanya aku yang tidak bisa berenang. Tapi ada beberapa teman-teman ku tidak bisa berenang dan memilih untuk bermain wahana yang tersedia. Katanya agar liburannya tidak sia-sia.
"Kalian mau makanan tidak? " Aku menawarkan makanan pada mereka berdua. Pasti orang yang berenang akan merasakan lapar apalagi berendam di dalam air.
"Mauuu, bawain dong" Memang kalau urusan makan tidak ada yang bisa menolak. Mereka berdua menepi dan menghampiriku untuk mengambil makanan.
"Enak kan"
"Enak banget Key" Sahut mereka dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
"Pelan-pelan saja, lagian masih banyak nih. Aku sudah membelikan untuk kalian juga tadi" Udapku sambil memegang beberapa makanan.
"Wahhh, Terima kasih banyak besti" Lagi-lagi mereka memelukku dengan erat hingga aku tidak bisa bernafas.
"Iya, iya. Lepasin gak sekali lagi meluk aku tonjok nih" Kesal ku dengan paksa melepas tangan mereka karena nafasku tercekik.
"Ihhh, marah woy. Dia lagi dapet ni. Ayo kita renang lagi" Emang teman gesrek. Akhirnya balik lagi mereka masuk ke dalam kolam seperti buaya darat. Tapi ini buaya versi wanita.
Sedangkan aku masih asik menikmati makanan sambil menonton teman-teman yang berenang serta permainan yang ada di dekat kolam renang. Ada permainan seluncuran raksasa, sepertinya asik tapi sayang aku takut tenggelam.
"Ani, gelangmu jatuh" Aku teriak pada Ani karena gelang yang dia gunakan terjatuh di dekatku. Suaraku sudah lantang tapi dia belum juga menoleh ke arahku karena mereka berdua asik bermain air.
__ADS_1
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~