Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
12. Ibu pergi meninggalkanku


__ADS_3

Saat mentari semakin terang sinarnya sudah berada di atas kepala yang membuat ubun-ubun ku tersengat panasnya. Akupun bergegas untuk pulang karena hari sudah siang berjalan sendiri menuju rumah seperti merangkul sepi.


Bahkan orang-orang dikampung juga sepi, atau mungkin mereka sudah tidur siang untuk mengistirahatkan fisik dan pikiran yang melelahkan. Begitu juga aku akan bergegas untuk segera istirahat, merebahkan tubuh di atas kasur yang empuk dengan angan-angan yang lumayan menumpuk.


"Sepi sekali, seperti kota mati" gumamku sendiri sambil menendang-nendang kerikil yang aku injak di depan perjalanan.


Sebetulnya aku tidak bisa berdiam diri bila melihat ibu tidak pulang. Ingin rasanya menelpon ibu tapi tidak memeiliki ponsel. Hanya bisa berdiam dan menunggu. Berharap besok ibu pulang dengan selamat.


Sebelum tidur malam aku beranjak pergi ke kamar ibu. Menatap setiap sudut yang begitu banyak kenangan. Tempat ibu dan ayah terlelap saat berusaha menidurkan aku yang masih kecil. Memggendong sambil menatap jendela dan menunjukkan tentang dunia luar.


Bahkan saat ayah pergi, kamar ini menjadi saksi saat ibu meluapkan kasih sayang padaku sewaktu kecil. Hidup susah tidak pernah membuat ibu marah, tapi membuatnya semangat yang begitu membara.


Duduk di kasur ini membuat diriku merasakan kehangatan ibu. Sudah lama tak ada pelukan, ucapan, ataupun pehatian ibu. Menghilang beriringan waktu berjalan.


"Ayah, ibu, bisakah sedetik saja kalian kembali. Menidurkan aku sejenak yang kesepian disini. membangun lagi cinta yang sunyi dengan kebahagiaan seperti dulu" air mataku tidak bisa terbendung lagi. aku menangis diiringi sepi.


Tiba-tiba pandanganku terarah pada laci di sana. Ingin membukanya untuk mencari tau isi didalamnya. Ku buka perlahan laci itu, ada sebuah kertas yang berisikan alamat rumah. Tapi yang jelas itu alamat di kota bukan di sini. Sambil menyeka air mata, aku mengambil kertas itu.


Entah ini alamat siapa aku belum mengerti. Kemudian ada beberapa foto kenangan antara aku, ibu dan ayah. Ternyata foto itu masih ibu simpan hingga saat ini. Apa mungkin ibu masih belum melupakan ayah, padahal selama ini ibu sudah bergonta ganti lelaki asing dalam hidupnya.


Tapi masih saja aku tidak tau status yang jelas antar ibu dan lelaki itu semua. Apalagi sama lelaki kejam yang terakhir kali datang kesini serta memukulku. Bahkan karena lelaki itu, ibu memukulku juga untuk pertama kalinya.


Sudahlah, mungkin saja saat itu ibu lupa diri atau. Mungkin tidak sengaja. Tapi di hati ini masih membutuhkan ibu.


Jam dinding menunjukkan pukul 9 malam, aku bergegas kembali ke tempat tidur untuk beristirahat. Bersama bobo di dalam pelukanku yang erat. Terlelap memasuki dunia mimpi yang indah. Bermain-main di dalam mimpi itu yang tak pernah menjadi nyata.


*klek* mataku mengintip kecil lalu terlelap kembali.


"Kukuruyuk" suara ayam selalu setia. membangunkan aku.


Jarum jam menunjukkan pukul 4 pagi. Seperti biasa aku bergegas untuk melakukan hal seperti biasa. Mandi, beribadah, memasak, dan berkemas diri. Pandanganku menatap kamar ibu, ternyata masih kosong dan ibu belum pulang.


Tadi malam aku bermimpi bahwa ibu mengelus lembut kepalaku saat tidur. Mungkin aku terlalu membawa perasaan ini dalam mimpi hingga merasakan kasih sayang ibu juga di dalam mimpi.


Masih saja tubuh ini berdiri di depan pintu kamar ibu. Lalu aku segera berbalik untuk pergi ke sekolah. Tapi kertas di meja membuatku tertarik untuk membukanya. Kertas itu membuat aku penasaran karena dia terletak di tempat biasa ibu memberiku uang saku.


Ternyata itu sebuah surat dan amplop yang berisi beberapa uang. Aku tidak tau itu surat apa, tanpa pikir panjang aku langsung membukanya.


\*\*\*\*


Untuk key anak perempuan ku tersayang.


Maafkan ibu yang tidak membesarkanmu dengan benar, tidak pernah menjadi ibu yang baik buat key bahkan tidak pernah memberikan kasih sayang buat key.

__ADS_1


Ini semua ibu lakukan hanya untuk membuat key nyaman, agar tidak kekurangan makanan seperti dulu. Ibu tidak tega bila melihat key kelaparan, jadi ibu putuskan untuk bekerja. Hingga saat ini ibu masih bekerja dan meninggalkan key sendiri.


Bersama datangnya surat ini ibu memberitahu key bahwa ibu akan pergi jauh. Tapi key tenang saja, ibu pasti mengirimkan uang setiap minggu untuk kebutuhan key. Ibu juga sudah mempersiapkan sekolah yang baik untuk kamu setelah lulus SMP.


Uang biaya sekolah kamu akan ibu tanggung hingga kuliah. Tapi kali ini ibu sudah membebaskan key dan ibu juga tidak akan tinggal sama key lagi. Kamu jaga diri baik-baik ya nak, ibu akan menjengukmu saat waktunya tiba.


Salam sayang


Ibu


\*\*\*\*


"Ibuuuuuuuuuu" Teriakku sambil berlari keluar. Entah kemana arah langkah ini berlari, tanpa tujuan yang jelas tapi aku tetap berlari. Berharap masih bisa mengejar ibu dimanapun ia berada. tega sekali ibu memberikan surat yang teramat panjang untuk pergi.


Saat aku sampai di persimpangan sebagai perbatasan kampungku dan kampung lainnya, kaki ini berhenti. Bersimpuh menangis sejadi-jadinya di pinggir jalan persawahan yang sepi. aku sudah benar-benar hilang arah.


"Ibuuuu, jangan tinggalin keyyy hikkks, hikssss" Tangis pecah yang tidak bisa terbendung. Ibarat bendungan yang menjadi penghalang namun masih saja diterjang oleh banjirnya air. Teriakku histeris tapi tak ada jawaban satupun.


Serasa hancur hati ini, bukan kasih sayang yang aku dapatkan tapi malah surat perpisahan.


"Ibuuu, key sayang ibu" Suaraku menggema melenting ke langit. Tapi hanya burung-burung kecil yang mendengarkannya. Dengan baju seragam yang rapi, kini telah lusuh karena bersimpuh tak kuat menahan kenyataan pahit.


Aku pulang dengan langkah yang tidak memiliki tujuan. Hancur rasanya hati ini, melihat ibu pergi bahkan meninggalkan aku sendiri. Hidupku benar-benar sebatangkara yang tidak memiliki sanak saudara.


Amplop itu masih melekat ditangan. Langkahku perlahan pulang menuju rumah yang kini benar-benar sunyi senyap. Teriak saja sudah tak ada yang menghalau karena hanya aku tinggal sendiri.


"Aaaaaaaa" Teriakku kesal yang tak berarah. Kesal pada diriku yang tidak mampu membahagiakan ibu. Kesal juga tidak bisa mencegah ibu untuk pergi.


*brak, brak* tembok diam menajdi sasaran. tanganku terluka tapi aku tidak peduli. kekesalan sudha ku luapkan dengan banyaknya emosi.


Tembok yang sedang memandangku dalam kehancuran, aku pukul berulang-ulang. Tangan ini melampiaskan kekesalan dan kesedihan secara bersamaan. Berkali-kali aku lemparkan genggaman tangan yang mengepal keras.


Tidak peduli rasa sakit yang ada, hanya terlintas rasa sakit dalam naruniku saat ini. Menendang dan melakukan hal gila, karena semuanya sudah tidak peduli.


"Aaaaaaa" Teriak dan terus teriak, air mata juga mengalir deras. Kemana aku akan cerita, bila semuanya sudah pergi meninggalkan aku sendiri disini. Benar-nenar sendiri digenggam sunyi.


"Key gak butuh uang ibu, key butuh ibu" Aku lemparkan jauh uang yang ada di dalam amplop. Nominal yang cukup besar tidak bisa membeli kasih sayang ibu. Bahkan juga tidak bisa membeli kebahagiaan key.


Tubuhku meringkuk sepi di dalam rumah yang hanya ada bayang-bayang harapan. Satu per satu mereka pergi dari kehidupan key. Memangnya apa salah key Tuhan, mengapa ayah dan ibu satu per satu pergi ninggalin key.


*klekk* pintu rumah terbuka, seseorang ingin masuk. Sedangkan kepalaku masih meringkuk dalam kesedihan. Tangan itu tiba-tiba memeluk erat tubuhku yang dirundung pilu.


"Kamu kenapa nak, kamu kenapa" Bu Yanti memelukku dengan kasih sayang dan kehangatan. Saat ini bibirku masih terbungkam luka yang mendalam.

__ADS_1


Aku hanya terdiam dalam pilu yang mengelilingi hidupku saat ini. Tidak tau apa yang harus aku katakan lagi, karena hanya bisa diam membisu tanpa arti.


"Sudah yah jangan nangis, disini ada ibu" Tangannya mencoba mengangkat kepalaku untuk menatap wajahnya. Dengan penuh deraian air mata aku menatap wajah bu yanti yang ikut bersedih.


Perlahan ia usap air mata ini yang sedang mengalir deras. Mengelap lembut dan berusaha memulihkan hatiku yang hancur. Sesekali ia memelukku, lalu mengelus dengan lembut kepala yang membutuhkan sandaran.


Bu Yanti tau bahwa aku masih dibungkam pilu untuk bicara. Lalu tangannya mengambil suara yang tergeletak didekatku. Matanya membaca kata satu per satu dan meresapinnya. Tangannya meremas kesal surat ini lalu melemparkannya ke sembarang arah.


"Dasar ibu tidak tau diri, dia tidak bertanggung jawab" Hardik nya meracau sendiri. Amarahnya mulai naik dan menghina ibuku yang sudah pergi entah kemana. Lalu kedua tangannya masih memeluk erat dan tidak membiarkan aku lepas dari dekapannya.


Aku masih menangis sejadi-jadinya dalam pelukan seorang ibu tapi bukan ibuku. Nangis sesegukan yang tidak bisa terbendung walaupun hanya sebentar. Lelah rasanya, kemana lagi aku harus bersandar bila ibu sudah pergi. Semakin pilu jadinya, pertanyaan yang terus menghantui tanpa ada kata jalan keluar.


"Ibuuu" Tanganku semakin erat memeluk bu Yanti.


"Kamu yang tenang ya nak, ibu bakalan jaga kamu" Sekali lagi perkataannya membuatku menangis.


Bagaimana bisa air mataku di hapus oleh seorang ibu tapi bukan ibuku. Bagaimana bisa pelukan hangat diberikan oleh seorang ibu tapi bukan ibuku.


Bu Yanti sendiri tinggal di rumah bersama suaminya dan memiliki 2 anak perempuan yang sering disapa mbak Nike dan mbak Yeni. Mbak nike kuliah di luar kota sedangkan mbak yeni saat ini sekolah kelas 3 SMA dan sebentar lagi juga akan kuliah.


Mereka semua baik padaku, tidak ada kata rundungan atau hinaan karena mereka benar-benar keluarga yang sangat baik.


Bu Yanti terus saja memeluk dan menghibur aku yang masih menangis karena ditinggal ibu pergi. Bu Yanti terus saja melontarkan kata-kata hiburan dan harapan. Walau sebenarnya hati bu Yanti juga marah karena perlakuan ibu yang ia anggap tidak bertanggung jawab dan meninggalkanku tanpa kata apapun.


Hanya selembar surat yang menjadi saksi bisu dalam kenyataan pahit yanga ku Terima. Kabar mengguncangkan jiwaku yang lelah, serasa tertampar perih yang terus menggelegar. Pecah dipukul paksa oleh keadaan yang tidak aku mengerti sama sekali. Hanya bisa menjadi kuat dalam sesuatu yang membuat aku lemah.


"Key, key kenapa buk" Ucap mbak Yeni yang tiba-tiba masuk kedalam rumah. Ia juga ikut bersimpuh menatapku dengan tanda tanya. Bu Yanti hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaan dari mbak Yeni.


Tangan mbak Yeni terus saja menggenggam ku yang saat ini sedang lemah. Pertanyaan yang terus saja membuat mbak Yeni bingung tapi dia tetap saja diam karena hatinya runtuh melihatku dengan keadaan ini.


"Yeni, tolong buatkan surat ijin untuk key dan kamu antar ke sekolah ya" Ucap bu Yanti menyuruh mbak yeni membuat surat untukku. Karena ia tau aku tidak akan masuk ke sekolah dengan keadaan rapuh seperti orang gila adanya.


"Baik bu, Yeni akan buatkan agar key bisa beristirahat" Langkahnya meninggalkan kami berdua di dalam rumah. Sedangkan pikiranku masih kosong tidak bisa berkata-kata.


"Sudah nak, kamu masih ada ibu yang menyayangi kamu dengan ikhlas" Bu Yanti mengusap air mataku lagi. Membawaku ke tempat tidur dan merebahkan tubuh ini yang lemah. Ia juga membuatkan segelas teh hangat untuk menghilangkan gundah yang meracau.


Merebahkan tubuh yang paling nyaman, tapi tidak untuk saat ini. Merebahkan tubuh karena rasa sakit yang paling dalam. Mataku bengkak karena deraian air mata tak ada habisnya. Bu Yant duduk di samping ranjang ku, membelai lembut kepala yang memiliki banyak beban pikiran.


Tangannyan terus membelai, sedangkan bibirnya terus bernyanyi selayaknya ibu mengantarkan tidur anaknya sewaktu kecil. Aku pikir tidur adalah jalan satu-satunya untuk menghilangkan kenyataan yang pahit. Kembali masuk ke bunga tidur yang aku anggap adalah kebahagiaan.


"Nak, ujianmu adalah yang terindah maka jalani dengan ikhlas karena kamu tidak sendiri"


"Kakek, kakek" Aku memeluknya dengan erat. Ingin mengadu semuanya tentang rasa sakit yang terus menghantui.

__ADS_1


Kata-katanya yang diberikan membuatku semakin kuat. Ia bilang bahwa aku salah satu manusia yang Tuhan pilih untuk menjadi manusia yang baik dengan cara ikhlas menghadapi semua cobaannya.



__ADS_2