Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
101. Lamaran Mama Yuri


__ADS_3

Pagi, Di Sekolah


Pagi ini aku akan pergi ke coach Alam untuk meminta nasehat dalam pertandingan serta meminta surat ijin untuk melakoni laga di luar kota. Mataku mencari coach Alam dan sabar menunggunya ternyata aku datang terlalu pagi.


"Sabar Key, kan coach Alam juga manusia yang memiliki jam karet" Gumamku sambil tertawa kecil.


Padahal coach Alam selalu tepat waktu, tapi aku saja yang terlalu pagi menunggunya di depan ruang guru.


"Keyla" Aku tersenyum saat coach Alam sudah datang dari arah kananku.


"Alhamdulillah coach" Aku menyalami tangannya sperti biasa.


"Ada apa? " Aku menjelaskan bahwa ingin meminta nasehat untuk bekal pertandingan ke luar kota. Serta meminta surat dispensasi.


"Ayo masuk ke ruangan dulu" Aku masuk ke ruangan guru. Disana coach Alam memberikan aku nasehat kembali. Dia berkata katanya sudah biasa pertandingan yang kecil seperti itu akan diubah-ubah jadwalnya. Kata coach Alam aku tidak boleh kaget, harus bisa menghadapi.


Coach Alam juga berkata bahwa aku harus hati-hati. Biasanya dalam pertandingan seperti itu akan ada yang namanya main kotor, main licin dan semuanya serba curang. Bahkan banyak yang akan membayar para pemain untuk kalah.


"Maksudnya coach? " Aku masih belum mengerti dengan apa yang dikatakan oleh coach Alam.


Karena setauku bermain bola ya bermain saja tidak ada yang bermain menggunakan uang apalagi menyogok para pemain dan sebagainya.


"Jadi begini key.. . . " Coach Alam kembali memberikan arahan padaku. Menjelaskan detail satu per stau hingga aku mengerti apa yang dia katakan. Bahkan aku juga diberikan solusi untuk menghadapi hal tersebut.


"Suatu saat jika kamu menemukan hal tersebut, maka kamu harus maju dan menolak apapun yang berbau dengan hal curang" Aku paham dengan perkataan itu. Tidak menutup kemungkinan aku bisa menjadi sasaran para orang-orang curang di luar sana.


Sungguh miris negeri ini yang bermain hanya untuk kemengan. Dan itupun menang dengan kekuatan uang bukan dengan sportifitas. Bagaimana sepak bola di kotaku bisa maju jika masih ada orang-orang kotor yang menghiasinya.


"Nanti urusan dispensasi biar saya yang mengurusnya sebagai penanggung jawab anak didik sepak bola" Ucap coach Alam yang membuatku tenang, karena saat ada dispensasi pasti coach Alam yang mengurusnya dan membuatku mudah untuk ijin.


"Baik coach, key bakalan mendengarkan semua arahan dan nasehat coach Alam. Dan satu lagi Key juga berterima kasih pada coach karena telah membantu segala hal saat Key membutuhkan ijin" Ucapku dengan senyum dan penuh terima kasih.


Selain menjadi pelatih, coach Alam adalah bapak bagi tim sepak bola putri di sekolah ini. Dia akan mengutamakan anak didiknya dan mempermudah dalam urusan bertanding di luar sekolah.


"Iya keyla, kamu juga harus membawa kemenangan untuk membanggakan sekolah ini" ucapnya sambil mengelus lembut rambutku.


"Siap coach, doakan biar Key lancar untuk pertandingan di luar kota" Aku kembLi bersalaman meminta doa padanya dan sekaligus keluar untuk masuk ke kelas.


Rasanya aku dikelilingi oleh orang yang sayang padaku. Semenjak kejadian antara coach Alam dan ayahnya bela, semua orang berubah dan berhenti tentang kekuasaan yang berbau uang.


Waktu kurang lebih 2 minggu cukup lama tapi aku harus siap menghadapi apapun. Ini baru pertama kali aku bermain di luar kota. Dan ini awal aku di luar kota, belum ke luar negeri saat nanti masuk di timnas. Impian terbesarku adalah masuk ke timnas agar bisa mengharumkan nama bangsa.


"Key, kamu kemana saja" Teriak Yuri saat melihatku masuk ke dalam kelas.


Sedikit aku melirik David karena merasa bersalah kemarin tidak datang ke pertandingannya. Tapi menurutku itu hal biasa, karena ayah lebih penting dari apapun. Ternyata keduanya sama-sama tidak bisa aku rasakan. Baik pertandingan ataupun bertemu ayah.


"Hey, maaf tadi aku bertemu dengan coach Alam" Sahut ku sambil duduk bersama mereka.


"Buat apa? " Tanya Ari yang penasaran. Aku menjelaskan bahwa seminggu lagi aku akan pergi ke luar kota selama 2 minggu untuk melakoni laga pertandingan tarkam antar kota.


"Hah, keluar kota? " Teriak Yuri terkejut dengan penjelasanku.


"Stttt, jangan berisik" Aku dan Ari langsung menbekap mulut Yuri dengan tangan karena terlalu berisik.


Karena aku tidak ingin banyak yang tau dengan kegiatanku di luar kota. Aku takut banyak yang tidak suka dengan apa yang aku lakukan karena telah memasuki permainan tarkam.


"Baaaahhh" Yuri menyemburkan mulutnya karena terlalu lama aku dan Ari membungkam mulut dia.


"Tangan kalian asin"


"Hahhahhh" Jawaban Yuri yang membuat kami tertawa gara-gara terlalu jujur.


Lalu tiba-tiba Yuri diam begitu lama. Ternyata dia memikirkan bagaiamana jika rencana aku gagal saat tunangan mamanya lusa nanti. Yuri tidak mau menjadi anak tiri dari lelaki hidung belang itu.


"Tega banget kamu ninggalin aku Key" Dengarnya sambil sedikit memilu.


"Kocak, sudah ku bilang seminggu lagi Yuri. Masalah tunangan mamamu akan aku bereskan bersama Ari" Ucapku untuk menenangkan hatinya yang galau karena tidak ingin mamanya menikah dengan lelaki itu, begitu juga aku dan Ari yang memiliki pikiran sama


"Benarkah? " Tatapan matanya penuh harap padaku dan Ari. Aku dan Ari mengangguk untuk meyakinkan. Anggukan itu seakan memberi isyarat kebahagiaan bagi Yuri. Karena apapun yang terjadi kami tidak akan meninggalkan Yuri.




Hari tunangan mamanya Yuri sudah tiba. Sore nanti akan diadakan di sebuah gedung yang mewah. Aku dan Ari sudah santai karena menemukan jalan keluar untuk mengeluarkan semua kebusukan lelaki itu.



Kita berdua menyuruh Yuri untuk tenang dan mengikuti arahan mamanya untuk berdadan rapi. Aku meyakinkan bahwa semuanya akan berjalan dengan lancar tanpa gangguan apapun karena semua bukti sudah ada di tangan.



"Wuihhh, cantik banget. Kamu harus tetap ikuti pestanya. Biar aku dan Ari yang menyetel semuanya" Aku mengatakan hal itu saat Yuri ada di ruang make up untuk mempersiapkan semuanya.



Rencana terakhir dalam acara ini akan diadakan penontonan lagu serta vidio untuk sang kedua kekasih. Katanya agar bisa dikenang di acara lamaran ini padahal ini hanya aakal-akalan lelaki itu untuk mempercepat persetujuan mamanya Yuri agar mau menikah dengannya.



"RI, bawa kan flashdisk yang berisi semuanya" Ucapku yang sudah menyusup di acara tersebut saat masih dekorasi ruangan dan persiapan acara akan dimulai.

__ADS_1



"Beres key, semuanya sudah ku atur" Jawabnya santai.



Aku dan Ari memang datang ke acara ini, tapi bukan untuk mendukung ataupun bersenang-senang di atas acara melainkan akan menjalankan rencana untuk merusak acara ini dengan segala cara.



Lelaki hidung belang yang gila wanita serta harta tidak pantas untuk bersanding dengan mamanya Yuri yang masih muda dan bisa disebut wanita karir. Dia akan menjadi benalu dalam kehidupan keluarga Yuri bila berhasil masuk dalam rumah itu.



"Apakah sudah siap? "


"Sudah dong" aku dan Ari saling bertukar senyum untuk menjalani acara yang akan membuming sebentar lagi.



Aku dan Ari sudah siap dalam 1 jam acara sebelum dimulai. Memegang barang bukti untuk diserahkan pada operator dan di putar di akhir acara. Aku dan Ari bergegas menuju ke tempat operator tiba-tiba......



"Hmmmm"


"Hhmmm, lepasin" Ada yang membekap mulutku dan Ari. Tanganku terus berusaha dengan keras agar bisa lepas. Lalu aku melihat seseorang itu memukul Ari dengan balok kayu hingga pingsan.



\*brukkkk\* tiba-tiba kepalaku juga terbentur benda keras yang membuat darah mengalir segar serta kepalaku sangat pusing.



\*brukkkk\* pukulan kedua yang tepat mengenai kepalaku, hingga semuanya menjadi gelap.....



POV YURI



"Aduh, acara mau dimulai tapi tidak ku lihat batang hidung Ari dan Key" Gumamku yang mondar mandir celingukan melihat sekeliling. Padahal tamu sudah ramai tapi mereka berdua belum terlihat juga.



"Bagaimana ini" Wajahku menjadi cemas saat melihat acara sudah akan dimulai.




"Yuri, kamu kok disini sih. Acara mama kan mau dimulai. Setelah tukar cincin, mungkin mama akan menerima tawaran untuk pernikahan tersebut" Mama menghampieiku dengan membawa berita yang sangat pahit.



Aku tidak akan membiarkan mama menerima tawaran untuk menikah dengan lelaki itu. Aku berbalik melihat mama dan lelaki itu di atas panggung. Wajahnya lelaki itu tersenyum licik padaku, sepertinya dia sudah merencanakan sesuatu yang buruk pada Key dan Ari.



Aku bergegas keluar dengan kesal, mencari Ari dan Key. Ponsel mereka berdua juga tidak hidup dan dalam keadaan mati. Aku sangat cemas takut terjadi apa-apa pada mereka. Aku berharap semoga Ari dan Key baik-baik saja.



"Aku harus keluar mencari mereka" Gumamku dan mencari keberadaan mereka berdua.



Aku meninggalkan pesta tersebut tanpa memikirkan hal apapun. Sekarang aku hanya peduli dengan Key dan Ari. Tapi hatiku sempat takut pernikahan itu diterima oleh mama.



Hatiku sudah menjawab bahwa aku harus menemukan Ari dan Key. Serta aku akan meninggalkan acara tersebut karena mama hanya menerima tawaran menikah saja bukan menikah secara sah di hadapan penghulu. Setidaknya aku masih ada pilihan.



"Ari, Key kemana kalian, aku khawatir disini" gumamku sambil berjalan untuk menemukan jejak mereka.



Langkahku pergi dengan tergesa-gesa ke tempat belakang pesta. Aku menemukan ceceran darah yang mencurigakan. Menanyakan pada pelayan yang ada di sana tapi katanya mereka tidak tau.



Bagaimana bisa ada darah tapi mereka tidak mengetahuinya. Aku menyuruh mereka untuk mengepel nya walaupun darah itu hanya sedikit.



Ini mustahil, aku mencoba mencari lagi dan ternyata tepat di belakang ini terdapat sebuah kayu yang ada darahnya aku yakin ini darah Key atau Ari. Dan mereka pasti dalam bahaya. Aku bergegas untuk mencarinya. Pasti mereka berdua ada di sekitar sini.


__ADS_1


"Aku tidak akan kembali sebelum menemukan sahabatku dengan keadaan selamat" Pikiranku semakin cemas dan tidka ingin berhenti sebelum mereka berdua ditemukan.



POV YURI SELESAI



"Sssst, key, keyla bangun" Tendangan kecil dari kaki Ari membangunkan mataku yang terlelap rasanya pusing sekali kepala ini. Saat aku terbangun, kita berdua sudah dalam keadaan terikat tali.



"Keyla, kepalamu berdarah" Ari memberitahuku bahwa kepala di bagian belakang berdarah dan membasahi rambutku. Aku tidak bisa bergerak karena kedua tangan sudah terikat kuat dengan tali.



"Kamu gapapa Ri? " Aku merayakan keadaan Ari, aku takut dia juga terluka sama sepertiku.



"Aduhhh, kepalamu yang terluka bukan kepalaku" Keluh Ari karena aku masih bertanya keadaan Ari yang dia bilang dengan jelas bahwa terlihat baik-baik saja.



"Kepalaku urusan belakang, sekarang bagaimana caranya kita keluar dari sini" Aku bingung mencari cara agar bisa keluar dari ruangan ini. Sepertinya ini gudang karena banyak kursi dan alat-alat lainnya yang telah rusak.



"Key aku takut, mana tanganku sakit banget lagi" Keluh Ari yang mulai panik karena bingung tidak bisa melakukan apapun.



Sejenak aku berfikir, lalu mataku mencari ke semua sudut untuk menemukan benda tajam. Aku tidka boleh tinggal diam dan harus melakukan apapun. Jangan sampai Ari terluka parah sepertiku.



"RI, ambil piring yang di sampingmu" Aku melihat piring kaca yang sepertinya bisa aku gunakan setelah di pecahkan.



"Tanganku tidak sampai key"


"Pakai kakimu, koplak" Dengan beberapa lama menggunakan usaha dan tenaganya akhirnya piring itu bisa di raih oleh kaki Ari.



Dengan cepat Ari mengoper padaku menggunakan kakinya. Aku memginjaknya dengan keras hingga akhirnya piring itu pecah aku menjatuhkan diri dari kursi dengan keadaan tangan tetap didikat.



"Key, kamu gapapa? " Ari panik saat melihat aku terjatuh di atas lantai. Ia takut pecahan piring itu mengenai tubuhku.



"Tenang, aman RI" Sahut ku santai sambil mencoba meraih pecahan itu dengan kaki lalu ku tendang agar sampai ke tanganku di bagian belakang.



"Yes, berhasil" Tendangan ku tepat sasaran. Kaca itu medendekat di tanganku.



Aku meraihnya lalu mencoba menggesekkan ke tali agar terputus. Tapi rasanya sangat sakit, karena talinya sangat kuat dan tanganku sepertinya tergores.



Dengan berusaha keras aku melepaskan tali itu. Tidak peduli tanganku tergores luka yang penting tali ini terlepas. Akhirnya beberapa lama, tali itu terlepas juga. Aku segera bangkit dan membantu Ari untuk membukakan tali yang melilit tubuhnya.



"Sabar ya ri, kita bakalan keluar. Tenang saja" Aku membukakan tali untuk Ari, tapi tiba-tiba hidung dia berdarah.



"Kamu kenapa? " Tanyaku pada Ari


"Tidak apa-apa, aku hanya kecapean" Jawabnya.



Tali itu sudah terlepas, aku membersihkan darah yang ada di hidung Ari menggunakan tangan. Tapi darah itu terus mengalir, akhirnya aku merobek baju dan menyumbatnya. Ari bilang kepalanya sedikit pusing, mungkin karena pukulan tadi membuat hidung Ari mimisan dan kepalanya menjadi pusing.



"Kamu tenang ya, angkat kepalamu agar mimisan itu turun" Ari mengangkat kepalanya dan mendongak ke atas mengikuti ucapanku.



"Aku akan berusaha agar kita bisa keluar dari sini dan membantu Yuri"


"Iya Key" Sahutnya.

__ADS_1



~~~~ BERSAMBUNG ~~~~


__ADS_2