Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
155. Semua Salahku


__ADS_3

Dia sungguh menyebalkan, aku bertanya namun tidak dijawab. Apakah dia tuli, dasar Ani.


"Tadi apa pertanyaanmu? "


"Sudahlah tidak penting" Ketusku.


"Ihhhsss ngambek mulu buk, jadi gini aku kesini sama seseorang"


Kurang ajar sekali memang, dia mendengar pertanyaanku tapi tidak menjawabnya daritadi. Rupanya Ani menguji kesabaranku lagi, dasar orang gila.


"Dasar, Pura-pura tuli" Ketusku.


Ani hanya menjawab dengan senyuman. Kami sudah terbiasa dengan ini saat dalam satu tim, tidak ada rasa tersinggung ataupun canggung bila berkumpul bersama.


Walaupun telah berpisah lama namun setidaknya sifat awal itu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. Karena sejatinya orang terdekat akan tetap sama kecuali dia hilang ingatan.


"Hai, maaf telat tadi parkiran penuh soalnya"


"Adit? "


Aku terkejut melihat Adit yang tiba-tiba datang, padahal aku tidak mengundangnya. Apakah dia masih menyuakiku, padahal waktu itu dia telah memberikan surat untuk lepas dariku tapi kenapa sekarang disini.


"Ngapain dia kesini? " Bisikku pada Ani.


"Aku kan tinggal dirumahnya"


"Tapi tidak harus keluar bersamanya juga bukan?" Ani hanya tersenyum.


Kemudian Adit mengambil tempat ternyaman untuk duduk di dekat Ani. Dia terlihat begitu akrab dengan Ani, seperti seorang pasangan bukan seperti seorang teman.


Aku curiga jika mereka berpacaran karena terlihat dari perilaku ani dan Adit menampakkan wajah yang tidak asing. Yaitu senyuman kebahagiaan.


"Oh iya key kenalin pacarku" Ucapan Adit membuat mulutku melebar.


"Ani? " Ani dan Adit mengangguk secara bersamaan.


*plak* aku memukul kepalanya lagi. Ternyata benar dugaanku tadi. Berani-beraninya dia berpacaran tanpa memberitahuku.


"Aduh sakit key"


"Memang harus di hajar, mengapa tidak bilang jika pacarmu Adit. Dan kamu hanya berbicara tentang seseorang di pesan dan ternyata itu Adit?" Tanyaku dengan tatapan menyelidik.


"Benar, aku dan dia menjalin hubungan cukup lama key" Sahut Ani.


"Lebih tepatnya saat aku memutuskan untuk melepaskanmu" Jelas Adit padaku.


Aku ikut senang melihat mereka berdua tersenyum riang. Apalagi Ani membutuhkan lelaki yang baik seperti Adit. Dia yang selalu mengerti serta menjaga perempuannya dengan sepenuh hati.


Dan ani pantas mendapatkan lelaki sepertinya. Aku bisa tenang sekarang karena sudah ada orang yang menjaga sahabatku dengan aman. Karena aku mengenal Adit, dia tidak akan rela wanita yang dicintainya terluka.


"Baguslah kalau begitu, aku senang melihat kalian. Karena kalian berdua sangat cocok" Ujarku sambil tertawa.


Akhirnya Ani dan Adit bersatu, dulu aku tidak tega melihat Adit mengejar cintaku dan dia selalu pantang menyerah. Sekarang lelaki yang tulus itu telah menemukan pasangan yang baik seperti sahabatku Ani.


Perbincangan dan saling becanda sambil menunggu hidangan makanan yang masih belum datang. Ani dan Adit terlihat serasi tapi tidak harus bermesraan di didepanku juga.


"Sebelumnya tolong jangan bermesraan di depanku. Aku ingin membicarakan sesuatu pada kalian"


"Iya maaf key, terlalu terbawa suasana" Jawab Ani sambil tertawa kecil padaku.


Lalu dia melepaskan gandengan tangan mereka berdua. Sungguh sial hari ini, aku terjebak sebagai obat nyamuk di meja yang suram.


Sepertinya beberapa menit ke depan akan menguras kesabaran karena harus melihat mereka berdua slelau tertawa riang dengan mesra dan romantis. Apalagi mereka lupa jika aku masih bernafas.


"Apa yang ingin kamu bicarakan key? "


"Aku ingin pamit pergi pada kalian"


"Aaaa, key jangan tinggalin aku. Aku belum bisa bahagiakan kamu dan kita juga belum bisa meraih mimpi untuk bermain di timnas" Ocehnya yang tidak jelas.


"Iya Key, aku baru saja pacaran sama Ani dan kamu sudah ingin meninggalkan kami"


*plak*


*plak*


"Aduhhh"


Aku memukul mereka berdua dengan keras padahal aku ingin berpamit untuk seleksi bukan untuk mati. Dasar Ani dan Adit, Sama-sama koplak.


"Aku ingin pamit untuk seleksi timnas besok"

__ADS_1


"Ohhh begitu"


"Issshhh, lama-lama aku pukul kalian yah" Kesalku.


"Apah?" Ani kembali melotot.


Sepertinya dia baru sadar jika aku membicarakan seleksi tentang timnas. Suruh siapa tadi hanya berkata santai dan sekarang baru terkejut.


"Selamat key, akhirnya apa yang ditunggu-tunggu telah tiba" Ani memelukku dengan erat dan mengoyak tubuhku.


"Aku tidak menyangka cita-citamu menemukan titik terang, hikssss..... Hikssss" Ani menangis dengan kencang sambil memeluk erat.


Tangisan kebahagiaan dan haru, karena selama ini aku dan Ani hanya bermimpi di panggil timnas untuk seleksi dan bisa membela negara bertanding di kancah internasional.


Dan mimpi itu sekarang akan terwujud satu per satu, Ani hanya bisa menangis mendengarnya begitu juga denganku. Kebahagiaan yang mereka pikir sepele, menurutku kebahagiaan itulah yang membuat semua menjadi kemenangan walau harus melakukan perjalanan jauh.


"Eitsss, kamu mau ngapain? " Tanyaku pada Adit yang mendekat.


"Ikut berpelukan lah" Jawabnya santai.


"Enak saja, tidak usah" Ketusku.


Pembicaraan kami semakin lengkap saat aku menjelaskan perjuanganku untuk mendapatkan undangan. Aku menceritakan bahwa pelatih yang memberi surat ini dan hanya aku yang terpilih dari seluruh pemain tim.


Ani mengapresiasi perjalananku yang menceritakan banyak sekali pengalaman dan perjalanan yang rumit. Walaupun perjalanan atau itu tidak bersama dirinya. Bukan hanya Ani yang bangga, namun Adit juga bangga denganku.


"Sepertinya aku harus pulang dulu karena ada kepentingan" Ujarku saat melihat jam menunjukkan waktu sore hari.


"Baiklah, aku akan pulang juga bersama Adit"


Akhirnya kami mengakhiri pertemuan ini dan Ani pulang bersama Adit sedangkan aku berangkat lagi ke sekolah untuk menemui kedua sahabatku yang konyol.


Saat dalam perjalanan, aku tidak sengaja bertemu dengan ibu yang sedang berada di toko kue. Aku menghampirinya untuk berpamitan, lagipula dia adalah ibu kandungku yang harus aku hargai dan hormati.


"Ibu"


"Key, kamu ngapain disini" Wajah ibu terlihat ketakutan dan matanya sibuk menatap ke sembarang arah seperti mencari sesuatu.


"Ada apa bu? Apakah Key salah untuk menemui ibu kandung Key sendiri? "


"Tidak, tidak tapi waktunya belum tepat" Ujarnya


Dan matanya masih menatap ke sembarang arah seperti mencari sesuatu. Aku tidak paham dengan ibu dan terlihat jelas ada rasa takut yang terlintas walaupun itu samar.


"Benarkah itu nak? " Aku memagngguk sambil tersenyum pada ibu. Seketika rasa takut itu berubah menjadi rasa bahagia


"Selamat sayang, doa dan restu ibu akan selalu bersamamu" Ibu memelukku dengan kebahagiaan.


Baru kali ini aku merasakan pelukannya kembali setelah kasih sayangnya menghilang beberapa tahun yang lalu. Aku membalas pelukan kasih sayang yang bercampur bahagia itu.


Aku membenamkan kepala pada bahu ibu dan merasakan kehangatan pada kasih sayang yang aku rindukan selama ini. Tidak terasa air mataku sedikit menetes namun selebihnya aku tahan agar tidak semakin pilu.


"Ingat, jika nanti kamu lolos seleksi di timnas maka tetaplah rendah hati. Jadilah Keyla yang dulu dan tidak boleh sombong" Nasehat itu kini telah kembali.


Nasehat yang menghilang kini kembali lagi ibu berikan padaku. Aku tersenyum saat kedua tangan ibu memegang pipiku sambil memberinya nasehat.


Aku rindu kenangan ini, diamana semua masih baik-baik saja. Andai waktu bisa berputar, maka aku akan meminta ibu untuk memberikan nasehat dan pelukan setiap hari.


"Key janji bakalan menjadi anak yang rendah hati dan tidak sombong dimanapun itu" Sahutku dengan bahagia.


"Kamu tenang saja, doa ibu akan selalu mengikuti langkahmu. Sekarang kamu pulang ya nak, jangan keluyuran lagi"


"Iya bu, oh iya Key bakalan berangkat besok bu. Apakah ibu mau mengantar Key ke bandara? " Tanyaku.


"Sepertinya ibu tidak bisa karena ada kesibukan lain" Jawaban ibu cukup mengecewakan hatiku. Namun aku harus tetap tenang dan terlihat baik-baik saja.


"Baiklah, tidak apa-apa bu"


"Maaf ya nak" Ucap ibu sambil mengecup keningku. Aku membalasnya dengan senyuman yang kepura-puraan.


"Key pulang dulu ya bu"


"Iya nak, Hati-hati. Dadah" Lambaian tangan ibu kembali membuatku tersenyum....


*brummmmm*


"Keyla awas"


*bruk*


"Ibuuuuuuu" Aku terjatuh membentur trotoar sedangkan ibu tertabrak oleh mobil itu.

__ADS_1


"Ibuuu bangunnn, jangan tinggalin Keyla. Tolongggggg" Teriakku dengan isak tangis.


Beberapa orang datang dan menghampiriku, semua terlihat khawatir dan langsung membantuku mengangkat ibu ke salah satu mobil yang ada di dekat sana.


Sedangkan mobil yang menabrak telah pergi dan berlalu. Tidak ada penyesalan dan tanggung jawab lalu menghilang begitu saja.


Rumah sakit


"Bu bangunlah bu, key ada di sini bu" Aku terus menggenggam tangan ibu. Telingaku mengikuti suara roda yang terus menggelinding membawa ibu ke ruangan ICU.


"Maaf dek, silahkan tunggi disini"


"Dok saya anaknya, saya ingin lihat ibu saya"


"Maaf karena ini sudah prosedur"


Pintu ditutup degan rapat. Begitu juga tirai-tirai ditutup oleh suster dan dokter yang sibuk memeriksa keadaan ibu.


Tetesan sisa darah melekat di bajuku, darah segar yang menetes dari tubuh ibu. Aku mengenggam tangannya namun sekarang harus terlepas karena dokter akan segera melakukan perawatan yang lebih baik demi keselamatan ibu.


"Kenapa harus begini? Kenapa.. . ?? " Teriakku gila di lorong rumah sakit yang menunggu sendirian.


Penyesalan kembali datang, berharap tidak akan pernah terjadi hal buruk namun nyatanya salah. Sekarang ibu terbaring lemah di dalam sana dan semua itu salahku yang menyebabkan ibu tidak sadarkan diri.


*buk, buk, buk* penyakit lama yang hilang kini kambuh kembali. Memukul tembok dengan kejam dalam tatapan kebengisan.


Bertanya-tanta kembali mengapa harus terjadi pada ibu. Kemarin ayah dan sekarang ibu. Apa salahku sehingga harus menelan kehidupan swpahit ini.


*buk, buk*


"Aaaa" Teriakku meracau tidak jelas. Setelah memukul tembok, tangan ini menjambak rambut dengan keras. Membenci diriku sendiri karena gara-gara aku, ibu tertabrak oleh mobil.


"Buk maafin key bu, ini semua salah key" Lorong yang sunyi menjadi saksi bisu bahwa tangisku kembali tersedu-sedu bila mengingat semua ini.


Benar aku membenci diriku yang tidak bisa melindungi ibu. Ternyata aku adalah anak pembawa sial. Kemarin ayah tertabrak karenaku, dan sekarang ibu tertabrak karena aku juga.


Dalam kesunyian aku duduk meringkuk dibawah penyesalan. Terus meracau tidak jelas dan mencaci diri sendiri. Tidak tau apa yang harus dilakukan saat ini karena semua sudah kacau.


*buk, buk* tanganku tidak berhenti memukul lantai dan tembok. Rasa khawatir pada ibu sangat berlebihan dan bercampur dengan rasa kecewa pada diriku sendiri.


"Key...... " Ari dan yuri datang langsung memelukku.


Saat dalam perjalanan ke rumah sakit, aku menghubunginya bahwa kami tidak bisa bertemu karena aku harus membawa ibu ke rumah sakit karena kecelakaan.


"Ari, yuri, ibu disana.... "


Aku membenamkan wajah dalam pelukan Yuri. Mereka berdua ikut bersimpuh di lantai bersamaku. Lagi-lagi hariku hancur dengan keadaan ini.


Kegelisahan, kecemasan, ketakutan dan semuanya seakan menghubunginya tanpa ampun. Seakan menghardikku dalam kesunyian yang benar-benar pilu.


"Tenanglah, ibumu pasti baik-baik saja"


"Benar Key, dokter akan menanganinya dengan baik" Mereka berdua memberikan semangat agar aku menemukan harapan baru.


"Lihat aku, tidak akan terjadi apapun pada ibumu di dalam Key. Kamu harus tenang" Ari memegang pipiku dan menatap penuh dengan rasa yakin bahwa ibu baik-baik saja di tangan dokter.


"Benar kata Ari, kamu harus kuat. Apalagi besok kamu akan berangkat untuk seleksi" Aku mengangguk dengan ragu. Antara melanjutkan seleksi atau tidak.


Seleksi timnas adalah kesempatan yang datang agar aku bisa meraih mimpi dan harapan. Di lain sisi aku tidak bisa meninggalkan ibu sendirian, apalagi bersama lelaki yang berstatus suami ibu. Aku yakin dia akan mencari ibu.


Pikirku masih bergelut dengan kebingungan, ada dua pilihan yang harus aku lakukan. Jika aku seleksi maka ibu dalam keadaan tidak aman. Namun jika aku menjaga ibu maka selelksi timnas tidak akan terjadi hari ini dan aku harus menunggunya tahun depan.


"Lihatlah, tanganmu kembali berdarah. Apa kamu melakukan hal konyol lagi"


"Jelas ri, penyakit emosinya pasti tidak terkontrol lagi" Sahut Yuri.


Mereka berdua segera membawaku ke tempat pengobatan lain untuk menemukan perban dan obat merah untuk membalut tanganku yang mulai terlihat bercak darah. Bahkan di tembok dan juga di lantai.


Setelah selesai mengobati tanganku, kami kembali duduk dan menunggu pemeriksaan dari dokter. Ari dan Yuri duduk disana sedangkan aku memeluk lutut dan meletakkan kepalaku di atasnya.


"Nak key, kamu gapapa kan nak? " Terlihat bapak dan Ibu berlari menemuiku.


Aku tidak tau siapa yang menghubungi Ibu. Ternyata Ari dan Yuri telah menghubungi mereka karena tidak tega melihat keadaanku yang begitu lemah saat ini.


"Ibu, ibu terluka bu" Tangisku kembali pecah jika mengingat keadaan ibu.


"Mengapa bisa begitu?" Aku baru bisa berbicara dan ingin menjelaskan ketika ibu yang bertanya padaku.


Sedangkan dari tadi antara aku, Ari dan Yuri hanya terdiam memeluk kebisuan yang sunyi di lorong rumah sakit serta menunggu dokter.


"Tadi aku menemui ibu di toko kue..... " Aku menjelaskan dengan singkat, jelas dan padat.

__ADS_1



__ADS_2