Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
37. Masuk Semi Final


__ADS_3

Biarkan saja aku memberikan dukungan dari bangku cadangan. Menang kalah sudah biasa dalam setiap pertandingn. Bila menang harus bersyukur dan bila kalah harus menerima dengan lalang dada.


"Aku yakin mereka pasti bisa menghadapinya" keyakinan yng tinggi tumbuh dalam hatiku. karena aku tau mereka pasti bisa bermain dengan baik.


Pada babak pertama sudah ketinggalan 1-0 karena kurangnya semangat bertanding. Saat aku masuk dan duduk di bangku cadangan, mereka semakin bermain dengan sungguh-sungguh.


Bila dilihat dari permainan tim lawan, mereka menguasai banyak taktik dibandingkan tim kami. Tubuh mereka juga mendukung yaitu tinggi dan berisi. Tapi kita harus percaya bahwa dalam sebuah pertandingan akan terjadi hal yang mustahil. Meski terkadang banyak yang meremehkan.


Di babak kedua kami kembali kebobolan dari tim lawan. Skor berubah menjadi 2-0 pada menit ke 73. Setidaknya kami masih memiliki waktu 17 menit di waktu normal. Tim harus memanfaatkan waktu agar bisa memenangkan pertandingan.


"Ayo semangat, kalian bisa ayo fokus" Teriakku dan diikuti para pemain cadangan lainnya juga memberikan semangat pada punggawa yang sedang bertanding di tengah lapangan.


"Key, kemarilah"


"Iya coach" Coach Alam memanggilku, dengan sopan aku menghampirinya. Mencoba menghilangkan ego dan berdamai dengannya walau kenyataan memang menyakitkan.


"Bersiaplah, kamu akan bertanding menggantikan Ana"


"Tidak coach, mereka pantas diberikan kesempatan untuk berjuang dan bekerja keras memenangkan pertandingan. Walaupun nanti hasil akhir pertandingan tidak memuaskan, setidaknya kami masih memiliki kesempatan untuk masuk kedalam semi final untuk mengukir sejarah. Mereka bisa tanpa saya coach" Aku menolaknya dengan sopan.


Aku yakin mereka bisa mengatasi semuanya tanpaku. Dan hari ini tim kami akan memiliki 2 kemungkinan. Kalah tapi masuk semi final mmengukir sejarah baru yang belum pernah tim sekolah ini meraihnya dan menang itu menjadi kebanggaan untuk semuanya karena kerja keras.


"Baiklah, jika itu memang mauamu. Tapi tolong bantu saya memberikan arahan pada mereka yang berjuang disana"


"Siap coach" Aku tau sebenarnya cocah Alam masih ingin memainkan ku dalam tim. Tapi yang aku tidak tau mengapa dia menerima tawaran orang tersebut dengan menerima uang untuk tidak memainkan ku dalam tim.


"Teman-teman tolong bantu aku untuk memberikan dukungan pada mereka yang berjuang. Teriak lah untuk memberikan semangat. Ini adalah menit-menit kritis. Setidaknya kami bisa memasukkan gol dalam gawang lawan untuk memperkecil kedudukan" Ucapku pada seluruh pemain cadangan yang ada di bangku cadangan.


Permainan dari tim kami memang sangat ngotot untuk membobol gawang lawan. Tapi permainan lawan yang tidak sportif dengan mengulur-ulur waktu yang seharusnya tidak penting membuat tim kami sangat geram. Banyak waktu yang terbuang sia-sia. Hingga menit ke 90 waktu normal, skor masih sama 2-0. Tapi tim kami terus melakukan serangan demi serangan yang meningkat untuk menembus pertahanan.


"Andai saja aku disana, mungkin tanganku juga ikut main" Aku sangat geram melihat permainan kotor mereka yang sedang asik mengulur waktu.


Tambahan waktu 4 menit yang diberikan oleh wasit. Serangan demi serangan dilancarkan walaupun sangat minim bisa membuahkan gol karena dinding pertahanan lawan sangat tebal.


Hingga akhirnya Ika bisa menembus pertahanan dan masuk ke kotak pinalty. Pertahanan di lini belakang menjadi kocar-kacir hingga melakukan pelanggaran pada Ika dan membuahkan tendangan pinalty. Kami bersorak gembira karena mendapatkan kesempatan untuk menciptakan gol walaupun hanya 1.


Fara yang akan mengeksekusi tendangan pinalty. Semua tim baik di dalam lapangan ataupun di luar lapangan berdoa dengan tenang. Bahkan pendukung kami juga berdoa tanpa ada suara sedikitpun. Menit demi menit berjalan, ini adalah kesempatan terakhir untuk mencetak gol. Meskipun kalah setidaknya kami masih membawa 1 kemenangan gol ke dalam gawang lawan.


*prit* suara pluit dibunyikan. Semua pemain dan pendukung kami terus memanjatkan doa kepada sang Pencipta. Sedangkan beberapa dari pendukung lawan terus berteriak agar menghilangkan konsentrasi Fara. Sejenak Fara memejamkan mata laulu mengeksekusi bola dengan tenang.


*golllllllll* teriakan gol menggembirakan semua pemain ataupun pendukung dari tim kami.


"Bagus Fara" aku berlari menghampirinya saat dia melakukan selebrasi.


Walaupun kalah yang penting sudah memberikan 1 gol dengan semangat yang sangat tinggi. Semua tim dan lari ke lapangan, seperti bola kemenangan saja. Gembira dan bangga terlihat dari wajah pemain. Ini adalah kemenangan sebenarnya walaupun kalah tapi setidaknya kekalahan dengan terhormat karena berjuang sampai keringat terakhir. Dan yang paling penting masuk ke dalam seminggu final.


Padahal yang menang adalah tim lawan, tapi kemenangan mereka kalah dengan kegembiraan dan teriakan kami yang hanya memiliki 1 gol di pertandingan ini tapi bisa masuk ke semifinal final. Karena yang ditunggu-tunggu adalah masuk ke pertandingan yang belum pernah di jejaki selama sekolah ini ikut kompetisi piala SMA sepakbola putri yang ke 6 kali.


Semua bergembira masuk ke ruang ganti. Aku juga ikut tersenyum merayakan bersama mereka. Menari dan teriakan serta nyanyian yang begitu gemuruh di ruang ganti. Para pemain dan pelatih bereaksi dengan meloncat gembira karena meskipun kalah tapi kami bisa menuju semi final.


"Makasih key, ini semua karena keputusanmu untuk kembali" Rega menghampiriku dan memeluk dengan bangga. Padahal aku tidak melakukan apapun hanya melakukan yang menurutku pantas untuk aku lanjutkan.


"Ini semua hasil dari kerja keras tim dan kamu adalah kapten yang paling hebat" Aku memuji Rega karena menurutku dia adalah kapten tim yang baik karena telah membawa punggawa kita lolos ke semifinal final. Kami berdua berpelukan dengan erat dan disusul para pemain lainnya juga memelukku kecuali Ana.


"Ayo kita bersiap untuk pulang dan berlatih, kita siapkan secara matang untuk pertandingan 3 hari lagi di semifinal final" Teriak coach Alam dan mencoba memnerikan kami semangat.

__ADS_1


"Siap coach" Mereka semua keluar dari ruang ganti. Aku sengaja keluar paling belakang dan menunggu coach alam juga keluar.


"Coach, maaf jika perbuatan saya menyinggung hati coach" Aku memberanikan diri untuk meminta maaf pada coach Alam atas perbuatanku yang ingin mundur dari tim serta membuat teman-teman kehilangan konsentrasi.


"Tidak key, kamu tidak salah. Saya yang salah karena tidak pernah memperhatikanmu baik selama berlatih ataupun dilapangan" Cocah Alam memelukku sebagai seorang anak. Dan menurutku dia seorang pelatih dan sekaligus ayah bagi para siswanya. Walaupun terkadang ada beberapa hal yang membuat dia tidak berfikir jernih tentang bola.


Kami berdua menyusul rekan-rekan dan masuk kedalam buat. Persiapan untuk berlatih selama 2 hari agar bisa nenenagkan pertandingan di semifinal final hingga menuju final.



" Gila, tim kita mengukir sejarah karena masuk ke dalam seni final untuk pertama kalinya"


"Betul, sepertinya tik ini akan menjadi tim hebat"



Perbincangan di sekolah semakin ramai saat kami memasuki semi final. Hal ini adalah sejarah karena bisa membawa tim sepak bola dengan sejauh ini ke semi final. Kami juga diberikan dispensasi di jam pelajaran karena harus berlatih lebih giat lagi untuk pertandingan ke depannya. Kami memiliki 2 hari yang digunakan untuk berlatih.



"Ayo semangat, semangat. Jangan leyah-leyeh saja kalian" Teriakan itu saat kami berlatih di lapangan.



Aku juga ikut berlatih dengan mereka semua. Coach Alam juga menjadi pelatih untukku. Dan akhirnya aku benar-benar mendapatkan arahan serta latihan yang baik dari coach Alam walaupun di hari-hari kemarin dia melepasku dan tidak pernah memberikan arahan atau latihan.



Saat pulang latihan, aku selalu membereskan bola dengan rajin dan dibantu beberapa teman lainnya. Lalu mereka semua bergegas pulang kecuali aku yang masih menata bola tersebut. Saat langkahku berlanjut untuk pulang, kembali aku mendengar percakapan dua oorang yang sedang berdiskusi.




"Tapi key juga murid saya pak, dan saya memiliki kewajiban untuk melatihnya"


"Berarti kamu sudah mulai melawan ku ya, kalau kamu berani maka semua biaya rumah sakit anakmu akan aku cabut" Aku terkejut mendengar ancaman itu.



Siapa orang yang bersama coach Alam, hingga dia mengancam sesuatu hal seperti itu. Dan ada apa dengan anak coach Alam sehingga dia membutuhkan biaya dari orang itu.



\*prakkkk\* aku tidak sengaja menabrak pintu saat ingin berlari. Langkahku bergegas pergi dan mereka berdua mengejarku tapi ada satu tangan menarik aku ke salah satu ruang kelas sehingga mereka berdua tidak bisa menemukanku. Jantungku berdebar kencang karena takut mereka mengetahui bahwa aku telah mendengar semuanya.



"Kak Dika"


"Ssssst" Aku mengerti dan langsung terdiam hingga mereka berdua pergi dan berhenti mencariku.



"Gawat, ada yang mendengar kita dan ini sudah tidak aman" Ucap seseorang yang berdiri di samping coach Alam

__ADS_1


"Saya ingin mengakhiri semuanya pak, saya takut ketahuan"


"Sudahlah diam, lakukan apa yang aku minta" Bentaknya yang membuat coach Alam terdiam. Lalu mereka bergegas pergi entah kemana.



"Kamu gapapa key" Aku menggeleng saat kak Dika bertanya padaku. Jarak kami sangat dekat hingga tanganku langsung mendorongnya agak jauh.



"Aduh, sakit key"


"Maaf, maaf, kita terlalu dekat kak" Kak Dika malah menggeleng dan agak menjauh dari ku.


"Itu siapa key? " Tanya kak Dika yang penasaran dengan orang tadi.



"Itu coach alam, dan satunya lagi aku tidak tau kak soalnya aku tidak melihat wajahnya"


"Kamu harus hati-hati, sepertinya mereka orang jahat" Aku mengangguk setuju dengan pernyataan yang kak Dika ucapkan.



"Yasudah, ayo kita pulang" Kami berdua pergi dari ruang kelas sambil melihat dan memastikan bahwa mereka berdua sudah benar-benar pergi dari sekolah ini.



"Oh iya kamu mau kemana" Aku mencoba melanjutkan perjalanan menuju halte untuk menunggu angkot.


"Menunggu angkot kak"



"Ngapain nunggu angkot, lebih baik ikut bersamaku kita pulang bersama-sama. Aku takut mereka masih mencarimu" perkataan kak Dika ada benarnya juga, lebih baik aku ikut dengannya daripada harus berhadapan dengan mereka berdua dan mengintrogasiku.



Kak Dika mengantarku pulang seperti biasa di persimpangan kampung dan kami berpisah disana. Kami sudah mulai baikan, tapi aku tetap harus menjaga jarak agar tidak terjadi kesalahpahaman antara aku dan Yuri.



Semenjak di taman itu, aku menjadi sadar karena kak dika yang mencoba memberiku kesadaran dan semangat untuk kembali masuk dalam tim. Menurutku perbuatan yang aku lakukan pada kak Dika selama ini sangatlah tidak baik. Dan aku harus memperbaikinya mulai sekarang dengan menjadi teman kak Dika.



Saat disekolah sikapku sudah biasa saja dengan kak Dika. Kami juga saling menyapa satu sama lain dan aku juga menyuruhnya untuk menyapa yuri dan ari sahabatku. Dan lebih tepatnya tujuanku adalah mendekatkan kak Dika dengan yuri. Yuri pernah berkata bahwa dia sangat suka dengan kak Dika. Dia juga ingin dekat dengan kak Dika melebihi senior dan junior. Tapi aku tidak bisa memaksakan perasaan kak Dika aku hanya bisa mendekatkan kak Dika dengan melakukan hal konyol bersama Ari.


Adapun hal konyol yang aku lakukan yaitu, aku memberikan hadiah pada kak Dika dan berkata bahwa itu dari Yuri begitupun dengan Ari yang memberikan hadiah pada Yuri dan berkata dari kak Dika. Berharap hubungan kak Dika dan Yuri semakin dekat.


Hari terus berlalu dan tiba waktunya pertandingan semi final diadakan. Sekolah dipulangkan lebih awal untuk melihat pertandingan dari kami. Tapi hanya Yuri yang datang bersama kak Dika karena aku yang memintanya.


Sedangkan Ari lagi-lagi tidak datang karena dia bilang ingin berkunjung lagi ke rumah neneknya. Aku tidak tau mengapa ari selalu menghindar di pertandingan ku. Padahal aku ingin kedua sahabat aku melihatnya, walaupun nanti aku tidak dimainkan.


"Kamu kemana sih ri, padahal aku ingin melihatmu menonton pertandingan" Sedikit kecewa dalam diriku. Dan aku tidak boleh egois karena Ari memiliki kepentingan pribadi.

__ADS_1


Saat pertandingan dimulai, coach Alam memainkan aku di pertandingan awal. Aku bermain bersama pemain inti di babak pertama. Bermain dengan berani dan sesuai dengan arahan yang dikatakan oleh coach Alam. Kali ini aku mengikuti instruksi yang diberikan oleh coach Alam. Teriakannya akan semakin kencang apabila pandangannya menatap tim lawan mulai mendekati kotak pinalti dari kami.



__ADS_2