
Hatiku tidak nyaman bila tidak membuka tas dan mengecek isi yang ada di dalamnya. Aku yakin pasti ada sesuatu yang mereka masukkan. Terlihat dari gerak-gerik kedua saudara perempuan ku itu.
"Bentar, sepertinya ada hal baru" aku mencoba membongkar kembali isi tasku karena seperti ada yang aneh.
Dan benar saja setelah aku buka ada sepatu bola baru. Aku langsung melihat ke mbak Nike dan mbak Yeni secara bergantian. Aku yakin lasti mereka yang melakukan ini padaku.
"Apa ini?"tanyaku pada meraka berdua. Lalu mereka terdiam dan pura-pura sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
"Pasti kalian yang membelikan?"
"Sudah, kalau ada ya pakai saja" ucap mbak Nike sambil rebahan membaca buku.
"hiksss" aku menangis kecil sambil memegang sepatu dan memeluknya.
Saat ini aku memiliki satu sepatu saja tapi belum sempat membelinya. Sedangkan uang gaji aku tabung untuk membayar semua uang ibu yang diberikan untuk bekalku. Aku sudah berjanji membalikan semua uang yang ibu kirim padaku
"Kamu kenapa nangis?" Mbak Yeni dan mbak Nike turun menghampiriku.
Aku langsung memeluk mereka berdua dan mengucapkan terima kasih yang sangat banyak. Sepatu ini sangat aku butuhkan sebagai cadangan apabila ada sesuatu hal yang tidak di inginkan.
"Sudah, sudah, kamu harus janji sama kita berdua. Bahwa kamu harus bermain sangat bagus" ucap mbak Nike serius padaku. Aku mengangguk mengerti dan kembali memeluk mereka berdua.
Tanganku terharu dan bangga memiliki orang-orang baik yang selalu mengelilingiku baik di saat senang ataupun di saat terluka. Aku berjanji akan membahagiakan kalian semua.
"Ihh, kamu ini cengeng sekali seperti anak bayi" Ucap mbak Yeni padaku. Lalu dia menjitak kepalaku dan berbalik untuk masuk ke dalam kamarnya.
Aku tau bahwa dirinya juga terharu, tapi dia berbalik untuk menutupi kesedihannya agar tidak terlihat okehku dan menjadi ejekan. Terlihat jelas matanya bengkak saat aku ingin tidur di kasurnya.
Kali ini kami tidur dalam satu ranjang. Walaupun berdesakan tapi setidaknya ini untuk menutupi rindu yang akan tiba dalam 2 Minggu kedepan. Memang kelakuan kami kocak, tapi dalam kekocakan selalu diselingi dengan cinta yang tersembunyi.
"Dadah buk, mbak Nike, mbak Yeni. Key berangkat dulu" aku berangkat bersama bapak menaiki sepeda motor menuju ke klub. Pagi-pagi buta jalanan dipenuhi dengan embun yang sejuk.
Aku menghirupnya dengan kesenangan yang membuat hatiku damai. Pagi ini aku gembira karena akan berangkat ke luar kota untuk pertama kalinya. Aku akan bermain dengan baik agar mendapatkan kemenangan.
"Pak, jangan lupa doakan Key biar jadi juara ya pak" ucapku yang menganggu konsentrasi bapak menyetir.
"Iya, tenang saja. Bapak akan mendoakan kamu agar menjadi pemain hebat" senyumku terlukis indah mendengarkan perkataan bapak.
Tidak lama kemudian kami sampai di tempat klub. Sudah ada satu bus yang akan membawa rombongan kami ke luar kota. Disana banyak pemandangan di kanan kiri yang membuat bahagia. Semua pemain diantarkan oleh kedua orang tua yang lengkap.
"Andai saja ibu juga mengantarku bersama bapak disini, pasti suasana akan tersanya nyaman" gumamku dalam hati.
Mereka memeluk anaknya yang akan pergi berjuang dalam pertandingan. Pelukan kasih sayang dari ayah dan ibu mereka. Diantarkan menggunakan mobil mewah dan hanya aku yang diantarkan menggunakan motor. Itupun hanya bapak yang mengantarkan karena sepeda bapak tidak bisa bonceng 3 jadi hanya kami berdua yang berangkat.
"Pak, key berangkat dulu ya"
"Iya hati-hati disana nak" bapak memelukku dengan erat dan membelai rambutku sambil menyelipkan nasehat dan pesan padaku.
"Fokuslah untuk bermain, tetap rendah hati saat menang, dan jangan selalu cepat puas dalam segala apapun"
"Baik Pak"
Andai saja ibu juga ikut mengantarkan ku bersama bapak, pasti aku merasakan memiliki keluarga yang lengkap. Karena keluarga Yang aku punya saat ini adalah mereka berdua dan juga mbak Yeni serta mbak Nike.
Kami berbaris untuk menerima arahan dari pelatih dan juga manajer. Saat aku lirik, ternyata bapak masih menungguku. Sama seperti kedua orang tua teman-temanku yang lain. Mereka masih menunggu kami untuk pergi.
__ADS_1
"Baik, arahan ini saya cukupkan. Dan sekarang silahkan masuk ke dalam bus untuk berangkat" aku melambaikan tangan pada bapak, begitu juga semua pemain mengucapkan selamat tinggal pada kedua orang tuanya.
"Pak, key berangkat" aku melambaikan tangan sambil tersenyum bahagia. Teriakanku paling keras diantara teman-teman yang lain. Entah kenapa rasanya sangat ada yang ganjil, mungkin karena ibu tidak ikut jadinya terasa tidak lengkap.
Melambaikan tangan pada bapak yang masih melihat bus akan berangkat. Dari balik jendela aku tersenyum, merasakan kasih yang besar dari seorang ayah. Aku terus melambaikan sebagai ucapan selamat tinggal dan aku akan pulang dengan kabar yang baik.
Semua pemain banyak yang menangis sesenggukan saat meninggalkan keluarganya. Hanya aku yang tersenyum karena yakin bahwa perpisahan sementara ini akan menjadi kenangan serta langkah awal menuju kemenangan.
"Tidak ada perpisahan yang indah karena semua akan meninggalkan luka. Namun perpisahan itu akan berakhir jika pulang dengan membawa rasa bangga" ucapku dalam hati sambil tersenyum dan menahan rasa tangis saat mengingat bapak.
\*Ari, Yuri. Aku sudah berangkat ke luar kota. Doakan aku agar bisa pulang dengan juara\* aku mengirim pesan pada mereka berdua sebagai tanda pamitan pagi ini.
\*Hati-hati sahabatku sayang, aku akan selalu mendoakan mu\* balasan Yuri selalu alay, tapi itulah salah satu tanda sayang untukku.
\*Hati-hati ya key, aku doakan kamu menang dengan membawa gelar untuk pulang\* cuitan Yuri dan Ari selalu membuatku tersenyum aku jadikan mereka berdua adalah semangat dalam setiap langkahku. Sedangkan keluarga ibu adalah semangat dalam kehidupanku.
Pelatih menginformasikan bahwa perjalan akan di tempuh sekitar 4 jam lebih. Jadi kami disuruh untuk istirahat agar tidak kecapean sampai di tempat pertandingan nanti.
Di dalam bus juga sudah tersedia makanan dan minuman bagi kami. Jadi bisa dinikmati di sepanjang jalanan. Perjalanan yang asik, semua bernyanyi dan bergembira. Bukannya digunakan istirahat malah bernyanyi dengan begitu banyak tawa.
"Key asik juga ya kita bermain di luar kota" ucap Ani yang duduk di sampingku.
"Alhamdulillah, jadi ini awal kita untuk memetik pelajaran baik menang ataupun kalah" sahutku sambil tersenyum dan bernyanyi kembali bersama rekan-rekan lainnya.
"Asik bentar lagi ke luar kota. Aku akan membuka mata sepanjang jalan key. Huh" ucapnya sambil mencubit pipiku dengan gemas dan aku hanya memandangnya dengan heran saja sambil tertawa.
\*krokk, krokkk\* suara yang sangat keras merasuki telingaku dari samping.
"Hmm, bilangnya ingin membuka mata di sepanjang jalan. Tau-taunya mendengkur dengan keras" Ucapku saat melihat Ani yang sudah terlelap.
Baru saja bilang tidak ingin tidur dan ingin melihat pemandangan yang indah. Eh ternyata dia malah tertidur lebih dahulu daripada aku.
Mana dengkuran nya sangat keras sekali, ingin rasanya aku sumpal dengan tanganku. Tapi kasihan juga, entah dia kecapean berbenah atau kelayapan tadi malam. Matanya bengkak seperti kurang tidur.
"Lebih baik aku tidur juga" Gumamku sambil memperoleh posisi uang enak untuk tidur mengikuti Ani yang sudah terlelap dari tadi. Mungkin mimpinya sudah sampai kuar negeri, tidurnya serasa di rumah sendiri.
*crittttt* bus berhenti mendadak membuat aku terbangun dari tidur yang lumayan lama dalam perjalanan ini. Aku mencoba membuka mata secara perlahan, mungkin ini sudah sampai pikirku.
"Kenapa? "
__ADS_1
"Bocor bos" Percakapan antara pelatih dan juga sopir ternyata mobil kami mengalami kebocoran.
Pelatih bilang katanya masih untung karena mengalami kebocoran saat bus sudah turun dari jalan tol. Jadi penumpang bus menepi untuk beristirahat.
"Anak-anak, ayo bangun semuanya. Bisa kita ada masalah dan harus di perbaiki terlebih dahulu" Instruksi pelatih membuat semuanya terbangun dan bergegas untuk turu. Saat aku menatap Ani ternyata dia masih tertidur.
"Astaghfirullah, masih ngorok saja manusia satu ini" Ucapku sambil menepuk kepala.
Tanganku segera membangunkan Ani yang terlelap terlalu dalam. sampai-sampai semua penumpang sudah keluar dan tinggal aku serta Ani saja yang masih ada di dalam.
"Hey ayo bangun Ani, astaghfirullah" Aku heran dengan Ani, padahal suaraku sudah keras tapi dia belum bangun juga.
*plak, plak* tamparan kecil berulang kali aku berikan padanya pada pipinya. Dan pada akhirnya dia terbangun juga.
"Udah sampai ya Key? " Tanya Ani sambil mengucek matanya untuk menyadarkan diri. Tatapannya sangat polos seperti tidak tau apa-apa.
"Sudah, sudah sampai ke luar negeri" Sahut ku dengan kesal. Dan dia hanya tertawa kecil padaku seperti tidak terjadi apa-apa.
Akhirnya aku dan Ani turun dari bus. Semua pemain dan pelatih serta manajer mampir ke sebuah warung untuk berteduh dan sekalian makan. Sedangkan pak sopir sedang sibuk mengganti ban.
"Kamu tadi malam kemana? " Tanyaku yang duduk berdampingan dengan Ani si warung itu.
"Aku tadi malam belanja dan keluar sama temen-temen untuk mempersiapkan bekal hari ini" Sahutnya dengan mata yang masih tidak kuat untuk terbuka.
"Gila, tidurmu seperti kebo" Jujur ku pada Ani yang membuat dia tertawa terbahak-bahak, begitu juga denganku. Kami terus asik berbicara sendirian lalu mataku sibuk melihat pak supir yang hanya di bantu oleh neneknya mengganti ban.
Aku pikir hanya satu ban yang bocor dan ternyata ada 3 ban yus yang mengalami kebocoran. Kayanya pak supir sudah menelpon bengkel terdekat untuk membantu memperbaiki tapi dari tadi belum datang juga.
"Key, mau kemana? " Tanya Ani saat aku beranjak dari tempat duduk. Hatiku tidak tega disaat pak supir kesusahan, kami hanya asik duduk makan dan minum menikmati semuanya. Sedangkan mereka kepanasan.
"Aku mau bantu pak supir dulu" Sahut ku sambil berjalan mendekati ke arah pak supir yang ibuk memperbaiki mobil.
"Aku ikut" Ternyata dari tadi Ani juga memperhatikan hal yang sama denganku. Yaitu pak supir dan kenek yang sedang kesusahan memperbaiki ban.
Aku pikir bila dikerjakan bersama-sama maka akan lebih ringan dibandingkan harus diam, duduk dan menunggu maka itu akan lebih lama. Dan akan membuang-buang waktu serta wnergi saja di pinggir jalan.
"Pak, bolehkah saya membantu?" Tanyaku sambil memegang ban yang sudah di buka.
"Tidak usah dek, nanti tangan kamu kotor"
"Tidak apa-apa pak, kita berdua sering main kotor kok" sahut Ani yang ada di sampingku, aku mengangguk setuju dengan perkataannya.
Kami berdua langsung duduk membantu memegangi ban bus selanjutnya yang akan di buka. Ternyata sangat berat, tidak seperti apa yang aku bayangkan. Ku pikir ringan ternyata 3 orang tidak cukup untuk memegangnya.
"Wahh, enak saja kamu key. Mendapat pahala tapi sendirian. Kami kan juga mau" ternyata semua teman-temanku ikut turun dan membantu. Mereka membantu memegangi ban mobil begitu juga pelatih dan manajer yang ikut mengambil ban cadangan.
Aku tersenyum melihat pemandangan indah ini. Semuanya bekerja sama untuk mendapatkan hal yang terbaik. Dalam suasana ini memiliki bercanda siang. Mengangkat ban dan membantunya untuk bongkar serta memasang. Terus tertawa bersama tim kebanggaan.
"Hey mukamu"
"Kenapa? "
"Hahahahhaha" Semua tertawa saat melihat wajahku hitam karena oli.
Mungkin tabganku tidak sengaja memegangnya dan mengusapkan oli itu pada wajahku. Aku segera membersihkan dengan tertawa bersama teman-teman. Bukannya tambah bersih tapi wajahku semakin hitam.
"Bagus key, buat penyamaran abdi negara" Ucap salah satu teman yang ada di bagian ujung.
"Iya key, cocok sekali"
"Hahahhah" Bukannya susah di timpa musibah, tapi malah menikmatinya dengan canda tawa. Mungkin inilah cara Tuhan memberikan cobaan ban bocor agar kami bisa menjadi akrab satu sama lain.
Tidak lama kemudian mekanik dari bengkel sudah datang dan membantu pekerjaan kami yang tinggal sedikit. sekaligus mereka membawa ban yang sudah di pesan. Karena ban cadangan hanya ada 2, jadi kami memesannya karena kurang satu.
Pekerjaan sudah selesai, tidak peduli memakan waktu yang cukup banyak karena masalah ban bocor yang penting kami menikmati dengan senang. Karena rasa capek sudah terbayar dengan semangat satu sama lain.
"Akhirnya selesai juga" Ucap pelatih lalu menyuruh kami semua beristirahat sejenak sambil minum es. Tidak lagi duduk di kursi melainkan menyandarkan diri di bawah dan tidak peduli baju kami kotor.
"Ku kira hanya wajahku yang kotor, ternyata kalian lebih parah. Hahahhahaa" Ucapanku membuat mereka semua panik.
Masing-masing dari mereka mengeluarkan kaca ataupun ponsel untuk melihat keadaan wajahnya yang acak-acakana seperti orang gila.
"Hahahahh" Semua tertawa dengan keras. Bahkan wajah pelatih, asisten pelatih dan juga mengajar tertawa keras karena aja hanya yang hitam.
Tawa ini dikelilingi dengan kegaduhan kendaraan yang lalu lalang. Di terpa terik mentari yang begitu menyengat pada hari ini ini namun terasa hangat karena ada mereka yang siap menjadi penghibur diri.
__ADS_1