Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
106. Lapangan Kambing


__ADS_3

Setelah beristirahat kami melanjutkan perjalanan kembali. Masuk kedalam bus dan menikmati pemandangan. Kali ini tidak bernyanyi melainkan fokus dengan pemandangan indah. Bukit yang dipenuhi kabut, gunung-gunung yang indah di ujung jalan.


Aku terpukau dengan semua pemandangan yang indah. Dengan tataan pohon-pohon yang rindang menghiasi hingga di penghujung jalanan. Hingga aku terlelap dalam keindahan itu. Sepertinya hatiku sudah lelah dan waktunya istirahat, karena perjalanan masih panjang.


"Anak-anak, kita sudah sampai. Ayo turun untuk masuk ke kamar kalian masing-masing" Instruksi dari pelatih membuatku terbangun dari tidur. Aku bergegas melihat sekeliling, sepertinya bus kami sudah sampai di tempat hotel penginapan.


"Hah, ini kos-kosan apa hotel coach" teriak salah satu pemain yang melihat bahwa penginapan yang dijanjikan adalah mewah tapi nyatanya biasa saja seperti ruangan kos yang memiliki satu kasur namun ini agak lebar sedikit.


Bila di lihat-lihat suasananya tidak seperti hotel untuk para pemain bola. Apalagi ini turnamen besar antar kota. Mana mungkin penginapannya seperti ini, dan cukup membingungkan.


"Gak salah coach, sepertinya kita nyasar" sambungnya lagi.


"Tidak, ini adalah penginapan untuk kita dan dalam satu kamar berisi 3 orang" sahut pelatih yang menjelaskan.


Ternyata penginapan ini benar untuk kami. Lalu kami di suruh menunggu untuk menerima kunci. Setelah itu kunci di dapatkan dan kami memasuki kamar yang sesuai dengan nomor kunci tersebut.


"Key, namamu denganku ya?"


"Iya ayo Ani, Ira kita ke kamar" aku mendapatkan bagian satu kamar dengan Ani dan Ira.


Saat membuka kamar tersebut, aku terkejut karena ranjangnya yang kecil. Biasanya cukup untuk 2 orang tapi kami harus mengalah dan tidur berdesakan.


"Kecil banget, kalau begini bagaimana bisa kita tidur dengan tenang" keluh Ira yang masih berdiri di tengah pintu.


"Sudah ayo masuk aja, masih mending kita dapat kamar. Kalau tidak mungkin sudah tidur di emperan" ucapku sambil tersenyum.


Aku menarik tangan Ani dan Ira agar segera masuk dan tidak mengoceh ditengah pintu. Karena dia manapun kita berada harus mengutamakan tentang rasa syukur dan menerima apa yang telah didapatkan saat ini.


"Iya sih key, tapi ini keterlaluan tau" sambung Ani yang juga protes saat duduk di atas ranjang.


"Kalian harus bersyukur, karena kita kesini bukan liburan tapi untuk turnamen" sahutku sambil merapikan barang bawaan dan diikuti oleh Ani. Sedangkan Ira masih tercengang melihat setiap sudut kamar.


"Sudah ayo" aku kembali menarik tangan Ira dengan paksa. Lalu menyuruhnya untuk duduk di kamar dan membuatnya santai.


Aku menikmati apa yang sudah di berikan, karena jika kita mengeluh maka rasanya akan sangat tertekan dengan fasilitas yang ada. Jadi mau tidak mau harus menikmati dengan ikhlas.


*Brak,brak,brak*


"Coba rasakan, kasurnya bagus juga" ucapku sambil jingkrak-jingkrak di atas kasur untuk menikmatinya walaupun terlihat sangat keras.


"Iya, asik juga buat main begini" Ani dan Ira akhirnya mengikuti apa yang aku lakukan. Dan bibir mereka juga melebarkan senyum kesenangan.


Aku turun dan mengeluarkan barang bawaan lalu menatanya di lemari yang ada. Karena hanya ada satu lemari jadinya kita harus membaginya menjadi 3 bagian. Bagian atas, tengah dan bawah.


"Key ternyata asik juga" ucap Ira yang merasakan hal ini. Mungkin dia terkejut dengan keadaan kamar yang kecil tidak seperti di rumahnya.


Karena Ira adalah salah satu anak yang memiliki perekonomian tinggi atau bisa dibilang kelas atas. Jadi mungkin dia tidak terbiasa dengan suasana ini. Begitu juga dengan Ani, karena hanya aku yang memiliki perekonomian yang rendah di antara para pemain di tim ini.


"Kalian harus tau, bahwa yang terlihat sederhana tidak semuanya buruk kok. Buktinya ini" ucapku sambil meyakinkan mereka yang duduk di atas kasur. Berdiskusi dengan penuh tawa dan cerita agar mereka tidak sumpek.


"Iya benar katamu Key, kalau kita murung pasti rasanya tidak nyaman di tempat ini. Tapi kalau kita membuat tertawa pasti rasanya enak sekali" sambung Ani yang perlahan merasakan kenyamanan walau masih sedikit.


"Iya, di rumahku barangnya mewah dan besar tapi aku tidak merasakan kesenangan disini. Loncat-loncat bersama kalian berdua" aku tersenyum mendengar pernyataan dari Ira. Karena kemewahan itu bukan tolak ukur untuk bahagia.


"Sudah ayo kita bereskan semua barang-barang kita lalu istirahat, karena nanti sore akan diadakan latihan. Dan 2 hari ke depan kita akan bertanding" jelasku yang membuat Ani dan Ira bergegas mengambil barang bawaannya.


Barang bawaan Ani dan Ira sangat banyak,, bahkan mereka sudah mempersiapkan mie instan dan juga makanan ringan di dalam tasnya.


Aku pikir teman-temanku membawa satu tas ternyata banyak yang membawa 2 tas. Satu khusus baju mereka dan satunya lagi khusus untuk makanan dan camilan.


"Duh berat banget tas aku tau" aku membantu mengangkat tas mereka berdua yang isinya seperti ingin pindah keluar kota saja. Bahkan mereka membawa 3 sepatu sekaligus, katanya untuk jaga-jaga takut ada hal yang tidak diinginkan.


"Ini semua mamaku yang membereskan. Dia membelikan apa yang aku minta" ujarnya.


"Aku juga, mama dan ayahku membelikan banyak barang baru. Baju bola, sepatu , kaos kaki, dan hampir semuanya di perbarui" percakapan mereka sangat asik.


Semua yang diinginkan bisa didapatkan dengan mudah karena kedua orang tuanya masih lengkap dan menyayangi mereka. Apalagi uang yang mereka miliki cukup memenuhi keinginan mereka.


"Kalau kamu key?" Tanya Ani saat melihatku diam saja dari tadi sambil merapikan baju ke dalam lemari.


"Hmmm, yang membereskan barang bawaan ini adalah ibu dan kedua kakakku. Mereka sangat menyayangiku, dan tadi aja bapak yang mengantarku. Kata bapak aku harus bermain baik agar bisa membawa pulang gelar juara" Jelasku.


Aku selalu membanggakan keluarga kecilku. Karena mereka pantas mendapatkan kebanggaan dariku yang akan aku ceritakan kepada seluruh teman-teman bahwa keluargaku saat ini adalah yang paling terbaik dari apapun.


"Wahhh, enak banget yah. Tapi benar katamu Key kalau kita harus bisa membawa pulang piala" aku mengangguk dan dengan perkataan Ira.


Bahwa kami harus berjuang sampai titik penghabisan agar mendapatkan gelar juara dan di bawa pulang ke kampung halaman. Walaupun itu kampung orang, bukan kampungku.


Kami bertiga sudah selesai melakukan pembersihan diri dan beribadah. Dan juga sudah menyelesaikan membereskan barang bawaan.


"Lihatlah, lemari ini tidak cukup untuk barangku"


"Benar, barangku juga Ir" Mereka berdua ribut tentang lemari. Tadi ribut tentang kamar dan sekarang beda lagi.

__ADS_1


"Sudahlah, kalian lstakkan saja seadanya. Biar aku saja yang mengalah dan mencari tempat lain" Sahut ku sambil tersenyum.


"Pakai apa? " Tanya ani. Aku menjawabnya dengan senyuman saja.


Walaupun lemari tidak cukup, tapi aku tidak kehilangan akal. Mencari kardus bekas air minum tadi di bus. Aku membawanya dan menjadikan lemari penyimpanan kecil di kamar kami.


"Ini, hahaha" Ujarku sambil membawa kardus. Membuat mereka berdua juga ikut tertawa dengan ramai di kamar ini.


Kami bertiga tidur di atas ranjang yang sama. Rasanya sangat sempit untuk bertiga. Saat mereka terlelap, aku memilih untuk mengalah demi kenyamanan mereka berdua untuk istirahat. Dengan beralaskan selimut yang ibu bawakan, aku tidur di bawah.


Tidak ada yang lebih nikmat dari kata syukur. Apapun yang terjadi tetap bersyukur, dan mencoba merenungi hal yang masih ada di bawah kita. Jadi bersyukur adalah jalan utama untuk semua umat manusia agar nikmat selalu ditambah oleh Allah sang Maha Pencipta.


Lagi pula aku merasa nyaman tidur di bawah, udaranya dingin karena berdekatan dengan lantai. Bisa bergerak bebas kemanapun karena sendirian ada di bawah. Jadi banyak kelebihan untuk tidur dibawah, heheheh.




"Astaga Keyla, kamu kenapa tidur di bawah" aku terkejut saat Ira dan Ani ada di sampingku dan berteriak.



"Aduh kalian, ini sudah jam berapa?" Tanyaku sambil mencoba menyadarkan diri dengan mengucek mata.



"Ini sudah pukul setengah 3 sore Key" Aku terkejut dan langsung bangkit dari tidurku.



"Santai aja Key, kan nanti kita latihan pukul 4"


"Iya benar, tapi ingat kita harus sholat dulu baru berangkat latihan" Sahut ku sambil mengambil perlengkapan untuk mandi.



"Eh key, tadi kamu belum jawab pertanyaan kami" Ucap Ani saat aku ingin masuk ke kamar mandi.



"Apa? "


"Kamu kenapa tidur di lantai, kan ada kasur? " Aku tersenyum menatap mereka berdua. Lalu duduk di dekatnya sebentar.




"Key" Panggilan Ira membuatku menoleh lagi ke belakang.



"Terima kasih" Aku tersenyum pada mereka berdua. Padahal ini adalah hal kecil yang aku lakukan. Tapi mereka tidak lupa untuk mengucapkan rasa terima kasihnya padaku.



Setelah mandi aku langsung melakukan ibadah. Begitu juga dengan Ira dan Ani yang membersihkan diri dan juga beribadah secara bergantian. Aku yang sudah selesai melakukan kewajiban, selanjutnya mempersiapkan barang yang akan digunakan untuk latihan.



"Sepatu ini akan aku gunakan mbak" Gumamku sambil memegang sepatu pemberian kedua kakakku.



Sepertinya ini bukan sepatu murah yang aku miliki dulu, tapi ini sepatu mahal yang modelnya saja hampir sama dengan sepatu David. Aku sangat bangga memiliki saudara seperti mereka berdua.



"Wuihhh, bagus banget sepatunya" Ani yang sudah selesai beribadah langsung menggodaku saat melihat sepatu baru yang ada di tangan.



"Iya, alhamdulillah ini pemberian mbakku" Aku selalu membanggakan mereka berdua, karena kebanggaan itu pantas untuk ku berikan pada seorang kakak yang sangat aku sayangi.



Ani dan Ira ikut mempersiapkan diri sebelum latihan. Memasukkan barang bawaan dalam tas kecil untuk menuju lapangan. Selanjutnya kami bertiga keluar lapangan tepat pukul setengah 4 sore.



"Gila, kamarnya kecil banget"


"Iya, mana kasurnya keras lagi. Aku jadi gak bisa tidur" Percakapan mereka sore ini.

__ADS_1



"Iya benar, aku juga gak bisa tidur" Di luar sudah berisik dengan celoteh teman-teman dari kamar lain. Aku, Ira dan Ani saling menatap dan tertawa bersama.



"Hahahah"


"Untung ada kamu Key yang ngajarin kita buat bersyukur, jadi bisa nikmati kasur kasar deh" Ujarnya dengan gelak tawa.



"Iya beneran Ani, aku awalnya juga tidak bisa tidur, saat inget omongan Key jadinya tidurku nyenyak" Ucap Ani dan Ira saat mereka mengingat apa yang aku katakan dengan perkataan bersyukur.



"Sudah ayo kita kumpul, " Ajakku untuk berkumpul di samping bus. Karena perjalanan ke lapangan yang cukup jauh dari penginapan jadi kita harus menaiki kendaraan untuk menuju ke sana.



Saat semuanya berkumpul, pelatih memberikan arahan sedikit dan setelah itu semuanya naik ke dalam bus. Di dalam perjalanan kami selalu bernyanyi dan tertawa untuk menghilangkan sumpek yang ada.



Perjalanan yang indah bila di lewati dengan kesenangan. Maka nikmatilah apa yang ada saat ini bukan mencari hal yang tidak ada disini untuk kalian nikmati.



Di dalam bus ada yang bernyanyi, berjoget dan bergoyang. Katanya kita harus bersenang-senang dalam keadaan apapun. Karena kesenangan adalah hal utama untuk menghilangkan stres yang ada.



Apalagi mereka stres karena kamar yang kecil dan tidur yang juga berdesakan. Maka dari itu bergembira di dalam bus adalah jalan satu-satunya.



"Kita sudah sampai ke tempat latihan, saya minta tolong untuk bantu membawa perlengkapan nerlatih" Intruksi coach Jaka pada para pemain. Kami turun secara bergantian lalu beralih ke tempat perlengkapan untuk di turunkan.



Masuk ke dalam lapangan sambil bersuka ria. Berganti pakaian di ruang ganti stadion kecil. Lalu masuk bersama-sama menginjak tanah lapang yang asing. Seketika semuanya terdiam melihat lapangan yang tidak sesuai dengan harapan.



"Coach, ini lapangan apa? Kenapa rumputnya seperti di sawah saja"


"Iya Coach, lapangnnya kok gini sih"


"Mana rumputnya sedikit lagi"


"Iya Coach" Celoteh teman-teman yang tidak Terima dengan lapangan yang disediakan.



Bagaimana bisa pertandingan besar di luar kota tapi semuanya hancur dengan fasilitas yang diberikan. Apa yang harus kami katakan, kenyamanan saja yang di dapat tidak ada. Serta sangat jelas lapangan dengan kualitas rendah.



"Key, lapangannya seperti tempat kambing bergulir" Bisik Ani di sampingmu, membuat aku tahan tawa karenanya.



"Sudahlah, kita nikmati saja" Sahut ku mencoba berfikir dengan baik dan tenang.



Tidak ada yang menerima lapangan ini dengan baik jika dilihat ini adalah lapangan dengan kualitas yang sangat buruk semenjak aku bermain bola.



"Kalian harus bersyukur, yang penting kita memiliki lapangan" Ucap Coach Jaka menenangkan kami semua.



Aku juga kecewa saya melihat lapangan yang seperti ini, aku pikir kita bisa menikmati lapangan yang standar. Bahkan lapangan rumahku saja lebih bagus dari lapangan disini.



"Ayo sekarng kita berdoa untuk latihan" Kami diam sejenak dan berdoa. Berharap latihan lancar dengan keadaan seperti ini. Aku juga mencoba untuk menikmati latihan seperti ini.



"Temen-temen, kita bayangin kalau lapangan ini sama seperti lapangan kelas eropa. Dan jadikan lapangan ini adalah langkah awal untuk kemenangan" Ucapku yang merangkul satu sama lain untuk berfikir positif.

__ADS_1



~~~~ BERSAMBUNG ~~~~


__ADS_2