Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
107. Jangan tertunduk


__ADS_3

Mereka semua ribut dengan keadaan lapangan ini dan tidak mau menerimanya. Memang lapangan yang sangat buruk, namun tidak ada pilihan untuk pindah dan harus tetap menjalani latihan disini.


"Tapi Key lapangan ini terlalu buruk"


"Iya Key, bisa-bisa kita main tidak pakai sepatu saja biar tidak becek" Mereka memang benar, tapi tidak ada salahnya kita menikmati dengan mengucap syukur. Lalu menjalankan tugas dengan baik dan ikhlas setiap detiknya.


"Kalian memang benar, tapi setidaknya kita tetap bersyukur dngan semua ini" Sahut ku kembali mencoba membuat mereka menerima keadaan ini.


"Iya sih key, tapi panitianya gak ada otak sih" Mereka terus saja ngoceh padahal latihan sudah dimulai.


"Ingat, kalian disini bukan untuk liburan tapi untuk bertanding membawa nama baik desa yang bisa terkenal di luar kota" Mereka mencoba meresapi apa yang aku katakan. Satu per satu mereka mengerti tentang apa yang aku ucapkan.


Kali ini mereka mencoba menikmati pertandingan. Tidak ada lagi yang memperdulikan sepatu kotor, baju kotor dan yang paling penting adalah berlatih dengan baik dan sungguh-sungguh.


"Ayo, ayo semangat" Teriak Coach Jaka pada kami semua.


Aku dan teman-teman meningkatkan stamina untuk berlatih. Yang awalnya bermalas-malasan karena kondisi lapangan, kini semakin semangat untuk menjelajahi lapangan.


"Tendangan" Latihan tendangan yang baik, kami berlatih dengan tenang dan senang. Menendang bola dengan fokus yang tinggi, bila terjatuh karena terpeleset maka akan membuat semuanya tertawa.


Tidak ada lagi yang murung dengan latihan ini. Bahkan mereka menganggap sedang bermain di sawah seperti pada jaman dahulu yang ada di desa-desa katanya.


*prit* latihan telah selesai, kami berkumpul di hadapan pelatih dengan pakaian dan sepatu kotor. Bahkan wajah kami juga ada yang kotor karena mencoba semua trik latihan yang diberikan.


"Kita cukupkan latihan hari ini, semoga besok diberikan kelancaran untuk latihan serta pertandingan pertama di hari selanjutnya. Berdoa mulai" Menundukkan kepala dengan keyakinan masing-masing.


"Lihatlah, wajahmu seperti lwngembara kambing yang sedang bermain di sawah" Ejek Ani padaku.


"Dan wajahmu seperti hiasan kendi, cuman masih belum dikeringkan"


"Hahahhaha"


*plak*


"Key" teriak Ani saat aku melemparinya dengan lumpur. Begitu juga dengan yang lain, mereka bersenang-senang pada hari ini menggunakan lumpur.


Setelah selesai, kami bergegas menuju ke ruang ganti untuk membersihkan diri dari kotoran lumpur. Agar nanti naik ke dalam bus tidak kotor. Beberapa menit kemudian kami semua naik ke dalam bus dna bergegas kembali ke penginapan.


"Key lihat wajahku, apakah sudah bersih? "


"Sudah Ani, kamulah yang paling cantik" Jawabku sambil tersenyum padanya. Dan seperti biasa bernyanyi serta bergembira di dalam bus adalah salah satu penyemangat agar tidak stres.


Perjalanan yang sangat baik, dan latihan yang cukup baik. Walaupun lapangan seperti itu yang kami terima, setidaknya skill dalam diri masing-masing bisa membuat kami berani dan bangkit tanpa rasa takut.


"Aaa, capek sekali" Baru saja sampai di kamar, Ira melemparkan diri di lantai untuk menikmati dinginnya lantai.


"Iya Ira, apalagi lapangannya seperti sawah" Sambung Ani. Dan mereka tergeletak berdua di atas kasur.


"Iya sawah, dan kita yang bajak"


"Hahahhahah" Cair kembali suasana kamar dengan perkataanku.


Kami bergantian untuk mandi dan membersihkan diri. Mencuci pakaian sendiri adalah makananku sudah dari dulu. Jadi tanganku sudah bersahabat dengan busa sabun dan sikat cuci baju.


"Aduhhh, tanganku lecet semua" Keluh kesah dari hati Ira yang merasa sangat susah mencuci baju sendiri. Begitu juga dengan Ani yang mengeluh karena mereka berdua terbiasa mencuci baju dengan mesin cuci di rumahnya.


"Ingat, kalian harus latihan mandiri. Dan nanti di timnas juga belajar mandiri jauh dari orang tua" Sahut ku dengan kegaduhan mereka berdua yang tidak selesai-selesai.


"Iya sih key, tapi.... " Belum selesai ani berbicara, aku langsung menempelkan jari telunjuk ke bibirnya.


"Sudah jangan mengeluh, nikmati saja prosesnya. Yuk persiapan makan malam" Akhirnya mereka diam walaupun di hatinya banyak keluh kesah. Kami bertiga keluar dari kamar untuk melakukan makan malam di ruangan yang sudah di sediakan.


Tempat makan malam juga tidak seindah apa yang kami bayangkan. Masih ada saja yang mengeluh dengan ruangan makan yang sederhana serta hidangan yang biasa-biasa saja. Bahkan bisa di bilang lebih enak nasi bungkus ibuku.

__ADS_1


"Ihhh, lauk apa ini sih. Mengapa seperti ini" Aku hanya menggeleng dan mendengarkan mereka yang terus meracau tidak jelas.


Biarlah mereka mengoceh terus menerus, dan aku makan dengan kenyang. Sebenarnya keadaan ini tidak masalah yang penting bagiku ada nasi dan lauk untuk pengganjal lapar. Masalah tempat dan hidangan yang buruk biarlah semua terjadi asalkan bisa mengenyangkan.


Aku tau mengapa mereka terus mengeluh dengan semua yang sudah di dapatkan. Mungkin kebanyakan dari mereka adalah anak orang-orang yang mampu atau bisa dibilang anak manja. Makanya tidak terbiasa dengan kesederhanaan.


"Coach ijin, saya sudah selesai makan. Selanjutnya saya ingin pergi beribadah dulu" semua menatap heran ke arahku.


Karena makananku sudah habis paling utama. Tidak ada satupun nasi yang tersisa di piring. sedangkan mereka masih enggan menikmati makanan yang sudah di sediakan.


"Key"


"Cepat sekali" pertanyaan dengan rasa heran diajukan padaku yang sudah beranjak. Aku hanya tersenyum menatap mereka.


"Oke key, kamu ibadah lalu selanjutnya istirahat. Ingat jangan terlalu malam" instruksi dari coach Jaka padaku sekalian pada mereka semua.


"Baik coach" aku bergegas pergi ke mushalla untuk melaksanakan sholat.


"Dan untuk kalian silahkan makan yang sudah di sediakan. Coba lihat salah satu rekan kalian sudah menghabiskannya tanpa banyak bicara" ujar coach Jaka di ruangan makan. Aku tersenyum melihat mereka yang terus merengek seperti anak bayi.


"Dasar, padahal makanannya enak juga, walaupun bukan daging sih" gumamku yang masih mengintip sambil menggelengkan kepala. Dan pada akhirnya mereka makan menghabiskan yang dan di piring masing-masing tanpa tersisa, walaupun itu dengan terpaksa.



"Ya Allah, apa yang hamba dapat adalah keberkahan. Dan apa yang engkau berikan adalah anugerah dan Rahmat yang terus mengalir. Maaf bila hamba kurang bersyukur atas nikmatmu ya Rabbi" tempat mengadu paling banyak adalah pada sang pencipta setelah shalat selesai di laksanakan.



Tiba-tiba aku ingat dengan ibu dan keluarga yang ada di rumah. Biasanya aku makan bersama dengan mereka. Tapi kali ini aku makan bersama teman-teman. Tapi tidak apa-apa karena mereka adalah keluarga keduaku di lapangan setelah keluarga ibu.



Kali ini aku ingin menelpon ibu. Sesampainya di kamar aku melihat mereka berdua sudah terbaring di atas kasur. Bermain ponsel sambil senyum-senyum sendiri. Entah apa yang mereka lakukan, seakan setiap ketikannya membuat hati mereka senang.



"Belum key, santai saja karena waktunya masih lama" Sahut Ira dengan santai.



"Iya key, lagian waktunya panjang" jawaban mereka berdua hampir sama. Matanya juga menatap fokus pada layar ponsel yang mereka genggam sambil rebahan.



"Kalau bisa sholat terlebih dahulu agar hati kalian tenang" nasehatku pada mereka.



"Iya key, kita gak bakalan lupa sholat kok" jawabnya santai. Aku terdiam lalu meletakkan peralatan sholat dan mencoba mengaji sebentar. Setelah itu duduk di bawah sambil memandangi ponsel.



Sebisa mungkin setiap hari mengirim pesan pada ibu agar tidak khawatir dengan keadaanku disini. Selanjutnya mengirim pesan pada kedua sahabatku yang paling baik. Sehari tidak ketemu serasa sepi telingaku dengan ocehan lemot Yuri dan tatapan mata Ari yang fokus pada buku.



Aku sangat asik mengirim pesan pada kedua kakakku dan juga pada kedua sahabatku. Karena ibu dan bapak tidak bisa memegang ponsel untuk mengirim pesan. Mereka berdua hanya bisa menelpon saja.



Sedangkan pesan dengan kedua sahabatku selalu saja membicarakan hal yang tidak penting, dan ujung-ujungnya sampai juga ke pelajaran. Karena Ari salah satu biang kerok yang mengingatkan bahwa besok ada tugas dan lain-lain. Tapi hal itulah yang aku rindukan saat bersama mereka.


__ADS_1


"Hmm, padahal masih sehari sudah terasa setahun saja. Kangen ibu, bapak, mbak Nike dan mbak Yeni. Bahkan kangen juga sama si dua biang kerok Ari dan Yuri" gumamku berbicara sendir sambil menatap ponsel.



Ternyata Ira dan Ani dari tadi sedang mengirim pesan pada masing-masing kekasihnya. Lalu setelah itu mereka menelpon kedua orang tuanya. Mereka berdua menceritakan tentang kesengsaraan atas fasilitas yang ada di sini.



Bahkan mereka merengek untuk di jenguk oleh keluarganya atau bahkan keluarganya harus wajib datang untuk menonton pertandingan yang akan di lakoni pada 1 hari lagi. Aku yang ada di bawah hanya bisa terdiam lalu mencoba menutup mata dan merebahkan rasa lelah.



"Enak sekali mereka, satu permintaan maka akan langsung dikabulkan. Ahh sudahlah, aku bukan orang kaya" Gumamku dalam hati.



Aku tidak mau terlalu berfikir atau memaksa ibu dan keluarga untuk datang menontonku. Cukup dukungan dan doa dari mereka menyertai setiap langkahku agar bis mendapatkan kemenangan dan dibawa pulang serta rasa bangga yang ada.



Pertandingan telah tiba. Kami semua berkumpul di dalam ruang ganti dengan bangga. Berdoa bersama sambil merangkul satu sama lain untuk membangun kekeluargaan yang sangat akrab. Dan berdoa agar diberikan kemenangan saat menjelajahi lapangan hijau saat ini.


"Bismillah" Ucapku dalam hati saat kami berjalan untuk memasuki lapangan pertandingan. Lapangan yang sangat baik untuk kami gunakan. Suasana yang sangat indah dan penonton juga banyak yang menyaksikan.


Pertandingan yang tidak kalah meriah karena kami benar-benar bermain di dalam stadion yang besar. Ada tempat duduk untuk para penonton dan bahkan lebih baik daripada pertandingan tarkam yang masih di level bawah.


"Kita harus bermain tenang dan santai. Kalian juga harus menikmati permainan ini. Semangat" Ucapkan Rani sang kapten saat kami sudah memasuki lapangan dan berdoa bersama tim. Selanjutnya masing-masing pemain menempati masing-masing posisi mereka.


Aku melakukan pemanasan kecil sebelum peluit panjang tanda awal mulai di bunyikan. Aku juga harus menikmatinya agar bisa bermain dengan baik. Apalagi suasana yang indah dan meriah. Berharap suatu saat ibu dan bapak datang menonton ku.


*prittt* peluit panjang dibunyikan. Kami bermain dengan tenang dan konsentrasi dalam operan dari kaki satu ke kaki lainnya. Memainkan trik yang sudah diinformasikan oleh coach Jaka dengan baik dan tenang.


Awalnya permainan kami sangat baik namun di pertengahan permainan ada yang salah di lini pertahanan bagian depan. Sepertinya konsentrasi mereka hilang yang membuat terus saja kehilangan bola. Aku, ita dan Yuki harus bekerja keras.


"Heyyy fokus lihat bola jangan bengong" Teriak pelatih dari samping lapangan membuat teman-temann semakin meningkatkan fokus.


Kami bertiga menjadi tembok pertahanan di lini belakang yang harus terus fokus untuk mencegah bola masuk ke dalam pertahanan belakang. Beberapa kali aku merebut bola dari pemain lawan dan mengopernya ke depan.


Belum lama aku memberikan umpan, bola itu kembali ke kaki lawan yang membuat mereka terus asik melakukan penyerangan untuk menembua pertahanan kami. Untung saja kami mampu menyeimbanginya.


Saat di menit- menit akhir sungguh di sayangkan karena Yuki yang berada di posisi bek kanan melakukan kesalahan dengan umpan yang salah sasaran membuat mereka lolos masuk ke titik putih.


"Ahh, Yuki" Kesalku saat melihat bola lolos dari pertahanan Yuki.


Aku berlari sekuat tenaga dan menjangkau bola sebisa mungkin. Lari mereka memang kencang tapi aku harus lebih kencang untuk menahannya.


*bluk* tendangan yang sangat baik mengarag ke gawang. Kiper tidak bisa menahan tendangan tersebut. Namun kepalaku masih aktif untuk menahannya yang tepat mengarah di bagian kiri gawang. Sundulan yang baik hanya menghasilkan sepakan pojok bagi mereka.


Menit-menit yang sangat kritis membuat kami harus tetap waspada dan konsentrasi yang tinggi. Apapun resikonya kami harus berani menanggung asalkan bola tidak masuk dalam gawang.


"Ta, Ita tahan" Teriakku pada Ita yang sedang lengah untuk menahan pemain lawan. Sedangkan aku fokus berada di depan gawang untuk menahan serta menganggu konsentrasi merka untuk menerima umpan pojok.


*bluk* tendangan yang terarah tepat sasaran.


"Gollll" teriakan yang sangat meriah dari para pendukung. Yuki meloloskan satu pemain tanpa kawalan yang membuat mencetak gol dengan sundulannya. Gol di babak akhir tidak bisa dihindari. Tim kami ketinggalan 1-0.


*Prittt* peluit akhir telah dibunyikan dan kami semua tertunduk lesu.


Lalu aku ingat perkataan kakek tadi malam yang kembali datang ke mimpiku. Katanya jangan menundukkan kepala saat kalah. Karena tertunduk haru adalah hal yang buruk. Jadi angkatlah wajahmu, bangkit dan tunjukkan kebenaran yang tersembunyi.


Mungkin kakek memberiku isyarat bahwa di babak pertama tim akan kalah. Makanya dia menyuruhku untuk mengangkat wajah dan jangan menunduk lesu.


__ADS_1


__ADS_2