Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
31. Kesalahan Ana Dalam Tim


__ADS_3

*tettttttt*


Selalu ada perbincangan yang khas saat dalam perjalanan pulang dimanapun dan kapanpun ada kesempatan maka selalu ada kami yang menghebohkan, itu menurutku saja sih.


"Oh iya key gimana kemarin latihannya" tanya Yuri selalu memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.


"Asik sih, tapi ada yang gak asik" sahutku


"memangnya kenapa? tanya yuri lagi, tubuhnya semakin mendekat padaku.


"Aku kekunci di gudang"


"Astaga terkunci di gudang kok bisa sih" Ari dan Yuri terkejut mendengarkan penjelasanku yang singkat. Tapi aku memilih untuk diam dan tidak menghiraukan hal itu karena telah berlalu.


"Ayolah ceritakan lagi Key, nanggung tau" rengek yuri karena hatinya sudah meronta-ronta dengan keingintahuannya. Sedangkan aku masih memilih diam tidak melanjutkan apapun.


Apalagi harus cerita tentang kak Dika, saat aku tau bahwa Yuri mencintai kak Dika jadi aku memilih untuk diam saja karena tidak ingin ada kesalah pahaman antara aku dengannya. Aku tidak ingin kehilangan seorang sahabat hanya karena laki-laki.


"Sudah ayo pulang, memangnya kalian mau menginap disini apa"


"iya iya, ini kami bakalan pulang kok" kami bertiga bergegas untuk pulang. seperti biasa mereka menanti jemputan masing-masing termasuk aku. tapi jemputanku adalah angkot bukan mobil. mewah seperti mereka, hehehe.


Hari demi hari berlalu, hubunganku dengan kak Dika juga tidak baik. Aku lebih memilih menghindar saat melihat dirinya. Aku tidak lagi menghiraukannya, saat dia mendekat aku memilih menjauh. sekaligus untuk menjaga perasaan Yuri yang suka dengan kak Dika. Yuri pernah bercerita bahwa dia menyukai kak Dika pada saat MOS. Jadi aku lebih baik pergi.


Yuri dan Ari juga aktif mengikuti ekstrakurikuler yang mereka geluti. Tidak jarang Ari selalu mengikuti perlombaan olimpiade melawan beberapa siswa dari sekolah lain. Aku akui Ari sangat hebat karena berhasil mengalahkan beberapa sekolah di kota ini. dan sekarang dia dalam persiapan untuk melakukan perlombaan tingkat provinsi.


Latihan demi latihan aku jalani, walaupun sudah 4 kali latihan aku masih dijadikan anak gawang. yang mengambil bola, meletakkan bola ke gudang, mengambilkan minum mereka dan lainnya. Tapi aku jalani dengan ikhlas.


Saat mereka sudah bergegas ulang, aku akan berlatih sendiri di lapangan. Bahkan tanpa henti aku selalu berlatih di halaman rumah. katanya semakin pisau diasah maka semakin tajam pula. Begitulah aku semakin mengasah skil maka akan semakin tajam pula.


"Walaupun aku masih belum diberikn kesempatan untuk berlatih bersama mereka, setidaknya aku memiliki kesempatan untuk berlatih sendiri bersama bola" Gumamku berbicara sendiri dengan saksi sebuah bola dan beberapa rumput liar yang ada.


"Lihatlah vid, aku berlatih dengan skil yang pernah kamu ajarkan"


Semua skil yang aku asah adalah ajaran telah David berikan. Aku tidak pernah lupa dengan apa yang David berikan. Jadi rindu rasanya dengan keberadaan David yang tidak pernah aku tau keadaannya hingga saat ini.


"Cepatlah pulang, aku rindu" hanya kata itu yang mampu aku ucapkan pada angan-angan, lalu terbawa hembusan udara dan menghilang.



Aku juga tidak bermain di tarkam lagi karena saat ini tarkam masih libur. Jadi tidak ada tempat untuk mengasah skilku di pertandingan. Namun aku mendengar kabar baik dari coach Alam yaitu akan diadakan lomba perebutan piala SMA sepak bola putri. Kami akan melakukan pertandingan melawan tim-tim dari sepak bola wanita yang ada di SMA lain.



Semangatku semakin membara dalam berlatih. meski sejujurnya aku sangat ingin dilatih oleh coach Alam. Hingga beberapa waktu berlalu dan akhirnya coach Alam memperbolehkan aku untuk mengikuti latihan dengan baik.



"Coba perhatikan larimu, jangan terlalu terburu-buru" teriaknya sangat kencang untuk mengoreksi kesalahan pada mereka yang belum melakukan gerakan dengan baik.



Coach Alam melatih dengan baik, tetapi dia tidak pernah memberikan perhatian atau arahan yang pasti tentang bola seperti pemain lainnya. Hanya beberapa pemain saja yang dia perhatikan. bahkan aku selalu belajar mandiri, walaupun begitu telingaku masih tetap akan mendengarkan arahan apapun yang dia berikan.

__ADS_1



Jika aku selalu belajar dari hari ke hari dengan ikhlas maka akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Apapun perlakuan mereka padaku akan selalu aku terima dengan lapang dada. Apalagi perlakukan Ana yang kejam padaku. saat latihan, dia dengan sengaja menendang bola mengarah tepat ke kepalaku.



\*bluk\* serangan diam-diam dan tendangan terarah.



"Kurang ajar kamu key" dia selalu marah dan ingin menyerang kembali tetapi tidak bisa karena aku pandai menghindar.



Aku tidak akan diam dengan perbuatannya, aku selalu melakukan hal yang sama dengan apa yang Ana lakukan padaku.



Bahkan tidak segan-segan aku juga menendang bola tepat ke kepala Ana. Mereka semua menyalahkanku, katanya aku selalu bermain kasar pada saat latihan. Tapi sebenarnya aku adalah korban dari seorang Ana. Aku selalu menjadi bulan-bulanan Ana, makanya itu aku selalu melawannya.



Sedangkan coach Alam saat selalu melihat perbuatan Ana yang tidak terpuji itu, dia hanya diam tanpa berguman satu katapun. Saat aku menatap matanya untuk jujur maka coach Alam hanya menghiraukan dan pergi menjauh. Jadi aku hanya bisa bersabar untuk latihan dan terus latihan.



Hingga akhirnya coach Alam mengumumkan beberapa pemain yang akan melakukan pertandingan di Piala tersebut.




Syukur alhamdulillah aku masuk dalam timnya, tapi ada di bangku cadangan. Itu tidak masalah karena yang aku inginkan adalah bermain di lapangan dalam naungan coach sesungguhnya bukan hanya menjadi pemain bayaran saja.



Setiap hari aku berlatih lebih giat lagi, di sekolah, di gudang bahkan di rumah. Setiap pagi dan sore aku berlatih di halaman rumah sambil mengingat trik dan skil yang diberikan oleh David. Apapun alasannya yang penting aku harus menampilkan yang terbaik.



Melihat beberapa teman-teman dilatih penuh oleh coach Alam, ada sedikit rasa iri dalam diriku. Apalagi perhatian coach Alam ada pada pemain inti saja. Sepertinya pemain cadangan hanya untuk pelengkap saja. Suatu saat nanti akan aku tunjukkan bahwa aku layak untuk masuk ke tim inti sepak bola ini. Semangat pada diriku terus tertanam dan tidak akan pernah hilang sampai kapanpun.



Hingga tiba waktunya kami berangkat ke lapangan pertandingan dengan menggunakan bus sekolah. Aku sudah mempersiapkan sepatu sepak bola yang berjumlah 2 pasang. Satunya milikku dan satunya lagi adalah milik David.


Sepatu yang David berikan sudah pas di kakiku. mungkin karena aku sudah besar. Jadi aku tidak perlu lagi mengganjalnya dengan kaos kaki. Jadi bisa aku gunakan sebagai sepatu cadangan apabila ada kerusakan yang terjadi saat bermain di lapangan.


"Semoga kau membawa keberuntungan" ucapku pada septi yang sedang aku bawa.


Sesampainya dilapangan mataku menatap kagum karena kami disambut oleh penonton yang ramai. Apalagi penonton dari sekolah kami sangat banyak. pertandingan ini dilakukan di sore hari jadi dapat mempermudah bagi siapapun yang akan menonton pertandingan. Uforia dan teriakan yang sangat indah dari masing-masing pendukung di sana.


Tim kami masuk kedalam ruang ganti dan disana coach memberikan beberapa arahan sebelum bertanding. Ada yang sibuk melakukan pemanasan ada yang sibuk melakukan gerakan-geraakn kecil, ada yang sibuk memasang sepatu dan lainnya.

__ADS_1


"Ingat, ini pertandingan perdana bagi kita jadi kalian harus konsentrasi dan lakukan tugas masing-masing dengan baik"


"Siap coach"


Sekolah SMA tidak pernah mendapatkan juara satu dari dulu, bahkan masuk ke semifinal saja sangat susah. jadi apapun yang terjadi semuanya harus semangat untuk mencetak sejarah baru.


"Kalian siap" teriak coach Alam


"Siap coach" teriakan semangat menggelegar di ruang ganti. kami bersiap untuk keluar ke lapangan.


"Perhatian untuk semua penonton, sebentar lagi kita akan sambut kedua tim kesebelasan. Tim SMA D melawan SMA A. Ini adalah pertandingan perdana dari masing-masing tim. Berikan dukungan kalian agar tim kalian mendapatkan kemenangan" suara MC bergema dan masing-masing tim sudah keluar ke lapangan.


Lagi Indonesia Raya berkumandang sebelum permainan dimulai. aku juga ikut bernyayi di bangku cadangan. suasana yang sangat indah, tidak terasa air mataku menetes.


*pritttttt* peluit pertama telah dibunyikan. bola sudah dimainkan dari kaki satu ke kaki lainnya. tim kami menggunakan formasi 4-3-3.


Pertandingan yang asik dan sangat menarik. Aku mengamati dari bangku cadangan saja. Disana kedua tim saling menyerang dan terus menyerang. Di menit ke 20 tim kami kehilangan fokus hingga bola terus saja dapat direbut oleh lawan bahkan penguasaan bola lebih banyak di tim lawan.


Skil dan taktik yang dimainkan tim lawan sangat indah. Aku juga terpukau melihatnya. percobaan demi percobaan dari kedua tim dilakukan tapi masih belum mendapatkan hasil yang sempurna.


Hingga di menit ke 40 skor masih 0-0. Kedua tim masih sangat kuat. Hingga percobaan serangan dari tim lawan di menit ke 43 mendapatkan hasil hingga menjadikan sebuah gol dan keunggulan sementara bagi tim lawan. Skor sementara menjadi 1-0, kemenangan berpihak pada tim lawan hingga peluit akhir pertandingan babak satu dibunyikan.


Kami harus mengakui kemenangan dari tim lawan di babak ke 1. wajah para pemain sangat muram karena kekalahan. Bahkan tidak ada semamgat saat masuk ke dalam ruangan.


"Ingat, tim kita harus menang di pertandingan pertama. Kita tidak boleh kalah, untuk penjagaan di lini belakang kalian harus fokus dan jangan sampai kecolongan. Jika ada pemain lawan yang mencoba menyerang dan mendekati titik putih maka lakukan yang terbaik. cegah mereka atau buang bola saja jika tidak ingin mengambil resiko. Tapi jika kalian masih kalah dalam perebutan bola maka lakukan apapun hingga lawan terjatuh. Baik itu menarik baju atau bahkan lakukan tackle yang keras untuk mendapatkan bola. Jangan terlalu sportif, karena banyak permainan yang lebih keras dari ini. Apa kalian mengerti"


" Baik mengerti coach" semua menjawab dengan kompak dan semngat sedangkan aku hanya bisa terdiam mendengar arahan dari coach Alam.


Aku memang setuju dengan pernyataan awal yang dia katakan. Kita memang harus berjuang habis-habisan disaat bertanding untuk mendapatkan kemenangan. Tapi yang aku tidak setuju yaitu bermain keras dengan lawan. Boleh melakukan tackel asalkan penyapuan bola bersih, tidak terkena lawan dan tidak melukai.


Karena dalam permainan bola rivalitas hanya 90 menit dan selebihnya adalah saudara. kita juga boleh melakukan tackel asalkan tidak membahayakan lawan dan membuatnya cidera. permainan bola adalah persatuan jangan sampai dipecah belah dengan melakukan hal kotor. atau bahkan melukai lawan hingga merusak karirnya.


Istirahat selama 15 menit telah selesai. Permainan masih dikuasai pemain inti dan tidak ada yang diganti oleh pelatih. kami hanya mengikuti alur bola yang pelatih mainkan. Peluit babak kedua telah dibunyikan. Tim kami hanya bermain bertahan saja tidak ada yang berani keluar dari daerah kekuasaan. Padahal jika aku melihat, masih banyak peluang yang kosong ditinggalkan oleh pemain lawan. Sebenarnya masih ada celah untuk sedikit menusuk ke tim lawan jika mereka mau bermain menyerang. tapi pilihan mereka adalah bertahan saja.


Pertandingan berjalan dengan baik hingga di menit ke 60 tim kami kebobolan lagi. Penjagaan di lini belakang semakin lemah apalagi kebobolan kali ini dikarenakan blunder yang dilakukan oleh Ana. Hal tersebut membuat pemain lawan semakin mudah menggiring bola ke titik putih hingga mencetak gol. Wajah pemain semakin murung melihat semua ini, sepertinya mental semakin kendor karena ketinggalan 2-0.


"Fokus, fokus, Ana fokus jangan sampai kehilangan bola" teriak coach Alam yng semakin geram melihat permainan dari tim kami. Apalagi ditambah gol yang membuat kami ketinggalan di babak kedua ini.


"Hadang jangan sampai lepas" teriakan itu kembali bergema. Sedangkan gemuruh penonton semaikin ramai. Ada yang ramai memberikan semangat tim dan ada yang ramai menghujat tim atau apalah itu.


Terulang kembali di menit ke 65 Ana berbuat kesalahan. Passing yang tidak akurat membuat lawan dengan mudah mengambil bola hingga menguasainya. Menggiring mendekati ke titik putih dan akhirnya menciptakan gol ke 3 bagi mereka. Gemuruh sorak-sorak para penonton semakin ramai. Sedangkan pendukung dari tim kami sudah terbungkam melihat skor yang ketinggalan sangat jauh. Raut wajah yang sangat kecewa mereka tampakan.


"Semangat Ana, kamu pasti bisa ayo fokus Ana" teriakku mencoba memberikan dukungan untuk Ana agar mentalnya tidak jatuh.


Bahkan aku tidak menyebutnya kaka lagi, hanya menyebutkan nama agar menjadi akrab dan menambah semangat Ana. Tapi sayang suara gemuruh penonton sangat ramai dengan teriakan untuk mengeluarkan Ana.


"Keluarkan Ana, ganti dia keluarkan" suara itu kembali muncul akibat kesalahan Ana yang kedua. Kesalahan Ana berakibat fatal karena dia membuat tim kami semakin ketinggalan jauh.


"Key kemari" panggil coach Alam padaku


"Siap coach" aku menggampirinya


"Sekarang kamu pemanasan selama 2 menit lalu menggantikan Ana"

__ADS_1


"Baik coach" aku mengikuti arahan dari coach. Tepat di menit ke 68 aku masuk ke lapangan untuk menggantikan Ana.



__ADS_2