
Tidak lama kemudian aku mendengarkan kabar bahwa tim ku memenangkan pertandingan dengan skor 3-1 berita itu dibawa oleh beberapa tim medis yang keluar masuk ruangan. Aku menangis harus, antara rasa bangga dan sedih. Bangga karena memenangkan pertandingan dan keluar sebagai juara 3 dan sedih karena harus menepi dari lapangan akibat cidera.
"Terimakasih ya Allah, engkau memberikan tim kami menang ya rabb" air mataku mengalir bercampur antara sedih dan bahagia.
"Bagaimana keadaan anak didik saya dok? " aku melihat coach Alam sedang berbicara dengan dokter. Sepertinya dokter menjelaskan semuanya. Tampak rasa penyesalan di wajah coach Alam saat menatapku rasa sedih juga dia tautkan dalam wajahnya.
"Key, bagaimana keadaanmu? " Aku hanya bisa menggeleng dan mencoba menahan agar tidak menangis dan menampakkan kesedihan.
"Kamu bisa, kamu kuat. Ayo kita ke lapangan untuk mengambil pengharagaan" Aku masih mengangguk dan menahan tangis. Rasanya sangat sesak di dalam dada ini. Ingin mengeluarkan jeritan tangis yang tersimpan.
Aku keluar ruangan sambil dipapah oleh coach Alam. Tapi dokter menyarankan agar menggunakan kursi roda yang ada di sana untuk mempemudah masuk kelapangan. Beberapa teman satu tim juga ada yang menjemputku salah satunya Rega yang membawaku untuk bergabung menerima penghargaan. Mereka mendorong kursi roda kedalam lapangan agar aku ikut menerima pengharagaan tersebut.
"Semangat key, kamu yang terbaik dan kamu bisa" ucapan Rega membuatku tersenyum, karena dia selalu mendukungku.
Suara gemuruh yang sangat meriah dari pendukung kami. Sorakan gembira sang juara yang disambut dengan sangat indah. Walaupun hanya juara 3 tapi uforia yang menarik seakan membawa pulang juara 1.
Penerimaan hadiah juara 3, juara 2 dan juara 1. Di pertandingan ini aku mendapatkan penghargaan pemain terbaik laga. Padahal menit bermain ku sangat sedikit tapi mungkin beberapa penyelamatan dan kerja keras membuat aku mendapatkan ini.
"Andai ibu melihat ini, pasti dia akan bahagia dan tersenyum menatapku" gumamku dalam hati sambil memegang penghargaan.
Semua peserta sudah mendapatkan medali penghargaan. Kami mengadakan sesi foto bersama begitu juga aku yang duduk di kursi roda. Senyuman banyak yang terpancar dari wajah pemain kami walaupun keluar sebagai juara 3. Beberapa pemain lainnya juga memberiku selamat atas keberhasilan yang membawaku menjadi pemain terbaik.
"Key" Yuri datang dan langsung memelukku.
"Dimana Ari? " Tanyaku
"Katanya dia lagi berkunjung ke rumah neneknya, jadinya gak dateng" Jawab Yuri membuatku terdiam sejenak.
"Kakimu kenapa bisa begini, aku khawatir dengan keadaanmu tadi key. Apa kamu tau kalau aku tadi menangis saat mendengar kamu mendapatkan pelanggaran dari tim lawan. Mataku terus mencarimu key tapi tidak ketemu, hikss, hikss" Yuri malah menangis dipelukanku.
Begitu terlukanya dia saat melihat aku terluka seperti ini. Inilah sahabat yang terbaik, tapi disaat seperti ini Ari tidak ada disini menemaniku. Kemana dia dan mengapa tidak kesini. Aku mencoba menghentikan tangisnya dengan menghibur Yuri hingga akhirnya dia diam.
"Tapi sebelumnya aku mengucapkan selamat ya atas pencapaianmu menjadi pemain terbaik key"
"Iya Yuri, makasih banyak ya" Ucapku sambil memeluk dirinya kembali.
"Oh iya kamu datang sama siapa? " Tanyaku karena melihat dia sendirian menghampiriku.
"Coba tebak, aku datang dengan siapa" Yuri menampakkan senyum-senyum manisnya padaku.
"Sama supirmu kan? " Jawabku santai dan wajah Yuri kembali berubah datar.
*plak* tangannya dengan renyah memukul lenganku.
"Tidak lah key"
"Lalu?"
"Aku.... datang....sama kak Dika" Aku terkejut sekaligus senang mendengar pernyataan Yuri. Akhirnya semakin hari mereka semakin dekat saja.
"Akhirnya" Gumamku sangat kecil
"Hah kenapa? Oh tidak-tidak, maksudku baguslah jadi kamu tidak sendirian. Dan PDKTnya lancar dong"
"Aaaaa, makasih sahabatku ini semua karnamu"
"Tidak kok, kak Dika sendiri yang bilang katanya dia suka denganmu" Aku mencoba menuturkan cerita sendiri untuk membuat hati Yuri semakin senang.
"Lalu kemana dia sekarang? "
"Katanya sih kak Dika mau keluar sebentar, tapi gak tau kemana" Sahut Yuri. Karena saat ini aku lihat tidak ada penampakan wajah kak Dika.
"Key, kakimu gak apa-apa"
"Isshhh, bangun kak jangan gitu. Kakiku baik-baik saja. Cuman gak bisa jalan, heheh"
"Ihsss"
__ADS_1
*plak* tangannya menjitakku.
"Sakit wey" Aku langsung terdiam saat melihat Yuri.
"Oh iya, ayo kita foto bersama dulu" Ucap Yuri dan langsung mengeluarkan ponsel dari tasnya. Kami langsung melakukan sesi foto bersama dengan dibantu oleh teman yang ada di dalam lapangan untuk memotret kami. Selanjutnya aku foto berdua dengan Yuri, kemudian berdua dengan kak Dika. Ini foto yang sangat bagus dan pantas untuk dijadikan kenang-kenangan.
Saat semuanya sudah selesai, kami bergegas menuju bis sekolah untuk kembali pulang. Langkahku kesulitan untuk naik ke bus, Rega memapahku serta teman-teman lainnya ikut membantu. Akhirnya aku duduk tenang disana dengan bantuan teman-teman.
Sesampainya di sekolah mereka juga memapahku untuk turun dari bus sekolah. Sulit rasanya dengan keadaan kaki yang seperti ini. Aku hanya bisa meminta bantuan pada teman-teman bahkan lebih tepatnya aku menyusahkan mereka.
"Terima kasih banyak ya teman-teman"
"Tenang aja key, ini tugas kita yang harus menjaga kekompakan satu sama lain. Apalagi kemenangan ini karenamu" Ucap Rega sambil memapahku ke tempat duduk.
"Tidak, ini semua karena kalian" Kami kembali berpelukan satu sama lain untuk menjaga keakraban dalam tim.
Di sekolah
"Oh iya kamu pulang sama siapa key" Tanya Rega yang duduk disampingku.
"E... Aku"
"Halo kak Rega, key bakalan pulang denganku" Sahut Yuri yang tiba-tiba datang dan duduk disampingku.
"Oh ya sudah, aku pulang duluan yah" Ucap Rega dan meninggalkan kami disini.
"Tenang aja, kita pulang bareng sama kak Dika. Tuh dia sudah ada di gerbang lagi markir mobil. Sebentar lagi dia kesini untuk membantumu berjalan" Aku mengangguk mengerti saat Yuri menunjuk kak Dika yang masih memarkir mobil di samping gerbang sekolah dan berjalan menuju arah kami.
"Ayo kita pulang key" Ajak kak Dika yang sudah datang dan langsung mengajak kami pulang.
"Ayo key" Yuri memapahku dan begitu juga kak Dika.
"Aku gendong aja ya, kelamaan" Mataku langsung melotot menatap kak Dika. Beraninya dia berbicara begitu di depan Yuri. Apalagi aku bukan mainan yang dengan mudahnya dibawa kemana-mana.
"Tidak, aku masih bisa berjalan kok"
*plak* aku memukul punggungnya dengan keras.
"Hahahhaha" Yuri malah tertawa dan membuat kami berdua menatapnya dengan heran.
"Apa yang lucu" Tanyaku
"Kamu seperti siput" Sahutnya dan dia kembali tertawa.
" Hahahhahah"
Sesampainya di mobil aku duduk di belakang dan memberikan kode pada kak Dika agar Yuri duduk di depan. Akhirnya Yuri dan kak Dika duduk dibangku depan dan aku bersantai di belakang.
Di perjalanan pulang kami berhenti di sebuah apotek besar di kota. Kak Dika membelikan ku tongkat kruk kaki. Padahal aku tidak punya uang untuk membelinya dan dia memberiku cuma-cuma. Katanya untuk mempermudah menopang tubuhku yang berat. Dan dia bilang agar aku juga tidak berjalan sperti siput. Lagi-lagi perkataan itu membuat Yuri tertawa.
Saat sampai di persimpangan kampung, aku ingin turun disana tapi Yuri melarang ku. Dia bilang ingin mengantarku sampai di rumah. Bibirku terdiam dan tidak bisa beralasan lagi. Mereka pasti akan tetap mengantarku bila aku bilang mobilnya tidak bisa masuk ke desa.
Akhirnya aku membolehkan mereka untuk mengantarku dengan mobil. Tetapi mengantarku ke rumah ibu bukan rumahku sebenarnya. Yuri terdiam saat tiba di rumah ibu dan melihatnya keluar dari rumah. Yuri terdiam karena dia sudah tau bahwa ibu dan bapak bukan orang tuaku yang sebenarnya.
"Astaghfirullah key, kamu kenapa lagi nak" Kembali wajah ibu panik setelah mengetahui aku turun dari mobil dengan menggunakan tongkat yang memapahku tubuhku. Yuri dan kak Dika juga membantuku untuk masuk ke slama rumah.
"Ati masuk dulu" Ibu juga ikut khawatir dengan keadaanku.
"Ini kenapa nak, kenapa key bisa seperti ini"
"Jangan khawatir bu, ini hanya kecelakaan yang terjadi di slama bola" Kak dika mencoba menceritakan kronologi yang terjadi di tengah lapangan. Kejadian itu juga yang membuat kakiku seperti ini.
"Lalu apakah ket bisa sembuh"
"Bisa kok bu, kata dokter key harus menepi dari lapangan selama kurang lebih 2 bulan. Dan key harus melakukan terapi untuk melatih gerak otot key yang kamu agar mempermudah penyembuhan" Aku memberikan pengertian agar ibu dan bapak tidak khawatir kembali.
Mbak Nike dan mbak Yeni sibuk memberikan suguhan pada kak Dika dan Yuri yang menjadi tamu. Mereka menyambutnya dengan ramah seperti keluarga sendiri.
__ADS_1
"Oh iya key, katamu dulu motor gak bisa masuk. Tapi kenapa mobil bisa masuk" Aku terdiam mendengarkan pertanyaan kak Dika. Aku bingung mau jawab apa.
"Oh gini nak, dulu itu masih ada perbaikan jalan dan baru-baru ini mobil dan motor sudah dibolehkan masuk ke desa kembali" Bapak menjawab dengan tenang, karena mereka tau alasan mengapa aku melarang teman-teman ku datang kesini.
"Nah itu bener kata bapakku kak" Kak Dika mengangguk mengerti meskipun ada ke ganjalan di hatinya tapi dia mencoba menerima semua pernyataan dari bapak yang telah disampaikan.
"Hmm gimana kalau besok aku jemput kamu saja key" Sejenak aku menatap Yuri dan aku terdiam,
"Hmm, tidak usah kak. Aku diantarkan bapak saja ke sekolah"
"Tidak key, kakimu masih sakit dan tidak bisa berangkat pakai motor. Besok aku menjemputmu dan kita berangkat pakai mobil" Mataku terus tertuju pada Yuri. Hatiku gelisah dan merasa tidak enak saat kak Dika mengatakan demikian padaku.
"Iya key, mendingan naik mobil dengan kak Dika" Yuri mencoba meyakinkan ku. Tapi hatiku masih sama, tidak ingin berdua dengan kak Dika.
"Oh iya, gimana kalau Ari sama Yuri ikut kak" Aku memberikan tawaran agar tidak berdua dengan kak dika di dalam mobil.
"Tapi mereka kan... "
"Kalau ada mereka aku mau ikut kak Dika" Ucapku yang disaksikan oleh Yuri dan seluruh keluarga disana.
"Yasudah kita bareng berempat" Ucapnya terpaksa. Aku tau rumah Ari dan Yuri berlawan arah dengan kami. Tapi lebih baik aku mengajak Yuri dan Ari agar tidak ada kesalah pahaman antara aku dan sahabat-sahabatku.
Setelah itu kak Dika pamit untuk bergegas pergi mengantarkan Yuri. Aku tidak bisa mengantar mereka keluar rumah. Jadi ibu, dan bapak yang mengantarnya. Sedangkan mbak Yeni dan mbak Nike malah mendekatiku dan melakukan interogasi.
Mereka bertanya banyak hal, mulai dari kecelakaan yang aku alami dengan bermain bola. Lalu tiba-tiba bertanya tentang kak Dika. Mereka berdua malah mengejekku, katanya aku sangat pantas untuk menjadi pacar kak Dika. Mereka terus saja mengejekku, untung saja kakiku tidak bisa lari kalau tidak akan aku kejar dan ku pukul dengan bantal.
Sementara waktu aku tinggal di rumah ibu. Tidur dan makan bersama mbak nike dan mbak yeni. Ibu juga rutin memberikan uang, jadi aku berikan semuanya pada bu yanti. Walaupun beliau tidak mau, aku tetap memberikannya. Aku berkata uang ini tidak sebanding dengan kasih sayang yang ibu berikan padaku.Pada akhirnya dia mau menerima uang tersebut. Dengan tulus ibu merawatku saat ini.
Pagi ini aku bersiap diri untuk pergi bersekolah dengan kak Dika. Semuanya sudah rapi dan tinggal menunggu kak Dika datang saja. B
"Selamat pagi bu"
"Pagi" Kak Dika datang dengan senyum sumringah. Dia menjemputku tepat di depan rumah ibu dengan membawa mobilnya. Aku dan Kak dika berpamitan untuk berangkat sekolah. Lalu kami bergegas ke rumah Yuri dan Ari untuk menjemputnya.
"Key"
"Hmm"
"Kamu punya pacar nggak sih key? " Kak Dika menanyakan sesuatu hal yang belum bisa aku jawab. Aku ingat waktu itu aku berkata bahwa aku sudah punya pasangan.
"Aa.... Aada kok kak" Ucapku terbata-bata karena bingung ingin menjawab apa
"Mana, kenapa dia tidak pernah menampakkan diri"
"Soalnya dia lagi di luar negeri kak, iya di luar negeri"
"Hmm, apa kalian tidak pernah saling mengabarkan"
"Lebih baik kak Dika fokus nyetir aja yah, soalnya kaki aku belum sembuh dan aku tidak ingin ditambah luka lagi" Aku mencoba memalingkan pembicaraan. Aku tidak ingin memberi tau apapun dan kepada siapapun tentang hidupku lebih dalam kecuali pada orang-orang yang aku percaya.
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~
__ADS_1