
Semua guru perempuan merangkulku dengan kehangatan. Masing-masing dari mereka menyelipkan nasehat serta doa untukku di masa depan. Sedangkan aku menerima kehangatan itu sebagai pengobatan rasa rindu.
"Terima kasih bu, sekarang aku sudah nyaman" gumamku sambil tersenyum pada mereka.
Setelah itu aku kembali berjalan ke dalam kelas. Meskipun di lorong kelas masih saja ada beberapa dari siswa yang memanggilku wanita malam. Aku hanya bisa diam, tapi aku janji akan mencari bukti bahwa aku tidak seperti apa yang mereka bilang.
*ting* sebuah pesan masuk ke dalam ponsel. Pesan vidio entah darimana tapi sudah tersebar di dalam grup kelas. Aku mencoba membuka vidio tersebut namun sinyalnya terlalu lemot seperti otakku saja.
"Ah, lama sekali. Ini vidio apa sih kenapa bisa menyebar. Seperti vidio penting saja" Gumamku sambil memandangi ponsel yang terus memutar-mutar saat aku mengunduh vidio tersebut.
"Hah, rena?" Aku duduk di bangku kosong depan sebuah kelas untuk menyaksikan vidio tersebut. Aku terkejut saat Rena menyatakan bahwa sudah mendorong ku untuk terjatuh ke dalam sungai air terjun.
Aku sangat terkejut melihat tempat air terjun yang sangat deras. Disana juga ada fotoku yang mengambang karena tidak bisa berenang. Ternyata Rena yang mendalangi semua ini. Sepertinya dia tidak sendiri, karena Rena sekaan-akan melaporkan bahwa sudah selesai melakukan tugasnya.
"Rena, kamu jahat sekali " Aku geram melihat vidio ini dan aku akan menemui Rena. Aku tidak tau apa maksud Rena melakukan semua ini. Bahkan dia juga yang membuatku hampir meninggal di dalam sungai itu.
*brakkk*
"Rena" Teriakku di dalam kelas Rena. Wajah dia ketakutan dan banyak tekanan dari teman-teman sekelasnya.
"Kamu jahat banget Ren, aku hampir mati tenggelam dan ternyata semuai ini ulahmu" Bentak ku pada Rena membuat semua siswa yang ada di dalam kelas menjadi diam tanpa suara.
"Kenapa kamu ngelakuin itu Ren? " Dia masih diam dan tertunduk saat aku bertanya baik-baik padanya.
"Rena"
"Rena" Aku membentak nya dan memegang kerah Rena. Kali ini emosiku melonjak tinggi gara-gara Rena.
Matanya menatapku dengan dalam, bibirnya terbungkan. Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu namun tidak bisa. Dia terus mematapku selama ingin mengucapkan kata kesalahannya.
"Key, key jangan key. Jangan memukulinya" Ari dan Yuri tiba-tiba datang dan menghalangi agar aku tidak berbuat hal yang bodoh lagi.
"Key, maaf key. Aku salah"
"Kamu harus dilaporkan ke polisi Rena atas semua ini" Ucapku padanya
"Iya laporkan, laporkan saja. Itu termasuk pembunuhan berencana" Bentak mereka yang bersautan dari dalam kelas.
"Aku akan melaporkan smua ini agar kamu di proses Rena" Aku sudah muak dengan kelakuan Rena.
Perilaku sebelumnya masih bisa aku maafkan tapi kelakuannya kali ini tidak bisa lagi aku ampuni. Karena dia bermain-main dengan nyawa seseorang yaitu aku.
"Key jangan Key, aku takut mamaku marah. Aku takut dia akan mengusir ku dari rumah dan dia pasti akan membentak ku lagi Key" Rena terus memohon sambil memegangi kaki ku. Kali ini dia sudah tidak mempunyai gengsi agar aku mau memaafkannya.
"Tapi ini sudah keterlaluan, aku akan melaporkan semua ini ke pihak yang berwajib" Aku sudah muak dengan semua permainan Rena yang membuat nyawaku terancam. Dilain sisi aku juga kasihan dengannya tapi ini sudah melewati batas.
Aku bergegas pergi meninggalkan Rena dan kembali ke kelas untuk melakukan pembelajaran. Keputusanku sudah bulat untuk melaporkan Rena ke pihak yang berwajib. Agar hukuman bisa membuat Rena menjadi jera
Aku tidak habis pikir, kenapa Rena melakukan semua itu. Saat ku perhatikan di vidio itu dia mengatakan bahwa sudah menjalankan tugas yang diperintah dengan baik. Seakan Rena melaporkan bahwa tugasnya telah selesai.
Aku bingung apakah Rena sedang disuruh ataukah dia melakukannya murni karena keinginannya sendiri. Tapi jika aku melaporokan Rena maka dia akan di penjara dan tidak bisa menjelaskan semuanya.
"Key, kamu yakin akan melaporkan Rena ke polisi?" Tanya Ari saat pembelajaran sedang dimulai.
"Yakin gak yakin sih, tapi dia sudah jahat banget ri" Ari juga berkata demikian. Tapi Ari melarang ku untuk membuat keputusan yang dibilang cukup singkat.
Ari juga berkata bahwa dari vidio yang beredar, rena tidak bekerja sendiran melainkan dia bekerja untuk seseorang. Tapi tidak tau siapa orang di balik semua ini.
"Baiklah, aku tidak akan melaporkannya" Ucapku menurut dengan apa yang Ari bicarakan. Sebenarnya ada benarnya juga apa yang Ari bilang bahwa Rena hanyalah pesuruh bukan pelaku sebenarnya.
Saat pelajaran sekolah telah selesai, aku langsung bergegas pulang dan tidak ingin berada di sekolah karena telingaku masih saja mendengar sebutan wanita malam.
__ADS_1
"Itu Puja gak sih" Saat aku menunggu angkot, terlihat Puja di jalan seberang. sepertinya dia sedang bertengkar dengan seorang lelaki. sepertinya pacarnya.
Awalnya aku tidak memperdulikan pertengkaran mereka tapi lama-kelamaan lelaki itu bersikap kasar dengan Puja. Aku segera berlari dan menghampiri mereka berdua. Ternyata mereka bertengkar karena ada selisih paham.
"Kamu itu jadi cewek gak pernah ngertiin aku....."
"Tunggu, kamu kalau mau berantem cari yang sebanding" Aku memegang tangannya karena dia ingin menampar Puja. Aku tidak suka cowok kasar yang beraninya main tangan.
*buk* pukulan keras aku berikan padanya.
"Satu untuk Puja yang telah kamu dorong".
*buk*
"Satu lagi untuk Puja yang kamu sakiti" Aku berulang kali memukulnya. Tapi dia hanya terdiam dan mencoba menatapku dengan tajam. Dia bangun dan mengerikan tangannya ingin menghajar ku.
"Hey kalau mau hajar jangan sama cewek, lawan aku sini" Tidak tau darimana arah Doni datang. Tangannya langsung menahan pukulan cowok itu.
"Kalian jangan ikut campur, ini urusan aku dengan Puja" Bentaknya dengan kesal. Matanya mengatakan bahwa dialah yang paling benar.
*buk, buk, buk* doni menurunkan pukulan yang lebih banyak dariku. Membuat bibir cowok itu terluka dan ia langsung menghidupkan motornya dan bergegas pergi dari sini. Wajahnya ketakutan seperti di kejar macan yang membuatku tertawa dengan keras.
"Kamu gapapa Puja? " Aku menghampiri Puja yang terlihat sangat ketakutan.
Matanya memendam rasa takut teramat dalam. sepertinya bukan hanya sekali dia mendapatkan semua ini. Dan matanya mengatakan bahwa dia sangat trauma dengan lelaki tadi.
"Key, hiksss, hikssss, hiksss" Dia menangis dalam pelukanku. Genggaman erat tangannya tidak ingin dia lepaskan. Air matanya mengalir deras membasahi bajuku. Aku mengajaknya duduk di halte untuk menenangkannya.
"Kamu jangan nangis lagi ya, sekarang kamu sudah aman kok" Aku mencoba menenangkan hatinya yang sedang kacau.
"Key, dia selalu melakuakn hal buruk padaku. Aku ingin putus tapi dia selalu memaksakan kemauannya" Puja terlihat sangat tertekan bila aku dengar cerita darinya.
"Kamu ada nomor dia? " Puja mengeluarkan ponselnya dan aku langsung memblokir nomor cowok itu agar tidak menganggu Puja.
"Kamu tenang aja ya, sekarang ada Doni yang akan melindungimu" Menurutku Doni itu baik dan sudah sepantasnya dia memiliki seorang kekasih agar tidak jomblo terus.
"Kok aku sih key" Protes Doni saat mendengar perkataanku. Tanganku langsung membungkam mulutnya dan memberikan kode agar dia menyetujuinya.
Sejenak Doni terdiam, sangat terlihat banyak pikiran yang menghantuinya.Tatapannya tajam padaku seakan berkata bahwa dia tidak mau. Aku mencoba meyakinkan dengn kedipan mata.
"Benar kata key, biar aku saja yang akan melindungimu Puja" Dan akhirnya Doni mau menurut lalu dia yang mengantarkan Puja pulang sekolah hari ini.
Selanjutnya aku pulang seperti biasa menaiki angkot dan pergi ke rumah sakit. Sesampainya di sana aku mendaptkan kabar baik yaitu bapak diperbolehkan pulang kerumah karena kondisinya yang sudah sangat membaik dari hari kemarin.
Aku sangat bersyukur, tidak apa-apa aku memiliki banyak masalah hari ini asalkan doaku untuk kesembuhan bapak sudah dikabulkan oleh Allah sang pencipta alam ini.
"Yeyeye bapak pulang, yeye bapak pulang" Aku gembira seperti anak kecil yang senang karena kepulangan bapak dari rumah sakit.
"Ihhh brisik, aku pukul nih" Ucap mbak Nike sambil tersenyum.
"Pukul aja, kan ada bapak ya pak. Weeekkk" Ejek ku padanya yang membuat bapak tersenyum.
"Sudah jangan bertengkar, ayo kita pulang" Perjalanan menuju rumah sangatlah indah. Apalagi bapak yang sudah berhari-hari tidak melihat indahnya dunia membuat bibirnya tersenyum bahagia.
"Pak coba lihat, para ilalang menyambut kepulangan bapak" Ucapan yang selalu membuat bapak tersenyum.
"Key kamu gak latihan? "
"Sekarang libur mbak, masa latihan terus" Sahutku.
"Kamu kalau latihan jangan bolos-bolos ya biar nanti jadi pemain hebat" Nasehat ibu yang duduk dengan kami di bangku belakang.
__ADS_1
"Iya bu, lagian kalau libur Key tetap latihan kok. Latihan di rumah sendiri maksudnya"
"Iya anak baik" Tangannya mengusap gemas pada kepalaku.
Tidak lama kemudian kami sampai ke rumah. Disana sudah ada mbak Yeni yang datang untuk menyambut. Kami mengeluarkan barang-barang bapak serta membantu ibu untuk membawa bapak menggunakan kursi roda.
Keluarga kami kembali utuh dan gembira saat bapak datang ke rumah dengan keadaan sehat walaupun masih belum 100%. Ibu mengadakan syukuran kecil-kecilan dengan mengundang beberapa warga di kampung ini.
Sekali lagi kabar gembira datang setelah acara syukuran selesai. Katanya mbak Nike ada yang ingin melamarnya namun masih belum menentukan hari. Dan semua kelihatan ikut senang dengan kabar itu. Begitu juga denganku, di satu sisi aku senang dan di sisi lain aku bersedih.
"Key kok kamu gak seneng sih kalo mbak Nike mau nikah" Ucap mbak Yeni saat melihat wajahku Murung. Langkahku keluar dari rumah dan duduk di depan teras bersama malam.
"Key, kenapa? " Mbak Nike dan mbak Yeni menghampiriku
"Key sedih mbak" Hatiku sangat sedih mendengar kabar itu tapi aku juga senang sih.
"Kenapa? " Tanya mbak Nike bersamaan dengan mbak Yeni.
"Kalau mbak Nike menikah, nanti Key hanya bermain sama mbak Yeni. Terus kalau mbak Yeni kuliah Key bakalan sendiri lagi" Tangan mbak Yeni dan mbak Nike langsung merangkul ku saya mendengarkan hal itu.
Mungkin pikiranku masih belum dewasa karena aku merasa senang bersama mbak Yeni dan mbak Nike. Merka akan membuatku tertawa, bertengkar, kesal dan apapaun itu. Tapi semuanya akan dilakukan dengan kasih sayang.
"Kita akan tetap bersama-sama kok, nanti mbak Nike kan nikah terus mbak y,eni kuliah dan key katanya mau ikut timnas. Bukankah di timnas akan tinggal di asrama bola? " Jelas mbak Nike sambil bertanya tentang bermain di timnas.
"Iya sih mbak, itupun kalau key lolos ke timnas bagaimana jika tidak? "
*plak* tangan mbak Yeni dengan sigap memukul kepalaku dengan kayu kecil yang ada di sekitar kakinya.
"Sakit mbak" Ujarku dengan manja
"Kamu jangan nyerah dulu, belum juga dicoba untuk bermain di timnas eh malah sudah menyerah dulu" Gumam mbak Yeni dengan kesal.
"Iya, kamu gak boleh putus asa dulu. Kan kamu harus berjuang demi menempatkan namamu di timnas" Sambung mbak Nike yang membuatku semakin tersenyum karena nasehat mereka berdua.
"Terima kasih mbakku yang sudah memberikan semangatnya untuk Key, suatu saat Key bakalan menjadi pemain hebat. Kata ibu harus banyak usaha dan doa" Kami bertiga berpelukan dengan hangat di malam yang sangat dingin ini.
Ibu keluar dan memanggil kami untuk makan kemudian beristirahat untuk menikmati hari besok pagi. Walaupun aku sangat susah untuk terlelap karena masih kepikiran suatu hal, tapi aku tidak mengerti hal apa itu. Sungguh aneh otakku, membuat lelah saja.
Hari-hari berlalu, aku juga rajin berlatih di tempat klub dan juga di sekolah. Jadi tidak ada waktu untuk bermain-main karena keinginan ku sangat kuat untuk bermain di timnas. Agar bisa membuka mata dunia bahwa aku bisa berhasil dan bukan hanya pemain bayaran saja.
"Mimpimu tidka akan terwujud, jika tidak ada uang. Dasar orang miskin" Bibirnya selalu gatal jika tidka menghujatku.
"Sabar Key, kata ibu kamu harus tahan emosi" Barinku berkata untuk tenang. Lalu aku hanya melemparkan senyuman saja. Dan pergi menghiraukan nenek lampir itu agar tidka meluap emosi ini.
Susana di sekolah masih sama, Adel yang menjadi biang kerok terus membuat rusuh dan ingin membakar amarahku. Tapi aku ingat kata ibu bahwa aku harus bisa menahan emosi. Oleh karena itu aku membalas adel dengan perbuatan yang sama tapi tidak menggunakan kekerasan. Tapi dengan prestasi yang membuat bibirnya terbungkam.
Sedangkan Rena semakin hari semakin memburuk. Dia memang bermain dengan Adel tapi dia juga sering menyendiri dan jarang berbicara semenjak vidio dia yang ingin membunuhku tersebar. Mungkin psikisnya sedang terganggu.
__ADS_1
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~