Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
51. Tenggelam


__ADS_3

Hitungan waktu sudah dimulai. Kami semua pergi bersama kelompok masing-masing untuk memasuki hutan. Kelompok Ari memimpin di bagian depan. Sedangkan kelompok kami masih tertinggal dibelakang dan melewati rintangan dengan sabar.


Namun ada hal yang membuat semuanya berusaha menjadi menegangkan. Saat melewati jalanan yang lebarnya hanya setapak kaki dan berpegang dengan seutas tali. Yuri terpeleset karena talinya terputus.


"Aaaaaaa" Yuri berteriak kencang membuatku dan kak Dika panik. Untung saja tangannya sigap memegang ranting-ranting pohon yang ada di bawah sana. Sedangkan bila terjatuh makan tubuh Yuri akan masuk ke dalam jurang.


"Tunggu Yuri, tahan. Aku akan mencari bantuan" Kak Dika bergegas pergi untuk mencari bantuan agar Yuri bisa terselamatkan.


"Tunggu disana, kamu tunggu Yuri" Tanpa pikir panjang aku langsung bergegas mengaitkan tali yang aku bawa dalam tas. Mengeratkan pada pohon agar bisa menopang tubuhku. Turun perlahan melewati tanah yang licin karena embun. Aku menahan sekuat tenaga dan mencoba meraih tangan Yuri.


"Key, tolong aku" Teriak Yuri membuat hatiku perih. Aku harus bisa mengangkat Yuri agar bisa sampai ke atas.


"Pegang tanganku Yuri," Teriakku dan. Mencoba meraih tangan Yuri.


*krekkk, krekkk* gawat, ranting pohon tidak kuat menahan Yuri. Sepertinya dia akan tejatuh dan aku harus bisa menangkapnya agar Yuri tidak terjatuh ke bawah sana. Tanganku semakin sigap untuk mengulur tali. Mempercepat uluran untuk sampai ke Yuri.


"Aaaaa, keyyyyyy"


"Yuriiii"


*Blebbbb* aku berhasil memegang tangan Yuri saat tubuhnya mulai terjatuh karena ranting pohon telah patah.


"Pegang erat tanganku, aku akan naik" Aku berusaha menggenggam erat tangan Yuri. Beban sangat berat tapi tidak akan aku biarkan melepaskan tangan Yuri sedikitpun.


Sepertinya tanganku tidak kuat, tapi bagaimanapun juga aku harus mengangkat Yuri ke atas kalau tidak maka kami berdua akan terjatuh bersama ke dalam jurang itu.


"Key, Yuri" Kak Dika bersama om Roki sudah datang. Mereka berdua membantuku untuk menarik tali tersebut.


"Ayo, bertahan"


"Key, aku tidak kuat"


"Ayo kamu bisa" Aku meyakinkan Yuri untuk terus menggenggaku.


Genggaman erat akhirnya membuat kita berdua berhasil melewati ketegangan ini. Aku dan Yuri sampai di atas karena pertolongan kak Dika dan om Roky. Kami menepi di tempat yang agak lebar, karena jalanan setapak tidak akan muat untuk kami berempat.


"Kenapa bisa begini? "


"Aku tidak tau om, Tiba-tiba talinya putus" Aku mencoba menjelaskan sedikit walaupun aku tidak tau pasti apa penyebab tali itu terputus.


"Mengapa bisa putus padahal tali ini sangat kuat" Om Roky mengecek sesuatu dan sepertinya ada yang aneh. Om Roky juga menjelaskan bahwa beban dari tali ini sangat kuat dan tidak mudah untuk terputus.


"Lebih baik kita kembali ke perkemahan" Om Roky menyarankan agar kami kembali ke perkemahan untuk menengankan diri dan beristirahat.


"Baik om" Yuri dan aku hanya mengalami luka di bagian lutut. Untung saja luka di lenganku yang kemarin baik-baik saja meskipun perban nya sudah kotor.


Tanganku sedikit bengkak karena terlalu keras memegang tapi dengan beban yang cukup berat di bawah. Tapi bagaimanapun aku harus tetap bersyukur karena Yuri berhasil diselamatkan.


"Halo pak, bisa kesini. Saya ingin bicara" Om Roky menelpon seseorang dan menyuruh untuk datang keperkemahan.


"Oke, oke saya tunggu"

__ADS_1


"Kamu gapapa yuri? Aku melihat keadaan Yuri sepertinya masih terkejut dan trauma.


" Tidak" Aku menyuruhnya untuk merebahkan diri di dalam tenda.


Aku terdiam disampingnya dan menemani Yuri. Pikirku mencoba melayang, sepertinya aku mengingat sesuatu. Di hutan ini pasti ada orang lain selain kami. Aku harus hati-hati, karena kemarin ada sesosok manusia yang mengintai. Tapi apakah dia berkaitan dengan kejadian ini. Belum jelas keadaannya dan masih saja berputar dalam otak.


"Key, ini berikan pada Yuri" Kak Dika memberikan segelas air gula hangat untuk Yuri minum. Aku memberikannya dan Yuri segera menehuknya dengan lahap. Lalu ia kembali beristirahat.


"Kamu istirahat saja dulu, tenangkan hatimu agar tidak takut. Karena saat ini kamu sudah selamat" Sambil mengelus rambut Yuri dan memberikan selimut padanya.


"Terima kasih key, kamu sudah menbantuku" Suaranya lirih, masih ada rasa takut yang muncul.


"Sudahlah, ayo istirahat. Yang terpenting kamu selamat" Aku keluar dari tenda menunggu kedatangan kelompok Ari. Kak Dika juga sedang berbincang-bincang dengan om Roky. Lagi-lagi mataku melihat sesuatu yang mengintai.


*bruk, bruk, bruk*


"Hey tunggu, siapa kamu? " berlari dengan cepat agar dapat menemukannya. Tapi sayang dia sudah menghilang entah kemana.


"Ada apa key? " Kak Dika dan om Roky menyusul ku masuk ke dalam hutan.


"Aku melihat seseorang dari kemarin terus saja mengintai perkemahan ini" Mencoba menjelaskan hal yang aku lihat dari kemarin.


"Mana mungkin ada orang lain, hutan ini jauh dari pemukiman penduduk" Om roky tidak mempercayainya, aku hanya bisa diam dan mengikuti mereka kembali ke perkemahan.


"Kalian sudah datang duluan? " Tante Maya dan kelompoknya baru saja tiba. Mereka terkejut melihat kami yang sudah ada di tenda. Om roky menjelaskan tentang kejadian yang menimpa aku dengan Yuri. Hal itulah yang membuat kami putar arah dan tidak melanjutkan perjalanan.


"Bagaimana bisa? sedangkan tali yang digunakan sangat kuat" Tante Maya juga tidak percaya dengan apa yang diceritakan. Karena tali yang digunakan sangat mahal dan sudah diuji bebannya.


"Selamat siang Pak, apakah ada yang bisa saya bantu? " Pak Gilang datang dan langsung menghampiri kami


"Mengapa bisa begini" Om Roky menunjukkan tali yang putus saat digunakan untuk rintangan tadi.


Pandangan pak Gilang tertuju pada tali tersebut. Ia memeriksa dengan teliti dari ujung ke ujung. Pak Gilang juga heran mengapa bisa putus, karena tali yang digunakan masih baru dan sangat kuat untuk beban yang dibilang cukup ringan.


"Ini tidak putus pak, ini sengaja ingin diputus dengan benda tajam. Terlihat potongan yang akurat pada sisi ini" Pak Gilang menunjukkan pada om Roky, bahwa tali itu memang sengaja ada yang memutus.


Semuanya terdiam dan berfikir, siapa yang tega memutus tali tersebut agar Yuri jatuh dari atas. Tidak habis pikir, di hutan ini hanya ada kami dan tidak mungkin diantara kami yang melakukannya.


"Key bukankah kamu membawa pisau diatas kecil? " Tanya Rena padaku.


"Iya benar" Sahutku dan tatapan mereka seakan meragukanku.


"Bagaimana bisa kamu membawa pisau saat melakukan penjelajahan tadi" Pertanyaan Rena seakan menyudutkan ku bahwa aku yang salah.


"Aku membawanya sebagai jaga-jaga apabila terjadi sesuatu" Aku menjawabnya dengan tenang dari pertanyaan yang diberikan oleh Rena.


"Tapi bukankah papa sudah menyiapkan keadaannya, lalu mengapa kamu membawa pisau? " Ari kembali menanyakan hal itu. Semua pertanyaan mereka menyudutkan ku untuk berkata bahwa aku salah.


"Karena aku lebih suka bawa pisau untuk jaga-jaga saja tidak lebih. Om, tante dan kalian semua, tidak mungkin aku mencelakai Yuri dengan memotong tali tersebut" Mereka hanya diam dan tidak menghiraukan penjelasanku.


Yuri ternyata sudah bangun dan menatapku dari dalam tenda dengan tatapan benci. Dan mereka semua juga tidak ingin mendengarkan penjelasan pembicaraan ku. Aku memang salah membawa pisau, tapi pisau itu hanya untuk menjagaku dari hewan buas dan tidak lebih.

__ADS_1


"Sudahlah, kalian istirahat saja yang terpenting Yuri dan kalian semua baik-baik saja" Semua masuk dalam tendanya masing-masing. Aku masuk dan menghampiri Yuri untuk berbicara. Tapi Yuri hanya diam dan tidak mau berbicara denganku.


Aku tidak mengerti mengapa semua hal mengarah padaku. Padahal tidak pernah ada niatan untuk menyakiti Yuri. Bahkan kak Dika juga diam dan tidak membela ku. Seakan semua mengiyakan bahwa aku yang salah.


Aku mengambil pisau dari dalam tas dan ingin membuangnya. Berjalan sendiri menuju air terjun di bawah sana. Duduk di bebatuan dan berbincang bersama mereka yang semuanya mati.


"Kalian tau gak, tidak mungkin aku ingin mencelakai sahabatku sendiri dengan pisau ini" Mengenggam pisau yang masih terbungkua dengan sarungnya.


"Kalaupun aku ingin mencelakai Yuri, aku pasti tidak akan menolongnya. Pasti aku akan membiarkan Yuri jatuh ke jurang. Tapi tanganku terus menggenggam dan tidak ada sedikitpun pikiran dalam benakku untuk melepaskan genggaman itu" Curhatku pada bebatuan yang bisu. Diiringi irama percikan air terjun yang deras.


Memandangi sekitar yang sepi. Nyaman rasanya menyendiri, bukan karena aku ingin lari dari semuanya. aku hanya ingin menenangkan hati yang sakit karena mereka tidak percaya dengan apa yang aku jelaskan.


Tapi apa alasanku untuk membuang pisau ini. Jika aku menbuangnya makan aku benar-benar dinyatakan bersalah oleh mereka karena membuang bukti. Aku akan tetap membawanya dan memasukkan dalam saku.


Jiwaku masih nyaman berada di air terjun ini. Telingaku damai mendengar deraian airnya. Ingin berenang tapi aku tidak tau caranya untuk berenang. Hanya bisa memandangi jernihnya air dan terlihat jelas bebatuan yang ada di dalamnya. Sepertinya air terjun ini cukup dalam. Bisa-bisa aku akan hanyut bila masuk ke dalam sini.


Tubuhku mundur secara perlahan. Agak menjauh sedikit dari air yang dalam. Tapi tetap duduk di bebatuan yang besar. Membuka sepatu dan mencelupkan kaki ke dalam air yang sejuk. Kakiku terus mengayun melemparkan percikan demi percikan air. Bermain sendiri dan disaksikan oleh alam yang bisu.


"Aaaaaaaaaaaaaaa" Aku meneriakkan kekesalan dalam hati. Berharap kekesalan itu jauh pergi setelah aku teriak keras dan diiringi kebisingan air terjun.


"Sepertinya aku harus segera kembali, sudah lama aku duduk disini" Gumamku dan bergegas kembali. Aku berdiri dan ingin membalikkan tubuhku.


"Aaaaaaaaaaa"


*byuuurrrrr* seseorang mendorong ku dari belakang. Aku melihat dia menggunakan hoodie hitam, sepertinya itu seseorang yang mengintai kami dari kemarin.


Kali ini tamat riwayatku, mengikuti arus gelombang air yang dalam. Aku tidak bisa berenang.


"Tolonggggg, tolonggggg, tolonggggg"


*blubukblubuk* beberapa air masuk dalam hidung, tapi aku masih bisa bertahan. Teriakan tolong tidak ada yang mendengarnya walaupun aku sudah mengeluarkan semua suaraku.


"Tolonggggg, tolongggg, tolongg" Tubuh ini sudah tidak kuat untuk menahannya. Tubuhku terombang-ambing bersama gelombang air. Tubuhku kembali timbul lalu tenggelam ke dalam air. Tanganku terus menjadi baru yang besar untuk bertahan. Tapi arus gelombang yang besar membawaku hanyut. Tiba-tiba semua nah menjadi gelap.


POV Yuri


"Daritadi aku tidak melihat key disini" Pandanganku terus mencari tapi key daritadi tidak masuk dalam tenda. Sepertinya aku keterlaluan karena sudah mencampakkan saat key berbicara. Sebenarnya aku juga berfikir bahwa dia bukanlah orang yang mencelakai ku, karena dia yang menyelamatkanku dari jurang tadi.


"Rena, Rena, apakah kamu melihat key" Aku membangunkan Rena yang tertidur, saat aku menanyakan key dia hanya menggeleng. Hari semakin sore tapi key belum kembali.


"Om, tante key tidak ada di tenda" Aku menghampiri tenda orang tua Ari dan mengatakan bahwa key menghilang. Semuanya keluar dari tenda begitu juga Ari dan kak Dika. Bahkan Rena yang tertidur juga ikutan keluar saat mendengar teriakanku.


Semua orang keluar dengan panik saat aku mengatakan bahwa key tidak kembali ke tenda daritadi. Aku mengkhawatirkan key, karena hatinya pasti sedang kacau saat mereka semua tidak ada yang mendengarkan perkataannya. Bahkan aku juga merasa bersalah pada key karena sikapku padanya.


"Sudah sekarang tenang, kita akan mencarinya. Siapa tau key bermain ke dalam hutan atau air terjun" Om Roky mencoba menenangkan kami. Tapi hatiku sangat bimbang karena key.


"Om lebih baik kita mencarinya ke arah air terjun, karena tidak mungkin key akan masuk ke hutan tanpa alasan" Saran kak Dika sangat baik, aku setuju padanya.


"Ide yang sangat bagus" Ayo kita segera mencarinya dan kalian tunggu disini saja" Kak dika, om Roky dan Ari mencari key di air terjun. Aku berharap key sesedang duduk disana sambil menikmati air terjun.


__ADS_1


__ADS_2