
Suasana saat ini memanglah sangat tegang karena kami sudah ketinggalan 1-0 di babak pertama. Tidak ada kata santai dan harus mengembangkan permainan dengan baik.
"Keyla kemarilah"
Aku menghampiri pelatih yang menatap dengan serius. Tidak ada wajah santai, karena kami hanya memiliki 45 waktu normal selanjutnya. Dan hal itu harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
"Saya percaya sama kamu, lakukan yang terbaik di babak kedua. Tingkatkan permainanmu dan pimpin laga ini hingga usai dengan baik"
"Baik Coach"
Pundak seorang kapten akan terasa sangat berat jika diberikan tanggung jawab besar. Maka dari itu aku harus menahan emosi dan bermain dengan tenang agar tidak terjadi hal konyol di lapangan.
konsentrasi yang tinggi mampu membuat eorang pemain menikmati pertandingan tanpa kesalahan. Karena hal itulah kapten bisa menuntun anak buahnya untuk menuju gerbang kemenangan.
"Bersiap semua" Teriakan pelatih membuat semengat kami kembali berdiri.
Pertarungan kedua akan dimulai. Kami semua bersiap diri untuk memasuki lapangan pertandingan. Baru saja aku menginjak rumput lapangan, terlihat David yang menonton di bangku paling depan.
"Ada apa dengannya, mengapa seperti memberikan isyarat padaku"
Gumamku dalam hati saat melihat David memberikan isyarat tapi belum belum saja aku mengerti dengan hal tersebut. Terlihat dia hanya melambaikan tangan dan berbicara namun sayang aku tidak paham.
*pritt* fokusku kembali ke dalam pertandingan. Bermain dengan tenang dan melakukan tempo ketenangan.
"Key, key"
*prittt* pelanggaran terjadi, aku kembali menenangkan para pemain agar tidak terpancing emosi saat mereka melakukan provokator.
"David? Buku? " Aku sadar tenyata David ingin berbicara tentang buku. Apa yang sedang dia katakan, pikiranku masih berputar tentang kode yang David berikan.
Permainan kembali di mulai, kami masih belum bisa menembus pertahanan lawan. Aku belum bisa membaca taktik yang sedang mereka jalankan.
"Buku David, taktik" Aku paham sekarang, mereka memainkan taktik yang ada di buku David. Akhirnya aku bisa menemukan jalan keluarnya.
Aku memberitahu para pemain secara bergantian saat pertandingan berlangsung. Kami harus mengubah taktik satu menjadi taktik 3. Karena taktik 2 akan mudah dibaca lawan.
"Sonya" Teriakku memberi umpan panjang.
Striker dan gelandang akan aktif melakukan taktik penyerangan berkelompok di lini depan . Dan kami di lini belakang akan mengikuti. Memberikan penjagaan sambil mengawasi dan membantu penyerangan.
Kali ini tim akan memainkan trik ke 3 dengan memanfaatkan umpan lambung serta kontrol jarus dimanfaatkan dengan baik. Apabila kontrol bola kurang maka strategi tersebut tidak dapat dimaksimalkan.
*Bluk* Berani memainkan umpan panjang dan berani membawa lari bola serta berani mengambil keputusan dan juga berlari tanpa bola.
"GO, GO" Teriakan kencang dari pelatih menandakan ada kesempatan yang bagus.
*bluk* aduhh.
Tendangan yang baik namun bisa di tepis oleh penjaga gawang lawan. Tendangan pojok salah satu kesempatan yang dapat diambil dengan baik.
Aku berani mengambil tendangan pojok dan menantang keraguan diriku sendiri. Tidak ada yang tidak bisa, aku harus belajar dari kegagalan kemarin dan harus mampu mengeksekusi dengan baik.
"Key tenanglah, fokus dan fokus" Gunamku pada diri sendiri. Aku harus tenang dan melihat target untuk menerima bola umpan ku.
*bluk*
*bluk*
"Gollll" Sunduluan yang sangat cantik dari Sela berhasil membuahkan gol.
Sorakan gemuruh memenuhi stadion yang tidak terlalu besar namun cukup menampung ratusan lebih orang. Sambutan kegembiraan diberikan, aku bersyukur masih ada harapan untuk menang.
"Bagus key, umpan bagus" Sela menghampiriku dan memeluk dengan erat.
"Sundulan bagus" Aku mengelus rambutnya sebagai bentuk penghargaan karena telah berhasil memanfaatkan peluang.
"Terima kasih ya allah" Tidak lupa sujud syukur karena semua berkat dari yang maha pencipta.
Skor sementara menjadi 1-1, permainan kami cukup berkembang setelah aku melihat bahwa mereka menggunakan strategi seperti di buku David.
Setelah pertandingan dimulai lagi tapi permainan mereka tetap sama tidak ada perubahan taktik dan strategi. Aku harus bisa kembali menerobos pertahanan dengan umpan lambung yang akurat.
*bluk* Tatapanku tidak akan berpaling sebelum bola jatuh di kaki yang tepat.
__ADS_1
Pemain di lini depan mampu membawa bola dekat di lini pertahanan tim lawan. Aku segera membantu serangan untuk memanfaatkan kesempatan yang hilang.
*prit* baru saja dimulai menggocek bola, mereka sudah bermain kasar dan menyebabkan pelanggaran.
"Sit, seharusnya kartu. Dia sudah terlalu banyak melakukan pelanggaran tapi anda tidak mengeluarkan kartu sedikitpun" Aku memprotes kinerjanya.
Sudah dari babak awal aku merasakan keputusan yang berat sebelah. Saat tim kami melanggar, wasit akan segera mengeluarkan kartu. sedangkan dari tim lawan, mereka sangat susah menarik kartu dari sakunya.
"No, no, itu hanya hal biasa"
"Sit, tolonglah tegas. Saya lihat dari mata kepala sendiri dia sengaja mentackel dengan keras"
Rasa kesal tidK bis ditinggalkan kepada wasit, namun dia menutup telinga selama tidak ingin mendengarkan perkataanku.
"Sabar, sabar" Aku menenangkan teman satu tim yang mulai emosi dengan keputusan wasit.
Aku tidak ingin mereka terpancing dan membuat keributan yang akan mengakibatkan kerugian untuk tim. Walaupun saat ini emosiku melebihi puncak karena ada hal janggal dalam sebuah keputusan wasit.
"Kembalilah ke posisi kalian, kita mendapatkan tendangan bebas" Teriakku pada mereka yang masih ngotot dengan kinerja wasit yang buruk.
Akhirnya mereka mau tenang dan kembali melanjutkan pertandingan. Mereka memberikan tendangan bebas padaku. Katanya tendangan bebas yang paling akurat adalah dari kaki kananku yang sulit di tebak lawan.
Aku mengambil bola dan melakukan dengan konsentrasi, berharap bola kembali bersarang di gawang lawan dan menambah gol untuk kami. Satu gol sangatlah berarti, dan satu kesempatan adalah yang terbaik karena belum tentu ada kesempatan kedua.
"Bismillahirrahmanirrahim, ya Allah permudahkanlah" Doa adalah kunci kemudahan.
*bluk* tendangan ku cukup akurat, mereka menyundulnya namun bola kembali di buang ke depan oleh tim lawan.
Aku segera mengejar bola yang belum keluar dari lingkungan lawan. Pikirku berani menggiring bola dan melakukan tendangan keras menggunakan kaki kiri di luar kotak pknalty.
*bluk*
"Golllll" Aku teriak dengan gembira.
Tendangan kaki kiri yang aku lakukan mampu mengecoh pergerakan lawan sehingga berhasil menembus penjaga gawang.
Sangat tipis sekali untuk bisa di tepis dan pada akhirnya bersarang dengan kemenangan sementara untuk tim kami yaitu 2-1. Aku bersorak gembira dan diikuti oleh beberapa pemain yang menghampirimu.
Aku baru sadar ternyata gol itu tepat di menit ke 89 dan kurang 1 menit akhir pertandingan di waktu normal. Kesempatan yang sempurna, kali ini hanya perlu meninggikan pertahanan agar mereka tidak mampu menembus
"Ya Allah, Terima kasih telah memberikan kesempatan untuk key" Sujud syukur tidak pernah lupa atas segala nikmat.
Pertandingan kembali dimulai. Tambahan waktu 5 menit cukup banyak bagi tim kami. Kami harus melakukan permainan yang baru untuk mempertahankan kedudukan.
"Key, key" Pelatih teriak memberikan isyarat untuk melakukan umpan dari kaki ke kaki tanpa menyerang. Hal tersebut bertujuan untuk mengulur waktu.
Aku segera melakukan dengan teman-teman. Kami memanfaatkan waktu luang dengan memperbanyak umpan silang untuk pertahanan dan tidak ingin menyerang. B karena jika memaksakan untuk menyerang maka hal tersebut berpotensi membuat kami kehilangan bola.
*prittt* pelanggaran kembali dilakukan oleh tim lawan yang kesal dengan strategi penguluran waktu yang kami lakukan.
"Sit kartu, dari tadi anda tidak mengeluarkan kartu. Coba buka mata sit, dia jelas sekali menyerang dengan keras" Teriakku kesal karena selama pertandingan final dimulai, kartu dari wasit tidak pernah keluar untuk tim lawan.
Melainkan kartu tersebut banyak dikeluarkan untuk tim kami. Sungguh tidak adil namun harus tetap berjalan hingga akhir. Aku terus mendesaknya untuk memberikan kartu pada pemain yang melakukan pelanggaran keras.
*prit, prit, prit*
"Sit kartu" Kehaduhan kembali terjadi di menit-menit akhir.
Akhirnya wasit merasa terdesak dan mengambil kartu merah untuk diberikan pada tim lawan dan tim kami yang tadinya ikut terprovokasi juga. Memang sagat adil, sehingga kedua pemain mendoaatkan kartu.
Padahal sudah terlihat jelas jika pemain mwrwka yang berbuat ulah dan melakukan provokasi berlebihan. Namun wasit memberikan kartu juga padaku.
"Kenapa saya? " Aku heran karena juga mendapatkan kartu kuning.
Padahal aku hanya menginginkan keadilan darinya untuk memberikan hukuman kartu pada pemain lawan yang melanggar. Memang permainan di luar atau di dalam lapangan tidka swmulus yang aku kira.
Semua perkataan Coach Alam tidak ada yang salah, akan ada saatnya permainan bola membuatku terkejut dengan keadilan tidka merata.
"Hey kembali, kembali" Teriakku dan mencoba menemukan beberapa pemain kami agar tetap tenang dan tidak mendapatkan kartu lagi.
*prit* permainan kembali dimulai, sekarang kami bermain dengan 10 pemain begitu juga pemain lawan dengan jumlah pemain yang sama jadi kita semua imbang.
*pritttt* peluit panjang telah dibunyikan. aku berlari ke pelatih yang masuk ke lapangan dan segera memeluknya karena kami telah memenangkan pertandingan ini.
__ADS_1
"Terima kasih coach" Aku menangis dalam pelukannya. Begitu juga para pemain ikut memeluk dan saling merangkul dalam kemenangan yang diraih.
"Bagus, kalian sangat hebat" Teriaknya sambil memeluk kami semua.
Tangisku benar-benar pecah dengan sambutan kemenangan yang membuat stadion kali ini bergetar karena ketegangan telah usai dan kami telah menang.
Aku snahat bersyukur pada sang pencipta yang telah memberikan kesempatan terbaik untukku dalam menjalankan pertandingan dengan baik sehingga mampu membawa piala kemenangan untuk kali ini.
"Bangunlah, masih ada waktu di lain hari" Aku memberikan respect pada tim lawan yang menangis dalam lekalahan.
Jadilah menang terhormat dengan membangkitkan dan merangkul semangat lawan yang patah. Jangan jadi lawan yang pengecut karena tinggi hari atas kemenangan dan menjadikan sombong.
"Keyyyyy" Teriak Sonya yang berlari dan aku menyambutnya dengan pelukan.
Suasana meriah atas kemenangan. Mataku mencari ke segala arah untuk melihat apakah ibu dan keluarga datang kesini melihatku. Karena harapan terbesarku adalah mereka datang serta menyaksikan kemenangan yang indah.
"Ayolah bersenang-senang" Ajak beberapa pemain padaku untuk bersorak kemenangan dan menyambut penonton yang datang di stadion ini.
"Baiklah" Kami keliling di bangku pendukung yang jauh-jauh dari kota kami menuju kota orang.
Terlihat David juga bersemangat dan menyambut ku dengan sorakan. Aku sangat senang namun aku juga sedih karena tidak melihat ibu dan keluarga yang datang.
"Keyla, Keyla" Sorakan penuh di stadion menyambut kemenangan kami.
Setelah semua selebrasi usai, kami bersipah diri untuk menerima penghargaan. Baru pertama kalinya aku bangga dengan pencapaian ku dan menangis atas perjuanganku hingga ke titik ini.
Di pertandingan ini aku mendapatkan gelar pemain terbaik. Hal yang tidak terduga, mungkin karena aku selalu bermain tenang dan ini berkat pelatih juga karena percaya menjadikanku kapten tim serta memainkan di waktu yang penuh.
"Andai ibu datang, pasti dia bangga saat meluat aku menerima penghargaan ini" Gumamku sambil memegang penghargaan dengan rasa bangga bercampir pilu.
Dan inilah yang ditunggu-tunggu oleh pemain kami dan juga para pendukung yang setia duduk serta menyaksikan pertandingan selama kurang lebih 90 menit waktu normal.
"The winner is....... " Tim kami dipanggil dengan suasana yang sangat meriah. Piala di pegang dengan erat antara kapten tim dan pelatih.
"Sebentar coach" Aku pergi memanggil Dira yang juga berdiri dengan menggunakan tongkat sebagai penopang karena kakinya yang cidera tidak bisa berdiri dengan sempurna.
"Kemana key? "
"Memanggil sang kapten sesungguhnya" Ucapku.
"Ayolah, kamu adalah kapten sesungguhnya" Ucapku dan memapah Dira untuk ikut mengangkat tropi kemenangan.
"Terima kasih key" Bisiknya. Dan kami mengangkat tropi kemenangan dengn bahagia. Sorakan yang sangat penting menghiasi langit-langit stadion pada malam ini.
"Yeyyyyyyy" Para orang tua dipersilahkan untuk masuk ke lapangan memeluk.
"Buk, pak, key ingin kalian berada di sini" Aku memilih duduk menepi di bangku cadangan karena tau bahwa ibu tidak datang.
"Keyyyyy"
"Keyla" Teriakan yang sangat jelas dan aku mendengarnya.
"Ari, Yuri" Aku sangat bahagia dan berlari ke arah mereka berdua. Aku memeluknya dengan erat dan menangis di pundak mereka.
"Key, selamat nak" Tangan lembut yang datang tiba-tiba. Mengelus dengan kasih sayang saat aku berpelukan denganri dan Yuri.
"Ibu, bapak"
"Keyyy"
"Mbak" Aku tidak menyangka ternyata mereka datang di sini menyaksikan keberhasilanku kali ini. Aku memeluknya dengan hujan tangis yang mengisi malam ini.
"Bulan, bintang, lihatlah. Kali ini malamku menangis bahagia" Gunamku berbicara pada mereka seperti malam-malam kemarin.
Bedanya adalah malam kemarin penuh tangis pilu dan sekarang adalah tangisan haru karena kebahagiaan yang didapatkan. Merekalah adalah senyum sesungguhnya.
"Selamat ya nak, kamu yang terhebat" Tatapan seorang ibu sangat bangga pada anaknya yang telah berhasil walaupun masih di titik ini.
"Akhirnya anak bapak kembali membawa kemenangan untuk kota kelahirannya" bapak memelukku dengan erat. Matanya berkaca-kaca namun menyimpan seribu makna dan aku tau dirinya tak akan menangis.
"Terima kasih pak, Key sayang bapak" aku membalas pelukan itu dengan sangat erat.
__ADS_1