Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
96. Mendapatkan Bukti


__ADS_3

Rena langsung ikut dengan mamanya masuk ke dalam mobil. Sedangkan semua orang langsung bubar begitu saja. ada yang kesal dengan kelakuan mamanya Rena. Ada yang mencacinya, ada yang kasihan dan banyak lagi kepedulian yang dilupakan secara tidak langsung.


"Key, tanganmu" Saking seriusnya melihat Rena, aku tidak merasakan jika lenganku terluka karena loncatan tadi saat membantu Rena.


Untung saja Yuri mengingatkan dengan tegas saat dia melihat darah yang menetes dari lenganku. Aku langsung membersihkannya dan menahan rasa sakit itu.


"Eh iya, maaf gak terasa Yur. Hehehe" Sahutku santai sambil tertawa kecil pada Yuri.


"Yaudah ayo kita kembali ke mobil Ari" Aku dan Yuri jalan menuju mobil Ari untuk mengobati luka sekaligus menanyakan tugas Ari sebagai mata-mata.


*klek* aku dan Yuri terkejut saat membuka mobil Ari. Di dalam sudah ada Ari yang melipat tangannya di depan sambil menatap kami berdua dengan sinis.


"Eh ari" Aku dan Yuri tersenyum melihatnya, ku pikir dia akan becanda ternyata serius dan sekalian juga kesal.


"Kemana kalian? " Tanyanya dengan keras pada aku dan Yuri.


"Bentar dulu, jangan tanya dulu. Obati tangan key dulu baru tanya" Sahut Yuri yang panik melihat tanganku mengluarkan darah. Padahal aku biasa saja.


"Hah, kok bisa" Wajah kesal Ari hilang seketika dan menjadi perhatian.


Dia mengeluarkan kotak obat yang tersimpan dalam mobilnya lalu memberikan pertolongan padaku. Dengan sabar Yuri dan Ari mengobati luka di tanganku menggunakan obat merah dan juga perban.


"Sudah selesai, memangnya kalian dari mana sih?" Ari bertanya kembali padaku dan Yuri.


"Jadi kita itu.... " Aku menjelaskan bahwa kita berdua jalan-jalan karena disangka gelandangan yang nongol dan mengintip di depan toko.


Saat asik jalan-jalan dan ternyata ada Rena yang ingin bunuh diri hingga akhirnya kami mencoba menolong abeisa mungkin. Setelah berhasil menyelamatkan Rena , mamanya datang dan marah-marah. Katanya Rena sudah mencoreng nama baik keluarganya.


"Gila, Rena senekat itu?" Tanya Ari yang masih heran dengan pikiran Rena.


"Betul" Aku juga menjelaskan bahwa Rena sangat tertekan. Dari tatapannya saja selalu kosong saat berada di sekolah.


Aku juga tidka paham dengan Rena, karena semenjak tersebarnya vidio itu dia telah menjadi orang lain. Bukan Rena yang selalu mengikuti langkah Adel kemanapun. Tapi dia selalu menyendiri.


"Sudahlah, sekarang kita fokus dengan lelaki itu" Ari menunjukkan hasil rekamannya. Gambar dan rekaman yang bagus. Dalam percakapan yang membahas tentang hubungan keduanya. Memang lekaki itu hidung belang yang memoroti harta wanita.


Kami bertiga langsung bergegas pergi, saat dalam perjalan Ari juga bercerita bahwa dia hampir saja ketahuan jika melakukan pengambilan vidio pada kedua pasangan tersebut. Untung saja Ari bisa mengelaknya karena ingin membuat konten. Jadi dirinya bisa selamat.


*groggg, groggg* Perutku kali ini tidak bersahabat. Berbunyi di waktu yang tidak tepat.


"Kamu lapar Key" Tanya Ari sambil menahan tawa.


"Iya, ayo kita cari tempat makan" Gumamku sambil memegangi perut dan terlihat sangat malu karena kelaparan.


"Hahahahha" Akhirnya lepas juga tawa Yuri dan Ari melihat wajahku yang menahan lapar dengan malu-malu.


"Sudahlah, ayo kita makan"


Sebelum pulang kami berdua makan di warung pinggir jalan. Dengan asik makan bertiga dan juga bersama pak sopir. Lalapan lele, ayam serta burung dara sangat nikmat karena makannya bersama-sama.


Selanjutnya mereka mengantarku untuk berlatih. Sekalian katanya ingin menonton aku saat sendag latihan. Yuri dan Ari heboh sendiri saat melihat aku berlatih skil boleh di tengah lapangan. Mereka teriak dengan keras seperti mendukung tim kebanggan nya.


Di tengah latihan, Ari pamit pergi katanya ada hal mendadak tapi dia tidak menjelaskan. Terpaksa hanya Yuri yang menungguku untuk berlatih. Katanya Yuri lebih memilih bersamaku daripada bersama Ari, karena kasihan jika Ari terus bolak balik mengantar Yuri dan pulang. Jadi Yuri memilih untuk menyewa ojek online.


"Oke latihan hari ini sudah selesai. Kita akan lanjutkan di latihan selanjutnya. Mari kita tutup dengan doa" Syukurlah latihan sudah selesai karena aku kasihan melihat Yuri menungguku sendirian.


"Yuri" Teriakku menghampirinya. Sepertinya dia sudah lelah sendirian menonton ku. Wajahnya terlihat bosan tapi dia tersenyum saat melihatku menghampirinya.


"Udah selesai key? "


"Udah dong, yuk kita pulang" Kami berdua keluar dari tempat latihan dan mencari minum karena ku sangat haus.


Begitu juga dengan Yuri yang juga haus ingin membeli es. Tapi aku tidak boleh banyak minum es melainkan harus minum air putih terlebih dahulu.


"Yuk ke warung sana aja"


"Ayo" Aku dan Yuri berjalan menyebrangi jalanan yang ramai. Berhati-hati agar selamat sampai ke toko tersebut. Setelah itu kami membeli minuman yang dibutuhkan dan berjalan menuju halte.


Jalanan yang sangat ramai membuat kami kesulitan untuk menyebrang. Akhirnya beberapa menit kita bisa nya brang dengan aman. Berjalan menuju halte untuk menunggu ojek online.


"Awas yuri" Teriakku sambil menarik badan Yuri yang hampir tertabrak mobil.


*brakk* aku dan Yuri terjatuh. Yuri menindihku hingga kepalaku terbentur di atas batu. Untung saja hanya luka sedikit dan tidak bocor. Kalau bocor otakku bisa bocor juga.

__ADS_1


"Kamu gapapa key" Yuri membantuku untuk bangun.


"Gapapa kok Yuri, cuman luka saja di kepalaku" Sahut ku sambil memegangi kepala yang sakit karena luka benturan dari batu itu.


Yuri bergegas mengeluarkan tisu yang dia beli tadi di warung. Tangannya sibuk membersihkan darah yang ada di kepalaku. Apes sekali hidupku hari ini. Tadi terluka karena menolong Rena belum sembuh luka itu malah datang luka baru.


"Ayo duduk aja dulu" Aku duduk di halte bersama Yuri. Dia menyiram lukaku dan sesekali membersihkannya dengan tisu. Darah segar kembali menetes di dahi.


"Duh, kehilangan berapa banyak ya darahku hari ini" Ucapku untuk menghibur Yuri yang terlihat khawatir dengan keadaanku.


"Kamu ini, lukamu lumayan parah nih"


"Ahh, jauh dari nyawa kok" Sahut ku dengan santai.


*plak* pukulan yuri di kepalaku dengan keras.


"Aduh sakit" Teriakku, padahal biasa saja sih


"Maaf, maaf" Dia tersenyum sambil memperhatikan tingkahku. Padahal hatinya kacau karena merasa bersalah padaku. Jadi aku mencoba bicara dan menenangkannya bahwa semuanya baik-baik saja.


Tidak lama kemudian ojek Yuri tiba untuk menjemputnya. Yuri pamit pulang terlebih dahulu. Berselang beberapa menit ojek ku juga datang menjemputku dan mengantarku untuk pulang.


Sesampai di rumah, aku dirundung oleh beberapa pertanyaan dari keluarga kecilku. Ibu, bapak dan kedua kakakku. Mereka khwatir dengan luka di dahi dan juga di lengan. Apalagi ibu yang hampir menangis karena melihat beberapa luka.


"Kenapa dahi dan tangnmu seperti itu nak"


"Pasti berantem lagi nih bu"


"Iya bu, pasti tonjok-tonjokan" Selalu saja kedua mbakku menjadi pemanas.


"Tidak bu, aku hanya terjatuh saat betlatih bola" Ucapku kembali bohong agar tidka membuat mereka khawatir.


Ibu pikir aku terjatuh atau bertengkar padahal tidak. Aku hanya terluka kecil saja. Dan bibirku berbohong jika aku lika saya latihan bola. Bahkan ibu dan bapak percaya dengan apa yang aku katakan, kecuali kedua kakaku.


"Tidak, tidak. Kamu pasti bertengkar" Ucap mbak Yeni mendekati untuk menyelidiki ku.


Untung saja ibu dan bapak pergi ke dapur sedangkan aku ke kamar untuk diobati oleh kedua mereka berdua.


"Benar, pasti kamu bertengkar" Sambung mbak Nike yang ikut-ikutan dengan mbak Yeni.


Tatapan yang menyelidiki membuatku risih tapi lucu sih. Memang rasa kepo dalam diri kedua saudaraku sangat tinggi. Mereka akan mengusut tuntas masalah kecil ini.


"Jujur" Bentakan mbak Nike menakutkan membuatku terkejut.


Hingga akhirnya aku berkata jujur bahwa menolong temanku yang ingin bunuh diri hingga terluka dan luka satunya lagi karena ada mobil yang ingin menabrak ku dan Yuri saat berjalan.


"Apa? Bunuh diri? " Teriak mbak Yeni dengan keras hingga aku dan mbak Nike segera menutup mulutnya.


"Ssstttt, jangan bersik" Mulut mbak Yeni memang tidak bisa dijaga. Hingga mbak Nike menatapnya dengan erat agar menjadi diam.


Mbak Nike prihatin dengan Rena yang aku ceritakan. Katanya masih muda udah pingin mengakhiri hidupnya. Padahal hidup ini sangat indah bila bersyukur sambil menikmatinya tanpa beban. Tapi dia memilih jalan buntu. Untung saja Rena tidak jadi bunuh diri sehingga mbak Nike dan mbak Yeni gak jadi sedih mendalam .


"Bentr-bentar, tadi kamu bilang ada mobil yang ingin menabrak ku key? " Aku mengangguk dengan kertanyaan mbak Yeni.


"Kamu tau nomor platnya? " Aku terdiam dan mencoba berfikir lama untuk mebgingat-ingat nomor plat mobil tersebut.


"Tidak, aku aja terjatuh mana bisa ingat mbak" Sahutku padanya karena mataku fokus pada Yuri nyang terjatuh.


*plak*


"Koplak, seharusnya kamu ingatlah agar bisa kita cari" Ucap mbak Nike yang dari tadi menungguku untuk mendengarkan jawaban nomor mobil eh ternyata aku lupa.


Aku bercerita bahwa mobil itu berwarna hitam. Kecepatannya tinggi dan keluar jalur. Sepertinya mobil itu memang sengaja ingin menabrak ku. Tapi aku menganggapnya biasa sajalah lagian tidak perlu dipikir panjang yang penting aku selamat.


"Ada-ada saja kamu ini. Sini biar aku obati saja" Ucapnya dan kembali fokus pada luka yang ada di tubuhku.


Setelah mereka berdua mengobati ku dengan baik. Aku berpamitan untuk pulang ke rumah. Terlelap di sana bersama bobo bineka kesayanganku. Menceritakan semua hal yang aku alami tadi. Walaupun dia tidak membalasnya, setidaknya bobo menjadi tempat untuk melupakan keluh kesah.


Aku terlalu bersama bobo yang selalu menajadi teman dalam pekuaknku. Aku tertidur bersama bobo ditemani suara jangkrik yang gak sunyi tidak ramai seperti malam biasanya. Yang paling penting aku harus istirahat agar aku bisa bangun pagi untuk bersekolah besok.



__ADS_1


Datang pagi di sekolah adalah hobiku, kecuali ketinggalan angkutan maka hobiku menjadi datang siang. Tapi yang paling penting aku tidak terlambat untuk datang. Bernyanyi dalam hatiku dengan loncat kegembiraan menyambut pagi.



Langakhku berhenti, laguku juga berhenti saat melihat David dan Adel kembali mesra. Degan sengaja melewati ku sambil bergandengan tangan dan bermanja. Rasanya ingin ku hantam dari belakang.



"Dasar centil" Bibirku berdecik kesal melihat kelakuannya.



\*plak\*



"Aduhh" Teriakan yang sangat jelas.


"Eh kak dika, maaf kak maaf" Tendangan botol tepat sasaran, kali ini terkena kepala kak Dika. Untung kakak sendiri, kalau orang lain sudah pasti habis aku.



"Maaf kak, kak Dika gapapa kan? " Aku mengahmpirinya karena merasa bersalah. Pagi-pagi sudah berbuat ulah dengan menemani botol ke kepala kak Dika.



"Kamu kenapa sih pagi-pagi sudah kesal" Untung saja ucapan kak Dika tidak marah padaku.



"Hmm, gapapa sih kak. Cuman gatel aja kakiku ingin menendang seseorang" Sahut ku sambil menatap David yang berjalan didepan bersama adel.



"Ohh dia, ngomong dong biar kakakmu ini yang akan menghalaunya" Sahutnya sangat santai tapi aku yang bergetar takut.



"Tidak, tidak, tidak usah. Sebaiknya kak Dika balik ke kelas saja ya" Aku mendorong kak Dika agar tidak menghampiri David. Sepertinya dia sudah tau semuanya tentang perasaanku dengan David. Pasti Yuri yang memberi taunya.



Tapi aku tidak ingin kak Dika membuka mulut untuk membicarakan semuanya pada David. Jika dia bicara makan taruh dimana mukaku ini. Sudah lama aku memendam rasa ini, biar waktu saja yang membalas untuk aku mengungkapkan rasa pada David.



"Ciee, cemburu ya" Sambil jalan ke kelas, dia mengejekku yang kesal dengan David.


"Ihhh, mau aku tendang lagi" Bukannya menghibur malah tambah membuatku semakin kesal.



Lebih baik aku beralan pergi dan masuk kelas. Bodo amat dengan semaunya yang penting aku fokus untuk melakukan pertandingan yang akan datang tidak peduli David dan Adel selalu bergandengan, memangnya di sekolahan ini ada penyebrangan apa. Sampai-sampai bergandengan terus.



Masuk dan duduk manis di bangku bersma Yuri dan Ari. Melewati David dan Adel yang seneng bermesraan di kelas. sepertinya Adel sengaja untuk membuatku cemburu. Tapi aku tidak peduli yang paling penting adalah mengurusi hidupku sendiri.



Aku asik berbicara dengan y,uri dan Ari. Tidak memperdulikan apapun sampai bel masuk berbunyi. Sedangkan Adel masih saja ada di kelas ini. Dasar tidak tau malu, sudah dengar bel berbunyi tapi masih melekat ke lengan David.



"Dasar tidak punya telinga, sudah tau bel berbunyi masih saja ngintilin orang" Gumamku kesal menyindir Adel yang masih memeluk David.


"Kamu menyindir ku" Bentuknya menatapku.



"Kamu ngerasa budek sepertinya sih" Sahut ku santai.


"Ihh, dasar orang miskin" Bertanya ingin memukulku. Untung saja ibu guru datang dan adek langsung pergi kalau tidak mungkin pagi ini amarahku benar-benar keluar.

__ADS_1



~~~~ BERSAMBUNG ~~~~


__ADS_2