Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
109. Senam Pagi


__ADS_3

Malam yang dingin dengan dipenuhi banyak berbagai macam pikiran. Semuanya terus menggeliat di dalam otakku hingga susah menutup mata agar dapat terlelap.


"Key, kenapa belum tidur? " Tanya Ani yang saat ini tidur di sebelahku.


"Eh Ani, kamu sendiri kenapa belum tidur? " Tanyaku kembali padanya yang masih terlihat sangat segar dan belum terlelap.


Ani Terdiam mendengar pertanyaanku, lalu dia menangis memelukku dengan erat. Aku bingung apa yang harus dilakukan, apakah ikut menangis juga karena tidak tau apa yang sedang Ani pikirkan.


"Sss, kamu kenapa?" Aku membelai rambutnya agar dia merasakan ketenangan.


"Aku, aku rindu kucingku Key" jawaban yang sangat membosankan. Ingin rasanya aku pukul kepalanya, aku pikir ada masalah apa ternyata dia merindukan kucingnya yang ada di rumah.


"Kata ibuku dia habis melahirkan, dan anaknya mati semua Key. Hiksss,hiksss" aku menarik nafas dalam-dalam dan mengembuskan secara perlahan. Sepertinya aku harus tenang.


"Baiklah, baiklah, sekarang kamu tidur ya. Biar nanti kucingmu....." Aku bingung ingin bicara apa dengannya.


"Kenapa kucingku?"


"Kucingmu pasti akan melahirkan lagi, tapi mengandung dulu ya" ucapku yang mencoba menenangkan Ani. Padahal aku tidak tau tentang ternak kucing.


"Sudahlah tidur"ajak ku sambil menepuk kecil punggung Ani seperti menidurkan seorang anak.


"Ehh, bentar. Kamu sendiri kenapa belum tidur?" Dia bertanya lagi, bukannya langsung tidur tapi bertanya-tanya kembali.


"Aku rindu keluargaku"


"Aaa....hiksss,hiksss"


"Sssttt, Ira tidur" aku menutup mulut Ani yang kembali menangis. Aku takut suaranya menganggu Ira yang sudah tidur.


"Kenapa kamu menangis lagi, aduh" kesalku karena dia terus menangis.


"Aku sedih, karena keluargamu belum datang kesini" aku terdiam mendengarkan perkataan nya.


Padahal aku membohonginya, aku belum bisa tidur karena memikirkan tentang Bela dan coach Jaka. Karena saat ini otakku sedang buntu.


"Baiklah, ayo tidur. Aku sudah lelah" akhirnya Ani dan aku tidur juga.


Ditemani gelap malam kamu terlelap. Biarkan waktu berputar, sejenak pikirku akan istirahat dan terlelap dalam kedamaian. Biarkan saja masalah yang menggeluti pikiranku lenyap sementara.



Pagi



Suasana pagi disini tidak sama dengan rumahku, karena tidak ada ayam berbunyi sebelum subuh. Aku terbangun dari tidur dan membersihkan diri lalu beribadah. Membangunkan Ani dan Ira untuk segera mandi dan beribadah.



Selanjutnya aku bersiap diri untuk keluar bersama para pemain dan melakukan olah raga pagi. Hitung-hitung pemanasan di pagi hari sambil berjemur di bawah sinar matahari pagi untuk tubuh yang sehat.



"Kalian masih mengantuk?" Tanyaku pada Ani dan Ira yang masih sulit membuat mata.



Padahal mereka sudah mandi dan melakukan ibadah tapi masih saja susah untuk mengerakkan diri serta bermalas-malasan. Sepertinya sangat sulit memisahkan diri dengan kasur saat ini.



"Iya key, ngantuk sekali tau. Aku tidak pernah bangun sepagi ini. Palingan bangun pagi lalu bersiap diri dan berangkat ke sekolah" sahut Ani yang membuatku tersenyum sambil menggelengkan kepala.



"Iya key aku juga, kadang aku bangun di waktu yang mepet dengan berangkat sekolah" ternyata mereka jarang melaksanakan ibadah di subuh hari. Pantas saja mata mereka sangat malas untuk membukanya.



"Ayo bangun ke lapangan depan, kita harus melakukan olahraga pagi seperti kemarin. Sebelum coach Jaka datang dan marah" mulai dari awal datang, mereka berdua selalu bangun malas dan terus saja susah membuka mata.



Aku ingat di hari kedua saat mereka sudah dibangunkan dan melaksanakan ibadah subuh. Kemudian aku tinggal keluar untuk bergabung senam pagi. Ternyata mereka berdua tidur lagi, bukannya bergabung malah asik bergelayut manja dengan guling.



Akhirnya Ira dan Ani mendapatkan hukuman dengan berlari keliling lapangan kecil dan juga jalan jongkok. Katanya biar mata mereka bisa terbuka lebar dan semangat latihan.



Pada saat itu aku tidak bisa menahan tertawa karena sangat lucu sekali. Ini semua terjadi karena mereka yang terus saja tidak bisa lepas dari tempat tidur padahal sudah pagi dan mentari sudah menyinari bumi.



"Ayo buka mata kalian, waktunya kurang 3 menit untuk kumpul di lapangan" Ani dan ira langsung membuka mata, mungkin mereka ingat atas hukuman saat itu.



Mereka berdua langsung memakai sepatu dan beranjak dari tempat duduk. Seketika matanya terbuka lebar dan semangat. Mungkin gertakan ini cukup baik bagi mereka berdua.



"Ayo key, aku sudah siap"


"Iya key, aku juga" aku tertawa melihat kelakuan mereka berdua.



Ternyata lucu juga mengerjai mereka. Padahal waktunya masih kurang 10 menit untuk berkumpul. Tapi tidak ada salahnya kita datang lebih awal untuk pemanasan terlebih dahulu.



Setiap pagi ada jadwal untuk senam atau olahraga bersama. Selanjutnya makan dan setelah itu latihan sebentar di lapangan kecil ini dan sore hari latihan di lapangan besar.

__ADS_1



"Sekarang salah satu dari kalian untuk memimpin senam" semuanya diam saat mendengar perintah dari coach Jaka.



Karena tidak ada yang bisa senam di antara kita. Kemarin yang ditunjuk adalah Ita, lalu kemarinnya lagi Rara, dan sekarang tidak tau.



"Kalau tidak ada yang maju, biar saya yang menunjuk kalian" semua diam tidak ada suara. Aku juga pura-pura diam dan menunduk karena tidak ingin maju dan memimpin senam.



Aku tidak ingin memimpin senam karena aku benar-benar tidak mengerti caranya untuk melakukan senam. Paling hanya pemanasan biasa.



"Key, maju" mataku langsung melotot sambil tersenyum pasrah. Sudah kuduga karena daritadi mata coach Jaka melirik ku.



"Saya coach?"


"Mau saya ulang?"


"Tidak usah coach, saya maju" kakiku maju satu langkah saja. Membuat semuanya tertawa, karena menurutku perintahnya maju ya berarti aku benar karena sudah maju selangkah.



"Di depan" bentak coach Jaka yang membuatku terkejut lalu menutup telinga.



Aku maju ke depan dan memimpin senam. Mana lagunya dangdut lagi, dan aku tidak tau caranya senam bagaimana.



"Buat enjoy saja, dan ini sebagai refreshing"


"Siap coach" mendengar kata refreshing, aku memiliki ide agar semuanya bergerak dan menikmati alunan lagi dangdut ini.



Sedikit terlintas senyum dari bibirku, aku akan bersiap untuk melakukan gerakan yang pernah aku lihat saat ada ibu-ibu yang mengikuti senam.



"Semuanya siap?"


"Siapppp" mereka menjawab teriakanku dengan lantang dan penuh semangat.



Aku memulai dengan lagu senam dan gerakan pinguin. Memang tidak masuk akal tapi semuanya tertawa dan mengikutinya dengan gembira.




"Satu, dua, tiga, tarik sissss" selanjutnya aku memimpin senam dengan menirukan para instruktur senam yang seksi di depan, tapi aku tidak seksi seperti mereka.



Bukannya mengikuti gerakan ku, mereka yang dibelakang malah tertawa dengan keras dengan apa yang aku lakukan. Bahkan pelatih dan asisten pelatih ikut tertawa dengan apa yang aku lakukan.



Pagi ini bukan senam tetapi benar-benar mendinginkan otak kata para pemain dan pelatih. Katanya senamku lebih bagus untuk dilakukan di dalam rumah sakit jiwa karena bisa menghibur mereka yang stres dalam otaknya.



"Sekarang sudah selesai, kita akan melakukan makan pagi silahkan ganti baju" perintah pelatih membuat kami pergi meninggalkan lapangan dan berjalan menuju ke kamar masing-masing untuk berganti baju.



"Ternyata kamu gila juga Key, aku pikir kalem" tanya beberapa pemain yang masih belum mengenalku lebih dekat.



Memang dari awal aku tidak banyak bicara dengan mereka dan belum menunjukkan sifat asliku. Karena yang tau hanyalah Ari dan Yuri.



Entah mengapa aku lebih memilih diam jika mengenal orang baru dan akan terus mengajak tertawa jika sudah mengenal orang lama dan menurutku bagus untuk menjadikan teman becanda, seperti Ari dan Yuri selalu menjadi korban kejahilanku di sekolah.



"Kamu belum tau aku, makanya kita harus lebih mengenal satu sama lain" sahutku sambil merangkul Rara yang berjalan beriringan denganku.



Kami berdua tertawa keras begitu juga teman yang lain saat menatapku. Katanya wajahku membuat mereka mengingat hal itu dan ingin terus tertawa.



Aku masuk dalam kamar dan langsung mencari baju ganti untuk melakukan makan pagi dan melanjutkan ke lapangan untuk latihan kecil pagi ini.



"Hey orang gila, ternyata bisa ngelawak juga nih" Ani datang bersama Ira. Mereka berdua ngakak dan tidak berhenti saat melihatku dan mengingat hal tadi.



"Gila key, aku pikir kamu kalem. Ternyata ada sisi buruknya"

__ADS_1


"Hahahaha" kamar menjadi ramai dengan suara kami bertiga.



"Kalian mengenalku tampak depan saja, tapi tidak mengenalku dari tampak belakang. Beginilah aku" jelasku pada mereka. Agar mereka tau sisi buruk yang aku miliki yaitu sering becanda.



Awalnya aku juga takut mengeluarkan sisi buruk ku yang sering jahil dan terus becanda, ternyata mereka menerima apa yang aku miliki. Bahkan banyak yang berbicara, katanya aku menghibur mereka semua. Hal tersebut bisa membuat hati tenang dan pikiran menjadi positif terus.



Untung saja mereka tidak menyebutku sisi negatif, padahal itu lelucon yang biasa saja tapi mereka malah membuatnya luar biasa. Sebenarnya yang gila itu aku atau mereka. Entahlah, yang penting semuanya senang.



"Tau gini aku mengenalmu dari awal saja key, biar otakku selalu senang bersamamu" Ucap Ira sambil mengemasi barang-barang yang akan dibawa untuk latihan pagi.



"Sekarang kan kita sudah saling kenal, maka saling menyayangi" Sahut ku sambil tersenyum padanya.



"Iya key, aku saja yang berteman denganmu dari awal tapi baru kali ini melihat kamu melakukan lelucon" Ucap ani menjelaskan.



Memang selama masuk di klub ini, aku memilih diam dan tidak banyak bicara apalagi becanda. Katanya diam itu tandanya emas, maka aku ingin memiliki banyak emas.



"Ihhh, bukannya selama ini kamu yang memancing ku" Sahut ku pada Ani, dan dia hanya tersenyum.



Awalnya aku ingin mengeluarkan sifat asli ku yang suka jahil dna becanda. Tapi semenjak tuduhan pada awal aku masuk di tim ini, membuat nyaliku ciut untuk menampakkan semua sifat asli ku. Aku takut banyak yang tidak bisa menerimanya seperti Ari dan Yuri yang menerimaku dengan tulus.



"Sudah yuk, cepat kita makan. Agar nanti kita cepat istirahat juga" Ucapku pada mereka berdua.



Kami melakukan makan pagi, setelah itu berjalan kaki menuju lapangan kecil untuk latihan pemanasan sedikit di pagi ini. Berlari, mencoba tendangan, dan mencoba beberapa latihan lainnya.



"Coach, tumben sekali cuacanya panas? " Tanya salah satu pemain yang ada di sampingku.



"Karena ada matahari" Jawabku santuy sambil tersenyum. Dia tertawa walaupun kulitnya menahan rasa kepanasan saat latihan.



Aku yang sudah bersahabat dengan panas dari kecil, memilih diam dan santai. Menikmati setiap proses latihan karena tidak semuanya menjadi instan. Aku harus berlatih keras agar bisa mendapatkan hasil yang terbaik.



"Ayo semangat jangan kendor" Teriak coach Jaka saat memberikan teriakan semangat pada kami. Bukannya terbakar semangat, Teman-teman malah bermalas-malasan karena dibakar panas mentari katanya.



"Hey, gerakan kamu mulai salah. Tidak seperti itu, fokus perhatikan apa kata pelatih" Coach Jaka turun tangan, dia menegur pada beberapa pemain yang tidak fokus saat melakukan latihan. Banyak dari mereka salah melakukan gerakan yang sudah di contohkan.



Aku mencoba konsentrasi dengan teguran coach Jaka pada teman-teman. Mataku memeorhatikan dengan baik serta menykmaknya agar saat giliranku tidak melakukan kesalahan. Sambil memeorhatikan aku juga memeragakan.



\*bluk\*



"Bagus" Teriak coach Jaka. Pada saat giliranku menendang, bola tepat sasaran dan tendangan baik seperti contoh yang sudah diperagakan oleh pelatih.



Latihan terus dilakukan dengan baik dan konsentrasi. Matahari sudah ingin beranjak naik ke atas kepala, tapi masih berjalan sih balik naik ke tengah-tengah kepala.



\*priltt\* latihan sudah selesai, aku pikir hanya latihan ringan seperti kemarin ternyata latihannya hampir sama degan latihan sore yaitu. Mencoba berbagai teknik tendangan oleh coach Jaka.



Latihan selesai, para pemain berjalan menuju ke kamar masing-masing. Sedangkan aku masih bersantai jalan di bagian belakang sambil menikmati suasana di sekitar ini.



"Bagus juga kota ini" Wajahku terkesima melihat banyak anak-anak yang beriman dengan suka ria.



Hawanya yang sejuk membuatku menjadi semangat. Bagaimana tida sejuk, karena aku duduk di bawah pohon. Santai sekali hidupku ini, padahal seluruh temanku mungkin sudah sampai di kamar dan beristirahat.



"Suasana angin yang indah, aku pulang dulu ya" Sebentar saja aku meneduhkan yang penting menyegarkan wajah walaupun sementara. Aku beregas berjalan pulang ke tempat penginapan.



Seperti biasa melakukan pembersihan diri dan beribadah. Sedangkan untuk makan malam sudah disediakan di kamar masing-masing. Jadi tidak perlu takut untuk kelaparan, karena makan juga teratur walaupun lauknya tidak seenak yang pernah dibayangkan.

__ADS_1



~~~~ BERSAMBUNG ~~~~


__ADS_2