Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
144. Rekayasa Kematian


__ADS_3

Teman satu kamarku selalu memberikan dukungannya saat aku menjadi kapten. Mereka selalu asik bercanda denganku. Sedangkan bila diriku sendiri, disitulah terasa bagaimana caranya untuk lupa dengan kenangan. Karena setiap aku tertawa bersama mereka, aku merasakan Ani hadir disini.


"Ani, aku tau kamu sudah menjadi bintang di atas sana. Setidaknya aku ingin engkau kembali walau dalam mimpi" foto Ani masih tersimpan rapi.


Aku harap tidur kali ini dia datang menghampiriku. Tidak peduli itu hanyalah mimpi ataupun hayalan, asalkan aku bisa tertawa bersamanya lagi. Waktu pertemuan kami memang singkat, namun kenangan kami terlalu banyak tersimpan dengan memori yang rapi.


"Key, foto siapa?" Tanya Sonya yang baru datang dari kamar mandi.


"Keluargaku" sahutku dan kembali menyimpan foto Ani dengan rapi.


Malam ini aku harus tidur dengan tenang, karena pertandingan yang baik bisa membuat tim mendapatkan kemenangan. Sekarang aku berharap Ani datang dan menjadi teman dalam bunga tidurku. Agar aku menceritakan banyak hal tentangku di klub ini.


"Nak, tetaplah fokus dengan tujuanmu. Perjuanganmu sudah sejauh ini, sebentar lagi kamu akan menaiki tangga satu per satu"


"Kakek? Sudah lama kakek tidak muncul dalam mimpiku. Kakek kemana? Aku rindu"


"Kakek selalu ada di sisimu, dan kakek selalu menemanimu. Tidurlah"


Tangan keriput kembali membelai rambutku, membiarkan kepala ini bersandar dalam pangkuannya. Seperti biasa tembang lagu jaman dulu dinyanyikan hingga aku terlelap kembali.


Tiba -tiba perlahan ia meletakkan kepalaku dan membiarkan aku sendiri lagi. Lalu dirinya kembali pergi entah kemana arah langkahnya karena semua dalam keadaan gelap.


"Kakek" teriakku dengan keras dan terjaga kembali di tengah malam.


"Key kamu kenapa?" Sonya terbangun saat mendengarkan teriakanku.


Dia segera mengambilkan air minum untuk menenangkan hatiku yang sedang kacau balau. Sejenak aku terdiam dan merenung, kakek kembali pergi dari mimpiku.


"Kamu kenapa?" Aku hanya menggeleng dengan pertanyaan yang Sonya berikan.


"Kamu tidurlah karena hari masih malam" aku mengangguk dan segera kembali dalam lelapku.


Saat aku melihat Sonya, dia telah terlelap dan tidurnya sangat pulas. Sedangkan aku masih juga belum tertidur. Menatap langit-langit kamar dengan hiasan yang sangat rapi.


"Kakek, aku tidak tau siapa dirimu. Entah mengapa aku takut engkau meninggalkanku. Padahal itu semua hanya mimpi, namun rasanya seperti nyata" gumamku berdialog sendiri dengan udara.


Beberapa hari tanpa kehadiran kakek dalam. mimpi, rasanya ada yang kurang. Aku merasakan tidak ada tempat untuk bercerita dan mendapat nasehat karena saat ini aku jauh dari ibu.




"Halo kak, bagaimana kabar kalian. Aku disini sangat rindu" saat diriku bersantai setelah melakukan kegiatan pagi, aku mencoba menghubungi kak Dika yang ada di luar negeri



"Key, Alhamdulillah kakak baik. Kamu sendiri bagaimana?" Aku rindu pertanyaan itu.



"Aku baik kak, bagaimana kabar ayah apakah kalian baik-baik saja?"


"Iya"


"Syukurlah "



Pembicaraan kami selalu singkat, hanya bertanya tentang kabar dan menceritakan sedikit tentang kehidupan. Aku jarang sekali menghubungi kak Dika dan ayah. Karena mereka selalu bersembunyi dari istri dan mamanya untuk menghubungiku.



"Kak, apakah kak Dika tidak ingin ke Indonesia?"


"Sebenarnya kakak ingin kesana, tapi ada beberapa urusan yang membuat kakak sibuk key" aku sudah tau pasti dia tidak akan pernah kembali kesini lagi.



Bagaimanapun juga aku sangat merindukannya. Aku ingin bertemu ayah dan juga kak Dika, sudah beberapa bulan mereka pergi rasanya seperti beberapa tahun.



"Baiklah Kakak matikan dulu ya, soalnya lagi ada di sekolah"



"Baiklah kak" dia akan leluasa meneleponku saat dirinya berada di sekolah, jika sudah ada di rumah maka telepon itu pasti mati.



"Key, keluar yuk"


"Mau kemana?"


"Membeli camilan"


"Ide bagus"



Aku dan Sonya adalah sepasang teman yang serasi. Kami sama-sama menyukai camilan yang ada di luar asrama. Asalkan camilan itu tidak banyak mengandung minyak, jadi hanya membeli makanan dan minuman ringan yang tidak membahayakan kesehatan kami sebagai pemain bola.



"Ani" Aku terkejut saat Ani berdiri di depanku.



Aku mengucek mata untuk memastikan bahwa itu benar-benar Ani. Aku terdiam membisu saat tangannya ku pegang dan dia benar-benar manusia.



"Iya key, dia Ani sahabatmu" Aku berbalik lagi mencari suara itu dan ternyata dia adalah Adit. Mulutku terdiam dan tidak bisa berbicara beberapa detik.



"Adit, ada apa ini mengapa ada ani dan kamu. Bukankah ani sudah... "



"Sttt" Belum sempat aku melanjutkan kata-kata, Ani sudah mengacungkan telunjuknya dan menempelkan pada bibirku.



"Aku masih hidup" Di situlah semua kakiku rasanya sangat lemas seakan tidak sanggup untuk berdiri.

__ADS_1



"Key bangunlah Key" Sonya membantuku untuk berdiri dan segera aku duduk di bangku taman ini.



Mataku terus menatap seluruh tubuh Ani mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Lalu aku menyandarkan kepala yang mulai lelah dan tidak mengerti apa maksudnya.



Tatapan ini memeluk kekosongan, aku masih belum percaya dengan pikiranku yang sekarang. Aku memang merindukannya, bukan berarti yang sudah meninggal datang dan hidup kembali.



"Apa kamu tidak ingin memeluk sahabatmu ini? " Ani membuka suara dan mendekat padaku, sedangkan kepalaku masih terkejut bukan main.



"Jangan mendekat, kamu siapa? " Bentak ku karena merasa bahwa Ani sudah mati, dan dia bukanlah Ani.



"Aku ani key, aku masih mengingat kita becanda bersama. Kamu pernah bertengkar denganku hanya kesalah pahaman, kamu selalu. melindjngiku dalam tim,.... "



Aku mendengarkan ucapannya, dia menjelaskan detail tentang apa yang telah kami jalani berdua saat ada di tim tarkam. Bahkan ani hampir saja berbicara tentang David, laku seketika dia berhenti mungkin dirinya tau bahwa itu rahasia.



"Benarkah dirimu Ani? " Ucapku lirih dengan tatapan pilu. Dia mengangguk dan langsung memelukku.



"Aku adalah Ani sahabatmu" Dia memelukku dengan erat dan aku membalas pelukan itu.



Aku tidak tau apa yang sedang terjadi saat ini. Yang aku tau Ani telah meninggal pada waktu itu dan mengapa hari ini aku melihat Ani berdiri dan masih hidup. Lalu siapa yang ada di dalam peti itu. Pertanyaan yang memenuhi pikiran ini.



"Aku sangat merindukanmu key"


"Hikssss, hiksss, hiksss" Ani menangis sekencang-kencangnya.



Sedangkan aku masih terdiam, beberapa menit kemudian tak kuasa aku membendung air mata itu sehingga harus mengeluarkannya secara brutal.



Aku sangat merindukannya hingga saat ini. Semenjak kepergian dirinya, senyumku tak lagi sama di ruang ganti, di lapangan, di kamar dan saat bermain bola. Tapi kini dia kembali dan memberikan senyumku yang hilang.



"Aku tidak meninggal, karena itu hanya ilusi" Ucapnya saat kami berempat sudah duduk di sebuah resto makanan yang terletak di seberang jalan.




"Berarti kau hanya membohongiku dan memanipulasi tentang kematianmu? " Bentakku dengan kesal yang bercampur sedih.



"Tidak, tidak, tidak. Dengarkan aku" Dia mencoba menenangkan hatiku dan mencoba untuk menjelaskan hal apa yang sedang terjadi.



Ani menceritakan semuanya bahwa dia benar-benar di culik oleh ketiga orang tersebut. Mereka berkata pada bosnya bahwa sudah menculik gadis yang bernama Keyla, padahal Ani adalah temanku bukanlah aku.



"Maksudmu mereka ingin menculik ku? " Ani mengangguk.



Dia melanjutkan perkataannya bahwa tujuan penculikan sebenarnya ditujukan adalah aku bukan Ani. Mereka menculik orang yang salah. Sesampainya di tengah hutan, mereka ingin membunuh Ani dengan menembak tubuhnya hingga m\*ti.



Tapi mereka bertiga tidak memiliki keberanian dan hanya bisa membuang Ani ke sebuah jurang yang curang. Tubuhnya masuk ke dalam sungai, untung saja sungai yang dalam membuat tubuhnya tidak terluka. Hanya sedikit lecet dan memar saja.



"Dan disanalah aku bertemu dengan Adit" Ucapnya, aku langsung menatap Adit dengan tajam.



"Berarti kamu yang menyembunyikan sahabatku?" Adit mengangguk.



"Asal kamu tau dit, separuh hidupku hilang saat mendengar Ani meninggal. Aku terus menyalahkan diriku karena meninggalkannya hingga dia di culik. Dan saat ditemukan dia dalam keadaan sudah tidak bernyawa" Bentakku pada Adit.



Tanganku mengepal keras dan ingin memukul Adit, karena dia tidak berbicara jujur padaku tentang keberadaan sahabtaku tapi Ani menahannya. Dia memaksaku menahan rasa bersalah dan rindu secara bersamaan.



Aku terus meneriakkan rasa di hatiku yang sangat sakit karena kehilangan Ani. Sahabat satu-satunya yang menemani saat aku turun di lapangan bola. Karena dialah tawaku saat hidup ini rapuh memeluk bola. Dan kami berdua adalah sepasang sahabat diatas nama bola.



"Apa kau tau, aku hampir gila kehilangan Ani. Lihatlah, lihat, aku terus membawa fotonya dalam dompet ini. Dan kamu orang yang aku percaya saat ini menyembunyikan semuanya"



Aku terus membentak nya, tanganku memegang erat kerah baju Adit. Bahkan tangan ini sangat ingin menamparmya karena sangat kesal dengan Adit. Dia sudah lama dekat denganku namun bibirnya tidak pernah berkata apapun tentang Ani, dia selalu menyembunyikan kebenaran dariku.



"Key, key dengarkan aku"

__ADS_1


"Diam kamu dit" Aku melemparkan tangannya yang mencoba memegang jemari ini. Aku masih kesal melihat Adit. Hatiku sakit dan terus menangis.



"Maafin aku Key, aku yang menyuruh Adit untuk merahasiakan semuanya" Ani kembali memelukku.



"Apa maksudmu Ani, aku benar-benar kehilanganmu. Bahkan aku sering berbicara sendiri sesaat sebelum pertandingan, ataupun saat aku melakukan latihan" Tanganku terus mencambak rambutku karena kesal dengan semua kejutan yang membuatku sangat tertekan.



"Aaaaaaa"



"Key aku sudah bersalah, karena saat itu aku di rawat di rumah sakit terdekat. Aku bertemu dengan Adit di tepi sungai saat dia melakukan KKN. Dan dia merawatku bersama teman-teman lainnya. Sedangkan Adit membuat ilusi tentang kematianku agar para pembunuh itu tau bahwa aku sudah mati"



Ani terus menangis sambil menjelaskan hal apa yang dia alami. Tangannya terus memelukku seakan sudah merasa rapuh akan keajaiban yang telah aku temui.



"Apa maksudmu" Aku tidak tau penjelasan apa yang dia tutur kan. Karena jika memang aku yang diincar untuk mereka b\*nuh, mengapa Ani harus melakukan kebohongan tentang kematiannya.



"Prabu" Aku mengingatnya saat Ani kenyebut nama itu. Aku tau siapa pemilik nama itu.



"Dia masih mengincar ku karena tau bahwa mereka salah untuk membunuhmu Key, aku tidak tau apa motif mereka ingin menghilangkan nyawamu dari sini. Dan sekarang aku hanya bisa sembunyi"



"Mengapa dia harus mengincar ku? "


"Karena kamu salah satu orang yang diincar untuk membalas dendam" Ani menceritakan bahwa mereka ingin membalaskan sebuah dendam padaku.



Dia tau semua karena penjahat itu sendiri yang memberitahu Ani saat ingin membuangnya di hutan. Dan tanpa sengaja juga Ani melihat panggilan nama yang tertera pada ponsel tersebut dengan nama Prabu.



"Berbulan-bulan aku menunggumu dan hampir tidak pernah bisa melupakan dirimu saat kaki ini menginjak rumput lapangan Ani" Aku kembali memeluknya karena rasa rindu yang tertahan begitu lama.



"Ikutlah denganku dan kembali pulang"


"Tidak, aku harus sembunyi agar kedua orang tuaku aman" Ani tidak ingin pulang, karena dia tau jika salah satu penjahat melihat dirinya masih hidup maka pembantaian akan dimulai.



"Apa orang tuamu tau jika kamu masih hidup? " Ani mengangguk.


"Syukurlah, aku memang sedih karena kehilanganmu dan jangan sampai kedua orang tuamu juga mengalami hal sama.



Biarkan saja aku yang menanggung sakit atas kehilangan palsu dirinya. Dan bersyukur juga dia tidak membohongi keluarganya atas rekayasa kematian yang telah dipertontonkan.



Dan baju yang dia kenakan sekarang adalah baju tentang penyamaran. Agar tidak ada yang mengenali dirinya. Bahkan Ani berkata pada saat dia sudah keluar dari rumah sakit, dirinya sempat melihat pertandingan terakhirku di klub tarkam.



Dia juga menangis saat aku membawa jersey yang tertulis namanya saat aku melakukan selebrasi gol di hadapan penonton yang melihat. Kenangan itu teringat jelas dan dia juga selalu menangis.



"Kamu menontonnya? "


"Iya, Aku datang bersama Adit" Berarti mataku tidak salah, jika di bangku penonton saat itu adalah Ani.



"Tenang saja Key, sepupuku akan menjaga Ani dengan aman" Aku langsung menatap Sonya. Dia berkata dengan sebutan sepupu pada Adit.



"Sepupu? " Adit dan sonya tersenyum saat aku menatapnya dengan heran.



"Iya, kami berdua saudara" Kejutan kembali datang, aku tidak menyangka jika sonya mengetahui semua ini.



"Berarti kalian bekerja sama untuk menyembunyikan sahabatku dan membuat aku dicekik rindu yang sekian bulan lamanya" Kesal ku kembali muncul, namun genggaman Ani kembali melembutkan hati.



"Sudah ku bilang saat itu ingin menjelaskan, tapi semua sirna saat kamu membenciku karena David mengetahui jika kita sedang makan malam" Sahut Adit dengan senyuman yang khas.



"Ya ini karenamu terus saja mengejarku, sedangkan hatiku masih sama tetap untuk David" Jelasku padanya.



Karena hingga saat ini aku masih mengingat nama David. Walau sudah lama kami putus hubungan karena kesalahpahaman.



"Aku sudah tau dari sonya, kau terus bercerita tentang David lalu ani dan kedua sahabatmu yaitu Ari dan Yuri" Jelasnya.



Mataku langsung melotot menatap Sonya. Ternyata dia mulut ember dan tidak bisa menjaga rahasiaku. Awas saja nanti di kamar aku akan menghabisinya karena sudah membocorkan semua ceritaku pada Adit.


__ADS_1


~~~~ BERSAMBUNG ~~~~


__ADS_2