Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
136. Kesenangan Dalam Permainan


__ADS_3

Mengapa waktu ku hancur, jiwaku seakan lemah dan hidup seperti tak beraturan semenjak kepergian Ani. Apakah aku salah atau aku terlalu berlebihan. Aku tau semua ini takdir tapi takdir ini tidak akan terjadi jika saja aku tidak meninggalkannya.


"Ayolah Key, kamu harus kuat. Kamu anak hebat, dan Ani pasti tersenyum di atas sana" Gumanku di dalam kamar mandi sambil menatap langit-langit yang penuh triplek putih.


Aku membayangkan bahwa Ani sedang melihatku dari sana. Dia tersenyum dengan cantik, mungkin tempatnya sudah nyaman.


Saat berjalan keluar dari kamar mandi, masih saja Adel dan Dewi menampakkan diri padaku. Melihat wajahnya saja aku malas dan aku sangat membencinya. Jangan sampai amarah ini keluar akibat ulah mereka.


"Woy cupu, kamu tau tidak bahwa kemarin David menelpon ku. Dan dia berkata bahwa akan membawakan aku oleh-oleh saat pulang dari timnas nanti" Panas telingaku mendengarnya.


Dan dia selalu saja membakar hatiku untuk terus menatap wajahnya yang sangat membuat aku kesal. Apalagi David, dia kemarin tidak berkata apapun padaku. Dia hanya menelpon dan karena aku tidak mengangkatnya lalu dia tidak menelpon ku lagi hari ini.


"Woy punya telinga nggak sih. Orang ngomong tidak didengarkan. Jangan-jangan tuli"


Daripada meladeni mereka yang tidak jelas. Lebih baik aku masuk ke dalam kelas karena lebih aman dan damai tidak mendengar ocehan nenek lampir itu.


"Key, aku kemarin membeli bola. Dan ini buatmu" Ari memberikan bola yang dia keluarkan dari tasnya saat aku baru saja duduk.


"Wah bagus banget ri, pasti Key suka. Benar kan?" Aku tersenyum mendengar perkataan Yuri.


"Terima kasih ya ri, semoga harimu selalu menyenangkan" Bola yang sangat indah, aku jadi mengingat Ani.


Dia bilang sudah memiliki koleksi bola dari dulu. Lalu dipajang dalam kamarnya karena setiap malam dia akan merangkai mimpinya sebelum tidur dengan melihat bola tersebut.


"Key, kok bengong sih. Ayolah kamu harus tersenyum dan tertawa seperti biasa" Benar kata Yuri aku harus tertawa seperti hari biasa. Aku mencoba hal itu, tapi rasanya sangat susah untuk berbicara banyak hal.


Entah mengapa aku lebih nyaman untuk diam daripada banyak bicara. Hingga pelajaran dimulai aku masih terdiam dengan nyaman. Ari memancingku untuk membuat keributan dalam kelas. Karena biasanya aku yang berbuat ribut dan menggoda konsentrasi Ari.


Tapi tetap saja, itu tidak berpengaruh padaku. Sepertinya aku lebih baik dengan diam ini. Karena pikiran dalam otakku masih penuh. Berharap pikiran ini berangsur-angsur membaik.


*tetttttt*


"Yuk ke kantin" Aku harus menjalani hari dengan biasa bersama Ari dan Yuri. Tidak boleh larut dalam kesedihan. Dan aku harus bangkit demi mencari kebenaran tentang kematian Ani.


"Key, kamu pesan apa? "


"Seperti biasa"


"Kalau kamu ri? "


"Seperti biasa yur"


Yuri sedang memesan makanan untuk kami. Sedangkan tanganku sibuk untuk terus melihat foto kenangan Ani bersamaku di ponsel ini. Senyumnya masih ada tapi orangnya sudah tidak. Dia meninggalkan banyak kenangan padaku.


"Key lihatlah, nanti malam pertandingan Indonesia melawan Kamboja. Dan semoga saja David bermain full nanti mlam"


"Iya ri" Jawabku singkat.


Apakah aku salah berbuat seperti ini. Sedangkan hatiku belum utuh sepenuhnya. Tapi doaku pada David tetap sama semoga dia mendapatkan menit bermain yang banyak di timnas dan bisa membawa negara kebanggaan menang.




Hari-hari berlalu, perlahan aku menerima kepergian Ani meski masih ada rasa kehilangan dalam hari ini. Saat kesedihan itu melanda Ari dan yuri selalu menjadi tempat untuk menghiburku. Meskipun aku jarang tertawa seperti dulu lagi, mereka berdua tetap saja mencoba membuatku tertawa walau sebentar.



David juga sudah menjalani pertandingannya dengan baik. Walaupun Indonesia keluar sebagai juara 2 tapi aku tetap bangga, karena dia sudah memiliki pengalaman yang baik dengan membawa nama Indonesia dikenal oleh banyak orang.



"Key timnas Indonesia sudah sampai ke tanah air. Mungkin sebentar lagi David akan masuk sekolah"


"Lalu? "



"Hmmm, lihatlah ri. Dia pua-pura tidak tau. Padahal setiap malam selalu berkirim pesan" Ejek Yuri padaku.



Mereka berdua adalah mata-mata yang hebat karena tau semua tentangku dan David. Jadi aku tidka bisa menyembunyikannya dari CCTV dunia ini, hehe.



"Benar, padahal dia sangat menyukainya tapi tidak pernah bersamanya" Sambung Ari.


"Diamlah, diamlah. Lebih baik kita ke kantin dan makan"



Mengapa aku malu jika mereka membicarakan diriku dengan David. Padahal yang dibicarakan itu semuanya benar, aku dan David sama-sama suka tapi tidak pernah bisa bersama karena ada nenek lampir di sekolah ini.



Sepulang sekolah aku berjalan bersama dengan Ari dan Yuri. Tiba-tiba terlintas ingatanku tentang kak Dika dan ayah. Andai mereka masih ada di sini mungkin aku bisa tersenyum dan tidak terlalu sedih seperti ini.



"Key ingat ya nanti malam? "


"Iya, aku mengingatnya" Kami bertiga memiliki janji untuk keluar ke tempat perbelanjaan yang besar.



Katanya di sana ada banyak permainan untuk penghilang stres. Aku ingin mencobanya agar duniaku kembali normal.



Sesampainya di halte aku menemui Riki, rasanya sepi jalanan ini semenjak pak Abi sakit. Riki selalu berjualan sendiri, dan terkadang aku menemaninya walau sebentar. Menemani berjualan atau menemani ngobrol.



"Sini rik, aku ingin berjualan" Mengambil botol minuman dari Riki dan turun ke jalan untuk menjajakan.


"Siap Key"



Aku rindu ke jalanan berjualan seperti ini. Banyak kenangan tapi tidak ingin aku ulang. Aku ingin merubah nasib menjadi lebih baik lagi.



Setelah hampir satu jam aku berjualan, tubuhku rasanya lelah. Lalu aku pamit pulang untuk pergi ke warung ibu. Membantu ibu membersihkan piring-piring kotornya.


__ADS_1


"Ibuuuu" Teriakku dari jauh.


"Nah gitu dong, ibu kan seneng lihat kamu tertawa lagi" Semenjak kepergian Ani aku jarang untuk tersenyum apalagi tertawa dengan riang. Entah kenapa hari ini aku ingin merubahnya kembali normal seperti dulu.



"Mana piring kotornya biar Key cuci"


"Sudah selesai ibu cuci, kamu duduk saja dan makanlah dulu" Perintah ibu.



"Tidak-tidak, aku ingin membantu ibu" Langkahku segera oergi ke belakang untuk membantu ibu mencuci piring sisa pelanggan.



Sudah lama aku tidak membantunya, aku tidak mau melihat ibu dan bapak terlalu lelah. Apalagi usia mereka tidak muda seperti dulu. Jadi sebaiknya aku membantu untuk menjadi anak yang berbakti terhadap mereka.



"Bapak kemana bu? "


"Bapak lagi belanja ke pasar"


"Yah..., padahal key ingin ikut"



Aku paling senang ikut bapak ke pasar karena bisa mencuci mata sekalian belajar tentang cara negoisasi bersama bapak. Meskipun laki-laki, bapak tidak kalah jago jika tawar menawar harga yang dibilang terlalu tinggi di pasaran. Jadi disanalah tempatku belajar.



"Bu, nanti malam key mau keluar dengan Ari dan Yuri"


"Kemana? "


"Mau jalan-jalan. Katanya ke tempat permainan gitu bu"



"Ya sudah berangkatlah, tapi jangan pulang malam"


"Siap bos" Letak kebahagianku saat ini yaitu bila ibu mengijinkan aku keluar malam, asalkan tidak pulang terlalu larut.



Setelah selesai membantu ibu, aku pulang dan membersihkan diri untuk bersiap-siap menunggu Ari dan Yuri yang akan menjemputku. Seperti biasa pakaianku tetap sama, kemeja dengan celana jeans sudah menjadi setelan yang favorit bagiku.



\*drettt, drettt\*



"Halo" Ketusku mengangkat telepon itu.


"Kok marah sih, baru saja aku menelponmu" Aku kesal pada David, dia baru menelpon ku.



Memangnya kemarin dia tidak ada waktu untuk menelpon ku atau dia menelpon Adel. Bahkan dia menghiraukan ku, memang Adel selalu menjadi utama baginya. Sungguh membuatku snahat kesal.



"Hmm maaf, itu aku menelpon orang tuaku" Aku terdiam.



Sepertinya aku salah paham karena mengira dia menelpon Adel. Kenapa aku terlalu cemburu padahal aku bukan siapa-siapa David.



"Kamu cemburu ya? "


"Tidak" Jawabku singkat.



Untuk menghilangkan amarahku, David punya cara sendiri. dia menghiburku dengan bercerita tentang permainannya di timnas. Padahal aku menonton di setiap pertandingannya.



Dan yang paling asik lagi saat dia bercerita tentang sepak bola yang ada di liga Eropa serta liga Inggris. Dia tau caranya agar aku kembali tertawa dan serius padanya tanpa ada kata merajuk.



"Nah kalau gitu kan enak, jadi suaramu sangat nyaman untuk aku dengar" Bibirku kembali tersenyum sendiri. Sedangkan hatinya rasanya berbunga-bunga.



Beda apabila aku dekat dengan lelaki lain rasanya sangat aneh. Sedangkan dengan David, lewat telepon saja rasanya sudah membuatku terbang. Untung saja tidak menembus awan, hanya di sekitaran rumah saja sih.



"Aku tutup dulu ya, soalnya mau keluar sebentar"


"Kemana? "


"Menghilangkan stress dan mencari udara segar" Sahutku padanya.



"Hey tunggu, kamu mau oleh-oleh apa?"


"Tidak usah, kamu kembali ke sekolah saja aku sudah senang" ujarku.



Karena selama ini sangat sepi bila melihat tidka da langkah David dimanapun. Bahkan bangku kosong dengan orang yang selalu menggoda tapi wajahnya dingin. Aku sahabat merindukannya.



"Sudahlah, aku pergi dulu ya"


"Baiklah"


__ADS_1


Aku mengakhiri pembicaraan lewat telepon bersama David. Tidak lama kemudian Ari dan Yuri datang lalu kami untuk keluar. Dan tidak lupa aku berpamitan pada ibu dan bapak agar di jalan tidak terjadi hal buruk.



Dalam perjalanan seperti biasa Ari dan Yuri ngoceh tidak jelas. Mereka membicarakan hal-hal yang selalu saja membuat tertawa. Batuk saja tertawa apalagi bercerita.



"Nah ini Key, sepertinya kita sudah sampai" Aku tersenyum saat Ari dan Yuri menuntunku di sebuah tempat perbelanjaan yang cukup besar.



"Besar sekali, aku pikir di kota ini hanya ada satu tempat perbelanjaan yang besar ternyata disini masih ada lagi" Mataku terkagum-kagum melihatnya.



Karena ini kedua kalinya aku mampir ke tempat perbelanjaan yang mewah bahkan lebih besar dari kemarin. Melihat luarnya saja terpesona apalagi dalamnya.



"Sekarang ayo kita masuk, ngapain bengong saja" Ari menarik tanganku dan aku menarik tangan Yuri. Kami bergandeng tangan masuk untuk melihat-lihat baju di sana.



Selanjutnya tujuan utamanya adalah bermain di tempat permainan yang belum pernah aku rasakan. Disana ada musik yang dimainkan dengan menari. Ada permainna bola basket, capit boneka dan masih banyak lagi.



Hatiku sangat senang saat berjalan bersama mereka. Bahkan hari ini begitu seru saat bermain hal yang belum pernah aku sentuh. Ari dan yuri sudah sanagt berpengalaman untuk bermain sedangkan aku masih celingukan.



"Capit ri capot, sedikit lagi. Aduhhhh" Teriakku di sampingan ri saat kami bermain capit boneka.



"Gimana sih ri, kalo bonekanya dapat kan bisa buat aku" Ketus Yuri yang agak kesal karena daritadi Ari tidak berhasil.



"Biar aku yang coba, pasti bisa" ujarku menyombongkan diri.



Memasukkan koin seakan-akan sudah profesional memainkan japitan itu. Dengan konsentrasi yng tinggi aku menatapnya. melihat di segala sisi sepertinya ada boneka yang mudah di tarik.



"Cepat Key"


"Sabar"



\*tet\*



"Hahahha" kami bertiga tertawa, karena capitan itu tidka sampai di bawah sudha mencapit. bagaimana bisa mendapatkan boneka, mencapit saja tidak sampai.



Adapun permainan basket yang membuat aku senang bermainnya.



"Sekarang kita banyak-banyakan skor" Tantang Yuri padaku dan Ari.


"Ayo siapa takut" Aku menerima tantangan itu, begitu juga dengan Ari.



Menit berjalan dan kami harus memasukkan bola lebih banyak. Aku mengeluarkan konsentrasi yang cukup untuk bermain. Tapi semuanya berubah menjadi kekocakan kami bertiga. Bila basket sampai keluar dari keranjang permainan.



"Huhuuhuhhhh, dasar tidak ada yang menandingi ku" Ocehan sombong Ari keluar dari mulutnya. Tangannya tetap sibuk bermain untuk mendapatkan skor lebih tinggi.



Aku dan Yuri saling bertatap-tatapan untuk mengerjai Ari. Kami tidak rela jika Ari menang, maka aku dan Yuri mengacaukannya dengan melemparkan bola basket lain untuk mencegah bola Ari masuk.



"Ihhh, awas kalian ya"


"Hahahha" Kami bertiga berlari seperti anak kecil saja di dalam ruang bermain tersebut. Keceriaan kembali aku dapatkan dengan senang bersama mereka berdua.



\*brakkk\*



"Aduh, maaf om maaf" Aku menabrak seseorang karena terlalu asik becanda dengan Ari dan Yuri. Tubuhku terjatuh ke atas lantai sedangkan Ari dan Yuri terkejut saat melihat itu



Sepertinya kali ini aku kena marah oleh seseorang karena ulahku yang terlalu kekanak-kanakan. Bibirku berulang kali mengucapkan kata maaf tapi dia belum menjawab juga.



"Hey Keyla, ini aku Adit. Bukan om-om yang seperti kamu bilang tadi" Ketusnya



Wajahku mengadah ke atas dan melihat bahwa Adit sudah berdiri di depanku. Aku tidak tau mengapa dia juga ada di tempat permainan ini. Apa mungkin dia seorang mahasiswa juga menikmati permaian seperti ini.



"Adit, maaf aku tidak sengaja"


"Bangunlah" Tanganya sibuk membantuku untuk bangkit dari jatuh.



Ari dan Yuri juga menghampiri kami berdua dan meminta maaf pada Adit karena membuatnya tidak nyaman. Namun dia malah tersenyum dengan hal itu.

__ADS_1



~~~~ BERSAMBUNG ~~~~


__ADS_2