Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
92. Ari Adalah Hacker


__ADS_3

Ari dan Yuri menanyakan apakah aku mengenal kakek kak Dika atau tidak. Dan apakah aku tidak mengunjungi kakek dengan kak Dika, karena mereka beranggapan bahwa kakek dari kak Dika adalah kakekku juga. Padahal belum tentu.


"Aku saja tidak tau kakek nenekku dari ayah atau ibu kandungku" Seketika semuanya menjadi diam saat aku membicarakan hal tersebut.


"Aku ingin melihat siapa kakek nenekku, tapi ibu dan ayah keburu pergi dan meninggalkanku" Ucapanku membuat Ari dan Yuri tidak bisa berbicara apa-apa.


Sedangkan mulitku sibuk mengagumi perjalanan dan mataku menatap indah ke jendela. Hatiku sudah terbiasa mendengar cerita itu jadi tidak terkejut dengan perjalanan hidup yang telah dilewati.


"Kalian kenapa diam? " Tanyaku pada mereka berdua yang mendadak diam tanpa bicara.


"Tidak, tidak apa-apa. Aku doakan biar kamu secepatnya menemui keluarga aslimu ya key" Sahut Ari yang membuka pembicaraan untuk memberiku semangat dengan perkataan tersebut.


"Iya key, semoga saja kamu bisa bertemu dan berkumpul kembali dengan mereka" Sambung Yuri. Aku terdiam lalu menceritakan semuanya. Bahwa aku sudah bertemu dengan ibu tapi dia tidak senang bertemu denganku. seakan menganggapku orang asing.


Sedangkan dengan ayah, aku belum menemuinya lagi semenjak pesta terakhir itu. Aku tidak tau apakah isterinya yang sekarang atau mamamnya kak Dika bisa menerimaku atau tidak. Karena aku bukanlah darah dagingnya.


Yang harus aku bahagiakan saat ini adalah ibu dan bapakku serta kedua kakak yang menyayangiku dan memberikan kebahagiaan hidup dalam perjalannku.


"Dan kalian juga bisa kan memberiku kebahagiaan? " Tanyaku pada keduanya yang meneteskan air mata mendengarkan ceritaku.


"Hiksss, hiksss, hiksss" Suara tangisan Yuri sangat keras.


"Kamu menangis Yuri? " Tanyaku sambil menatap wajahnya yang sudah di penuhi air mata. Begitu juga dengan ari yang menangis tapi hanya butiran air mata saja karena dia mencoba menahan tangisan itu.


"Gak usah bersedih, sekarang yang aku punya adalah kehidupan yang harus aku bahagiakan seperti kalian salah satunya" Yuri yang duduk di samping langsung memelukku dengan erat. Begitu juga Ari yang duduk di bangku depan berusaha untuk memelukku tapi tidak bisa.


Ari hanya bisa mengulurkan tangannya dan menggenggam tanganku dengan erat. Berkata tidak ingin melepaskan satu sama lain. Dan berjanji untuk bersama hingga akhir hayat. Disaat itu juga tangan kami saling menggenggam dan disaksikan gelang persahabatan.


Suasana senang dalam mobil menjadi hari karena persahabatan kami yang sangat melekat dalam jiwa. Tidak ingin melepaskan ikatan walaupun bukan sedarah. Tapi rasa hati yang menjunjung persahabatan sangatlah tinggi.


"Hiksss, hiksss, neng yang sabar ya neng"


"pak supir nangis? " Teriak kita bertiga padanya.


Pak supir juga menangis saat mendengarkan ceritaku. Lucu sekali di dalam mobil pada menangis, padahal aku biasa saja menjalani kehidupan yang sudah terbiasa membuatku sakit, hahahahah.


Tidak lama kemudian kami sampai di rumah Ari. Rasanya dingin dan asri. Lama sekali tidak kesini, rindu segalanya. apalagi masakan tante Maya yang sangat enak.


"Aaaa, tante rindu sekali dengan kalian" Baru saja Ari buka pintu, tante Maya langsung teriak melihat aku dan Yuri. Aku dan Yuri langsung berlari ke arahnya memeluk tante Maya seperti seorang anak yang tidak berjumpa lama sekali. Rasanya sehari seperti setahun saja.


"Tante" Teriak aku dan Yuri memeluknya dengan erat. Tante Maya membalas pelukan itu dengan kecupan kecil di dahi kami. Sebegitu rindu dan sayangnya dia pada ku dan Yuri. Sampai pelukannya melebihi anaknya sendiri.


*tlak, tlak* tangannya menjitak kepalaku dan Yuri.


"Aduh" Teriakan kecil kami membuat Ari yang melihat menjadi tersenyum.


"Kalian kemana saja, tidak pernah kesini. Kalian pasti sengaja kan" Aku dan Yuri terdiam lalu saling menatap. Kemudian mata kami berdua menatap Ari yang sedang memberi isyarat untuk mengatakan hal apa saja.


"Kita banyak tugas tante"


"Kita ikut ekstra tante" Kedua jawaban aku dan Yuri tidak sama. Membuat tante Maya kembali menatap dengan tajam.


"Maksudnya kita tidak bisa kesini karena banyak tugas dan juga ikut ekstra" Jelasku pada tante Maya.


Dia mengangguk mengerti lalu menyuruh kami makan di meja biasa. Meja yang besar dan ternyata sudah tersedia masakan yang sangat banyak. Aku dan Yuri menikmatinya dengan lahap tanpa ada suara.


Hanya ada suara dentingan sendok dan piring kami yang bergantian menyicipi lauk. Tidak segan-segan tante Maya juga memberikan lauk yang banyak hingga kami bertiga menjadi kekenyangan. Kasih sayangnya tidak ada yang berbeda untukku, Yuri dan juga Ari.


"Wah kenyang sekali tante" ucapku dan rasanya sangat sesak karena makan terlalu banyak.


"Benar, perutku sudah membesar" Sambung Yuri.


"Dasar rakus" ketua Ari yang melihat kami berdua kekenyangan.

__ADS_1


"Biarin, kita kan jarang kesini. iya gak Yuri"


"Benar key"


"Makanya sering-sering kesini" Tutur lembut tante Maya.


"Iya tante, kapan-kapan kesini lagi" Aku dan Yuri saling bertatapan dan memberikan senyuman.


Setelah makan selesai, kami naik ke atas untuk melanjutkan belajar. Lebih tepatnya bermain, karena belajar hanya sebentar selebihnya kita bermain. Di atas sana aku dan Yuri yang banyak bicara sedangkan Ari selalu konsentrasi dalam belajar apapun.


"Ri sudah ya, capek sekali nih" Aku meletakkan buku dan berlanjut rebahan di atas ranjang Ari.


"Iya ri aku juga, capek sekali apalagi angka yang ada di buku itu berputar" Ternyata bukan hanya aku saja yang bodoh, Yuri juga lebih bodoh dan capek melihat putaran angka tersebut.Yuri juga naik ke ranjang dan rebahan bersamaku.


"Oke kalau kalian tidak mau belajar, aku tidak akan mengajari kalian lagi. Biar saja nilai kalian di tengah semester ini bakalan jelek" Ucapan Ari membuat kami berdua menjadi panik.


Aku dan yuri langsung duduk tiba-tiba di hadapan ari sambil memegang buku dan siap untuk menerima materi dari Ari.


"Baiklah Ayo lanjut" Menyerujuinya walau sebenarnya otak kita berdua sudah lelah.


Meskipun sebenarnya aku tau Ari tidak akan membiarkan nilai kami buruk. Alangkah baiknya kita nurut dengan Ari dan mengikutinya secara hikmat sampai selesai. Bagaimanapun juga Ari selalu sabar jika mengajari kami yang otaknya hanya setengah.


Dia juga sabar mengajari hingga bisa baik di sekolah ataupun di sini. Kesabarannya juga terkadang membuatku ingin menjadi pintar sepertinya, walaupun kemungkinan itu sangat sulit heheheh.


"Ternyata kalian sudah ada kemajuan ya" Ucap Ari sambil melihat hasil dari latihan soal yang dia berikan.


"Iya dong, kan kita harus maju. Dan majunya juga ke depan" Sahut Yuri dengan bangganya.


"Maju ya ke depan, kalau ke belakang mundur" Ketusku.


"Hahhahha" Hanya bertiga saja sudah membuat suasana menggelegar di kamar Ari. Selalu saja kami bertiga membuat ramai di manapun itu.


"Ssttt, jangan berisik nanti kedengaran sampai bawah" Ucapku menyuruh mereka jangan berisik.


"Yessa, menang lagi" teriakku saat bermain ps dan selalu menang dengan game bola.


"Ahhhh, malas sekali bermain denganmu Key. Aku selalu kalah" Yuri putus asa dan melemparkan stik PS ke atas kasur.


Dia selalu kalah jika bermain denganku tapi aku selalu kalah jika bermain dengan Ari yang sangat jago.


"Lebih baik aku membaca buku saja" dia langsung ke rak buku dan membaca novel ataupun puisi.


Dia sangat suka dengan novel dan juga puisi tapi kalo bahasa indonesia ditanya tentang novel yang kamu baca pasti jawabnya cinta. Dasar Yuri, tidak ada hari yang membuat jawabannya semakin kocak


"Ri, ngapain aja sih. Sibuk amat dari tadi" Ucapku kesal karena Ari asik mengotak atik komputernya dan tidak bermain bersama kami.


Sering sekali dia menghadap ke komputer jika kita bermain kesini. Entah apa yang dia lakukan yang pasti dia sibuk sendiri. Apalagi tulisan di komputer itu juga terlalu kecil.


"Eh iya Bentar-bentar" Ia buru-buru meninggalkan komputernya dan bergabung dengan kami. Begitu juga Yuri yang tadinya asik baca buku sendiri juga berkumpul di atas karpet bawah.


"Aku mau tanya ri, kenapa kamu punya vidio saat masalahku yang memukul Rena di malam itu" Tanyaku.


Yuri sangat antisias mendengarkan pertanyaanku pada ari. Ternyata penasaran dia juga cukup besar sampai meletakkan buku ke atas rak kembali dan duduk bersama kami.


"Iya ri, aku juga penasaran, bagaimana bisa kamu ada di situ" Tanya Yuri kembali. Ari terdiam beberapa saat, dia mengeluarkan laptop dan mengeluarkan beberapa foto yang ditunjukkan padaku dan Yuri.


" Coba lihat" Beberapa foto gambar yang aku kenal.


"Ini kan gambar Rena waktu itu" Ucapku dan Yuri mengingatkan. Karena saat kami bersama Rena, gambar itu pernah aku lihat dan ternyata masih banyak gambar lagi tentang kekerasan.


"Iya, benar itu milik Rena. Bahkan ada gambar yang menyatakan ingin mencelakai kamu Key. Dan juga ada gambar ingin mencelakai Yuri" Ari menjelaskan bahwa Rena sudah memiliki niat jahat dari awal masuk ke kelas kami.


Di dalam gambarnya ingin mencelakai aku dan Yuri. Bahkan Ari juga menunjukkan gambar seseorang jatuh ke jurang dan itu persis dengan apa yang Yuri alami saat melakukan perkemahan saat itu. Untungnya Yuri bisa diselamatkan olehku, ucap Ari.

__ADS_1


Dan ada juga gambar tentang seseorang yang mendorong orang lain ke sungai dan orang tersebut tenggelam. Sama dengan vidio yang tersebar saat Rena mendorongku hingga tercebur ke sungai yang dalam.


"Apa? jadi Rena yang merencanakan aku untuk jatuh ke jurang" Ucap Yuri yang terkejut mendengarkan penjelasan Ari.


"Iya, aku akan bongkar semuanya pada kalian" Ari mencoba menjelaskan apa yang dia ketahui tentenga Rena yang sangat jahat.


"Pantas saja, aku sudah curiga dengannya. Karena key selalu membawa pisau itu dan tidak mungkin dia melakukan pemutusan tali di hutan saat itu" Yuri merasa bersalah dan dia meminta maaf kembali padaku.


Aku hanya tersenyum karena semua yang terjadi sudah aku lupakan. Yang paling penting adalah persahabatan kita.


"Banyak kejahatan Rena yang belum kalian ketahui" Ujar Ari menjelaskan satu per satu kejahatan yang Rena miliki.


Bahkan Ari juga mengetahui apa yang Rena lakukan hingga menjadi benar-benar gila. Karena Rena kekurangan kasih sayang jadi dia membutuhkan kesenangan di luar.


"Lalu bagaiman kamu mengetahui itu ri? " Aku makin penasaran tentang informasi yang Ari dapatkan.


"Aku hacker, dan mendekati Rena adalah caraku mendapatkan informasi dengan baik"


"Hah? Hacker" Aku dan Yuri terkejut mendengarkan Ari menjadi hacker.


Ternyata selama ini Ari yang kita kenal culun adalah seorang peretas hebat dan membantu aku dengan Yuri. Melalui retasan yang dia lakukan, aku bisa selamat dari beberapa fitnah yang Rena perbuat.


"Selama ini aku... " Ari menjelaskan bahwa tujuan dia mendekati Rena adalah untuk mencari tau apa yang Rena lakukan. Hingga dia mencoba menerobos dalam sosial media yang Rena gunakan. Banyak sekali gambar atau rencana yang sudah dia buat.


"Berarti kamu tidak mencintai Rena? " Tanyaku heran, karena yang aku lihat ari sangatlah menyukai Rena saat itu. Ternyata itu adalah sebuah akting dan Ari memainkan peran yang sangat bagus.


"Betul, oh iya aku minta maaf sama kalian berdua karena telah merahasiakan ini" Aku dan Yuri tidak marah, akan tetapi sangat kagum dengan salah satu sahabat kami. Karena secara diam-diam menjadi peretas yang handal.


"Gila ri gila, luar biasa" Aku menatapnya dnegna kagum melihat apa yang Ari lakukan.


"Iya bener ri, ajarin aku menetas ya?" Ucapan Yuri membuat aku dan Ari saling memandang dan menatap Yuri. Kelakuannya selalu remidi dalam hal apapun.


"Meretas bukan menetas Yuri" Aku dan Ari memberitahunya secara bersamaan.


"Eh iya, meretas"


"Hahhaha" Tidak ada capeknya kami bertiga tertawa dengan keras. Selalu saja merasa heboh sendiri dimanapun dan kapanpun itu.


"Tapi ada satu hal yang aneh"


"Apa ri" Tanyaku penasaran.


"Dan Rena tidak bekerja sendirian, melainkan ada seseorang yang menyuruhnya dna ikut bekerjasama dengan Rena. Namun namanya disamarkan" Jelas Ari.


Aku semakin bingung dengan penjelasan tersebut. Berarti jika ditarik kesimpulan yaitu Rena tidak melakukan kejahatan murni oleh dirinya sendiri melainkan ada beberapa pendukung yang melancarkan aksinya.


"Aku ingat saya di hutan itu ada satu orang lagi yang memata-matai saat kalian ke air terjun dan aku dengan tante maya di tenda" Jelasku.


Semuanya semakin rumit dan tidka ada titik terang. Rena dan seseorang namun belum tau siapa orang tersebut.


"Apakah aku harus meretas lebih dalam lagi key?" Tanya Ari agar bisa membantuku.


"Tidak usah, lagian kejadian itu sudah lama. Dan aku hanya ingin kita bertiga tidak saling meninggalkan lagi"


"Baiklah" Sekali lagi kehangatan tercipta dalam persahabatan kami.


"Jadi kita tutup masalah itu"


"Deal" Teriakan bahagia.


Tidak perlu memikir hal lain lagi, karena masih banyak hal yang perlu dijejaki bersama-sama. Dan tidak ada pentingnya juga memikirkan Kekacauan yang Rena buat, yang penting semuanya sudah menjadi baik kembali.


__ADS_1


__ADS_2