Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
46. Kecurigaan Pada Rena


__ADS_3

Dan David, engkau juga tidak pernah ada kabar. Bahkan ilalang di tanah lapang itu tidak ada yang mampu menjawab saat aku bertanya. Aku selalu sendiri tanpa arah, hanya bisa bermain dengan bola pemberianmu. Katanya dia akan pulang, tapi hingga saat ini tidak pernah seseorang datang padaku dan berkata "Aku David sudah pulang".


Andai engkau tau, aku ingin bercerita banyak hal tentang bola bersamamu. Saat ini aku juga merasa terpuruk karena telah lama tidak berlatih dan merumput kembali dilapangan karena kakiku mengalami cidera yang cukup parah.


Dan satu lagi, malam itu aku bertemu dengan orang yang menolongku. Matanya tidak asing, aku seperti melihat cahaya mata yang sama seperti mata David. Tapi hayalan ku terlalu tinggi karena kau belum pernah kembali lagi hingga saat ini.


"Ayah, ibu akankah kita bisa berkumpul kembali? hmm, aku rasa tidak mungkin. karena kalian sudah tidak pernah ada kabar"


"Dan kau juga David, apakh kau sudah pulang ataukah masih bermain di sana? Andai saja bola ini memiliki hatimu, mungkin dia akan menjawab pertanyaanku"


Gila rasanya bila berbicara pada foto ayah dan ibu, bahkan berbicara juga pada bola pemberian David. Andai kalian semua tau bahwa rinduku tidak pernah bisa menghilang. Rinduku selalu menggebu dalam penantian panjang yang tidak tau kapan ujungnya. Harapan demi harapan aku selalu ucapkan walaupun tak pernah tersampaikan. Selalu saja terlelap ddalam ketakutan rindu yang tak kunjung menghilang.




06.10



Aku berangkat ke sekolah diantarkan oleh bapak seperti biasa dengan menaiki motor. Setelah berpamitan aku segera masuk ke sekolah. Sesampainya di gerbang aku melihat Rena yang juga turun dari motor diantarkan oleh seorang laki-laki. Ciri-ciri nya tidak asing, dan motornya juga.



"Seperti pernah melihat dia tapi dimana? " Pikirku memutar otak masa lalu, tapi sepertinya semakin dicari akan semakin lupa.



"Siapa laki-laki itu, dia tidak asing" Daripada sibuk memikirkan dia, lebih baik aku masuk ke sekolah.



Berjalan secara perlahan di tengah lorong. Biar sampai ke kelas sangat lama aku tidak peduli, Karena hari ini latihan untuk tidak memakai tongkat. Kata dokter walaupun sakit tetap harus dipaksa agar tidak manja. Dan juga untuk mempermudah penyembuhan kakiku ini.



"Key, mau aku bantu? " Kak Dika tiba-tiba datang dari arah belakang, dia mengejutkan ku.


"Tidak usah, aku bisa sendiri kok kak"


"Bisa sendiri bagaimana, jalan saja seperti siput yang tidak punya kaki" Selalu saja dia berkata demikian.



"Memangnya siput punya kaki, dia itu jalan pakai perut" Perdebatan yang sungguh tidak ada alur. Membahas perjalananku yang lambat eh ujung-ujungnya sampai pada perjalanan siput yang tidak bersalah.



"Ya sudah aku menemani kamu berjalan saja" Ucapnya padaku


"Ya sudah, nanti kalau telat tidak usah menyalahkan ku"


"Oke oke"



\*sruttttt\*



"Aaaaa.. " Entah darimana air yang menggenang ini hingga membuatku hampir terpeleset dan terjatuh. Untung saja ada kak Dika yang sigap menangkap ku dengan baik. Jadinya aku terlindungi meskipun kakiku agak sakit tapi setidaknya masih bisa terselamatkan.



"Ehhh, tolong lepasin kak. Aku malu " Ucapku pada kak Dika yang bengong dan menatapku. Saat aku teriak untuk melepaskan, dia malah tidak mendengarkan. Apakah dia tuli hingga tidak tau perintah ku.



"Kalian"


"Eh yuri" Sahut ku



\*plak\*



"Aduh, sakit key" Ucap kak Dika saat pipinya aku tampar agar dia melepaskan pegangan ini. Lalu dengan perlahan kak Dika melepaskanku.



"Yuri maaf, tadi ada air terus aku terpeleset dan kak Dika coba membantuku" Aku mencoba menjelaskan pada Yuri agar tidak terjadi salah paham.


"Iya tidak apa-apa kok" Ucap Yuri, tapi sepertinya wajahnya agak kecewa



"Kak Dika, tolong jelasin" Aku membentaknya kembali karena dia hanya bengong dan terdiam.



"Eh iya Yuri, key masih belajar untuk berjalan dengan tidak pakai tongkat terus tadi ada lantai basah ini nih yang aku injak. Dan dia tidak seimbang saya berjalan hingga ingin terjatuh, untungnya aku dibelakang jadi mencoba menolongnya" Jelas Kak Dika memberikan gambaran singkat dari awal hingga akhir. Barulah Yuri tersenyum padaku dan kak Dika.



"Iya tidak apa- apa kok, key memang butuh pendamping kak. Dan sekarang biar aku saja yang bantu key, kak Dika ke kelas saja kan kelas kita berbeda" Ucap Yuri sambil membantuku dengan menggandeng tanganku.



"Oh oke oke, Hati-hati ya"


"Siap kak" Sahut Yuri sambil tersenyum



Aku berjalan bersama Yuri melewati lorong kelas. Dengan sabar Yuri membantuku berjalan. Tapi daritadi diantara kita tidak ada pembicaraan. Sepertinya Yuri marah padaku karena melihat kak Dika yang menolongku seperti tadi.



"Yuri"

__ADS_1


"Hm"


"Kamu marah ya sama aku? "


"Marah banget"



"Yur maaf ya, aku gak bermaksud apa-apa kok karena tadi kak dika cuman bantu aja" Ucapku untuk menjelaskan agar Yuri tidak marah.



"Kamu salah karena berjalan sendiri dan tidak menungguku atau Ari, jadi aku marah sama kamu"



"Ohhhh, aku kira marah karena kak Dika yang membantuku tadi" Sahut ku dengan lega setelah mendengar pernyataan dari Yuri


"Hahahaha" Kami saling merangkuk dan berjalan perlahan masuk ke dalam kelas.



Di dalam kelas sudah terlihat Rena yang datang dan duduk disana. Dia sepertinya menggambar sesuatu yang dia suka. Tanpa menghiraukan lingkungan sekitar dia selalu menggoreskan pensil ke atas kertas. Mencorat-coret dengan gambaran yang ada di pikirannya.



"Hay Ren, kamu gambar apa" Ucap Yuri yang ingin melihat gambaran dari Rena. Tapi dia hanya diam lalu menyembunyikan gambarnya itu.


"Hmm, aku gambar pemandangan" Sahutnya sambil tersenyum.



"Boleh aku lihat?" Tanya Yuri memaksa


"Jangan, gambarku jelek" Rena menolaknya lalu Yuri terdiam dan menatapku.



"Sudahlah, mungkin itu privasinya dia jadi tidak boleh memaksa" Bisikku pada Yuri. Dia mengangguk mengerti lalu terdiam dan kembali berbincang-bincang denganku.



"Oh iya, Ari kemana ya tumben belum datang" Mata Yuri terus menatap pintu karena menunggu Ari yang masih belum datang.



"Palingan ban mobilnya bocor, makanya agak telat" Sahut ku dengan santai seakan-akan menebak apa yang dilakukan Ari, padahal bukan peramal.



"Yuri, key, huuuuuuuhaaaaaa" Ari datang dengan berlari, nafasnya terengah-engah.


"Tarik nafas, lalu hembuskan"


"Hmmmmmm,,,,




"Aduh maaf kelepasan" Ada-ada saja pagi ini bikin ribut. Suruh tarik nafas dari mulut tapi dihembuskan malah dari bawah dasar Ari.



\*plak\* aku menepuk tangannya dengan keras.



"Dasar, membuang nafas dari mulut jangan dari bawah dong ah"


"Maaf, maaf, aku kelepasan" Ucapnya sambil dengan tatapan waspada


"Kenapa kamu sampai berlarian seperti itu, sini duduk dulu" Ari duduk di kursi dan meletakkan tasnya. Yuri memberinya minum agar dia sedikit tenang.



"Gila key, tadi ada perampok di jalan yang ingin mencelakai ku dan pak supir"


"Apa perampok" Aku dan Yuri terkejut secara bersamaan saat Ari menyebutkan perampok.



"Iya, tapi anehnya dia tidak mencari apapun hanya ingin melakukan sesuatu padaku dan pak supir" Jelasnya


"Hah, terus kamu diapain" Tanyaku dengan tatapan khawatir sambil melihat-lihat tangan Ari takut ada yang terluka, tapi ternyata tidak ada luka satupun.



"Aku selamat, karena tadi ada seorang anak laki-laki yang menolongku. Wajahnya tampan, tingginya kurang lebih sekitar 175 cm. Dia jago sekali melawan perampok itu dan alhamdulillah aku selamat lalu melanjutkan untuk ke sekolah"



Ari menceritakan semuanya, aku terdiam sesaat mendengar perkataan laki-laki itu. Ciri-ciri yang ari sebutkan hampir sama dengan laki-laki yang menolongku malam itu.



"Apa dia menggunakan hoodie hitam? " Tanyaku pada Ari


"Iya benar" Sahutnya


"Menggunakan masker hitam? "


"Iya benar key" Sahutnya lagi


"Bagaimana bisa kamu tau semuanya key" Tanya yuri padaku.



"Waktu itu dia menolongku juga saat....... "


"Saat apa key, kok berhenti" Ucap Ari yang sudah serius menatapku. Sejenak aku terdiam sambil berfikir.

__ADS_1



Bagaimana bisa aku berkata pada mereka jika aku pernah masuk ke tempat yang terlarang untuk mencari ibu, lalu bertemu dengan om-om yang kurang ajar dan anak buahnya. Akhirnya ada laki-laki itu yang menolongku, tapi sepertinya tidak mungkin aku katakan semuanya.



"Saat apa key" Paksa Yuri yang penasaran dengan cerita tadi


"Saat aku tersandung batu, iya tersandung"



"Ah kamu gak asik, mana ada dia menolong kamu hanya karena tersandung" Sahut Yuri yang tidak percaya dengan perkataanku


"Iya bener, kalau kamu gak percaya yasudah"



"Tapi bisa juga sih Yuri, saat key tersandung batu lalu dia akan jatuh karena badannya tidak seimbang lagi. Tiba-tiba lelaki itu datang sebagai pahlawan dan menolong key agar tubuhnya tidak terbentur di atas trotoar atau jalanan. Nah mangkanya itu key bisa mengingatnya dengan jelas karena dia sudah menolong key"



Ari menjelaskan panjang lebar seakan menuliskan kronologi kesandung batu, sungguh encer otaknya. Padahal tersandung batu saja aku tidak pernah menyusahkan orang, palingan terjatuh lalu bangun lagi. Tapi bagaimana bisa Ari menceritakan sesuatu yang lebay seperti itu. Ah! Sudahlah yang penting mereka percaya.



"Iya sih, penjelasanmu masuk akal tapi otakku tidak sampai ri" Ucap Yuri dengan polos.


"Hahahahha" Kami bertiga langsung tertawa terbahak-bahak.



Tidak lama kemudian kami melanjutkan pembelajaran seperti biasa. Sebentar lagi akan dilakukan ujian semester, artinya aku harus lebih giat belajar sampai nilai ku semakin baik. Walaupun terkadang otakku susah untuk sampai di akar permasalahnnya, tapi karena ada Ari semuanya menjadi mudah.



Saat jam istirahat, Ari dan Yuri pergi ke kantin untuk membeli makanan. Sedangkan aku memilih untuk berada disini saja karena aku butuh istirahat yang cukup, hehehehe.



"Oh iya kamu pesen apa key" Tanya Ari padaku


"Seperti biasa saja, yang penting perutku kenyang" Mereka sudah tau makanan yang aku suka di kantin karena kami selalu makan bersama jadi sudah mengerti apa kesukaan masing-masing.


"Oke siap" Mereka berdua berangkat bersama ke kantin.



Saat mereka berangkat ke kantin, aku juga keluar karena ingin ke toilet. Setelah itu aku kembali ingin masuk ke dalam kelas. Jalanku yang lambat jadi sangat lama menuju kelas. Saat itu aku merasa aneh dengan Rena karena dia mencari sesuatu di dalam tas Yuri. Aku tidak mengerti apa yang dia cari. Andai saja aku punya ponsel pasti akan aku dokumentasikan semuanya.



"Sedang apa dia, mengapa seperti pencuri" gumamiu sambil berdiam diri.



Dari pintu aku mencoba memantaunya, dia melakukan aksinya dengan mencari sesutu di dalam sana. Aku tidak tau pasti apa yang dia cari. Tidak lama kemudian dia tersenyum, mungkin dia sudah mendapatkan sesuatu yang dicari. Setelah itu dia kembali menatap bukunya dan meukis seperti biasa. Wajahnya sangat tenang seperti tidka terjadinya apa-apa.



Beberapa menit aku menunggu di luar agar dia tidak curiga jika aku sudah melihatnya. Setelah itu aku masuk dan hanya diam seperti tidak terjadi apapun. Dari belakang aku menatap gerak-geriknya. Saat aku masuk sikapnya berubah menjadi pendiam lalu kembali melukis.



"Key, ini pesananmu sudah datang" Yuri dan Ari sudah kembali dari kantin. Mereka membawa minuman dan makanan seperti biasa.


"Makasih banyak sahabat" Ucapku dengan senyuman. Yuri membalikkan kursinya dan makan bersama kami.



"Oh iya, ini aku belikan es buat kamu Rena" Ucap Yuri sambil memberikan es jeruk pada Rena


"Makasih banyak Yuri"


"Iya sama-sama" Aku masih menatapnya dengan penasaran. Anak ini selertinya aneh, kadang diam kadang juga bergerak namun mencurigakan.



"Hey" Gertak Ari yang membuatku terkejut


"Apa we" Sahut ku


"Kamu kenapa, ngelamun saja" Ari daritadi melihatku melamun. Andai mereka tau bahwa aku tidak melamun, akan tetapi sedang berfikir sesuatu tentang Rena yang mencurigakan.



"Eh tidak, tidak, aku cuman kepikiran saja nanti kalau ujian semester gimana ya"


"Gimana apanya, lagian kan masih lama dan ada waktu untuk belajar" Sahut Ari dan menatap padaku dengan serius.



"Iya juga sih, waktunya memang lama tapi masalahnya kamu ada kesempatan gak agar kita bisa belajar"aku kembali tanya pada ari yang selalu sok sibuk.



" Tenang saja, kalian bisa belajar dirumahku sepuasnya"


"Mulai kapan?"


"Besok saja bagaimana? "


"Tidak, tidak, aku maunya sekarang saja"


"Iya ri, sekarang aja biar otakku yang beku ini menjadi encer" Ucap Yuri sambil tertawa kecil. Akhirnya ari setuju dan nanti sore aku akan kerumah Ari.



Kami melanjutkan makan dan minum, tapi rena masih saja tetap menunduk untuk melukia. Pikirku bertanya-tanya apakah kepalanya tidka sakit saat terus menunduk. Apakah dia ingin menjadi bungkuk karena terus-terusan menunduk biarlah, itu urusan dia dan kepalanya yang penting kepalaku tegak.


__ADS_1


~~~~ BERSAMBUNG ~~~~


__ADS_2