
Aku tidak tau dia datang darimana dan tiba-tiba sudah ada di sampingmu sambil membawa satu botol mineral. tanpa banyak bicara aku langsung meneguk minuman dengan kasar.
"Minumlah, aku tau hatimu sedang lelah" Aku menatapnya lebih dalam, wajahnya yang dingin berubah menjadi hangat. Seakan aku melihat David yang dulu.
"Kenapa?" Matanya menatapku, aku langsung memalingkan wajah dan meminum kembali air yang dia berikan. Lebih baik aku memilih diam dan memandang segala arah untuk menghilangkan sumpek di pikiran ini.
"Ingat hidup tidak pernah lurus, di setiap jalannya pasti ada persimpangan dan tikungan" Telingaku mendengarkannya tapi mataku tetap menatap ke depan. Perkataannya itu mengingatkan aku di masa lalu saat David memberikan semangat padaku yang lelah.
"Ngapain kamu kesini" Tanyaku padanya
"Tadi aku hanya lewat, melihat kamu sedih jadi aku ingin menemani"
"Buat apa? " Tanyaku kembali
"Kita ini teman satu kelas dan teman sepak bola, jadi tidak ada salahnya aku menyemangatimu" Ucapmya menjelaskan padaku.
Entah ada angin apa yang datang dalam dirinya hingga tiba-tiba berbicara tentang semangat lalu dia menagnggapku sebagai teman satu kelas dan teman sepak bola. Padahal di kemarin hari dia tidak mempedulikan apapun.
"Kamu tu aneh Vid, kadang baik kadang tidak" Aku mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan semua padanya.
"Maksudnya? " Sepertinya David belum merasakan perubahan dia. Pasti dia juga tidak merasakan bahwa telah menyakiti hatiku.
"Aku menunggumu selama ini, kamu datang masuk kembali ke kehidupanku dan kamu melupakan semuanya. Sesingkat itu ya perjalanan kehidupan" Ocehku dengan menahan sesak di dada. Berharap David bisa memahami apa yang aku bicarakan. Tapi dia hanya diam tanpa suara.
"Bodoh aku percaya dengan waktu, benar dia mempertemukan diriku denganmu tapi sayang aku tertipu" Sekali lagi aku berbicara padanya. Mengungkapkan pikiran yang menggumpal dalam hati. Biar saja dia diam, yang penting dia tau apa yang aku rasakan saat ini.
"Ini airmu, Terima kasih" Aku memberikan kembali botol itu ke David. Lalu beranjak pergi dan meninggalkannya sendiri. Lebih baik aku pergi meninggalkan dia daripada hatiku terus merasakan sesak. Sepertinya aku mencintainya, tapi cinta itu tertutup kekesalan dari hatiku padanya.
POV DAVID
"Aku lelaki terbodoh yang mencampakann dirimu saat ini key" Gumamku sambil melihat langkahnya telah berlalu.
Ribuan maaf dariku mungkin tidak akan sebanding dengan penantiannya. Bukan maksudku untuk menginginkan semua ini terjadi. Aku tau hatimu saat ini kacau karena pertengkaran dengan sahabatmu Ari. Aku tidak tega melihatmu tersakiti seperti ini. Aku sengaja mengikuti dan benar saja dugaanku, kamu melamun sendiri dan mengenggam rasa sakit itu.
Aku tau sebotol air yang ada di tangan tidak akan mampu mengobati rasa sakitmu itu. Apalagi kamu menceritakan tentang rasa rindumu yang menunggu. Aku terbungkan mendengar semua ini key.
Wajah key terlihat kesal padaku, tapi aku tau hatinya masih ada namaku walaupun rasanya sudah samar karena perlakuan buruk padanya. Andai kamu tau key, matamu mengatakan bahwa setiap tatapan itu mengartikan semuanya. Mengartikan rasa rindu dan harapan yang terkubur lama.
"Kau memang bodoh vid" Hardikku pada diri ini yang membiarkan Key memendam rindu sendirian.
Maaf key, aku mengubah semuanya agar perlahan tatapan rasamu menghilang. Aku tidak ingin kamu terluka sedikitpun hanya karena dekat denganku. Aku sayang padamu, sudah dari dulu.
Sebenarnya bukan kamu yang bodoh, tapi aku yang sangat bodoh tidak memanfaatkan waktu yang aku tinggalkan untuk membuatmu bahagia. Untuk membuatmu tersenyum kembali seperti dulu.
Sekarang apa yang aku lihat? Yang aku lihat hanya kepergianmu dengan penyesalan dan kekecewaan padaku. Melihat senyummu aku bahagia, bahkan lebih bahagia lagi jika melihat wajah marah yang kamu luapkan. Dengan itu aku bisa dekat denganmu Key.
"Aaaaa" Aku teriak kesal sambil menjambak rambutku sendiri. Karena aku hanya bisa diam melihat Key pergi meninggalkan aku sendiri disini. Apa yanga ada dipikiranku, apa yang ada di dalam hatiku semuanya tidak sama dengan apa yang aku katakan padamu key. Aku menyayangimu key, aku rindu tawamu.
"Bodoh kamu David, kamu memang bodoh dan sangat bodoh karena telah menyakitinya. Aaaa" Gumamku kesal pada diriku sendiri. Aku laki-laki yang tidak punya hati karena terus menyakitimu dengan rindu, kekecewaan, dan rasa benci yang tercipta dalam dirimu key.
Aku mati kutu saat ini, tidak bisa apa-apa. Ingin rasanya memelukmu saat ini, memyandarakn kepalamu di bahuku tapi itu semua sia-sia. Karena menggapaimu akan sulit tidak sama seperti dulu. Ini semua salahku key.
__ADS_1
"Dasar kau bodoh David" Menendang pohon besar dengan keras. Kesakitan di kakiku tidak akan pernah bisa membandingkan rasa sakit dalam diri Keyla.
Dan langkahku pergi meninggalkan tempat itu menuju ke kelas dengan wajah seperti tidak terjadi apapun dengan diriku. Berjalan dengan wajah dingin adalah caraku untuk menghindari semua penggemar ku. Karena hatiku hingga saat ini hanya untuk Keyla.
POV DAVID SELESAI
Aku berjalan menuju kelas, dan rasanya sangat terkejut saat tas Ari sudah berpindah ke bangku paling depan. Yang ada di sampingku saat ini adalah tas Yuri. Begitu bencinya Ari sampai dia tidak ingin duduk sebangku denganku. Aku tidak bisa berkata apapun, aku memilih untuk diam lalu duduk di kursi ku paling belakang.
Apa yang harus aku lakukan kali ini? Sepertinya tidak ada. Lebih baik aku diam dan meletakkan kepala di atas meja dengan lengan sebagai bantal penyangga kepalaku. Biarlah aku terlelap atau pura-pura terlelap untuk melupakan sedikit rasa sakit.
"Key, key" Aku terkejut saat Yuri datang dan mencolek lengaku hingga terbangun.
"Ada apa yuri, kenapa kamu menangis" Yuri menangis dan duduk lemas di sampingmu. Ia meletakkan kepalanya di atas meja sambil menangis. Aku tidak tau apa alasan Yuri menangis.
"Kak, kenapa? Yuri kenapa kak? " Kak Dika menatapku dengan tatapan pilu. Kepalanya menggeleng tapi aku tidak tau apa yang dia isyaratkan.
"CCTV rusak 3 hari yang lalu, dan kita tidak bisa melihat siapa pelakunya" Jawaban itu menyayat hatiku.
Sakit rasanya seperti di tusuk belati. Aku melamun dengan tatapan hilang arah. Sepertinya tidak ada yang bisa membuktikan bahwa aku dan Yuri tidak bersalah. Kami akan menanggung rasa sakit dengan tuduhan fitnah yang Rena berikan.
*bruuk* tanganku menghantam meja dengan keras. Kekesalan sudah di ubun-ubun karena Rena.
"Aku akan menemuinya" Amarahku sudah memuncak sekaligus terbakar dan ingin segera menemui Rena untuk memberinya pelajaran. Karenanya aku bertengkar dengan sahabatku sendiri.
"Jangan key" Yuri dan kak Dika dengan kompak memegang tanganku. Mereka berkata bahwa akau harus tenang. Tenang bagaimana jika seorang sahabat sudah dipengaruhi untuk ikut percaya dengan fitnah. Bahkan sahabat sendiri yang membuat hati sahabatnya hancur.
"Tapi yur, dia sudah membuatmu menangis" Aku tidak tega melihat Yuri menangis, mungkin aku bisa menahan semua ini tapi tidak dengan Yuri.
"Tapi kak" Egoku masih muncul karena kekesalan yang Rena berikan.
"Tunggu, dan sabar. Kita semua harus mencari bukti bahwa Rena memfitnah kamu dan Yuri" Aku mengangguk mengerti dan hati ini sedikit tenang.
Tangan kak Dika mengelus lembut kepala Yuri agar dia tidak menagis lagi. Matanya bengkak karena menangisi persahabatan yang hancur seperti ini. Kak Dika menyeka air mata Yuri dengan lembut. Bahkan kak Dika memeluknya agar Yuri berhenti menangis. Akhirnya tangisan Yuri mulai mereda dalam kehangatan kak Dika.
"Aku pergi dulu ya, bel sudah berbunyi" Kak Dika mengucapkan kata pamit pada Yuri dan hanya mendapatkan balasan anggukan darinya saja
"Key aku pergi dulu"
"Iya kak, Hati-hati"
Setelah itu aku mencoba menghibur Yuri. Memberikan semangat padanya untuk bersikap baik-baik saja. Jika dia terus menangis maka Rena akan merasa berhasil bahwa dia sudah membuat kita kalah. Yuri mencoba untuk menentukan dirinya walaupun hatinya masih tertekan.
Tidak lama kemudian Ari masuk ke dalam kelas. Tatapannya menatap aku dan Yuri lalu setelah itu dia memalingkan wajahnya. Tempat duduknya sekarang sangat jauh dengan tempat duduk ku dan Yuri. Bahakan dia juga keluar dari grup WA kami.
Hingga pulang kami tetap saling diam. Ari pulang terlebih dahulu dan aku pulang dengan Yuri. Biasanya kita pulang bertiga tapi kali ini aku hanya berjalan dengan Yuri dan tanpa Ari.
"Kamu jangan memikirkan hal apapun. Secepatnya aku akan membereskan semuanya" Aku memegang lembut pipi Yuri dengan berkata demikian. Yuri mengangguk dengan senyuman lalu dia masuk ke dalam mobil yang sudah menjemputnya.
Saat aku menunggu angkot, ayah datang lagi dan menghampirimu. Lagi-lagi dia mengatakan kata maaf padaku.
"Nak maafin ayah, ayah ingin memelukmu lagi dengan kehangatan. Ayah janji akan memperbaiki semuanya" Tangannya menggenggam erat diriku yang ingin pergi. Aku menahan air mata ini kembali. Hatiku sakit saat mendengar ayah memohon ampun padaku.
__ADS_1
"Sudahlah yah, pulanglah. Key sudah senang dengan kehidupan saat ini. Dan Key harap ayah juga senang"
Aku mencoba mengatakan hal itu pada ayah agar dia tidak mengejarku lagi dan meminta maaf. sebenarnya aku tidak tega dengan kata maaf yang dia ucapkan. Tapi hatiku sudah terlalu sakit olehnya.
"Papa, papa ngapain disini" Aku terkejut saat mendengar suara yang menyebut ayah dengan ucapan papa. Seketika ayah melepaskan genggamannya padaku. Sepertinya dia anak ayah.
"Papa ingin mengajakmu makan" Ucapnya, lalu aku membalikkan badan
"Kak Dika? "
"Key" Ternyata anak ayah adalah kak Dika. Jantungku terasa berhenti seketika saat mengetahui kak Dika adalah kakakku. Aku terkejut dengan semua ini dan masih tidak percaya.
"Kalian berdua ngapain disini" Tanya kak Dika padaku. Aku tidak tau harus berbicara apa karena takut ada salah kata yang akan terucap dari mulut ini.
"Tadi papa mencarimu, terus tanya ke teman sekolahmu katanya kamu masih di dalam sekolah" Untung saja ayah berbohong dengan mengucapkan semua ini. Hatiku menjadi lega, aku tidak ingin kak Dika tau bahwa kita adalah saudara.
"Baiklah om, saya pamit dulu ya" Aku mencium tangan ayah dan berpamiran untuk pertama kalinya. Genggaman tangan ayah sangat erat seakan ingin mengatakan agar aku tidak pergi darinya lagi.
"Hati-hati nak" Lama sekali dirimu tidka mengucapkan ini ayah. Aku rindu semua ini.
"Hati-hati ya key, jangan kelayapan" Ucap kak dika.
"Iya kak, aku pamit dulu ya dadah" Mencoba melemparkan senyum palsu pada mereka berdua. Andai mereka tau bahwa hatiku hancur kembali bahkan sangat susah untuk menyatu.
Aku berbalik dan melangkah pergi. Langkahku diiringi gerimis serta air mata yang menetes membasahi pipi. Langkahku linglung seperti tanpa tujuan. Tidak mengerti lagi apa yang harus ku lakukan.
"Ayo pa kita masuk, gerimis nya semakin besar. Biarkan sepeda motor Dika tinggal disini saja" Mendengar suara itu aku menoleh kembali pada meraka. Tatapan ayah masih menatapku dengan erat. Dan kak Dika menarik tangan ayahnya lalu masuk ke dalam mobil.
Aku berjalan mengikuti hujan tanpa tujuan. Sekuat inikah aku menahan tangis, bisakah air mata ini keluar sedaras-derasnya bersama hujan agar hati ini lega. Sepertinya hanya mampu meneteskan buliran-buliran kecil tapi menyakitkan.
"Key kamu ngapain hujan-hujanan" David memberhentikan motornya di depanku.
Dia turun dan berdiri di depanku yang berjalan tanpa memperhatikan apapun. Karena hatiku saat ini sudah tanpa tujuan melihat kenyataan. Apa mungkin mama kak Dika adalah orang ketiga yang membuat perpecahan dalam kehidupan keluargaku. Pertanyaan yang ada saat ini mengelilingi otakku.
"Ayo cepat naik, nanti kamu sakit key" Aku tidak peduli dengan perkaraannya. Tatapanku kosong saat ini, hanya ada pertanyaan yang tidka tau jawabannya. Lamunanku terus berlangsung dengan diiringi rintik hujan yang turun.
"Key sadar key, ayo naik"
*plak, plak, plak* Tamparan-tanparan kecil dari David yang berusaha menyadarkanku dari lamunan.
"Ayo naik, hujannya semakin deras key" Akhirnya aku ikut dengan David menaiki motornya.Di atas motor aku meluapkan semua rasa sakit di hatiku.
"Dunia tidak adil padaku, mengapa harus terjadi" Aku berteriak keras di atas motor. Hujan juga turun begitu derasnya. David melajukan motornya tapi tidak terlalu kencang karena jalanan saat ini sangat licin.
"Teriak lah key, aku tau kami lelah" Teriakan David padaku. Tangan satunya berusaha memegang lenganku untuk menenangkan diri ini yang rapuh. untung saja hujan deras jadi air mata ynag menetes terlihat samar.
"Apa salahku vid, mengapa semua ini bergulir tanpa henti pada hidupku" Aku berteriak sekencang mungkin. Meluapkan seluruh rasa sakit tentang kehidupan yang bermain-main denganku.
"Adilkah begitu?, aaaaaa" beberapa kali teriakan untuk menentukan pikiran yang tidak selalu berjalan dengan lurus dalam hidup ini.
__ADS_1