Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
20. Kesedihan Yuri


__ADS_3

Keharmonisan keluarga ari membuatku iri. Mereka senang menyambut kelulusan ari dengan membawa beberapa hadiah padanya. Mereka juga tidak lupa memberiku hadiah.


"Keluarga kamu mana nak" pertanyaan yang membuatku terdiam sejenak untuk berfikir.


Ari dan keluarganya sampai saat ini tidak pernah tau tentang latar belakangku sepenuhnya. Setiap ada rapat atau pengambilan raport, selalu bu Yanti yang mewakili. Ari hanya tau orang tuaku adalah bu Yanti dan suaminya, padahal mereka adalah tetangga yang sudah aku anggap sebagai orang tuaku sendiri.


"Hmm, ibu lagi jualan dirumah tante" Sahutku dengan senyuman


"Oh yaudah, selamat ya atas kelulusannya semoga ilmunya bermanfaat" Tanpa ada rasa jijik, mama ari memelukku dengan kasih sayang.


Kali ini aku kembali merasakan kasih sayang seorang ibu. Aku kembali memeluknya dengan erat, dan merasakan kehangatan kasih sayang seorang ibu.


"Makasih tante"


"Oh iya, kamu mau bareng sama tante nggak? "


"Tidak usah, terima kasih tante" Aku menolaknya dengan halus.


Selain rumah kami yang berlawanan arah, aku juga beralasan bahwa rumahku dekat dan tinggal jalan kaki melewati persawahan. Akhirnya mereka pergi menggunakan mobil. Aku juga bergegas pergi dan berjalan sendiri seperti biasa.


Ari sangat beruntung memiliki orang tua yang sangat baik. Yang selalu menyayanginya di setiap saat. Aku sangat iri padanya karena keluarga yang lengkap dan harmonis. Pasti sangat senang bila berada di dalam lingkungannya.


"Dasar anak bodoh, mama sudah bilang kamu tuh harus belajar jangan pinter ngabisin uang aja" Teriakan memaki terdengar dari jalan seberang.


Langkahku terhenti untuk melihatnya. Ternyata itu Yuri yang sedang dimarahi oleh ibunya. Yuri memang lulus, tapi peringkatnya jauh dibawah. Mungkin itulah salah satu penyebabnya dia dimarahi oleh ibunya.


"Tapi Yuri sudah belajar ma"


"Belajar, belajar, belajar habisin uang"


*plak* tamparan mendarat pada pipinya.


"kamu tau, pak Anton bilang ke mama kalo nilai kamu jelek" Yuri hanya terdiam dan menunduk


"Lihat mama, lihat" Tangannya kembali menarik rambut Yuri.


Amarah mama yuri memuncak. Aku hanya bisa melihatnya dari jauh dan tidak berani mendekat. Karena hal itu adalah sebuah masalah mereka dan sepertinya bukan urusanku. Tapi sayang nasibnya, oh yuri yang malang.


"Hari ini kamu mama hukum, silahkan pulang sendiri" Lalu mamanya masuk kedalam mobil dan meninggalkan Yuri.


Bagaimana bisa mamanya tidak tau, sedangkan ia adalah teman sekolah pak Anton yang menjabat sebagai wakil kepala sekolah. Mungkin pak Anton yang memberitahu mama Yuri tentang hasil ujian dan nilai kelulusan tersebut.


Awalnya aku ingin pergi meninggalkan yuri sendiri. Tapi hatiku tersentiuh saat Yuri menangis serta memaki-maki tembok di sana. Dia menendang tembok dengan kesal. Sedangkan aku tidak bisa membiarkan seseorang bersedih hati sendiri. Aku segera berlari dan menghampiri Yuri yang masih dirundung kekesalan dan kesedihan karena makian mamanya.


"Yuri, kamu gapapa? " Tanyaku dan mencoba untuk menenangkan Yuri

__ADS_1


"Apaan sih" Bentaknya sambil melemparkan tanganku


"Aku tau kamu sedang sedih karena mamamu, tapi"


"Kenapa, kamu seneng kan kalo aku dimarahi"


Bentaknya memotong pembicaraan ku yang masih belum selesai. Tapi aku hanya mendengarkannya dengan sabar.


"Ternyata yang sering merundung teman-teman di sekolah malah kena karma" Ejek ku


"Diem kamu" Amarahnya memuncak. Lalu aku mencoba memeluknya tapi dia malah semakin marah. Lalu aku duduk di trotoar sana sambil menatap jalanan yang ramai saat ini.


"Enak ya Yur, kamu masih bisa mendengar mamamu marah sedangkan aku tidak. Aku ingin mendengar ibuku marah ke aku, tapi dia malah pergi ninggalin aku. Berpindah tempat dan aku tidak tau alamatnya hingga sekarang. Aku merasa ibu sudah senang diamanpun dia tinggal, tapi aku rindu sama pelukan ibu. Ibu hanya mengirimkan uang padaku, tapi tidak mengirimkan kasih sayang seperti seorang ibu pada umumnya. Hingga sekarang kehampaan seorang anak masih mencari keberadaan ibunya. Andai aku jadi kamu.. . . . " Yuri langsung mengalihkan pandangan. Duduk disampingku bersanding menatap jalanan.


"Mau nggak jadi aku? " Tanyaku sambil menatap Yuri yang masih murung.


"Aaa.... Hikkksssss" tangisan yuri semakin kencang saat mendengarkan sesuatu hal dari mulutku.


"Hmmm, tapi aku sudah damai sama hidupku. Cuman kalo menyangkut seorang ibu aku jadi ingat ibuku"


"Aaaaa, keyy maafin aku ya karena selama ini jahat sama kamu" Dia malah memelukku dengan erat.


Wajahku menatap heran, apa mungkin Yuri kesurupan jin baik sampek dia memelukku. Padahal belum pernah dia memelukku selama menjadi teman di sekolah.


"Yur, kamu haras belajar bersyukur karena bisa mendengarkan suara ibumu walaupun dengan nada marah. Jika aku boleh menjadi kamu, aku bakalan senang dimarahi oleh seorang ibu asalkan ibu tidak pergi ninggalin aku tanpa penjelasan" Nasehatku pada Yuri, sambil mencoba merangkulnya dengan kehangatan.


"Mama selalu marah saat nilai ku jelek key"


"Itu tandanya mama kamu sayang, dan dia ingin kamu masuk ke sekolah yang bagus yur" Dia mengangguk mengerti, lalu diam merenung kembali.


"Tapi mama jarang ada waktu buatku key" "Sekarang dengerin aku, meskipun mamamu seperti itu tapi dia masih ada waktu buat ngurusin nilaimu. Dia masih marah karena nilaimu jelek. Jadi kamu harus tingkatkan lagi dan buat mamamu bangga" Ucapku dan berharap Yuri mau mendengarkannya.


Meskipun aku dan Yuri jarang akur, tapi setidaknya aku bisa memberikan semangat buat dia. Aku tidak ingin dia jauh dengan kedua orang tuanya. Biarkan aku saja yang jauh dari ibu hingga sampai kini aku tidak tau keberadaannya.


"Yaudah, yuk ikut aku yur" Sambil menarik tangan Yuri. Kami berlari kecil melewati jalanan dan masuk ke pedesaan penuh dengan sawah. Menyusuri sawah dengan suasana padi menguning.


"Disini yur"


"Apa key? " Tatapannya bingung


"Teriaklah, keluarkan keluh kesahmu dan jangan sampai kamu simpan sendiri"


"Aaaaaaaaaaa,,, aaaaaaaaaaaa,,, aaaaaaaaaa" Air matanya ikut serta dalam teriakannya.


Aku tidak tau persis keluh kesah apa yang bergelut dalam pikirannya. Tapi aku juga merasakan kesedihannya. Aku juga tidak tau perilaku mamanya tapi yang aku tau dia sayang yuri. Karena meski memarahi yuri, dia tidak pergi meninggalkan anaknya sendiri. Hanya saja memberi teguran untuk menjadikan anaknya berani bertanggung jawab atas perbuatan yang dia lakukan.

__ADS_1


"Teriaklah lagi" Bisikku sambil berharap resahnya hilang dibawa angin-angin yang berterbangan di udara. Berharap hembusan nya menghempaskan pilunya hidup.


"Aaaaaaaaaa, aku ingin damai" Teriaknya kembali melenting ke langit. Baru kali ini aku melihat sedih yuri yang teramat dalam.


Padahal dia adalah anak orang kaya yang selalu merundung anak-anak yang lemah. Tapi di dalam kesombongannya terdapat kehampaab dalam hidupnya. Yang aku sayangkan, pada saat Yuri terpuruk semua teman yang selalu menemani yuri malah mendadak menghilang. Entah kemana tapi yang aku lihat saya ini mereka tidak ada dan tidak kelihatan batang hidungnya.


Kami berdua duduk bersimpu dan saling memandangi padi. Merasakan desiran angin yang damai dalam hidup yang kadang tidak selalunya indah.


"Enak ya, disini aku tenang key" Ucap yuri setelah selesai bersorak kekesalan yang dia rasakan. Aku menatapnya sambil tersenyum.


"Ternyata aku merasa nyaman saat bersama kamu key"


"Maksudnya? " Tanyaku bingung


"Dengan kamu aku tidak bisa pura-pura senang terus, dengan kamu aku mendapatkan kebahagiaan tanpa harus yang mewah, dengan kamu aku jadi bisa merasakan kedamaian alam yang sunyi tapi ramai dengan keindahan yang Tuhan ciptakan" Pilu mendengar perkataan Yuri. Biasanya dia selalu bahagia dengan kesombongannya tapi ternyata itu hanya kepura-puraan saja.


Saat aku terdiam, yuri terus mengadukan nasibnya. Dia sangat sedih karena temannya hanya mau menerima bila ada harta saja. Sedangkan saat kesedihan ada dalam diri yuri, mereka malah menghilang bahkan ada yang pura-pura tidak tau dan tidak mendengar.


Padahal dari tadi temannya juga ikut bersama yuri, tapi setelah yuri dimarahi mamanya dan ditinggalkan sendiri disana, temannya malah ikut meninggalkan. Pertemanan yang benar-benar menjadi racun dalam hidup yuri. Padahal dia tidak pernah berhitung-hitungan apabila mereka ingin meminta sesuatu. Semua selalu dituruti, tapi ternyata baru sekarang ia sadar bahwa pertemanan itu hanya berdasarkan dengan uang.


Dan dia merasa bahwa bertemu denganku, berbicara baik-baik malah menjadikan hatinya nyaman dan tenang. Permusuhan diantara aku dan yuri pecah seketika. Menghilang di telan kasih sayang yang diberikan antar satu dan yang lainnya. Berpelukan dibawah awan yang cerah. Sinar jingga menyala dengan ketenangan jiwa diantara dua anak manusia. Berpelukan menjadi satu diantara dua hati yang sama-sama rapih tapi beda cerita.


"Sekarang kamu pulang ya, peluk mamamu dan minta maaf padanya" Aku menyeka air matanya. Memberikan nasihat agar dia mau pulang kerumah untuk menjadi anak yang lebih baik lagi.


"Makasih ya key, maafin aku sekali lagi maaf untuk sifatku di hari-hari kemarin yang telah melukaimu" Kata-kata nya pilu, tatapannya benar-benar merasa bersalah.


Aku mengangguk lalu memeluknya lagi dengan rasa persahabatan.


"Pulanglah, kamu tidak pantas untuk bersedih" Akhirnya yuri pulang dengan membawa senyum di bibirnya dengan indah.


Lambaian tangannya mengisyaratkan bahwa ia ingin pamit pulang. Aku tersenyum kembali melihatnya. Akhirnya dunia kembali indah, tapi mengapa harus di akhir cerita sekola SMP padahal perjalanan kita sudah lama menjadk musuh. Dan mengapa tidak dari dulu, atau mungkin ini skenario Tuhan agar aku bisa menjadi orang sabar dan lebih baik lagi untuk kedepannya. Atau mungkin ini caraku menjadi dewasa dan selalu murah senyum setiap ada masalah yang menimpa.


Akupun juga pulang ke rumah. Bersantai, lalu sorenya berlatih bola. Begitulah setiap harinya hingga aku lupa bahwa ibu sudah meninggalkan aku cukup lama. Bahkan kesedihan itu menghilang bersama waktu. Entah kemana perginya, tapi yang jelas aku sudah lupa kepedihan yang pernah menyelimuti hidupku.


Bukan sehari, atau dua hari, tapi sampai sekarang aku mengingat luka itu. Luka yang hadir mengoyak-ngoyakkan nurani yang paling dalam. Aku sudah lupa dengan kesedihan, tapi tidak dengan suasana yang menyakiti relung hati paling dalam.


Saat malam tiba, aku memasuki ruang kamar ibu. Suasana berdebu karena sudah sepi tidak ada yang menempati. Mencoba mengecek sesuatu di lemari tapi kosong tidak ada apapun. Duduk di kasur empuk yang berdebu karena ditinggalkan pemiliknya yang pergi lari dari kehidupan yang dijalani.


"Brak" Aku tidak sengaja menendang sebuah kotak kayu di bawah kasur saat kakiku berayun-ayun. Ku ambil kotak itu, sedikit berat tapi sepertinya menyimpan sesuatu. Ku buka perlahan kotak itu karena ada rasa penasaran tentang isinya. Ternyata susah membukanya karena gembok masih melekat di kotak tersebut.


*plokk, plokk* aku. Memaksanya terbuka dengan palu. Berkali-kali aku hantam gembok itu hingga akhirnya terlepas juga. Disana ada baju sexy, lembaran foto aku saat kecil bersama ayah dan ibu, ada juga sebuah foto tapi aku tidak mengenalinya. Satu persatu aku buka dan perhatikan. Ku pegang foto pertama saat aku kecil dan masih dalam gendongan ibu dan ayah. Terasa sampai kesini kasih sayangnya tapi itu hanya foto sedangkan mereka sudah tega meninggalkanku sendiri dipeluk sepi. Dibelakangnya terdapat tulisan tangan dari ibu.


"Aku mencintai kalian, aku ingin keluarga yang utuh bukan keluarga yang hanya ada dalam atas kertas tapi di dalamnya hanya diisi teriakan makian yang aku benci" Aku tidak paham dengan tulisan itu. Apa mungkin ayah dan ibu sering bertengkar sewaktu aku kecil. Lagi-lagi aku tidak dapat jawabannya.


__ADS_1


__ADS_2