
Menatap mata mereka yang penuh harap, rasanya aku bersalah karena belum bisa membawa kemenangan untuk dibanggakan oleh mereka semua.
"Maaf, Keyla kalah"
"Tidak nak, kamu menang karena sudah mencapai di titik tertinggi ini. Bapak bangga padamu" Ucapan bapak masih sama, dia tetap memelukku dalam keadaan apapun.
"Iya nak, ibu juga bangga padamu"
"Ibu juga, kamu adalah mimpi semua orang. Tapi sayangnya ibu tidak menemanimu dari dulu" Pelukan dari dua orang ibu yang sangat aku sayangi.
"Terima kasih untuk kedua ibuku yang sangat aku sayangi" Aku kembali memeluknya dengan erat.
"Nak, kenapa tanganmu ini"
"Tidak apa-apa bu, ini hanya jatuh biasa" Aku tersenyum karena sekarang bukan hanya seorang ibu yang mengkhawatirkan diriku. Melainkan ada dua ibu yang menatap dalam keadaan cemas.
"Hai" Sapaku sambil berjongkok di depannya.
"Hai kak" Sapanya ramah dan memelukku dengan erat.
Adik kecil yang lucu dan menggemaskan. Sekarang dia sudah resmi menjadi adikku, dan sekarang hidupku juga tidak kesepian lagi karena sudah memiliki adik.
Ibu selalu menceritakan dia padaku melalui pesan dan telepon saja. Sekarang aku sudah melihatnya langsung dan berinteraksi dengan dirinya. Wajahnya hampir mirip dengan wakahku saat kecil.
"Siapa namamu? "
"Kaira"
"Ahh, kenapa ibu memberikan nama yang hampir mirip denganku"
"Agar dia menjadi orang hebat sepertimu"
"Hehehe" Tawa mereka menyaksikan ini. Ternyata namanya mirip denganku, sekarang ada saudaranya Keyla yaitu Kaira.
"Belajar yang baik ya"
"Siap kak" Lucu sekali tawanya, mirip dengan ibu.
"Key"
"Mbakku" Rindu rasanya berpisah cukup lama. Mungkin mereka juga kesepian karena tidak ada adik yang akan mereka ganggu.
"Kering aku menunggumu di rumah. Apalagi melihat tanganmu seperti ini, rasanya aku ingin menangis" Aku tertawa saat melihat mbak Yeni menangis.
Begitu juga dengan mbak Nike yang ikut menangis. Biasanya mereka yang membuatku menangis dan mengadu pada ibu, kali ini merekalah yang menangis saat menatapku.
"Tenang saja mbak, InsyaAllah aku baik-baik saja kok"
*plak*
"Baik katamu? Tanganmu patah bukan tergores. Dasar bodoh" Kesal mbak Nike padaku.
Dia belum pernah semarah ini, mungkin karena kekhawatirannya yang ada saat melihat kondisi ku dalam keadaan tangan yang buruk. Mereka sangat sedih dan khawatir, namun rasa amarah hanya selalu mereka kaitkan. Karena kesabaran mereka setipis lembara tisu.
"Keyyy"
"Ari, Yuri. Lama sekali tidak bertemu kalian" Kedua sahabat yang konyol, selalu ada disaat aku sedih dan bahagia. Itulah mereka yang menemani hingga titik ini.
"Cepatlah sembuh, jika kau begini maka aku akan terus menangis"
"Dasar cengeng" Ucapku pada Yuri.
"Hiksss... Hiksss"
"Ari" Ujarku dan Yuri secara bersamaan saat melihat Ari yang menangis.
Kami terkejut, karena baru kali ini dia menangis tersedu-sedu. Padahal dia selalu menjadi anak pandai dan jarang menangis walaupun selalu mendapatkan perundungan.
Katanya dia tidak tega melihat tanganku yang patah. Dia selalu berdoa agar aku baik-baik saja. Tapi sekarang dia bersedih karena melihatmu terluka.
"Sudahlah, hapus air matamu. Aku baik-baik saja. Jangan teralu banyak buang air mata kesedihan, karena kemarin kamu menang kan? " Ari mengangguk.
Dia kemarin lusa menyelesaikan Olimpiadenya dan kembali memenangkan juara satu. Aku sangat senang dan bangga sebagai sahabatnya. Tidak bisa diragukan lagi bahwa otak ari selalu berjalan dan tidak membeku sepertiku.
"Dan bagaimana dengan audisi bernyanyimu? "
"Gagal lagi"
"Tidak apa, masih banyak waktu kok. Tenanglah karena aku dan Ari akan mendukungmu"
Akhir-akhir ini yuri telah menemukan bakatnya, yaitu ingin menjadi penyanyi. Walaupun berkali-kali gagal namun dirinya tidak pernah menyerah.
Di belakang layar selalu ada aku dan ari yang menjadi pendukung. Walaupun dukungan dari jarak jauh, namun aku masih bisa memberikan masukan atas suaranya. Bahkan ibu Yuri juga sangat mendukung bakat dari anaknya itu.
"Ayo kita pulang" Ajakku sambil merangkul kedua ibuku dan bapak.
"Permisi kak Keyla, apakah kami boleh mewawancarai mu? " Wartawan tiba-tiba mendekat saat aku ingin pulang ke kampung halaman.
Aku terkejut bukan main karena ini baru pertama kalinya mereka datang dan mewawancarai ku secara langsung. Aku bingung hal apa yang akan aku katakan sebentar lagi.
Rasanya sangat gugup, apalagi mereka mewawancarai dengan banyak pertanyaan. Semua mata tertuju padaku, bagitu juga beberapa sorotan kamera sedang mengawasi pergerakan ucapanku.
"Jangan gugup nak" bisik ibu, aku hanya mengangguk.
"Hmm, boleh silahkan. Tapi maaf karena saya agak gugup"
"Tidak apa-apa kak, kami akan menanyakan secara perlahan" Sahut reporter itu.
"Apa pendapat kakak dengan hasil pertandingan ini? "
"Bagaimana pendapat kakak dengan kekalahan ini, dan apa yang harus diperbaiki?"
Satu per satu pertanyaan yang diberikan aku jawab dengan baik dan benar. Lalu tibalah disaat mereka menanyakan orang tuaku yang berkaitan dengan dukungan untuk menjadi pemain timnas.
" Siapa orang yang berpengaruh dalam karir anda? "
"Mereka, ibu, ibu dan bapakku" Sahut ku sambil menarap kepada mereka.
"Apakah mereka orang tua kandung? "
"Menurutku bukan hanya orang tua kandung saja yang mendukung anaknya, tapi orang tua yang baik dan tulus akan berbuat apapun untuk keberhasilan anaknya" Jelasku sambil tersenyum.
Walaupun keluarga bu Yanti bukanlah keluarga kandungku, tapi merekalah yang membuatku bangkit untuk meraih mimpi ini menjadi nyata. Dukungan mereka tidak pernah henti untukku.
__ADS_1
Aku mengenggam erat kedua ibuku, merekalah surga yang Tuhan berikan agar aku selalu melindunginya. Dan merekalah yang akan menjadi tempatku untuk bersandar saat bahu ini sedang lelah.
"Lalu bagaimana keadaan tangan kakak sekarang? Apakah itu sangat menyakitkan? "
"Tidak, yang paling menyakitkan adalah disaat saya gagal membawa tim untuk menang"
Ucapan hati keluar begitu saja dari mulutmu. Tangan ini tidak begitu sakit, namun yang paling sakit adalah hatiku yang terasa masih gagal karena belum menembua target yang diinginkan untuk bangsa ini.
"Baik kak Terima kasih atas waktunya"
"Iya sama-sama"
Wawancara yang menenangkan tapi ternyata tidak sesusah soal yang ada di sekolah. Ternyata aku hanya menjawab sesuai fakta saja lalu selesai.
Malam ini kami semua pulang menggunakan 3 mobil, yaitu mobil Ari, Yuri dan milik ibu. Perjalanan yang cukup jauh dengan memakan waktu sekitar 10 jam dari bandara ke rumah.
"Kak"
"Hmm"
"Apakah kakak suka memiliki adik sepertiku? " Pertanyaan konyol dari gadis kecil yang duduk di sampingku.
"Entahlah, jika kamu nakal mungkin aku tidak menyukainya" Sahut ku sambil menyembunyikan senyum.
"Tenang saja, aku berjanji tidak akan nakal. Dan aku akan menuruti permintaanmu kak" Aku kembali tersenyum dan mengelus lembut kepalanya.
Ternyata anak ini sifatnya hampir mirip dneganku, dia adalah anak yang lucu dan periang. Untung saja tidak mirip dengan ayahnya yang kejam.
Melihat dirinya seakan melihat masa kecilku. Gadis cantik dan mungil, selalu banyak pertanyaan yang melintas di benaknya. Karena di umur mereka memiliki rasa keingintahuan yang sangat tinggi.
"Sudahlah tidur, karena perjalanan cukup jauh"
"Apakah aku boleh bersandar dalam pelukan kakak? " Anak ini ada-ada saja.
Sepertinya dia merindukan seorang kakak, sedangkan aku merindukan seorang adik. Keluarga yang cukup hangat, dan aku menyetujui ucapannya.
"Tidurlah, tapi ingat jangan menyentuh lenganku"
"Oke siap laksanakan. Aku akan berhati-hati"
Entah kenapa hariku sangat senang walaupun saat ini kalah tapi setidaknya aku memiliki kenyaaman dari mereka semua. Yang merelakan waktunya untuk menjemputku di bandara.
"Bu, Terima kasih"
"Untuk apa? "
"Karena telah melahirkan Kaira untukku" Ibu tersenyum.
Malam ini di perjalanan, aku tenggelam dalam pelukan kehangatan ibu. Aku bersandar pada ibu dan Kaira bersandar padaku. Benar-benar keluarga tempat ternyaman saat kita pulang.
"Tidurlah nak, ibu akan selalu bersamamu" Ucap ibu sambil mengelus rambutku. Kehangatan itu mengingatkan semuanya di masa lalu.
Di rumah
Perjalanan yang cukup panjang. Saat ingin masuk perkampungan, banyak warga yang menyambut dengan banner dan gambar timnas wanita.
Aku benar-benar terharu, karena mereka sangat antusias menyambut ku. Dan aku juga malu karena belum bisa berhasil membawa nama Indonesia untuk menjadi pemenang.
"Keyla, keyla, keyla"
"Keyla" Sorakan itu kembali diteriakkan.
Aku mengingat pada saat juara 1 untuk tim kota, mereka menyambut dengan bahagia. Dan sekarang mereka menyambut ku kembali dengan sorakan yang meriah.
"Bu, lihatlah. Mereka tidak akan memandangmu sebagai pelacur lagi. Dan sekarang ibu tinggallah disini, jangan pernah pergi jauh" Ucapku pada ibu.
"Terima kasih nak, ibu tidak akan meninggalkanmu lagi" Ibu tak kuasa menahan tangis. Matanya sembab dan angannya berkeliaran. Mungkin memikirkan masa lalunya.
Ibu kembali memelukku dengan erat. Matanya seakan mengatakan bahwa tidak akan pergi lagi dari hidupku.
__ADS_1
"Haiii, Hai ibu, bapak, Teman-teman" Sambutan yang meriah membuatku merasa haru. Aku menyapanya dengan lambaian tangan dari dalam mobil.
Sesampainya di rumahku, ternyata sudah banyak dari mereka yang menyambutnya. Ternyata tidak jadi juara saja dihargai seperti ini, apalagi menjadi juara.
Aku senang sekarang kehidpanku berubah dari kehidupan yang dulu. Kehidupan sunyi yang penuh cacian kini berubah menjadi sorakan yang penuh dengan pujian.
"Pak Terima kasih atas semua ini" Ucapku pada bapak kepala desa yang ikut menyambut kedatangan ku hari ini.
"Seharusnya kami yang terima kasih, karena walaupun timnas kalah setidaknya komentar menyebutkan kampung kita saat namamu di sebutkan Keyla" Aku tersenyum.
"Tanganmu bagaimana? "
"Tenang saja pak, mungkin butuh beberapa bulan akan pulih" Ucapku lalu tersenyum.
Banyak yang meminta tanda tangan padaku. Untung saja yang terluka tangan kiri jadi aku bisa memberikan tandatangan untuk mereka.
Beberapa dari mereka juga ingin foto bersama. Dalam sekejap aku menjadi pemain wanita yang diidolakan banyak orang. Bahkan keluarga tim tarkam juga ikut datang menyambut.
Bukan hanya itu saja, keluarga Ari dan Yuri sangat senang hadir di rumahku. Memberikan selamat atas keberhasilan masuk dalam timnas. Mereka bilang kegagalan adalah awal dari kebangkitan hati yang tidak pernah patah semangat.
"Nak, ibu janji akan menjagamu"
"Bu, kita bisa memulai hidup baru lagi" Ibu tersenyum dan memelukku.
Aku melangkah menuju keluarga bu Yanti, lalu mengajak mereka semua berforo bersama. Keluargaku, keluarga Yuri, keluarga Ari, dan keluarga bu Yanti.
Ini adalah momen perkumpulan keluarga yang akan aku kenang sampai kapanpun. Jiwa mereka adalah jiwaku, tawa mereka adalah tawa ku dan tangis mereka adalah tangisku.
Pagi
"Bu, key berangkat dulu ya"
"Ehhh tunggu, ambil bekalmu" Aku tersenyum, kekosongan dalam hidupku kini mulai terisi walaupun hanya tinggal bersama ibu dan Kaira.
"Kenapa ibu memasak, kaki ibu.... "
"Tenang saja, yang terluka kaki ibu bukan tangan ibu. Jadi bisa menggoreng dan memasak nasi" Ucapnya tersenyum kebahagiaan.
Sangat lama aku menginginkan ini semua, dan sekarang aku merasakan itu dengan suasana yang berbeda. Ibu memasak untukku dan Kaira dengan menggunakan kursi roda. Namun semangatnya masih tetap sama seperti dahulu.
Terkadang dalam diam aku merasa sedih melihat keadaan ibu, namun dalam ketenangan aku merasakan gembira karena Tuhan telah mengembalikan mereka dalam hidupku.
"Kakak tunggu"
"Ada apa kaira? "
"Aku mau memelukmu boleh? Karena saat ayah berangkat kerja dia pasti memelukku" Ucapan sederhana yang sangat bermakna.
Hingga saat ini Kaira tidak tau jika ayahnya telah dipenjara. Ibu selalu berkata jika ayah Kaira sedang berada di luar kota dan akan pulang dalam waktu lama.
"Kemarilah adikku sayang"
"Yeyyy" Tawanya yang ceria, dia berlari dan memelukku dengan erat. Sedangkan ibu menatap kehangatan kami berdua dari balik tembok.
Aku telah bersalah karena pernah merasakan iri pada gadis kecil ini. Aku tidak akan iri lagi padanya, dan serang kami adalah saudara yang tidak dapat dipisahkan.
"Kamu jangan nakal di sekolah ya, dan ingat dengarkan ibu guru disana"
"Siap kakakku" Menjewer pipinya yang sangat menggemaskan adalah kesenangan ku.
"Dadah" Lamabaian tangan mungil dengan senyum yang khas selalu menjadi kesenangan tersendiri.
"Ibu, bapak"
"Eh Keyla"
"Key mau berangkat sekolah dulu ya"
"Iya hari-hati di jalan nak" Pelukan itu tidak akan hilang walaupun mereka berdua bukan orangtua kandungku.
"Eh sebentar, ini uang sakunya"
"Tidak bu, Keyla sudah punya banyak uang dan tidak perlu uang saku. Lebih baik ibu simpan ini ya" Kebiasaan ibu memberiku uang saku setiap berangkat sekolah.
Sekarang sudah berbeda lagi karena aku sudah mendapat uang saku dari ibu kandungku dan juga mendapatkan uang saku dari negara.
"Baiklah, nanti jangan lupa makan di warung ibu sepulang sekolah ya"
"Siap bu" Sahut ku dengan tawa.
"Nak, jangan lupa nonton bareng chelsea vs Mu"
"Oke Pak" Kebahagiaan dan kehangatan tidak akan pernah hilang sampai kapanpun.
"Pasti mbak Nike dan mbak Yeni masih tertidur ya bu? "
"Iya, itu di kamar" Aku tersenyum licik.
__ADS_1
Masuk ke dalam kamar mereka adalah caraku untuk melancarkan aksi nakal ini. Aku rindu dengan kejahilan mereka berdua. Karena kepergianku ke timnas cukup lama. Jadi aku akan memanfaatkan waktu sebelum kembali ke klub asalku lagi.