Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
80. Undangan Dari Kak Dika


__ADS_3

Aku sangat bersyukur pria itu pergi dan meninggalkan diriku bersama David disini. Aku sangat membenci perilakunya yang memaksa agar aku mau ikut bersama dia.


"Hfffuuuuu" Menghela nafas dengan lega karena Reyhan sudah pergi jauh dari hadapanku.


"Kenapa key? " Tanya David saat aku terus celingkuan untuk memastikan bahwa Reyhan benar-benar pergi.


"Gila vid, dia itu gila" Aku menceritakan dengan serius pada David tentang kegilaan Reyhan yang memiliki dua kepribadian ganda. Bahkan aku cerita padanya kalau Reyhan selalu mengejarku saat latihan ataupun setelah pertandingan.


"Hmmm, pantas saja wajahmu ketakutan"


"Iya, aku takut dia nekad. Untung saja ada kamu yang datang tiba-tiba" Sahut ku


"Iya kamukan pacar aku" Ucapnya dengan senyuman yang membuatku benar-benar geli.


*plak* pukulan keras mendarat di punggung David.


"Aduh, sakit Key" teriaknya renyah.


"Makanya aku itu bukan pacarmu" Jawabku dengan ketus sambil melihat ke arah Reyhan pergi.


"Kalau bukan pacar lalu kenapa gandeng aku daritadi? " Aku lupa tanganku masih menggandeng lengan David dengan erat. Spontan aku langsung melepaskannya dan tersenyum malu.


"Maaf, maaf, tadi aku pura-pura" Ucapku sambil tersenyum malu.


"Beneran gapapa kali Key" Gumamnya kecil berbisik mendekati telingaku.


"Apa? "


"Ah, tidak ada key" Kamu pikir aku tidak mendengarnya, dasar David.


"Yaudah ayo naik" Aku ikut bersama David. Menaiki motor sambil menikmati malam.


Saat di motor, David cerita bahwa dia sedang mengunjungi saudaranya yang tinggal di kampung ini. Saat ingin pulang, dia tidak sengaja melihatku yang berdiri di samping jalan bersama Reyhan. Akhirnya David menghpiriku.


Untung saja Tuhan menyelamatkan diriku yang malang dengan adanya kedatangan David. Jadi Reyhan pergi dan meninggalkanku. Rasanya seram melihat tingkah laku aneh yang Reyhan tunjukkan. Kadang baik dan kadang juga buruk.


*crittt* David memberhentikan motornya secara mendadak. Membuat kepalaku terbentur dengan punggungnya.


"Aduh, kalau berhenti bilang-bilang dong" Bentak ku padanya sambil memukul kesal pada punggung David.


"Makanya pegangan key" Dia turun dari motor begitu juga aku mengikutinya. Kami turun di depan penjual nasi goreng.


"Makan dulu yuk" Aku tercengang melihat perilaku David yang ramah.


Sedikit aku merasa sangat bahagia setelah sekian lama berpisah dan akhirnya kembali naik kendaraan bersama David. Rasanya aku kembali pada masa dulu saat menaiki sepeda jatuh di tengah-tengah senja yang sudah tenggelam.


"Key, ayo makan" Bertanya padaku yang masih melamun.


"Eh iya, kamu aja" Aku merasa tidak nyaman makan berdua bersama David. Entah mengapa rasanya sangat canggung, apa mungkin karena semuanya sudah berbeda dan berubah.


"Sudah sini, aku memesan dua porsi untuk kita"


"Baiklah" Ucapku sambil tersenyum dan duduk di samping David.


Hatiku senang sekali saat bersama David kali ini. Entah apa yang membuatku senang, apakah hati ini sudah memaafkan David atau rasa cinta mengalahkan semuanya.


Duduk berdua sambil menunggu pesanan nasi goreng matang. Sesekali aku menatap David yang sibuk memainkan ponselnya. Jika boleh jujur, terakhir kali aku makan bersama David di pedagang kaki lima yaitu bersama Riki dan pak Abi. Kali ini kami berdua mengulanginya.


"Vid,"


"Hmm"


"Aku mau tanya, kenapa kamu menghindar dariku saat kamu baru datang dari Eropa? " David meletakkan ponselnya dan fokus menatapku. Sejenak dia menghela nafas panjang dan mencoba menatapku secara dalam-dalam.


Apa mungkin David akan berbicara serius. Tentang adel, tentang keluarga atau tentang ayahnya. Aku juga fokus melihat David yang ingin berbicara.


"Karena, wajah kamu berubah" Aku terkejut mendengarkan pernyataan David padahal wajahku dari dulu gini-gini saja tidak pernah berubah.


"Mana ada, kamu pikir aku power rangers" Bentak ku kesal. Sudah mencoba mendengarkan serius eh jawaban dia bermain-main.


"Udah makan dulu nasinya, jangan marah terus nanti kamu cepat tua" Dia memberikan sepiring nasi dan teh hangat. Sekaligus mengejekku.


Aku memakan nasi dengan kesal karena David. Lalu mencoba tenang untuk menikmati makanan. Tiba-tiba otakku berputar kembali, aku mengingat lelaki yang pernah menolongku dari tangan orang jahat di depan tempat haram saat aku mencari ibu pada malam hari.


"Oh iya, aku pernah ditolong sama seseorang di suatu tempat dan matanya mirip kamu"


*Uhukkk, uhukkkk* David tersedak saat mendengarkan pernyataan yang aku ucapkan.


"Minum dulu, minum dulu" Memberikan segelas air teh agar bisa meredakan tenggorokan nya. Tidak ada angin dan tidak ada hujan dirinya tersedak minuman sehangat ini.


"Baru juga ditanya gitu udah tersedak, Jangan-jangan itu kamu ya" Tatapanku menyelidik pada David. Dia memalingkan wajah dan pura-pura makan.


"Ayo jawab"


"Mana aku tau, ayo makan saja" Kami melanjutkan makan.


POV DAVID


"Jangan-jangan itu kamu ya? " Pertanyaan key terus saja terngiang-ngiang di telingaku. Andai kamu tau key, itu adalah aku. Sebenrnya aku sudah lama ada di Indonesia. Melihatmu dari jarak jauh dan selalu ingin melindungimu kapanpun. Tapi sayang waktu tidak memperbolehkanku.


Ayah selalu menentang jika aku bersamamu, bahkan dia mengancam akan menghancurkan semua karirmu. Entah apa yang ada di pikiran ayah, dia terus saja ingin memisahkan aku denganmu key.


Andai saja aku bisa memilih, sudah pasti aku memilihmu. Dan tidak akan bertunangan dengan Adel. Sampai saat ini cintaku hanya untukmu key, tidak ada yang lain.


Hari ini aku senang bisa bersamamu, makan berdua naik motor berdua. Dan bisa dekat denganmu, bahkan aku sangat senang saat bibirmu berkata aku adalah kekasihmu key. Setidaknya aku menikmati walau hanya hari ini saja.


POV DAVID SELESAI

__ADS_1


Setelah makan kami kembali pulang. Untung saja aku tadi menghubungi Ibu. Soalnya pulang terlambat karena makan dengan David.


Di perjalanan kami diam-diam saja. Tapi dihatiku tidak bisa bohong karena menyukai suasana saat ini. Hatiku masih ragu dan takut untuk mendekati David. Takut jika Adel melihat dan mengancamnya kembali.


"Key"


"Hmmm"


"Kok diem aja sih, kamu kenapa"


"Sariawan"


"Ayo ke apotik dulu key"


"Tidak usah, aku mau istirahat capek" Sahut ku masih dengan nada ketus padanya.


Akhirnya kami sampai ke rumah ibu, sekarang aku berani membawa teman-teman kesini. Karena semenjak aku dekat sama ibu, semakin sedikit bibir tetangga berbicara tentangku bahkan sudah hampir tidak lagi terdengar lagi untuk menggunjingku. Mungkin dia sangat menghormati ibu.


"Kamu mau masuk dulu gak" Aku menawarinya hanya basa-basi saja. Sebagai tanda Terima kasih karena telah mebantuku untuk pulang.


"Lain kali saja key, soalnya aku masih ada keperluan" Aku mengangguk mengerti. Syukurlah David tidak mampir karena aku hanya basa-basi saja.


"Makasih ya sudah anterin aku vid"


"Iya key, Sama-sama" sahutnya.


"Dahh, Hati-hati ya vid" Aku melambaikan tangan saat melihat David ingin pergi.


Saat masuk ke rumah untuk menemui ibu ternyata mbak Nike dan mbak Yeni sudah memantau di balik jedela. Kesal sekali, pasti mereka akan mengejekku lagi. Selalu saja mereka menggoda ku saat ada seorang lelaki yang datang di rumah ini.


Memang mereka tidak ada kerjaan selain menggoda adik bungsunya. Dan hal itulah yang membuat kami semakin dekat. Tapi sampai hari ini aku tidak pernah bercerita tentang pacar atau lelaki yang aku suka. Karena memang saat ini aku tidak pernah punya pacar.


Selanjutnya aku akan menemui ibu dan bapak, lalu pulang ke rumah dan beristirahat. Besok akan kembali ke sekolah, melakukan latihan di rumah saya sore, dan bertanding di esok hari. Semuanya sudah terjadwal jelas di tulisan jadwal harianku.




Pagi yang cerah, hari ini aku naik angkot. Sebenarnya aku tidak ingin sekolah karena bapak sedang jatuh sakit. Tapi kata ibu aku harus sekolah dengan baik dan jangan meninggalkan pendidikan.



"Kiri bang" Turun dari angkot dan melihat sekitar.



Jika sudah ku rasa aman dari wajah ayah lalu langkahku segera berlari masuk. Aku sangat malas jika bertemu ayah, kapanpun dan di manapun.



"Hatiku tidak menentu, kenapa masih kepikiran bapak ya. Ya Allah, semoga bapak baik-baik saja" Tidak tenang rasanya saat bersekolah dan meninggalkan bapak yang sedang sakit. Semoga saja bapak baik-baik saja.




"Hahahhaha" Adel dan Rena bekerja sama untuk menyiram ku saat langkahku tiba di lorong kelas. Mereka berdua tertawa melihat bajuku yang basah. Untung saja tasku masih bisa terselamatkan.



"Kalian maunya apa sih" Aku menghampiri mereka berdua dengan marah. Tanganku memegang kerah Adel dan Rena secara bersamaan.



"Wah wah wah, kita kan becanda kali Key" Sahut Rena dengan santainya.


"Iya, santai aja kali" Sambung Adel padaku. Tapi dengan geram tanganku masih mencengkeram kerah baju mereka.



"Becanda ya" Aku melepaskan genggamanku pada kerah mereka. Bergegas mengambil seember air dari kamar mandi. sedangkan mereka masih tertawa keras. Mungkin mereka pikir aku akan pergi begitu saja, tapi tidak ada kata bahwa key hanya diam dan cupu.



\*swarrrrr\*



"Aaa Key, make up ku"


"Aaa, gila kamu Key bajuku basah" Rena dan Adel berteriak sekencang-kencangnya hingga mengundang beberapa siswa yang ada di dalam kelas pada pagi ini.



"Duh kasian, make up kamu luntur. Coba ngaca, wajahmu kaya mbak kunti. Hihihihihi" Aku mengejeknya habis-habisan saat melihat wajah mereka seperti orang gila karena make-up nya luntur.



"Awas aja aku pukul kamu" Tangan Adel ingin memukul ku tapi ada yang menahannya. Saat aku melihat ternyata kak Dika.



"Kamu ngapain del, jika mau pukul Key apakah kamu siap menerima hukuman?. Karena di sini ada CCTV jadi kelihatan yang salah sebenarnya adalah kamu dan Rena"



Kak Dika menasehati sekaligus mengancam mereka. Untung saja ada CCTV jadi mereka tidak berani melakukan apapun padaku. Karena mereka tau bahwa aku tidak akan membalas pukulan itu.

__ADS_1



"Ihhhh, kak Dika ngapain sih belain dia. Sebel sekali, ayo Rena kita pergi" Aku tersenyum melihat perilaku mereka yang kocak. Biasanya ingin ngakak.



"Kamu gapapa? "


"Tidak kak, aku tidak apa-apa. Makasih ya" Ucapku singkat dan bergegas pergi untuk mengganti baju.



"Tunggu key, kenapa akhir-akhir ini kamu selalu menghindari ku. Salahku apa key" Langkahku terhenti mendengar pertanyaan dari kak Dika. Mungkin dia sudah merasa bahwa aku sering menghindar darinya.



Andai kak Dika tau, bahwa ayah kak Dika adalah ayahku jug. Aku tidak mengerti mengapa keluarga kak Dika merebut kebahagian kecil yang aku punya saat itu. Hingga aku harus menghadapi kerasnya dunia tanpa ayah.



"Gapapa kok kak" Jawabku singkat.



"Kalau kamu tidak ada masalah denganku, aku harap kamu datang nanti malam ke pesta pernikahan papa dan mamaku" Hatiku terasa sakit saat mendengarnya.



Bagaimana bisa seorang anak datang ke pesta pernikahan ayahnya sendiri tapi dengan orang lain bukan dengan ibu. Apakah ayah akan menguji amarahku nanti malam ataukah aku yang harus bertahan untuk diam.



"Kok saya kak? " Tanyaku heran, mengapa harus aku yang dia undang.



"Aku juga ngundang Yuri sama Ari kok, dan teman-teman dekatku di kelas 3"


"Tapi kan... " Belum selesai aku berbicara, kak Dika memberikan undangan padaku.



"Sudahlah, ganti bajumu agar tidak masuk angin" Dia langsung pergi meninggalkanku sendiri.



Aku bergegas ke gudang tempat penyimpanan baju bekas, mengganti baju yang basah agar tidak masuk angin. Memang ya Rena sama Adel selalu saja bikin ulah. Andai saja aku tidak memikirkan harga diri ibu dan bapak, sudah pasti aku tonjok mereka berdua.



"Key, bajumu basah" Tanya Yuri saat aku baru masuk kelas.



"Darimana kamu tau? "


"Kak Dika memberitahuku lewat pesan"


"Oh" Jawabku singkat sambil meletakkan tas dan duduk di kursi.



Mataku mencari-cari David tapi dia belum datang, biasanya dia datang pagi dan duduk di bangku sambil menggambar. Aduhhh, kenapa aku memikirkannya tidak seperti biasa.



"Key, jawabnya oh doang sih" Kesal Yuri padaku


"Yah mau jawab apa lagi coba, eh bentar Ari mana? " Ari juga sama belum datang, apa mungkin dia terlambat. Biasanya kalau dia terlambat berarti ada masalah sama bannya.



"Gak tau, dia juga tidak menelpon ku" Jadi kepikiran karena Ari biasanya mengirim pesan kalau terjadi sesuatu.



\*ting\* pesan Ari masuk dalam grub.



\*Yuri, key, hari ini aku absen karena sakit. Kalian tenang saja aku akan masuk besok kok\* Ari mengirimkan pesan singkat, tapi masih sama aku dan Yuri berada dalam kekhawatiran padanya.



"Nanti sore kita ke rumahnya saja" Ucapku, karena aku khawatir takut Ari kenapa-napa.



"Iya bener juga, aku khawatir dengan Ari key" Sahut Yuri. Belum selesai dia bicara, Ari mengirim pesan kembali yang berisikan bahwa aku dan Yuri jangan ke rumahnya karena dia lagi berobat sekaligus ke rumah neneknya.



"Key, lihat pesan Ari"


"Iya, kita doakan saja agar dia cepat sembuh" Bagaimanapun juga aku dan Yuri menghargai keinginan Ari, tapi rasanya aneh. Dia bilang sakit dan kenapa dia harus berobat ke sana. Padahal masih ada rumah sakit yang dekat.


__ADS_1


~~~~ BERSAMBUNG ~~~~


__ADS_2