
Mata ibu meyakinkan ku bahwa dirinya berbicara benar. Dia berkata bahwa mengetahuinya sendiri karena selama ini dia selalu memata-matai suaminya.
"Maaf karena ibu tidak bisa mencegahnya agar dia tidak melukaimu nak. Karena ibu baru mengetahui hal ini saat dia akan menculik serta membunuhmu" Aku sangat terkejut mendengarnya.
Penjelasan ibu juga berkaitan dengan hal yang sudah Ani alami. Yaitu penculikan dan ingin membunuh Ani. Ternyata dalang ini semua adalah suami ibu saat ini.
Aku tidak tau hal apa yang harus ku lakukan, memaafkan ibu kah atau mencoba cari cara untuk menangkal penjahat itu. Karenanya aku hampir kehilangan salah satu sahabatku, dan bahkan dia juga sering menabrak ku.
"Lalu, apa lagi yang ibu ketahui? " Aku semakin ingin mendengarkan cerita ibu dari awal hingga akhir.
"Ibu sudah menulis semua dalam surat. Dan ibu juga memberikan kamu peringatan, walau akhirnya yang terbunuh adalah teman satu tim kamu nak" Jelas ibu.
Sekarang aku mengerti bahwa ibu mengetahui semua dan menulis dalam surat itu. Aku terdiam karena tidak ada satupun surat yang aku buka hingga saat ini.
Dan juga ibu mengetahui bahwa ani telah meninggal, padahal dia masih hidup karena Prabu gagal membunuh Ani. Lebih tepatnya anak buah Prabu terlalu bodoh untuk hal itu.
"Kenapa kamu diam, apakah kamu belum membaca surat ibu satupun? " Aku menggeleng.
Wajahku tertunduk karena merasa bersalah pada ibu. Surat satupun tidak pernah aku buka sebab kebencian yang ada mengalahkan semuanya dalam pikiranku yang tidak terlalu jernih.
"Tidak apa-apa, tapi ibu minta maaf atas kematian rekan satu timmu"
"Apakah prabu yang menyuruh anak buahnya membunuh temanku bu? " Aku semakin masuk dalam dunia kehidupan ibu.
"Iya, dia yang menyuruh untuk membunuh temanmu hingga meninggal" Aku sangat bersyukur, ternyata Prabu tidak tau bahwa Ani masih hidup hingga saat ini.
Ibu terus menceritakan semua kebusukan Prabu. Dan ternyata dia bekerjasama dengan Beni, salah satu orang tua dari teman sekolahku. Dan ibu juga menceritakan bahwa Prabu memiliki keponakan yang sekolah di tempat yang sama denganku.
"Apakah ibu tau siapa dia? "
"Dia bernama Adel" Aku menarik nafas sangat dalam dan menghembuskan dengan kasar.
Aku benar-benar terkejut mendengar semuanya. Ternyata Adel adalah keponakan dari om Prabu. Pantas saja sikapnya yang selalu ingin menghancurkan hidupku.
Aku rasa kebenaran akan terungkap satu per satu, perkataan tentang kejahatan Adel akan segera berakhir. Dan akulah yang akan mengakhiri semuanya sebelum terlambat.
"Bu, aku ingin kalian bercerai" Aku tidak ingin ibu mendapatkan rasa sakit saat bersamanya.
"Tidak bisa nak, ibu memiliki seorang anak perempuan yang butuh kasih sayang. Dan dia adalah adikmu" Ibu masih memikirkan anaknya yang sekarang tapi tidak memikirkanku ataupun dirinya.
"Bu aku mohon...... "
"Aduh," Ibu segera melepaskan tanganku yang menggenggam jemari serta lengan ibu untuk memohon agar dia bercerai.
"Ibu kenapa? " Aku heran melihatnya karena ibu terlihat sangat kesakitan.
"Tidak, ibu baik-baik saja" Sahutnya. Namun aku tidak percaya dengan ucapan itu.
Aku segera membuka lengan baju ibu yang panjang. Terlihat jelas bekas pukulan yang membuat kulit putih menjadi lebam dan membiru.
Amarah aku semakin memuncak saat melihat itu, bagaimana bisa ibuku yang cantik terlihat seperti dianiaya. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi pada ibu. Seumur hidup baru kali ini aku melihat luka sebanyak dan spearah itu.
"Siapa yang berani menyakiti ibu?" Hatiku benar khawatir, dan aku yakin bahwa ini ada hubungannya dengan Prabu.
"Tidak Key, ini ibu terjatuh"
"Tidak mungkin" Bantah ku.
Aku segera melihat tangan ibu yang satunya dan ternyata benar juga terdapat bekas pukulan. Segera aku mengelilingi tubuh ibu, bekas itu juga terlihat di belakang kepala ibu.
"Bu jawab, siapa yang melakukan ini. " Aku benar-benar terpukul saat melihat keadaan ibu yang lebih hancur dariku.
"Nak jangan begini ibu baik-baik saja" Ujarnya.
Ibu terus mengatakan padaku bahwa dia baik-baik saja dan tidak ada yang sakit. Padahal sudah terlihat jelas jika di tangannya lebam mengelilingi kulit putih ibu.
"Bu maafin Key yang gak bisa jaga ibu" Aku meluk ibu dengan erat.
Aku menangis dalam pelukannya, baru pertama kali ini aku memeluk ibu dengan rasa bersalah karena membiarkan ibu pergi dan kembali dalam keadaan terluka sperti ini.
Tidak ada satupun seorang anak tega melihat ibunya terluka, walaupun rada benci itu berangsur-angsur hingga saat ini aku masih menginginkan ibu kembali dari lubuk hati paling dalam.
"Pasti ini karena suami ibu kan? " Akhirnya ibu berkata bahwa itu perbuatan suami ibu yang sekarang. Dia selalu ringan tangan dan tidak peduli pada kesehatan ibu. Yang dia pedulikan hanyalah anaknya.
"Bu, Key mohon bercerailah dengannya" Aku duduk bersimpuh di kaki ibu.
Memohon padanya agar dia mau menceraikan lelaki itu yang sudah menyakiti ibu. Aku tidak peduli orang di sekitar yang melihatku bersimpuh memohon pada ibu.
Aku terus meminta dalam hati yang paling dalam agar obu melepaskan ikatan di lingkungan yang toksik. Ibu tidak baik tinggal disana, karena semua lingkungannya terlihat buruk.
"Tidak Key, ibu tidak bisa" Ibu bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja meninggalkanku.
Aku hanya melihat jejak langkah kakinya dan masih berceceran air mata. Aku masih melihat jelas dimatanya yang menyimpan banyak hal namun ia memilih diam.
Begitu besar pengorbanan ibu padaku, dia rela menjalani kehidupan yang buruk demi mendapatkan uang agar aku bisa bersekolah dengan baik hingga saat ini.
"Bu maafin key" Aku benar-benar sangat sakit sekali. Melihat ibu yang melahirkanku disakiti orang lain.
__ADS_1
Aku memang membenci sifatnya karena telah menelantarkan ku. Namun kasih sayang dalam hatiku jauh lebih besar dibandingkan rasa benci. Karena setelah melihat luka itu, rasa benci seakan hilang sepenuhnya dalam benakku.
Di bawah lentera malam yang tidak cukup terang dan ditemani senja yang sebentar lagi akan menghilang. Aku berjalan sendiri sambil merenungi kehidupan yang begitu rumit.
"Kenapa? Kenapa harus begini bu. Andai saja dulu ibu tidak pergi, mungkin tubuh ibu tidak akan terluka" Teriakku pada jalanan luas.
Beberapa dari mereka melihatku sebagai orang gila. Orang gila yang menangisi kehidupan yang belum menemui ujungnya. Dan kehidupan yang melalui banyak lika-liku belum berakhir.
Bahkan awan saja hanya mampu menatap tanpa bicara, rembulan samar-samar segera datang dengan keterangan. Lalu aku? masih membisu dalam pikiran panjang.
"Aku janji akan membawa ibu pergi dari rumah mewah itu. Aku janji bu" Teriakan lebih kencang lagi. Berharap langit mendengarkan semuanya.
*drettt* (dering telepon)
"Ibu" Ternyata ibu menelponku, mungkin dia khawatir karena aku belum pulang sekolah. Dan aku lupa mengabari ibu.
"Halo, assalamu'alaikum nak. Kamu dimana? "
"Waalaikumsalam bu, ini key lagi di jalan. Soalnya habis kerja kelompok sama teman" Lagi-lagi ucapku bohong.
"Baiklah, kamu hati-hati ya pulangnya"
"Iya bu"
Aku selalu saja berbohong pada ibu agar dia tidak khawatir tentang keadaan sedih yang menyelimuti ku saat ini. Biarkan saja aku yang rasa, biar masalah ini membisu dalam kesendirian yang aku jalani.
Tidak lama kemudian gerimis turun secara perlahan. Padahal tadi masih ku lihat senja namun mengapa gerimis datang. Mungkin langit juga ikut meratapi kepedihan hidupku.
"Biarkan aku menikmati setiap tetesmu, agar tangisku tak terlihat" Ucapku dan menadahkan wajah ini ke atas langit.
Setiap tetesan menyentuh kulit dan membuat bibirku kembali tersenyum walau kenyataan begitu sakit. Banyak tugas yang harus aku lakukan agar kehidupan ibu tidak sengsara.
*tinnnn* Sepeda motor yang tidak asing mendekat padaku. Seorang lelaki turun dan membuka helmnya lalu tersenyum menatapku.
"David"
"Mau bermain hujan denganku" Aku tersenyum.
Kami menari di bawah hujan, mengingat kembali saat menari di lapangan bola saat masa kecil dulu. Dengannya semua air mata mengalir dalam aliran hujan. Menari menikmati tirai hujan yang cukup deras.
Percikan genangan air dihentikan oleh kedua kaki insan manusia yang sedang bersenang-senang menikmati setiap tetesan yang turun dari langit. Aku tersenyum pada langit, akhirnya mereka berbicara juga denganku lewat air hujan ini.
"Menarilah, dan jangan lupa tersenyum" Tangan David melebarkan senyumku, seakan dia datang untuk menghapus rasa sedih.
"Yuk pulang" Ajaknya.
Sudah cukup lama kami bermain di bawah hujan yang cukup deras. Sepertinya waktu bermain hujan telah usai dan aku harus kembali pulang agar ibu tidak mencariku.
"Sayang sekali aku masih ingin menikmatinya" Gumamku.
"Hujan memang baik karena bisa menghapus sedih, namun jika terlalu lama itu tidak baik juga karena bisa menimbulkan sedih karena demam" Sahutnya sambil tertawa kecil.
Dan malam ini akhirnya aku pulang bersama David. Melajukan motornya dengan hembusan dingin karena hujan masih belum reda. Senyuman dari setiap bibir dan hati terlihat sangat tentram antara kami berdua.
"Selamat pagi dunia" Teriakku di pagi hari. Badan sudah siap dan bersih karena akan pergi ke sekolah.
Tiada hari tanpa semangat, apalagi bermain bola pasti akan tambah semangat lagi. Senang sekali rasanya menghirup udara segar di pagi ini. Setiap pandangan menyambut indahnya rerumputan menari.
Aku bergegas pergi ke rumah ibu untuk berpamit pergi ke sekolah. Dan selanjutnya berangkat bersama bapak menaiki motor khususnya. Sambil berbicara liar di sepanjang jalan.
Di Sekolah
"Jika suami ibu adalah paman Adel, berarti mereka berdua saling berhubungan agar menjatuhkanku. Lalu siapa Beni yang disebutkan oleh ibu ya? "
Gumamku berbicara dan berunding sendiri di dalam kelas. Aku datang terlalu pagi sehingga mereka belum ada yang mengisi bangku-bangku di sini.
Begitu juga dengan Ari dan Yuri, mereka berdua belum datang juga. Memang dasar tidak disiplin waktu, apalagi Yuri akhir-akhir ini dirinya sering sekali terlambat.
"Sepertinya aku harus menjebak Adel untuk mengetahui siapa orang yang bernama Beni" Gumamku dan menulis nama Prabu dan Beni dalam kertas.
__ADS_1
Tidak lupa juga aku menulis nama Adel sebagai target untukku agar lebih hati-hati saat bertemu dengan mereka. Mereka semua adalah makhluk kejam yang tidak berakal.
Aku akan menyingkirkannya satu per satu agar mereka tidak menganggu ketenangan kehodupanku bersama keluarga yang aku sayangi. Tidak akan aku biarkan lagi rencana pembunuhan yang sama untuk menghabisi hidupku ataupun orang yang aku sayang.
"Keyy, pagiii" Yuri datang dengan wajah yang sangat senang.
Aku langsung membereskan semua ini agar mereka tidak tau bahwa aku sedang melakukan penyelidikan sendiri. Karena aku tidak ingin Ari dan Yuri terlibat.
"Pagi, Ari mana? "
"Sebentar lagi pasti datang" Sahutnya.
Benar saja tidak lama kemudian Ari datang dengan wajah segar di pagi ini. Seperti biasa dengan penampilan yang sama. Namun sudah lama dia membuka kaca matanya dan diganti dengan lensa. Jadi terlihat jelas ketampanannya.
"Oh iya key, kemarin aku lihat kamu naik taksi bersama seseorang. Siapa dia key" Tatapan menyelidik kembali timbul di wajah Ari.
"Darimana kau tau? "
"Jelas aku tau, kemarin aku mampir ke toko roti dan tidak sengaja melihatmu"Jelasnya.
" Oh itu aku sama ibu" Setelah itu Ari terdiam mendengar bahwa aku bersama ibu. Mungkin dia pikir aku bersama ibu Yanti dan bukan dengan ibu kandungku.
"Kemana?" Sudah ku duga, rasa keponya sangat tinggi dan Yuri kembali bertanya.
"Yang jelas tidak ke rumahmu"
"Hahahaha" Tertawa kencang di pagi hari bersama orang-orang konyol yang ada di dekatku ini. Rasanya bahagia sekali tanpa harus ada kata basa-basi lagi.
Tidak lama kemudian aku melihat David datang dan di lengannya menempel sebuah cicak bernama Adel. Dia terus menggeliyat seperti cacing kepanasan.
"Aduh sayangg, tadi kamu kok ngebut banget sih" Ucapnya sambil membetulkan poninya yang cukup berantakan.
Aku, Ari dan Yuri saling bertatapan dan tersenyum secara bersamaan melihat penampilan Adel yang cukup berantakan. Ingin rasanya tertawa namun ditahan dulu saja, karena dia selalu dihiraukan oleh David.
"Eh orang miskin, ngapain tersenyum? Iri ya melihat kecantikanku yang cetar membahenol" Jelasnya yang merasa wanita paling cantik.
"Iya sih cantik, tapi otaknya lebih kosong daripada aku" Sambung Yuri yang membuat beberapa siswa di kelas ikut menertawainya.
"Ihhh kuranga ajar sekali kamu ya........ "
"Kalau mau berantem jangan sama sahabatku, denganku saja" Adel geram dan ingin menampar Yuri.
Sedikit lagi tangannya sampai ke wajah yuri. Namun aku dengan sigap menahan tamparannya itu dan meremas tangan Adel dengan keras. Terlihat senyuman licik di bibirku, sudah lama rasanya tangan ini tidak melemaskan diri.
"Aduhh, sakit key. Lepasin dong" Ketusnya, lalu aku melemparkan tangan Adel dengan keras.
\*plak\* Yuri berdiri dan langsung menampar Adel dengan keras. Aku dan Ari saling menatap dan heran dengan Yuri, ternyata sekarang dia semakin berani. Jika begitu, barulah temanku yang tidak selalu tentang menangis saja.
__ADS_1
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~