Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
30. Kak Dika Suka Padaku?


__ADS_3

Suaraku hampir habis, tetapi pintu itu masih terkunci. Apakah tidak ada orang di luar sana sehingga mereka tidak mendengar suaraku yang sudah kelelan. Aku bingung karena menggunakn cara apapun masih saja sama tidak bisa membuka pintu ini.


"Aaaaaaa" Kesal ku sambil menendang bola yang ada di sana ke sembarang arah.


*brak brak brak*


"Tolong, siapapun yang ada diluar tolong" Teriakku kembali lagi tapi sepertinya sia-sia.


"Siapa di dalam" Mataku terbelalak, sepertinya ada yang datang untuk menolong.


"Tolong, siapapun yang ada di luar tolong bukain pintu"


*klek*


"Key kamu ngapain di sini"


"Alhamdulillah ya Allah" Aku sujud syukur karena Allah mengirimkan orang untuk menolongku keluar dari kegelapan ini. Dia adalah kak Dika.


"Kak makasih banyak ya" Ucapku menghampiri kak Dika yang membuka pintu gudang.


"Kamu ngapain disini ?"


"Saya terkunci kak" Aku menceritakan bahwa ingin meletakkan bola tapi tiba-tiba pintu terkunci dari luar sedangkan aku tidak tau pasti apakah pintu terkunci sendri atau memang ada orang yang sengaja menguncinya.


Aku dan kak Dika keluar dari ruangan. Untung saja ada kak Dika yang ingin meletakkan bola basket karena selesai latihan. Jadi dia mendengar suaraku yang teriak-teriak dan menggedor pintu dari dalam. Dan akhirnya kak Dika sekali lagi Menolongku.


"Kamu pulang sama siapa? " Tanya kak Dika saat kami berjalan melewati lorong kelas menuju gerbang sekolah.


"Naik angkot" Jawabku singkat


"Bareng saja sama aku Key" Lagi-lagi dia menawarkan tumpangan padaku.


"Tidak usah, saya bisa naik angkot sendiri kok"


"Kamu tidak lihat bahwa hari sudah malam dan angkot sudah tidak ada key" Sejenak aku terdiam sambil menatap langit. Rupanya senja telah menghilang.


Bintang bertaburan di atas awan bersanding dengan rembulan. sepertinya mau tidak mau aku ikut kak Dika lagi, tapi sangat malas bila harus menumpang dengannya terus. Disisi lain aku masih tidak suka dengan kak Dika, entah kenapa hatiku tidka pernah baik dan luluh padanya. Disisi lain aku tidak punya pilihan dan harus mau ikut dengannya.


"Kak tunggu, saya mau ikut dengan kakak" Aku menghentikan langkah kak Dika yang berjalan ke parkiran sepeda. Akhirnya aku pulang bersama kak dika lagi. Untungnya rumah kami satu arah tapi rumah kak Dika masih terlalu jauh dibandingkan dengan rumahku.


"Nah gitu dong, kan enak kalau gini" Senyum liciknya kembali terlihat dari bibirnya. Sebenarya aku tidak mau dibonceng oleh kak dika. Tapi tidak ada pilihan lain dan aku harus mengesampingkan egoku daripada harus menanggung resiko menunggu angkot malam-malam yang tidak kunjung datang.


"Kok gak pegangan" Tanyanya saat aku sudah menaiki sepeda motor.


"Saya tidak mau menyebrang" Sahut ku. Kak Dika tiba-tiba langsung melajukan motornya dengan kencang. Aku terkejut dan hampir saja terpental. Tanganku nerpegangan pada pundak kak Dika karena takut terjatuh. Laju motor kak Dika sangant cepat seakan ingin melakukan balap motor saja. Aku mencoba bertahan dengan berpegangan ke pundak kak Dika.


*crittt*


"Astaghfirullah " Ucapku spontan. Tubuhku seakan tertarik ke depan karena ulah kak Dika ngerem mendadak. Punggungnya aku remas dengan sekuat tenaga agar tubuhku tidak menempel dengan badannya.


"Bisa nyetir gak sih" Kesal ku padanya


"Maaf, maaf, tadi ada yang nyeberang" Setelah itu kak Dika kembali melajukan motor itu hingga sampai di persimpangan jalan.


*Crittt*


"Makasih kak" Aku turun dari motor dan mengucapkan terima kasih padanya. Lalu bergegas ingin pulang ke rumah.


"Hah terima kasih saja? " Jawabnya


"Oh iya lupa, ini" Aku kembali menghampirinya lalu memberikan yang 10 ribu sebagai ongkos bensin karena mengantarku.


"Bukan ini key, memangnya aku tukang ojek apa?"


"Lalu? " Tanyaku


"Kamu tidak mau mengajakku ke rumahmu? " Aku terdiam dan mencoba melihat sekitar lingkungan. Menatap kanan kiri sepertinya sepi tidak ada tetangga. Bahkan rumah-rumah sudah tertutup.


"Maaf, bapak sama ibuku lagi keluar, lain kali saja ya kak" Ucapku kembali berbohong padanya


"Tapi key.... "


"Mendingan kakak pulang, lingkungan ini sepi tidak nyaman dilihat oleh para tetangga apalagi sudah malam" Jelasku padanya.


"Baiklah aku pulang dulu ya" Senyumnya melebar pura-pura, meskipun hatinya lagi merenung karena gagal berkunjung ke rumahku.


"Iya Hati-hati kak" Jawabku masih sama dengan nada dingin. Kak Dika melambaikan tangan lalu melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Tapi aku hanya diam dan tidak membalas lambaian tangan itu.


Aku tidak mengerti dengan kak Dika, kenapa dia tiba-tiba datang di kehidupanku. Awalnya dia pemarah padaku, lalu mengantarku dengan baik hingga 2 kali. Apakah ada maksud terselubung atau memang dia benar-benar ikhlas, tapi aku masih tidak mengerti dan tidak ingin terlena begitu saja. Sudahlah mungkin dia hanya ingin menolong sesama manusia saja.


Seperti biasa, ibu menungguku di depan rumahnya. Matanya terlihat khawatir karena aku belum pulang hingga malam. Pikirnya terus mencariku, senyumnya hilang saat menungguku.

__ADS_1


Setelah aku datang, matanya kembali ceria. Senyumnya merekah seperti menyambut anak semata wayangnya. Rasa cemasnya selalu dia berikan padaku, mbak Nike dan mbak Yeni. Tidak pernah membeda-bedakan, karena perasaan seorang ibu tidak akan pernah bohong.


Seperti biasa aku bersalaman pada ibu yang sedang berdiri cemas, lalu kembali pulang ke rumah dengan di bawakan makanan yang ibu masak. Katanya tadi dia masak ikan tongkol kuah pindang yang banyak. Makanya dia memberikan khusus untukku yang sangat menyukai tongkol kuah pindang. Membersihkan diri terlebih dahulu lalu makan masakan ibu yang sangat lezat.


Rasa kenyang membuat kantukku datang. Rasa lelah juga sama ada dalam benakku. Anganku masih terbang, mengapa tadi hanya aku yang disuruh mengambil bola saja. Atau mungkin di lain hari gantian teman-teman yang mengambil bola dan aku yang bermain.


Pikir postif adalah cara yang terbaik untuk mengistirahatkan otak agar tidak terlalu banyak pikiran buruk. Terlelap dalam keheningan malam yang indah. Sengaja aku membuka sedikit jendela agar angin malam masuk dan menyejukkan jiwa.




06.05



Bergegas untuk berangkat pagi ke sekolah. Berlari kecil menuju jalanan dan naik angkot yang sudah datang. Tidak lupa menyapa orang-orang terdekat yang sangat aku cintai. Lalu melihat pemandangan pagi walaupun tak seindah yang dibayangkan. Polisi selalu saja menjadi salah satu hal yang paling dibenci. Kendaraan bermotor bahkan macet. Tapi yang terpenting aku cepat sampai ke sekolah.



Berjalan melewati lorong-lorong kelas. Melangkah sambil bernyanyi untuk menghilangkan suntuk pagi.



\*byurrrrr\*



"Aaaa, astaghfirullah"


"Hahahhahhaha" Gemuruh di lorong kelas berbunyi, saat satu ember air mendarat di bajuku dan membuat semuanya menjadi basah.



Benar-benar pagi yang sial. Semua badanku basah kuyup, mataku terus mencari siapa yang melakukan hal ini. Sekilas mataku melihat ana dan genggnya melewati ku dengan senyum sinis yang dia tunjukkan. Matanya menatap bahagia seakan mengatakan dia selesai melakukan kegiatannya.



\*brakkk\* tendangan yang baik, ember itu mendarat di kepala Ana dan menutupi wajahnya.



"Hahahhaha" Gemuruh tawa kembali semakin ramai menghiasi lorong. Berdiam diri saat dihina bukanlah hal terbaik, tapi melawan adalah cara yang paling baik agar diri tidak selalu dinjak-injak.




\*brak\* Ana melemparkan keras timba itu ke lantai hingga pecah. Aku masih berdiam diri menyaksikan kemarahan Ana. Sungguh lucu anak ini, dia yang bikin ulah malah dia juga yang


meledak akibat Amara hanya sendiri.



"Kurang ajar kamu key"


"Kamu pikir saya akan diam, tidak seniorita" Ejekku pada Ana sambil tersenyum seperti dirinya.



"Aaaaaaaa, rasakan ini"


Teriakan histeris Ana mencoba menendang timba agar terkena kepalaku.



\*blak\*



Timba itu mendarat tapi tidak pada wajahku melainkan pada punggung kak Dika yang mencoba menghalangi. Dia berdiri tepat di depanku, dan tangannya melindungi kepalaku.



"Kamu gapapa? " Tanya kak Dika padaku


"Kakak liat, aku tidak apa-apa kan" kak Dika langsung berbalik menatap Ana.



"Apa maumu Ana"

__ADS_1


"Ini bukan salahku Dika" Tangannya mencoba memegang lengan kak Dika.



"Bukan salahmu yang meletakkan timba di atas dan membuatnya jatuh di tubuh key hingga dia menjadi basah" Amarah kak dika memuncak.



"Tapi itu bukan....... "


"Cukup Ana, aku melihat semuanya. Kamu keterlaluan"


"Tapi Dika, Dika tunggu Aku masih sayang padamu"



"Kita sudah tidak ada hubungan" Tegas kak Dika dan dia langsung membawaku pergi serta melindungi tubuhku dengan jaketnya agar tidak kedinginan. Aku hanya diam dan ikut bersamanya.



Sekarang aku mengerti kenapa ana selalu menyakitiku. Pertama pasti dia dendam akibat dikeluarkan dari keanggotaan OSIS karena aku. Yang kedua mungkin dia merasa kalau aku merebut kak Dika. Padahal aku tidak ada perasaan apapun pada kak Dika. Aku juga tidak tau apa itu cinta atau pacaran. Yang aku tau adalah kasih sayang dan cinta dari tangan seorang ibu yang rela memelukku meskipun aku tidak terlahir dari rahimnya.



"Kamu ambil baju bekas saja di dalam gudang baju, disana masih banyak baju yang layak" Kak Dika membawaku berhenti didepan gudang baju. Benar saja disana saat aku masuk masih banyak baju yang layak pakai. Aku langsung mengambilnya dan berlari ke kamar mandi untuk mengganti baju.



"Nih kak, terimakasih jaketnya" Aku menghampiri kak Dika yang duduk di taman depan toilet. Sepertinya dia menungguku, lalu aku mengembalikan jaketnya dan dia hanya mengambilnya lalu mengangguk.



"Kenapa kak Dika baik banget sama aku? " Tanyaku pada kak Dika. Padahal selama ini aku sudah jutek sama dia. Mungkin rasa kesal ku masih ada tapi kak Dika selalu saja baik dan menolongku.



Kak Dika hanya terdiam tanpa suara. Lalu dia membalikkan tubuhnya hingga berhadapan denganku. Aku terkejut saat dia tiba-tiba menatap tajam mataku. Aku juga tidka mengerti apa yang akan dia lakukan.



"Aku suka sama kamu Key" Aku terkejut mendengarnya. Apa yang dia maksud, kita saja baru kenal dan sebagai senior dan junior lalu apa yang dia pikirkan hingga berkata demikian aku tidak mengerti.



"Maksudnya apa kak?"


"Aku suka sama kamu key, apakah kamu aku jadi pacarku" Tangannya mencoba mengenggam tanganku. Lalu aku menghindar dari dirinya dan beranjak dari tempat duduk.



"Tolong, saya tidak ada waktu untuk bermain rasa. Impian saya masih panjang kak, tolong jangan dihancurkan" Ucapku, karena saat ini aku tidak pernah memikirkan rasa terhadap laki-laki. Entah apa yang ada di pikiranku lain dengan wanita sebaya yang bermain cinta hingga pacaran. Tapi satupun catatan pacaran belum terlintas dalam benak ini.



"Aku tidak ingin menghancurkan impian yang kamu miliki Key, aku cuman ingin mencintaimu dengan sepenuh hati. Perasaanku tidak pernah berbohong saat dekat denganmu aku merasa nyaman key"



"Saya tidak pernah memilih untuk dicintai kak, tapi saya hanya ingin fokus dengan impian saya. Biarlah kita menjadi teman saja kak" Ucapku lalu meninggalkan kak Dika sendirian di sana.



Aku tidak pernah menyangka jika kak Dika secepat itu menyatakan cintanya. Baru saja kami bertemu tapi dia sudah mencintai tanpa mengenal lebih jauh. Aku hanya bisa menolaknya dan menghindar darinya. Mungkin hal itu yang paling baik untuk membuatku lebih nyaman.



Gara-gara kak Dika, fokusku hilang saat pelajaran jam pertama dimulai. Pikirku semakin rata kemana-mana. Tapi mengapa di saat seperti ini aku malah memikirkan David juga. Aku selalu menanti kedatangan David ke kota ini lagi. Aku juga berharap David pulang dan bermain bola bersamaku lagi.



Di pikiranku ada laki-laki yang aku sayangi, Riki,Ari dan David. Hanya mereka yang bisa membuat senyumku kembali. Sedangkan kak Dika aku tidak mengerti mengapa dihatiku tidak pernah ada nama dirinya. Hanya ada beberapa kebaikannya saja yang selalu menolongku saat aku butuh. Tapi namanya tidak melekat hebat seperti sahabatku.



\*tettttttt\*



Bel sekolah berbunyi, pelajaran akhir telah usai dan saatnya kembali bntuk pulang. Seperti biasa aku berjalan di tengah lorong kelas bersama Ari dan Yuri. Kami bertiga selalu bercanda dan tertawa. Tapi hatiku tidak asik untuk di ajak bercanda saat ini. Dan aku hanya memilih diam atau hanya pura-pira tertawa saja.


__ADS_1


~~~~ BERSAMBUNG ~~~~


__ADS_2