
Dia tercengang dan membolak balik tanganku serta melihatnya secara detail untuk memastikan luka yang ada di tangan ini. Sedangkan aku menatap yuri dengan heran.
"Aaaaaaa, hikkssss, hikkksaa" Yuri teriak histeris dan menangis aku bingung apa yang terjadi dengannya.
"Aduh, aduh, kamu ngapain sih Yur tolong diamlah" Aku berusaha menghapus air matanya. dan dia terus saja menangis. Akhirnya aku memeluknya agar dia berhenti dengan tangisan itu. Tapi sepertinya aku tidak dapat menghentikan tangusan Yuri.
"Maafin aku key, aku asik dengan kak Dika dan meninggalkanmu. sekarang aku menyesal karena tidak bisa membantumu saat terjatuh sehingga membuat tanganmu terluka seperti ini"
Meskipun masih dalam tangisan, dia terus mengoceh dengan perhatian dalam tangisnya. Aku ingin tertawa atau bersedih itupun masih berfikir. Ekspresinya sangat lucu dan mampu menghiburku.
"Gapapa kok, aku cuman luka sedikit"
"Aaaaa, hiks.... Hikss.... " Suara tangisan Yuri semakin menjadi-jadi. Aku bingung ingin bicara apa padanya. Melihat wajahnya seperti bayi yang kekurangan susu.
"Itu parah key, aku melihatnya" Melihat tangisannya aku menjadi sedih tapi saat melihat ekspresi dari wajahnya rasanya aku ingin tertawa keras.
"Sudah jangan menangis, mereka melihatmu" Aku mencoba membersihkan air matanya karena teman-teman yang berada di dalam kelas melihat ke arah kami.
"Sebentar, aku hauss. Hiksss... Hiksss" Yuri mengambil air minum sambil menangis. Ternyata orang haus tidak perlu memperhatikan suasana hati. Meskipun masih menangis jika masih haus ya harus minum.
Gara-gara kelakuan Yuri aku tidak jadi sedih. Aku ingin tertawa melihat tingkahnya tapi aku menahan tawa itu. Menarik nafas dalam-dalam sambil menunggu Yuri selesai minum. Sedangkan air matanya masih menetes kembali.
"Ayo keluar, kita basuh wajahmu" Aku menyeretnya untuk keluar kelas. Karena mereka yang sedang membaca buku sangat terganggu dengan teriakan tangis Yuri yang begitu keras.
"Ayo, aku malu. Hikkss" Yuri keluar bersamaku untuk membasuh wajahnya.
Di luar kelas kami berpapasan dengan Ari. Dia menatap kami berdua yang sedang berjalan di hadapannya. Pandangannya tertuju pada Yuri yang sedang menangis dan pada tanganku. Tapi aku tidak memperdulikan itu karena dia berjalan bersama Rena.
"Ayo cepat ri" Rena menarik tangan Ari dengan paksa agar dia melanjutkan jalannya.
Saat aku menoleh ke belakang, rupanya Ari masih tercengang melihat kepergian kami berdua. Aku tau di hati Ari masih memperdulikan kami, tapi yang aku tidak mengerti mengapa Ari semudah itu percaya dengan semua skenario yang dibuat Rena.
Aku mencoba tidak memperdulikan mereka berdua dan bergegas pergi ke dalam toilet bersama Yuri. Disana yuri membasuh wajahnya agar tidak terlihat bekas tangisannya. Aku duduk di atas wastafel menemani Yuri.
"Itu darah apa? " Aku langsung mengalihkan pandangan ke arah yang di tunjuk oleh Yuri. Aku terkejut karena darah itu bekas aku memukul tembok tadi. Aku lupa jika belum menyiramnya.
"Apa mungkin itu darah haid teman-teman" Pertanyaan yang konyol, mana mungkin teman-teman melukiskan darah kotor di atas tembok. Ah dasar yuri!. Memangnya tidak ada cat untuk melukis, sehingga mereka menggunakan darah.
"Lebih baik kita bersihkan saja" Ucapku dan segera mencari kain pel untuk mempermudah membersihkan darah itu. Menyiramnya dengan air hingga bekas darah itu menghilang.
"Apa tidak sebaiknya kita melaporkan ke kepala sekolah key? " Jika kepala sekolah tau maka masalahnya akan panjang. Aku harus menbujuk Yuri agar tidak melakukan hal tersebut.
"Jangan, lebih baik kita bersihkan. Karena kebersihan sebagian dari iman" Tumben bicara ku benar, biasanya melenceng.
"Iya bener juga, ayo kita bersihkan" Yuri membantuku mencari kain pel lalu membersihkan tembok agar darah tersebut menghilang.
"Astaga, katanya pemain bola hebat eh ternyata tukang bersih-bersih kamar mandi" Untung saja aku sudah membersihkan darah di tembok. Hanya saja kain pel tersebut masih aku pegang begitu juga dengan Yuri. Tapi tiba-tiba Rena datang bersama gengnya, padahal baru aja berjalan dengan Ari tapi kenapa cepat sekali dia ke toilet. Mungkin lagi kebelet.
"Sudah key jangan dengarkan" Aku mengangguk mengikuti perkataan Yuri. Mencoba tenang dengan ucapan Rena, salah satu caranya yaitu menarik nafas dalam-dalam lalu menghemnuskannya dengan kasar.
"Lagipula permainanmu itu sudah menurun key, apalagi pas uji coba kemarin eh malah menampilkan performa jelek" Ejekannya terus saja dia lontarkan. Tanganku sudah geram mendengarkan cacian dari bibirnya yang busuk. Tapi hatiku seakan berkata untuk tenang.
"Lebih baik kamu berhenti aja jadi pemain sepak bola dan menjadi apa bestiiiii???? "
"Pembersih toilet"
"Hahahhahahah"
*brakk* kali ini amarahku sudah tidak bisa dibendung. Aku melemparkan alat pel ke lantai dengan keras. Seketika pembicaraan mereka menjadi terhenti dengan tatapan yang ketakutan.
"Jadi tukang bersih-bersih maksud kalian" Aku membidik mata mereka dengan tatapan tajam. Bibirnya membisu ketakutan, dan amarahku sudah memuncak.
__ADS_1
"I... Iya key" Jawab puja dengan polosnya.
*brakk*
"Puja diam" Ucap Rena saat melihat aku memukul pintu toilet dengan keras dan menatap lebih dekat pada mereka hingga langkahnya perlahan mundur.
"Kalian pernah dengar, seorang siswa membunuh temannya sendiri karena suka nyinyir" Aku membuat suara yang menakutkan untuk menakut-nakuti mereka.
"Ti... Ti... Dak key" Jawab Dewi dengan gemetar. Sepertinya ketakutan menghampiri dirinya, begitu juga dengan mereka.
"Biar aku ajarkan" Mengambil alat pel dengan gagang kayu yang begitu kuat. Mataku menatap perlahan dan tersenyum seperti ps*k*pat.
*brakkk* Mencoba memukulnya untuk menguji kekuatan di atas wastafel sekaligus membuat bibir mereka beku karena ketakutan.
"Key, jangan macam-macam. Aku bisa saja melaporkan ini pada Ari biar kamu semakin dibenci" Seperti biasa ancaman Rena selalu membawa nama Ari agar aku berhenti menggertaknya.
"Boleh, silahkan adukan padanya. Aku sudah tidak berteman lagi dengan dia. Lagipula kami sudah tidak bersahabatan lagi sejak lama" Sahut ku sambil mendekat satu langkah kepada mereka. Hingga tubuh mereka sudah menabrak tembok.
"Key " Yuri menggelengkan kepala untuk memberi isyarat agar aku tidak melakukan hal yang bodoh lagi lalu ku balas saja yuri dengan senyuman.
"Aku akan telepon kepala sekolah saja" Ucap Rena sambil mengeluarkan ponselnya.
"Telpon saja, bapak kepala sekolah sedang ada di luar kota jadi tidak bisa diganggu" Kali ini Rena tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Mereka hanya bisa terdiam.
"Sekarang aku ingin tau, siapa yang menguncimu di dalam gudang? " Aku mencoba bertanya tentang masa lalu agar bisa mengungkap kebenaran.
"Aku tidak tau" Mereka masih menutup mulut dan tidak ingin berbicara jujur.
"Bagus, mungkin aku harus memulainya dari Puja dengan mematahkan rusuknya, lalu kakinya dan yang terakhir adalah kepalanya" Aku mendekati Puja karena dialah seorang penakut.
Meskipun dia senirorku saat ini tapi dia hanyalah kacung yang mau jadi pesuruh Rena dan bila digertak sedikit akan merasa ketakutan yang lebih besar. Aku semakin melebihkan pembicaraan agar sangat mirip seperti seorang pe*b*nuh.
"Jangan key, jangan. Oke aku akan beritahu" Puja melihat pada Rena dan Dewi secara bergantian. Kepala mereka saling menggeleng agar Puja tidak mengatakan hal tersebut.
"Gimana puja? " Suaraku melembut seperti merayu mangsanya.
"Rena mengunci dirinya sendiri key karena dia tau bahwa CCTV saat itu sedang mati jadi tidak bisa menemukan pelaku aslinya. Dia juga yang memfitnah kamu dengan adanya gelang yang ditemukan di lorong kelas, aku yang menemukan gelang itu dan aku berikan pada Rena key"
Puja mengungkap semuanya dengan perkataan cepat tanpa bernafas sedikitpun. Mungkin dirinya terlalu takut dengan gertakan ku. Aku dan Yuri saling menatap dan tersenyum kemenangan.
*plak*
"Bodoh kamu Puja" Rena marah karena Puja telah berkata jujur padaku. Aku tersenyum kecil melihat perilakunya, tapi yang paling penting aku sudah memiliki jawabannya.
"Maaf Ren, aku takut dia memukul ku seperti dia memukul Ana dan kamu. Apalagi dia mengancam akan mematahkan rusukku" Rupanya ketakutan Puja membuahkan hasil bagiku. Tidak sia-sia aku menggertaknya.
"Percuma saja Key, walaupun kamu bilang ke Ari pasti dia tidak akan percaya karena dia hanya menuruti perkataanku" Pembicaraannya masih terlihat sombong, sepertinya aku harus memberikan pelajaran.
*brakkk* Lagi-lagi mereka terkejut saat gertakan itu terdengar nyaring.
"Sekali lagi aku katakan, aku akan menjaga Ari. Kapanpun dan dimanapun apalagi dari orang toksik sepertimu Rena" Tatapan itu tidak akan lolos dari pandangan tajam mataku ini.
"Aduh, aduh, sakit key" Rena teriak kesakitan saat tanganku menggenggam erat rambutnya.
"Lepasin key, lepas"
*brak* aku melepaskan rambutnya tapi tiba-tiba Rena menyerang hingga aku tersungkur di atas lantai toilet. Tanganku kembali terbentur ke pintu dan kembali menambah rasa sakit. Sedikit wajahku terlihat meringis kesakitan.
*buk, buk* aku memukulnya dengan keras, amarahku sudah melonjak dan kesabaran ini benar-benar habis.
"Aaaa, sakit key" Dia teriak kesakitan. Tapi Untung saja Yuri menahan agar aku tidak meluapkan semua rasa emosi pada Rena.
__ADS_1
"Rena ayo bangun Ren" Dewi dan Puja menolong Rena untuk berdiri. Aku dan Yuri bergegas untuk pergi dari pertengkaran ini agar emosiku tidak terlalu tinggi.
"Awas kamu key, aku akan membalasmu. Akan aku adukan perbuatanmu kepada kepala sekolah" Mendengar ancaman rena aku tidak takut, tanganku menutup telinga dengan mengejeknya dan pergi dari toilet.
"Key lihat, tanganmu berdarah lagi" Darah di tanganku menembus perban. Mungkin karena pukulan ku pada tembok dan juga gara-gara Rena yang membuat tanganku terbentur. Aku dan Yuri segera menuju ke UKS kembali untuk mengobatinya. Yuri membantuku untuk mengganti perban dengan yang baru.
"Gimana ya caranya kita bicara dengan Ari" Pikirku sambil menahan rasa sakit saat Yuri membalutkan perban.
"Tenang saja key, aku merekamnya" Aku terkejut dan langsung menatap Yuri dengan tatapan tajam.
"Merekamnya? "
Yuri menjelaskan bahwa dia merekam perkataan Puja sebagai tanda bukti untuk ditunjukkan pada Ari. Sudah hampir satu bulan persahabatan kami terpecah belah gara-gara Rena. Kali ini Yuri juga geram tapi tidak bisa melawannya. Makanya Yuri mengambil ponsel dan merekam perkataan Puja dengan baik.
"Kerja bagus"
*prok, prok* aku. melakukan tos keberhasilan bersamanya.
"Aduh, aduh" Saking senangnya aku lupa jika yang digunakan tos bersama Yuri adalah kedua tanganku yang terluka.
"Eh maaf, maaf key"
"Sudahlah, tenang. Hanya sakit sedikit saja"
"Pintar juga kamu Yur" Aku bahagia mendengarkan semua itu, ternyata Yuri meskipun lemot tapi dia menggunakan mode jaringan cepat saat dalam situasi yang darurat. Lumayan juga gerakan Yuri yang bisa menguntungkan.
Kami berjalan dengan wajah yang gembira menuju ke arah kelas. Karena kesabaran sudha berbuah hasil. Dan sebentar lagi skenario dari rena akan dihapuskan sebelum episodenya tamat.
"Eh iya Yur, kamu tau gak kemarin aku lihat pemain timnas mainnya gacor banget Yur" Aku bercerita tentang permainan timnas pada Yuri di dalam kelas sambil duduk berdua.
"Siapa key? "
"Namanya Asnawi Mangkualam, dia bek timnas yang paling aku suka. Semenjak kamu dan Ari memeberikan ponsel, aku jadi suka nonton youtube tentang timnas baik yang dahulu ataupun yang sekarang" Ucapku pada Yuri dengan nada bahagia.
"Aku kurang tau tentang bola, tapi aku suka dengar kamu cerita bola. Apalagi ini pertama kalinya kamu menceritakan ku tentang bola" Sahut Yuri, karena dia sama sekali tidak mengerti bola kecuali dariku.
"Oke aku jelaskan lagi Yur, dan yang paling aku sukai adalah Boaz solosa, dia striker terbaik yang dimiliki timnas pada jamannya. Nanti akan aku tunjukkan vidio saat mereka bermain"
Dengan semangat menceritakan legenda timnas dari papua dengan posisi sebagai striker terbaik pada masa kejayaannya di timnas Indonesia. Yuri semangat mendengarkan ceritaku saat ini, karena menurutnya itu sangat asik.
"Lalu asnawi? "
"Idolaku di permainan timnas saat ini. Aku juga banyak belajar dari dia bahwa saat jatuh harus langsung bangkit jangan pura-pura sakit" jelasku untuk menggambarkan permainan saat Asnawi melakukan mode on dalam timnas.
"Aku ingin lihat wajahnya asnawi key" Ternyata rasa penasaran Yuri sangat besar, aku sudah menduganya.
"Oke, oke, tolong hidupin ponselku dong. Tanganku kayak gini" Dengan tangan yang diperban sangat mempersulit diriku untuk melakukan suatu hal.
Terutama mencari nama sang legenda yaitu boaz salosa dari papua. Penyerang timnas yang sangat berjaya dimasa kejayaannya. Mungkin saat itu umurku masih sekitar 5 tahun, tidak mengenal apa itu bola. Tapi karena jejak digital yang mulai canggih, aku bisa melihat penampilan sang legenda yang paling bagus.
"Wah bagus banget permainannya key"
"Iya Yur, aku sangat mengidolakan nya. Dan selanjutnya adalah Asnawi Mangkualam. Nih coba lihat" Setelah dibantu mengetik nama Boaz dan Asnawi, akhirnya aku menemukan vidio tersebut dan kami menikmati totonan itu bersama.
"Nanti kalo aku jadi pemain timnas, maka aku akan menggunakan nomor punggung 14 seperti Asnawi"
"Mengapa begitu key"
"Biar aku bermain gacor seperti dia"
"Asikkkkkk" Yuri dan aku saling bertepuk tangan dan gembira bersama.
__ADS_1
Kami berdua menikmati tontonan vidio tentang bola. Bukan hanya itu, aku juga memperlihatkan pemain-pemain timnas yang sangat bagus dari masa ke masa. Banyak sang legenda yang berasal dari keluarga sederhana tapi dengan tekad yang kuat, mereka dapat mengharumkan nama bangsa.