Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
146. Buku Taktik


__ADS_3

Sedangkan apa yang dibicarakan Adel juga benar bahwa mereka telah nertunangan. Dan Adel bersekolah di SMA kami, bertujuan untuk menjadi mata-mata David dan terus Menggandengnya agar tidak bersamaku.


"Maaf karena aku selalu berfikiran buruk padamu, karena aku benar-benar di cekik oleh rindu saat itu. Lalu kamu datang dan tiba-tiba tidak mengenaliku" Rasa kekecewaan itu akhirnya berakhir di sini.


Kecewa tentang sakitnya di tinggalkan dan didiamkan membisu dengan memeluk rindu yang mencekam. Sedangkan aku benar-benar menanti kabar darinya hingga bertahun-tahun lamanya.


Bohong bila aku tidka sakit, bila mengingat saat itu menelan kepahitan jahatnya wajah David. Seperti orang asing yang bertatap muka namun diam seribu bahasa.


"Kamu tidak salah Key, aku yang salah karena tidak bisa keluar dari jeratan kemauan papa" Sesak sekali dadaku saat mendengarkan hal itu.


Mungkin benar kata papanya David bahwa kita tidak bisa bersama karena status sosial yang salih bertentangan. Hidup bagaikan langit dan bumi.


"Mungkin benar kata papamu vid untuk meninggalkanku. Karena kita bagaikan langit dan bumi. Dan dirimu lebih cocok dengan Adel daripada aku yang hidup dengan kesederhanaan" Ujarku.


Aku ingin meyakinkan bahwa perkataan papa David benar walau rasanya sangat sakit sekali hatiku saat mengucapkan hal tersebut. Bagaimana tidak, sedangkan aku sangat mencintainya bahkan hingga saat ini tidak ada yang menggantikan David di hatiku.


Berkata jujur itu lebih baik, walaupun menyayat hati yang tak seharusnya di lukai dengan sengaja. Hanya untaian harapan untuk kembali bersamanya lagi.


"Lebih baik kamu menuruti apapun yang diinginkan oleh papamu. Dan mungkin hubungan kita akan berakhir disini saja" Aku tertunduk menahan rasa sakit saat mengatakan semua itu.


"Tidak, kamu salah. Aku akan tetap memilihmu. Karena saat ini hatiku benar-benar tidak bisa dipaksa oleh apapun" David menggenggam kembali tanganku dan memberikan sebuah kotak.


"Bukalah" Aku membuka secara perlahan dan ternyata isinya adalah sebuah kalung yang pernah aku kembalikan padanya.


Aku masih terdiam dan menatap kalung itu dengan banyak pikiran. Aku tidak mengerti apa yang harus aku putuskan saat ini. Aku tidak ingin mengambil jalan salah yang dapat membuat hatiku hancur kembali.


"Apakah kamu mau menjadi kekasihku" Ucapnya dengan tatapan serius.


"Aku belum memikirkan hal itu, mungkin aku akan menjawabnya setelah pertandingan final besok telah dilaksanakan"


Pikirku kosong saat ini, tidak bisa berkata iya ataupun tidak. Aku memutuskan untuk fokus terlebih dahulu untuk final besok lalu aku akan menjawab semua pertanyaan yang David berikan.


Walau saat ini aku melihat kekecewaan yang ditampakkan dari sorot matanya. Mungkin karena aku menunda hal tersebut dan tidak ingin menjawabnya sekarang.


"Baiklah aku mengerti perasaanmu, yang paling penting sekarang kamu sudah mengetahui kesalahpahaman yang telah terjadi" Aku tersenyum mendengar pengertiannya.


"Aku juga membawa sesuatu untukmu key"


David kembali memberikan sebuah buku. Dia bilang buku itu dapat membantuku untuk mempelajari taktik dan strategi baru.


Dia berkata bahwa strategi dan taktik itu dia gambar sendiri dan didapatkan saat membela timnas kemarin serta menggabungkan taktik saat dia belajar bola di luar negeri. Dia sangat pandai menggabungkan semua itu seakan dialah pelatih masa depan nanti. Aku menerimanya dengan senang, karena hal itu sangat aku butuhkan.


Kesalahpahaman menghancurkan sebuah hubungan, namun dirinya masih peduli padaku karena dia meluangkan waktu untuk memberikan kembali buku tentang taktik yang kedua kalinya.


"Terima kasih banyak vid, aku akan mempelajari dan menjaganya" Rasanya sangat canggung, keadaan kita tidak lagi sama seperti dulu walaupun sudah keluar dari kesalahpahaman.


Rasanya aku tidak tau lagi harus bersamanya dan menjalin hubungan teman yang akrab seperti dulu atau tidak. Karena kami berdua masih terasa asing.


"Aku masuk dulu ya ke asrama"


"Tunggu, simpanlah kalung ini dan jangan pikirkan tentangku. Lanjutkan permainanmu dengan baik di final besok" David memberikan kalung itu dan aku mengenggam nya.


"Makasih ya"


"Semangat ya key" Tangannya mengelus lembut rambutku.


Sepertinya dia ingat saat terakhir kali dia mengelus rambut ini di pertandingan tarkam dahulu sebelum David berangkat ke luar negeri. Aku terasa kembali lagi ke waktu itu, diakan kami masih baik-baik saja.


"Vid"


Aku menatapnya dengan emosi yang bercampur aduk. Antara bahagia, kecewa, dan rasanya ingin kembali ke masa kecil yang hanya ada tentang pertengkaran bola bukan perasaan.


"Iya key?" Aku langsung memeluk David seerat mungkin. Aku rindu pelukan itu, aku rindu segalanya tentang David yang dulu.


Entah mengapa butiran air mata tidak terasa menetes dan membasahi bajuku. Hatiku bergetar saat memeluknya, ini seperti mimpi. Dan sekarang mimpi itu menjadi nyata walau tidak pernah ada jawaban tentang rasa antara aku dan David.


"Jaga dieimu baik-baik dan bermainlah besok" Bisik David padaku, dan tangannya membalas pelukan itu.


"Jangan menangis, kamu adalah gadis yang kuat. Dan aku menyukaimu dari dulu" Tangannya sibuk menyeka air mataku untuk menyuruh agar tidak larut dalam kesedihan.


Tapi bagaimana bisa aku menahan, sedangkan dia memegang ketulusan saat bersamaku. Dia akan kembali seperti orang yang aku kenal saat tidka bersama Adel. Aku mengingat semuanya, tentang kebaikan David dan perhatiannya di waktu yang telah lama berlalu.


"Aku ingat saat kamu berkata bahwa aku adalah wanita yang berbeda. Karena menyukai bola serta memiliki semangat yang tinggi untuk bermain bola" Gumamku sambil menahan kesedihan.


Aku memutar memori sedikit agar dia mengingatnya. David hanya tersenyum melihatku.


"Kembalilah ke asrama, jaga kesehatan dan bermainlah dengan baik. Aku akan menonton mungkin besok" Aku mengangguk dan bergegas pergi dari hadapan David.


Sesekali aku menoleh ke belakang untuk melihatnya. Ternyata David masih berdiri dan memperhatikan langkahku pergi. Dia terus melambaikan tangan dan memberikan isyarat agar aku tersenyum kembali.


Di Kamar


"Vid aku janji akan menampilkan permainan terbaik besok, dan aku tidak akan mengecewakanmu vid" Gumamku sambil memegang kalung itu di tangan.


Lalu aku membuka buku yang berisi taktik dan strategi dari David. Aku membaca dan mempelajarinya secara perlahan. Memang waktunya sangat singkat karena besok sudah harus melakukan pertandingan.


Tapi menurutku tidak ada kata terlambat, lebih baik membaca dan mempelajari walaupun sudah terlambat daripada tidak sama sekali. Mataku terus fokus mempelajari hal tersebut sebagai persiapan besok.


"Key, kenapa kamu masih ada di sini. Bukankah lelaki tadi ingin bertemu denganmu? "


"Ah, Lili. Kau membuatku terkejut saja" Aku terkejut dengan kedatangan Lili secara tiba-tiba. Aku pikir dia hantu, ternyata penunggu kamar hehehe.


"Aku sudah bertemu dengannya "

__ADS_1


"Cepat sekali, apakah kau tidak rindu dengan dirinya? " Ucapnya genit sepertinya dia ingin menggodaku. Lili melangkah dan mendekati diriku yang sedang mempelajari buku dari David.


"Apakah kamu tau jika lelaki itu sangat tampan, malam itu kamu bertemu dengan lelaki tampan dan sekarang kamu dicari oleh lelaki tampan. Nyaman sekali hidupmu dikelilingi para lelaki itu"


Sudah menjadi kebiasaan Lili jika berbicara lelaki tampan maka dia akan terus mencari tau tentang lelaki itu. Dia akan sangat tertarik dengan para lelaki yang masuk dalam kriteria penglihatannya. Tapi menurutku hampir semua masuk dalam kriteria Lili.


"Sudahlah, aku ingin istirahat" Malas sekali mendengar ocehan lili yang berbicara tentang lelaki tampan yaitu David.


"Sebentar, itu apa? " Dia mendekat dan melihat buku yang aku bawa. Tatapan yang menyelidik seperti detektif saja.


"Oh ini, buku yang berisi trik dan strategi dalam bola. Kamu bisa mempelajarinya untuk persiapan besok" Jelasku.


Lili masih menatap buku dengan heran. Dia berdiri sambil melihat isi yang terdapat di dalam buku. Gambar dan strategi yang jelas, matanya terpaku menatap itu semua. Tangannya sibuk membolak-balikan lembar per lembar.


"Gila, ini strategi apa? Bagus sekali, lebih baik dirimu tidur saja sobat. Biar aku yang membaca ini semua karena aku tertarik dengan isinya" Lili mendorong agar aku beristirahat. Dan dia telah terpanah oleh isi buku itu.


"Baiklah, aku akan tidur. Bila perlu perlihatkan pula buku itu dengan yang lain" Ucapku dan langsung bergegas pergi ke atas ranjang untuk merebahkan tubuh yang lelah.


"Oke siap" Ucapnya santai dan aku terlelap untuk mengumpulkan energi agar besok bermain dengan gacor.




"Perjuangan kalian tidak mudah hingga menuju ke titik ini. Perjalanan kalian sangat panjang dan butuh perjuangan"



Kami mendengarkan arahan dan nasehat dari pelatih 2 jam sebelum pertandingan dimulai untuk dijadikan bekal. Karena hal itu sangat dibutuhkan untuk membangun mental.



"Sebelum pertandingan saya ingin bertanya pada kalian, apakah ada yang ingin keluar dari tim sebelum masuk ke lapangan? "


"Siap tidak ada Coach" Jawaban yang kompak.



Bibir pelatih tersenyum kecil seakan berbicara bahwa dirinya berhasil mencetak bibit muda yang akan berjuang habis-habisan di babak final ini.



"Bawalah nama kota ini ke puncak turnamen tertinggi, dan berjuanglah hingga keringat kalian mendapatkan tepuk tangan karena kemenangan"



"Sekarang bersiaplah"



Kami semua bersiap dengan semangat, mengganti baju lalu bergegas untuk melakukan pemanasan sebelum pertandingan. Beberapa menit kemudian kami sudah memakai seragam kebanggaan membela kota ini.



"Bismillahirrahmanirrahim ya Allah, berikanlah kemudahan untukku bermain kali ini. Aamiin" Berdoa sebelum melakukan pertandingan adalah ritual yang tidak pernah aku tinggalkan.



\*pritttt\* peluit tanda mulai pertandingan telah di bunyikan. Kami bermain dengan baik sesuai keinginan pelatih. Bermain bertahan lalu menyerang dengan peluang sedikit agar bisa memanfaatkannya dengan baik untuk mencetak gol.



"Sela... " Teriakku dan memberikan operan padanya.



Permainan semakin sengit, permainan kami dan permainan lawan terlihat cukup seimbang. Bermain menyerang dan bertahan sama-sana kuat.



\*bluk\* tendangan bola terlempar jauh ke depan. Penyerang yang kami miliki cukup lincah dan melakukan tugasnya dengan baik. Berlari tanpa bola dan melakukan control yang baik.



\*bluk\*



"Aduh" Gumamku saat melihat bola berhasil di tepis oleh penjaga gawang.



"Ayo semangat, fokus lagi fokus" Teriakku.



Sebagai kapten tim tidaklah mudah. Aku harus memberikan semangat agar permainan mereka tidak kendor dan harus melihat peluang untuk memainkan strategi yang sudah diberikan pelatih.



Aku berharap mereka bermain tenang dan menguasai jalannya pertandingan. Serta mental mereka tidak lemah saat mengalami kegagalan yang berulang dari sebuah percobaan.


__ADS_1


"Hey, go go " Teriakku dengan kode yang ada. Sepertinya mereka mengerti dan melakukan taktik yang telah diajarkan.



"Aduhh, " Belum taktik itu berjalan dengan lancar, tapi striker kami melakukan kesalahan sehingga bola dikuasai oleh tim lawan.



Aku memberikan konsentrasi yang sangat besar. Mata ini tidak lepas dari bola yang menggelinding. Dengan tenang aku membidik bola dari kaki lawan.



\*bluk\* bola berhasil aku tendang keluar dan menghasilkan lemparan ke dalam saja untuk tim lawan.



"Ayo fokuss" Teriakku lagi kepada pemain.



Mereka melakukan lemparan ke dalam dengan baik. Dari sela-sela yang kosong, mereka lepas dari kejaran dan berhasil mendekati kotak pinalty. Aku tidak berhasil menghadang serangan mereka.



\*bluk, bluk, bluk\* permainan taktik dari mereka cukup cantik. Pemain lawan berhasil berhadapan dengan penjaga gawang. Mereka mendekati kotak pinalty.



\*gollll\* gol dihasilkan dari assist yang cantik. Sangat tipis hampir menyentuh pemain lawan dan juga finising berhasil walau sedikit.



"Bangunlah din, tidak apa-apa. Lupakan yang terjadi sekarang dan fokus permainan selanjutnya. Ayo semangat" Ucapku sambil mengangkat dini untuk bangkit setelah gagal menangkap bola.



Tidak ada yang harus di salahkan dalam sebuah permainan bola. karena jika ada kesalahan maka semua akan salah dan mampu memperbaikinya menjadi lebih baik. Dan saat salah satu pemain melakukan kesalahan maka ajak dia bangkit agar mentalnya tetap stail.



Sebagai kapten tim aku harus bisa menularkan semangat pada teman-teman yang bermain. Kesalahan sekarang bukan alasan untuk membuat kesalahan selanjutnya.



"Ayo, ayo semangat" Teriakku pada mereka semua saat pertandingan di mulai kembali.



Di otakku sebelum peluit panjang dibunyikan maka kami belum kalah. Walaupun waktu tinggal 1 menit maka masih ada kesempatan untuk bangkit dari sebuah keterpurukan.



\*pritttt\* permainan kembali dilanjutkan. Kami harus bermain tenang dan tidak gegabah dalam mengambil tindakan.



\*Bluk\*



"Bagus key" Umpan yang cantik tepat sasaran dan di lini depan kembali memainkan bola dengan cantik.



Aku melihat ada banyak sisi peluang apalagi dari sebelah kanan peluang wang besar karena mereka tidak bisa mengimbangi kecepatan dari striker kami.



\*bluk\*



"Aduh, semangat semangat" Teriakku kembali pada saat beberapa striker melakukan finishing kurang baik.



\*pritttt\* permainan babak satu telah usai. Kami segera masuk ke dalam ruang ganti untuk mendapatkan evaluasi dari pelatih.



"Kalian ini bagaimana, melakukan finishing tidak ada yang sempurna. Umpan-umpan dari belakang sudah baik tapi belum bisa dimanfaatkan" Bentakan keras dari pelatih adalah semangat bagi kami.



Semua wajah menatap serius pada bentakan itu. Karena apa yang dibicarakan harus kita ingat dan renungkan untuk melakukan hal yang lebih baik lagi.



"Kamu, kamu dan kalian semua jika tidak bisa bermain dengan baik maka ucapkanlah agar saya bisa menggantinya dengan pemain cadangan" bentakan itu adalah teguran bagi kami yang bermain dengan kurang baik apalagi kekurangan konsentrasi.



~~~~ BERSAMBUNG ~~~~

__ADS_1


__ADS_2