Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
135. Terpuruk


__ADS_3

Dalam pusaran pilu aku memandangi batu nisan dan berbicara padanya. Hanya pada batu nisan dan tanah. Biarlah orang berkata apapun, yang penting aku sedang berbicara dengan Ani. Aku harap dia mendengarnya walau sudah berbeda alam.


"Aku berjanji akan bermain dengan baik dan berusaha untuk menembus ke timnas" Tangan ini mengusap lembut batu nisan yang sudah tertulis nama Ani. Tanganku juga menggenggam tanah kuburnya dengan amarah.


Aku akan mencari orang yang telah membuat Ani seperti ini. Tidak akan aku biarkan mereka hidup tenang dan berfoya-foya sedangkan Ani sudah tidak bernyawa.


"Ani, ini terakhir kalinya aku bersamamu. Sekarang kau sudah tenang di sana bukan? Aku harap begitu, kau duduk bagaikan bidadari di alam sana"


"Nak, ayo pulang" Tutur lembut ibu padaku. Dia membujuk ku untuk tetap sabar dan ikhlas agar Ani senang di alam sana dan tidak mendapatkan beban.


"Berikan Key disini sebentar lagi bu" Aku kembali memeluk. gundukan tanah itu. Bahkan karena ulah mereka, peri Ani tidak dapat di buka hingga aku tidak bisa melihat wajahnya untuk terakhir kali.


"Ayo nak, Ani sudha tenang disana. Jangan biarkan dia bersedih dengan tangisanmu" Aku tersenyum pada Ani, lalu beranjak pergi.


Aku pulang bersama ibu dan bapak. Sesekali aku menoleh ke nisan Ani. Rasanya tidak ingin meninggalkan dia sendirian. Aku hanya ingin dia kembali tertawa bersamaku, menangis saat kemenangan atau kekalahan. Dan tersenyum kebahagiaan saat kemenangan dirayakan.


"Bu, pak, istirahatlah. Aku baik-baik saja dan jangan pikirkan aku terlalu dalam ya" Setelah itu aku langsung pergi dan masuk ke dalam rumah. Di dalam kamar yang sunyi aku duduk sambil kemandangi jendela.


Mengajak bobo untuk berbicara padaku. Mengenai hal tentang Ani, mengapa harus dia yang pergi dahulu. Sedangkan dirinya masih tertawa saat itu denagnku dan sekarang tawanya mendadak hilang ditelan bumi.


"Maaf Ani, aku tidak bisa menjagamu. Karena aku kamu pergi secepat ini. Aaaaaaaa"


*buk, buk, buk* pukulan keras pada tembok membuat tanganku kembali terluka. Awalnya hanya lebam kemudian menjadi darah karena terlalu sering meluapkan amarah pada beton yang rata.


Luapan amarah muncul bersama datangnya rasa bersalah yang sangat dalam. Hatiku tidak tenang, andai saja kemarin aku tidak meninggalkan Ani mungkin kali ini dia tidak akan pergi untuk selamanya.


"Aaaa, ini semua salahmu Key. Ini salahmu"


*buk, buk, buk*


*pyarrrr*


Pukulan dan lemparan barang terus saja aku lakukan. Tapi hati ini belum juga tenang. Aku tidak bisa lari dari semua ini, jika waktu bisa di putaran kembali maka aku akan melindungimu Ani. Aku ingin melihat senyumnya lagi di tempat latihan atau dalam pertandingan.


"Aaaa, kenapa semua terjadi padaku. Aaaaaaa" Teriakan mengisi sesuai kamar yang sunyi, bahkan redup tiada lampu.


Di dalam kamar ini aku seperti orang gila. Suara bisikan seakan memberitahu bahwa ini semua salahku. Aku tidak bisa berpikir jernih, terus saja meluapkan amarah pada benda-benda yang ada di dalam ini.


Tubuh lemas tidak bisa berkutik apapun. Aku tidur di atas lantai dengan terlentang. Menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Pikiran apa yang sedang menggerogoti otak ini dengan tidak jelas. Hingga sepertinya sangat penuh dengan tanda tanya.


"Kau itu pembohong besar Ani, kau tidak menepati janji. Aku akan segera memukulmu" meracau tidak jelas. Sendiri dalam sebuah keputus asaan.


Bohong bila berbicara aku baik-baik saja, sedangkan sahabatku yang paling aku sayang telah pergi untuk selama-lamanya.


Tidak terasa aku terlelap dalam kepedihan yang amat dalam. Kulit ini menyatu dengan dinginnya lantai dan hati ini menyatu dengan dinginnya keadaan.



\*tok, tok, tok\*



"Key bangunlah, Keyla bangun. Kami khawatir dengan mu" Ketukan pintu dan teriakan itu membangunkan ku dalam tidur. Sepertinya hari sudah semakin sore.



Teriakan itu aku mengenalnya, antara teriakan ibu, mbak Nike, Ari dan Yuri. Tapi rasanya hidupku membosankan, semangat itu seakan patah. Dipatahkan oleh kenyataan yang jelas-jelas belum bisa aku terima.



"Key, bangunlah. Keyla, kamu baik-baik saja kan?"



Bukan hanya teriakan di pintu saja yang terdengar. Rupanya ada seseorang yang ikut teriak di samping jendela suara itu seperti bapak dan mbak Yeni.



Aku ingin sendiri hari ini, ingatan tentang Ani belum juga hilang. Bahkan rasanya aku tidak mampu untuk berdiri lagi. Aku lelah dan sangat lelah.



"Key ini aku Ari, jika kamu terus larut dalam kesedihanmu maka Ani tidak akan tenang. Dia butuh ketenangan di dalam sana"



Apa lagi yang harus aku katakan dan aku lakukan. Sedangkan hidupku kacau dengan kepergian Ani, karena kesalahan aku menyebabkan Ani meninggal dan hanya namanya yang kembali tapi jasadnya sudah terkubur dalam-dalam.



\*dretttt, dretttt\* (deringan telepon)



Sudah daritadi ponselku berbunyi di atas kasur. Aku juga tidak memperduliakannya karena aku membutuhkan kesunyian. Aku lelah dengan semua ini, aku orang bodoh yang tidak bisa menjaga sahabatnya sendiri.



"Nak makanlah, sudah dari tadi kamu tidak makan. Ibu sudah membawakan sepiring nasi dan lauk kesukaanmu" Suara lirih ibu membuat hatiku tersentuh. Aku tidak ingin air mata ibu terjatuh sia-sia hanya karena keadaanku yang gila ini.


__ADS_1


\*klek\*



"Nak"


"Key" Mereka berlari ke arahku yang sedang dirundung duka saat ini.



"Ini semua salah Key, Ani gak bakalan meninggal jika Key tidak meninggalkannya kemarin bu" Aku duduk bersimpuh kembali. Seakan otot kaki ini sangat lemah.



"Key, aku tidak percaya jika kamu sepatah ini. Aku mengenalmu dari dulu, kamu anak yang kuat dan tidak mungkin seperti ini. Aku yakin bahwa Ani akan tersenyum bila kamu tersenyum menjalani harimu ini" Ari mendekat dan mencoba menghibur hatiku yang hancur.



Benar kata Ari, aku tidak boleh terlalu larut dalam kepedihan. Tapi bagaimanapun ini semua karena salahku. Aku yang bersalah karena tidak menjaga Ani dengan baik sehingga dia di culik dan pulang tanpa nyawa.



"Saat melihat kamu seperti ini, aku juga merasakan hal yang sama Key. Hatiku juga sangat sakit, karena Ani juga sahabat kami berdua. Hiksss,,hiksss" Sambung Yuri yang ikut duduk bersimpuh di sampingku sambil menangis.



Ari dan Yuri sudah mengenal Ani semenjak aku masuk ke dalam klub tarkam itu. Tapi perkenalan mereka hanya sebatas pertemuan dan menjalin sebagai sahabat. Sedangkan aku yang menjalaninya.



Hampir setiap latihan atau pertandingan, dia akan menjadi sahabat lapangan yang selalu membantu dan bersamaku. Tawa dan senyumnya yang khas masih terngiang dalam benak ini.



"Hmmmmffuuu" Menarik nafas dalam-dalam dan menyandarkan diri pada tembok.



Kepalaku bersandar pada tembok. Menatap sekeliling dengan tatapan kosong tanpa marah. Aku bingung hal apa yang aku pikirkan tapi nyatanya belum ada sesuatu yang dipikirkan. Hanya tentang ani dan ani lagi.



Bibirku terbungkam kembali, tidak bisa mengeluarkan sepatah karapun. Aku ingin melupakannya tapi rasanya sangat sulit dan tidak bisa aku keluarkan kembali kehidupan ceria ini.



"Kalian berdua pulanglah, besok aku akan sekolah" Mungkin itu keputusan yang baik dari mulutku.




"Benarkah? Apakah baik-baik saja"


"Iya Key, apakah kamu baik-baik saja" Aku mengangguk.



Tatapan Yuri dan Ari terasa tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Aku mengatakan hal yang benar dan aku akan menjalani kehidupan yang semestinya.



"Ibu, bapak, mbak Nike dan mbak Yeni. Kalian pulanglah, aku baik-baik saja disini. Aku hanya ingin sendiri" Aku menggenggam tangan ibu, ingin menyampaikan sesuatu bahwa aku sedang dalam keadaan baik.



"Bagaimana kamu baik-baik saja, sedangkan tanganmu terluka saat ini" Ibu adalah orang yang paling siap siaga.



Ibu segera mengambil kota obat untuk mengobati tangan ini. Darah yang mengalir sudah mengering. Denag ketelatenan nya ibu membersihkan secara perlahan.



"Ibu akan bersamamu disini nak"


"Tidak, ibu pulanglah"



Ibu tetap saja ingin tinggal disini menemaniku tapi aku tidak menginginkan itu. Aku tidak ingin ibu direpotkan oleh masalah hidupku yang rumit. Aku hanya ingin ibu dan bapak bahagia, itu saja.



"Tapi nak ibu akan disi... "


"Tidak bu, aku ingin ibu menjaga kesehatan ibu. Key janji tidak akan berbuat macam-macam".



Mataku mencoba berbicara pada mata ibu. Aku ingin ibu tau bahwa aku hanya ingin sendiri kali ini. Aku tidak ingin mereka terbebani karena ulahku.

__ADS_1



"Baiklah, ibu akan pergi. Nanti ibu akan bawakan kembali nasi untukmu nak" Ibu dan keluarga pergi meninggalkan rumah ini. Disini hanya sisa Ari dan Yuri yang sedang duduk mendampingi ku di lantai ini.



Suasana masih dalam keheningan. Tidak ada yang berani membuka suara satupun. Sedangkan aku masih menatap dalam pandangan kosong. Pikiranku belum berjalan normal seperti biasa.



"Key, ini semua bukan salahmu. Ini semua sudah takdir dan kamu harus menerima itu. Kamu harus melanjutkan perjalanan hidupmu dengan baik. Bukankah kamu sudah berjanji pada Ani untuk berjuang menjadi pemain timnas bukan? "



Aku terdiam mendengar ucapan Ari. Perkataannya sangat benar, Ani tidak butuh tangisanku. Tapi dia membutuhkan perjuanganku untuk menggapai cita-citanya.



Memang sangat berbeda antara Ani, Ari dan Yuri. Tapi mereka bertiga sama-sama keluarga dan sahabat terbaikku. Hanya berbeda tentang arti dalam sahabat. Tapi mereka bertiga sangat berpengaruh dalam kehidupanku.



"Benar katamu ri, aku akan bangkit dari kesedihan ini. Aku juga berjanji akan menjaga kalian berdua dengan baik" Aku memeluk ari dan Yuri dalam tangisan.



Aku akan menjaga mereka berdua seperti aku menjaga diriku sendiri. Aku juga akan menjaga keluarga ibu dan tidak ingin mereka ikut sengsara atas kehidupanku. Akan aku pastikan mereka selalu tersenyum bahagia.



"Kalian pulanglah karena hari sudah malam. Besok aku akan sekolah. Biarkan cukup hari ini saja kesedihanku, aku tidak ingin terlalu larut karena aku harus memenuhi janjiku pada Ani dan kalian"



"Baiklah, kami akan pulang, kamu jaga diri baik-baik ya"


"Iya key, kamu harus tetap semangat karena masih ada kami berdua yang akan selalu menghiburmu" sambung yuri.



"Oh iya tanganmu yang terluka jangan sampai terkena air. Perban harus di ganti dan juga diberi obat agar tidak infeksi" Ari memperdulikan luka ini.



Dia yang paling tau tentang luka dan memberikan perhatian tinggi. Aku hanya bisa mengangguk, karena luka di tangan tidak begitu sakit ketimbang luka di hati.



"Pulanglah, aku baik-baik saja" uacapku kembali.



Mereka berdua pulang meninggalkanku sendiri lagi dalam kesunyian. Hanya malam-malam yang cerah diantara bintang yang akan selalu tersenyum menyambut sesorang yang akan bangun dari sakitnya.



Hari yang penuh dengan luka. Sayatan tentang ayah belum usai kini ditambahkan oleh sayatan dari kepergian Ani secara tiba-tiba. Aku harus mencoba tenang, sabar dan ikhlas menghadapi semua.



"Bangunlah Key, jangan terpuruk dalam satu titik. Kau harus bangkit" Gumamku pada diri sendiri.



Aku yakin di balik kesusahan pasti akan ada pelangi di masa depan. Dan aku harus janji pada diriku lu sendiri untuk menjadi lebih kuat dan bangkit dari keterputikan. Biarlah hari ini diselesaikan saat ini juga, dan biarlah hari esok berjalan sesuai aliran kehidupan.



Sekolah SMA A (pagi 06.30)


"Hey hey hey, cupu matamu kenapa? Habis berantem sama preman dan kamu nangis ya"


"Hahaha, iya benar. Sepertinya dia sudah di kalahkan preman dek"


Dengan bahagianya Dewi dan Adel mengejekku yang baru saja tida di sekolah. Pembicaraan mereka memanglah tidak berbobot, makanya mereka berdua mencari sesuatu agar bisa berbicara dengan ketidakjelasannya.


"Astaga, sepertinya mataku benar-benar bengkak" Gumamku dalam hati dan bergegas pergi ke kamar mandi.


"Hey, kami belum selesai bicara main pergi saja" Langkahku berhenti dan kembali menoleh pada mereka berdua.


"A.. Hmm. Maksudku kenapa kamu pergi duluan" Teriaknya ketakutan hingga dia berbicara terbata-bata. Tapi aku tidka memperdulikan itu.


Aku pergi ke kamar mandi. Melihat pantulan wajah ini di depan cermin. Wajahku berubah, tidak ada semangat yang terlihat dan mataku sangatlah besar karena bengkak yang terukir akibat jerit tangis yang tanpa henti.


"Kenapa begini? Sepertinya aku harus membersihkannya" Tanganku menghidupkan kran dan melemparkan air ke wajah untuk membasuhnya agar terlihat lebih semangat lagi.


Aku terus saja membasuh wajah ini dan membersihkannya dengan tisu yang ada. Tapi bengkak di mataku tidak bisa hilang. Sepertinya aku harus berjalan sepanjang hari dengan wajah yang seperti ini.


"Lihatlah Key, sepertinya itu wajah tuamu" Aku berbicara sendiri dalam pantulan cermin. Menatapnya dengan tatapan tajam dan melihat di setiap bagian inci untuk melihat bahwa seperti di tikam penjahat.


Berulang kali aku membasuh nya dengan sabun, lalu membalasnya dan kemudian mengelap dengan tisu. Tapi hasilnya sama saja tidak ada perubahan.

__ADS_1


"Entahlah, mengapa sehancur ini hidupku. Menangis sepanjang hari bagaikan orang gila" Tuturku sambil duduk di atas tempat cuci tangan. Aku paling suka duduk disana karena rasanya lucu.



__ADS_2