
Yuri sekarang bukanlah Yuri yang dulu. Tangannya sigap menampar adel dengan keras sehingga dia kesakitan.
"Aww"
"Bagaimana? Sakit? Itulah yang orang rasakan saat kamu berbuat semena-mena" Ujarnya.
"Kurang ajar, aku akan membalasmu" Adel memberontak dan ingin membalas tamparan Yuri tapi dia lupa jika di dekatnya ada aku yang dapat mencegahnya. Dia tidak bisa berkutik karena kedua tangan Adel aku genggam dengan erat.
Begitu juga dengan David menahan Adel agar tidak mendekat padaku. Lalu dia menyeret Adel keluar dari ruang kelas dan berteriak untuk membalas Yuri hingga menarik perhatian siswa lain. Sungguh konyol kelakuannya mempermalukan dirinya sendiri.
"Gila, kamu kesurupan Yuri? " Ari mendekat pada Yuri dan memegang kepalanya, takutnya ada hal bocor yang membuat Yuri semakin bar bar.
"Bagus Yuri, kalau perlu hajar saja sampai babak belur" Ucapku sambil tertawa.
"Hussss, mulutmu Key. Yuri itu sudah bodoh jangan dibodohi untuk menjadi preman" Sahut Ari dan juga menahan tawa dalam bibirnya.
"Iya sih aku bodoh, tapi preman juga bodoh kok"
"Hahhaha" Lagi-lagi kami berdua dibuat tertawa dengan kepolosan Yuri yang selalu berbicara tanpa berfikir hingga membuat perutku sakit.
Jam istirahat
Bel berbunyi, Ari dan Yuri mengajakku ke kantin. Tapi aku memilih untuk berangkat belakangan karena beralasan ke toilet sebentar, padahal aku ingin menyelidiki tentang siapa Prabu.
"Baiklah key, aku dan Yuri ke kantin dulu ya"
"Oke siap" Sahutku ambil tersenyum.
Setelah mereka keluar dari kelas, Tiba-tiba David berdiri dan menghampiriku. Dia duduk di depan dan menghadap ku. Lalu matanya menatap dan bibirnya tersenyum.
Terkadang David tersenyum tidak kelas bagaikan orang gila saja. Dia orang yang misterius, tersenyum tanpa syarat tiba-tiba datang tak diundang. Rasanya aku takut sendiri melihatnya, lucu sih tapi menyeramkan.
"Apakah ada yang salah denganku? " Tanyaku padanya. Dia hanya menggeleng.
"Lalu? "
"Kamu cantik, baik dan tidak sombong. Apakah bisa menjawab pertanyaan kuis skarang? " Ucapnya dengan senyuman yang lebar.
Aku lupa jika masih memiliki hutang dengan David. Hutang jawaban dari pertanyaannya. Dan kalung itu juga masih ada di tanganku hingga saat ini.
"Baiklah, aku akan menjawabnya" Terlihat wajah David menjadikan jawaban yang akan aku berikan.
Aku memegang tangannya dan mengumpulkan semua tekad dalam hatiku untuk mengatakan hal ini pada David. Semua keberanian telah aku keluarkan.
Berharap apapun yang keluar dari mulut ini bisa diterima David dengan baik. Karena aku telah memikirkan sangat matang kemarin dan tidak bisa di rubah lagi.
"Aku tidak ingin menjadi pacarmu, tapi aku akan menjadi teman baikmu"
Sejenak suasana menjadi diam, tatapan David semakin tajam dan mulutnya mmembeku beberapa detik. Hingga akhirnya dia berbicara kembali.
"Kenapa begitu? Apakah ada yang salah denganku? " Dia benar-benar tidak setuju dengan jawaban yang aku berikan. Dirinya memberontak hingga melepaskan genggaman tanganku.
"Tenang dulu, aku takut jika kita pacaran"
"Kenapa? " Belum selesai aku berbicara, David selalu menyela pembicaraan ku.
"Jadi gini, jika aku pacaran denganmu dan nanti kita putus. Maka aku bukan hanya kehilangan orang yang aku sayang melainkan juga akan kehilangan teman yang paling aku sayang seperti kamu vid" Jelasku padanya.
Itulah alasanku menolak David karena tidak ingin bermusuhan lagi dengannya. Apalagi aku merasa nyaman berada di samping David walaupun hanya sebatas teman dekat.
Aku juga menjelaskan bahwa bersama dengannya adalah sebuah ketenangan untukku. Maka dari itu aku tidak ingin kehilangan sahabat baik sepertinya, sampai kapanpun.
"Yaudah kita jangan sampai putus" Egonya kembali tumbuh dalam pikiran David.
"Orang nikah saja bisa cerai, apalagi yang pacaran bisa saja putus" David terdiam.
Aku juga tidak tega melihat wajahnya yang tertunduk lesu. Terlihat dari mata David mengharapkan secercah jawaban yang bagus untuk dirinya. Namun ternyata dia hanya mendapatkan penolakan dariku.
"Dan jika kamu ingin mengambil kalung ini, maka sekarang akan aku serahkan" David mengangkat kepalanya.
Matanya menatap pada sebuah kalung yang ada dalam genggaman tanganku. Lalu dia mengambilnya dan berdiri dari tempat duduknya. Sepertinya dia tidak merelakan kalung itu padaku karena penolakan ini.
Aku dengan sneng hati memberikannya, biarkan saja dia kecewa untuk hari ini karena hanya penolakan. Dan berharap kecewa itu berangsur-angsur membaik untuk menjalani kehidupan yang akan datang.
"Diamlah" Ucap David. Lalu dia memasangkan kalung itu padaku.
"Kalung ini sudah tertera namaku dan kamu, jadi walaupun kita tidak berpacaran setidaknya kita masih memiliki hubungan" Jelasnya sambil memasangkan kalung itu.
Aku tersenyum melihat David yang memasangkan kalung padaku. Ternyata dia mau tidak berpacaran denganku namun kita akan tetap saling mendukung satu sama lain.
"Maaf ya vid, aku tidak ingin hubungan pertemanan kita terpecah hanya karena cinta" Aku benar-benar merasa bersalah melihat wajahnya.
"Tidak apa-apa, aku dan kamu sama-sama memiliki impian untuk menjadi punggawa timnas. Dan impianku sudah terwujud hanya menunggu untuk konsisten bermain bola" Jelasnya.
"Namun aku ingin melihatmu mewujudkan mimpimu juga menjadi punggawa timnas dan akulah orang yang akan membantu untuk mewujudkannya"
"Benarkah itu? "
"Iya, aku akan menemanimu untuk bisa masuk ke dalam timnas Garuda"
"Terima kasih vid" Aku memeluknya dengan sangat erat.
"Apa kamu tidak marah dengan keourusanku vid?"
"Tidak, aku tidak boleh egois karena kamu juga memiliki mimpi yang sama dan tidak selalu berfikir tentang cinta kita" David membalas pelukan itu.
Tidak lama kemudian si biang kerok datang dan teriak-teriak tidak jelas lalu memisahkan aku dan David. Bibirnya terus meracau dengan kata-kata kejam.
Dia memgacau pembicaraan kami berdua. Entahlah, apakah dia tidak ada pekerjaan lain selain menganggu diriku dan juga David. Aku rasa hidupnya soeerti parasit yang tak memiliki rumah namun hanya menumpang saja.
"Keterlaluan kamu orang miskin, kenapa harus memeluk David apakah kamu ingin menjadi wanita murahan" Tegasnya.
*plak* tamparan keras mendarat di pipi Adel. aku sangat benci bila seseorang memanggilku wanita murahan.
__ADS_1
"Awww, sakit. Dasar gila" Dia ingin memukulku tapi David menghadangnya.
"Awas ayang, aku ingin membalasnya"
"Lebih baik kamu pergi dari sini del, daripada Key memukulmu lebih banyak" Jelas David.
Sepertinya dia sudah tau bahwa ada sifat preman dalam diriku. Bahkan dia menyuruh Adel pergi agar aku tidak meluapkan amarah padanya dan berbuat ulah kembali.
"Tidak, aku tidak akan pergi sebelum membalasnya" Tangannya terus berusaha menggapai tubuhku.
Aku hanya tersenyum melihatnya karena David menahan Adel dengan keras. David berhasil membawa Adel keluar dari kelas. Lalu aku berjalan menuju Adel dan berbisik padanya.
"Jangan banyak bikin ulah seperti Prabu" Bisikku dan bergegas pergi.
Adel heran dengan perkataan itu. dia sangat terkejut saat aku mengatakan nama Prabu. Matanya melotot dan tubuhnya membeku, seakan mengenal jelas nama Prabu dalam kehidupannya.
Berarti benar kata ibu bahwa mereka memiliki rencana yang sama untuk menghancurkan karirku saat ini. Dan itu tidak akan aku biarkan dengan mudah.
Aku pergi meninggalkan Adel dan David. Lagipula tidak ada gunanya berdebat dan bertengkar dengan nenek sihir itu.
"Key, darimana saja? " Tegur Yuri.
"Oh itu tadi ada urusan"
"Apa? " Tanya Ari.
"Biasa, nenek sihir" Sahutku dan membuat mereka mengerti.
"Kamu disakiti? "
"Tidak, justru aku yang menyakitinya"
"Sudah ku duga"
"Hahahhaha" Kembali tertawa dan bersenang-senang di kantin.
"Nih pesanan nasimu sampai dingin key"
"Iya Yur, maaf soalnya datang terlambat"
"Siap, makan saja sekarang"
"Baiklah"
Mereka berdua memang sangat pengertian dan selalu saja memesankan makanan dan minuman untukku. Padahal aku datangnya terlambat. Di ujung dunia manapun tidak akan aku temukan sahabat seperti mereka. Sampai kapanpun itu.
"Cepatlah makan, sebentar lagi masuk Key"
"Sabar napa"
Ari memang selalu menjadi penggoda saat aku datang terlambat ke kantin dan makan terlambat juga. Dia salah satu biang kerok yang menggertakku saat makan agar cepat dan tidak lamban.
Tidak lama kemudian bel sekolah berbunyi dan kami masuk ke dalam kelas untuk melanjutkan pelajaran.
"RI tunggu" Aku menghentikan langkah Ari yang ingin masuk ke dalam mobil. Sedangkan Yuri telah berlalu bersama pak supir.
"Ada apa Key? "
"Aku butuh bantuanmu"
"Apa?"
"Boleh aku masuk mobilmu sebntar? " Ari mengangguk.
Aku menceritakan padanya agar melakukan peretasan media sosial milik Adel karena aku ingin tau siapa Prabu dan apa tujuan dia untuk melakukan kekejaman ini.
Lalu kemudian aku ingin mwnggali semau tentang keburukan Prabu untuk bisa mencebloskan dirinya ke dalam penjara. Serat mencari tau siapa Beni yang dimaksud oleh ibu.
"Kekejaman apa yang dia lakukan? "
"Ingin membunuhku"
"Benarkah? " Ari terkejut.
Ahirnya aku menceritakan bahwa Ani masih hidup. Dan yang mencoba membunuh Ani adalah orang yang bernama Prabu yaitu suami dari ibu kandungku saat ini.
"Ani hidup? Mengapa dia ingin dibunuh? "
"Dia hidup karena diselamatkan oleh Adit, dan sekarang dia sendang bersembunyi karena Prabu masih mengincarnya"
"Lalu? "
"Dan prabu membunuh Ani karena dia salah tangkap. Dia ingin menangkapku namun salah sasaran"
Aku juga menjelaskan bahwa saat ini Ani bersembunyi darinya. Jika Prabu tau Ani masih hidup maka dia akan membunuh seluruh keluarga Ani. Aku tidak bisa membantunya karena tidak ada bukti yang cukup kuat.
Ari benar-benar terkejut mendengar semuanya. Dia terdiam sejenak, matanya menatapku dan bibirnya menganga seakan membisu tanpa kata yang harus dia ucapkan lagi.
"Sudahlah, tidak ada waktu RI"
"Baiklah, namun aku harus memiliki nomor ponselnya atau salah satu nama medianya"
"Baiklah, aku akan mengusahakan itu"
Akhirnya sore itu aku pergi bersama Ari. Aku mencari cara untuk dapat menemukan media sosial Prabu atau adel agar bisa meretasnya dan mengetahui isinya.
Untung saja ada David yang mengetahui tentang adel, dengan hal tersebut maka akan menjadi akses termudah untuk mendapatkan nama Prabu dalam pencarian ini.
Hari-hari berlalu, aku sangat susah mendapatkan media sosial dari Prabu. Dan aku juga mendapatkan nomor Prabu, setelah diretas ternyata nomor yang diberikan ibu itu palsu. Ari berkata bahwa banyak nomor yang dimiliki oleh Prabu.
__ADS_1
Bahkan di media sosial Adel juga tidak ada bau-bau tentang Prabu. Padahal aku sangat yakin jika Adel adalah keluarga dari Prabu, namun anehnya dia tidak menyimpan banyak hal tentang Prabu.
"RI, hari ini terakhir aku mengumpulkan bukti. Dan ternyata tidak ada satupun tanda yang mengarah dengan kejelekan Prabu" Wajahku terlihat sangat lesu karena tidak memiliki jejak kejahatannya.
"Benar key, aku juga tidak berhasil meretas nomor asli Prabu. Ternyata nomor ponselnya tidak hanya satu atau dua tetapi lebih" Sahutnya.
Ari juga terlihat lelah di hadapan sebuah laptop yang dia bawa di kafe ini. Kami sengaja bertemu di kafe agar tidak diketahui oleh kedua orang tua Ari bahwa kami sedang melakukan peretasan data.
"Besok malam aku akan kembali ke asrama dan latihan bersama tim. Aku harap kamu dan Yuri jaga diri baik-baik dan tetap berhati-hati ya"
"Key, bisakah kamu memperpanjang liburmu? " Tanya Ari.
"Tidak bisa, karena ini sudah ketentuan klub ri" Sahutku.
Wajahnya Ari menampakkan kegelisahan dan kekecewaan. Sepertinya dia masih merindukan tentang persahabatan dan berkumpul bersama. Aku jadi ingat dengan mereka berdua saat aku tidak ada. Katanya sekolah terasa sangat sepi.
Tidak ada yang menjadi penghibur dan pelindung. Mereka menjalani kehidupan selau berdua, baik itu tertawa, bercerita dan tentang apapun itu. Terasa kurang lengkap.
"Tenang saja, kalian bisa kok menemuiku di asrama"
"Iyaa sih tapi..... " Belum selesai Ari melanjutkan pembicaraannya. Tiba-tiba Yuri datang dan menghampiri kami berdua.
"Yuri" Aku dan Ari teriak secara bersamaan.
"Kenapa? Kaget" Aku dan Ari kembali menggeleng secara bersamaan.
"Oh tidak? Tapi aku yang kaget melihat kalian disini tanpa mengajakku" Ketusnya dan menatap dengan kesal padaku dan juga Ari.
Kami berdua terdiam dan bingung ingin berbicara apa. Sedangkan aku ingin menceritakan tapi takut dia ikut menyelidiki dan membuatnya ikut dalam hal ini. Aku tidak ingin terjadi apapun pada Yuri ataupun Ari.
Tapi Ari membuatku memiliki harpana hanya untuk mencari tau tentang Prabu lebih dalam, bukan untuk melawan Prabu bersama-sama.
"Baiklah jika kalian tidak berbicara, apakah kalian tidak ingat jika tidak boleh ada rahasia dalam persahabatan ini?" kami berdua mengangguk.
"Ya sudah, aku pergi saja karena tidak dianggap"
"Tunggu, duduklah" Aku terpaksa memberitahu Yuri. Aku memaksanya duduk walaupun wajah dia sudah terlihat murung sekali.
"Jadi begini Yur....... " Aku menceritakan awal hingga akhir tentang Prabu dan rekannya.
Serta tentang prabu dan Adel yang memiliki hubungan antara keponakan dan paman. Serta prabu yang memiliki hubungan dengan ibu kandungku yaitu sebagai suami istri. Dan berbagai kekejaman Prabu yang aku ketahui dari ibu.
Bahkan aku juga menceritakan lengkap tentang Ani yang masih hidup dan tentang perencanaan Prabu untuk membunuhku namun salah sasaran karena Ani yang kena.
"Apa? Jadi prabu dan Adel....."
"Iya" Sahutku dan Ari secara bersamaan walaupun Yuri belum menyelesaikan pembicaraannya.
"Lalu apa yang akan dilakukan sekarang? "
"Belum ada, hanya ngopi"
"Ohh" Sahut Yuri.
"Berarti aku sia-sia disini mengikuti kalian tapi hanya ngopi"
"Ooh kamu ngikutin kami? " Yuri mengangguk.
__ADS_1
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~