
Gol kaki kiri David membuat teriakan penonton menjadi gaduh. Bahkan aku dan Yuri juga teriak kegirangan sambil loncat-loncat karena merasa sangat bahagia. Semua pemain melakukan selebrasi berdoa, ada yang sujud syukur ada juga berdoa terhadap Tuhannya masing-masing.
"Ye, ye, gollllll" Aku teriak kegirangan bersama Yuri. Akhirnya momentum yang ditunggu-tunggu tiba. Skor sementara berbalik menjadi 1-2.
Pertandingan belum selesai, pertandingan semakin memanas. Pemain lawan juga melakukan serangan tapi masih bisa digagalkan. Dan tim kami juga melakukan serangan demi serangan hingga akhirnya di menit ke 87 tim kami kembali mencetak gol. Skor menjadi 2-2 setelah tim lawan kebobolan. Skor masih sama hingga peluit panjang dibunyikan.
"Gollll, David" teriakku dengan histeris karena sangat senang mereka menciptakan gol di menit-menit akhir.
"Woyyy, golllll. Bentar, mengapa kamu berterima David"
"Tidak apa-apa Yur, aku terlalu semangat" sahutku dan kami berdoa kembali meloncat kegirangan.
Pada akhirnya dilakukan adu pinalty untuk mengetahui tim mana yang pantas membawa piala turnamen pada hari ini. Keadaan ini yang sangat menegangkan baik dari pemain dan penonton. Setiap pemain yang melakukan tendangan pinalty akan memiliki tanggung jawab yang besar di pundaknya. Maka mereka harus tenang dan tetap fokus untuk membobol gawang.
"Gila Yur, ini paling membuat suasana tegang"
" Benar key, walaupun aku tidak terlalu suka bola tapi ini sangat menegangkan key" Ucap Yuri dengan tatapan waspada dan fokus terhadap tendangan pinalty.
Tim kami melakukan tendangan pinalti terlebih dahulu. Eksekusi pertama dilakukan oleh Sahrul selaku gelandang yang akan memulai tendangan.
"Bismillahirrahmanirrahim, Bismillaahirrohmaanirrohiim" Yuri terus melantunkan doa, begitu juga aku sambil menatap tendangan pinalty yang dilakukan.
"Gollllll, alhamdulillah gollll" Skor menjadi 1-0, tendangan yang cantik dengan menipu penjaga gawang.
Tendangan selanjutnya untuk tim lawan, dan sangat disayangkan kiper gagal mencegah masuknya bola padahal dia sudah bisa membaca dimana arah bola tersebut. Tapi tidak apa-apa karena masih ada tendangan selanjutnya.
"Tenang Yur, doakan tendangan dari Baron selaku kapten tim semoga bisa menjebol gawang"
"Iya key, fokus-fokus"
"Golllllll" Sangat tipis sekali bola membentur mistar gawang. Dan alhamdulillah keberuntungan masih ada di pihak kami.
Skor menjadi 2-1. Dan tendangan selanjutnya dari tim lawan. Dari tendangan tersebut akhirnya kiper mampu membaca arah bola dan berhasil menepianua. Skor tidka berubah yaitu 2-1.
Penendang bola ketiga adalah Doni, dan sangat disayangkan Doni juga gagal karena tendangannya melesat jauh di atas mistar gawang. Wajah Doni sangat sedih, bahkan dia meluapkan kekesalan pada dirinya sendiri.
Tapi saat dia kembali ke belakang, teman satu tim saling merangkul dan memberikan dukungan padanya. Aku tersenyum di pinggir lapangan karena mereka mendengarkan perkataan coach Beni agar tidka saling menyalahkan.
"Semangat Don, jangan putus asa" teriakku di bangku penonton.
Skor masih sama 2-1 dan dilanjutkan penendang selanjutnya berhasil membobol gawang tim sehingga skor saat ini menjadi 2-2. Semua bergemuruh karena keadaan tidak menentu. Tapi apapun hasil akhir, mereka tetaplah sang punggawa yang menjadi pemenangnya.
Dalam tendangan ke empat, kedua tim sama-sama berhasil menghasilkan poin dengan kedudukan 3-3. Saat ini yang sangat di tunggu-tunggu, penendnag kelima harus mengeksekusi dengan baik serta penjaga gawang harus bisa menahan bola dari tim lawan agar dapat memberhentikan pertandingan ini menjadi kemenangan tim kami.
Penendang terakhir adalah David, dia memiliki kaki kiri yang kuat untuk menendang bola. Biasanya penendang kaki kiri sangat sulit untuk dibaca oleh penjaga gawang. Sekarang mata David konsentrasi, walaupun banyak teriakan cacian atau hinaan yang menganggu konsentrasi tapi aku berharap David melupakan semua itu.
*prittyy* detik-detik menegangkan. Aku menutup mata sambil berdoa dan berharap David mengeksekusi bola dengan baik.
"Gollllllll" Sorakan itu membangunkan mataku dari doa. David berhasil membobol gawang tapi ini belum berakhir karena penjaga gawang harus fokus menahan tendangan dari tim lawan agar kita meraih kemengan.
*pritttt* setelah habis selebrasi David, peluit untuk penendang terakhir dari tim lawan dibunyikan. Mataku kembali tertutup untuk memanjatkan doa. Bukan hanya aku, tapi semua penonton dan pemain merasakan ketegangan yang luar biasa.
*plakk*
"Yyeeeeeeee" Teriakan yang sangat nyaring membangunkanku dan teriak kegirangan.
Akhirnya kami mendapatkan kemenangan yang baik dan berhasil membawa piala tersebut. Setelah tendangan terakhir dari tim lawan mampu di tepis oleh sang kiper. Semua teriak dan masuk ke lapangan untuk merayakannya. Begitu juga aku dan Yuri lari untuk menghampiri para pemain.
__ADS_1
Aku berlari menuju arah David yang sedang uforia dengan kemenangan ini. Semua ikut bahagia baik penonton ataupun pemain. Desakan demi desakan tidak aku pedulikan karena kami merasa sangat senang menyambut kemenangan.
"David, selamat ya" Ucapku padanya. Lalu disusul dengan ucapan yang Yuri berikan juga. Aku tersenyum bahagia saat melihatnya berhasil membawa kemenangan.
"Makasih banyak key, makasih banyak Yuri. Oh iya ini semua karena semangat yang kamu berikan pada kami dan itu sangat berpengaruh Key" Baru kali ini David menatapku dengan hangat. Dia melontarkan senyuman sambil memegang bahuku.
"Permainan kamu...... "
"David" Belum selesai aku memberikan pujian pada David, Tiba-tiba seorang wanita cantik dengan dandanan yang mewah datang menemui David. Dia langsung memeluknya dengan erat, sedangkan aku hanya melihatnya lalu terdiam saja.
"Kamu ngapain disini" Wajah David terlihat marah saat melihat wanita itu, dia juga melepaskan pelukan dengan paksa.
"Ayah kamu memberitahu bahwa kamu bertanding dan masuk final jadi aku kesini tapi ternyata aku terlambat karena pertandingan telah usai. Dan aku membawa kabar baik bahwa besok aku akan sekolah di sekolahan kamu" Dia mengatakan hal tersebut dengan sangat bahagia.
Aku dan Yuri saling bertatapan dengan heran. Seakan di benak kami penuh tanda tanya, siapakah wanita tersebut. Jika dilihat dia sangat akrab dengan David, apa mungkin dia saudaranya ataukah sepupunya.
"Siapa wanita itu key" Bisik Yuri padaku yang hanya menggeleng mendengar pertanyaannya.
"Entahlah, yuk yur kita pergi saja" Aku membalikkan badan dan memegang tangan Yuri untuk bergegas pergi darinya.
"Key tunggu" David mengejar dan memegang tanganku agar tidak berjalan lagi
"Aku mau pulang" Sahut ku singkat dengan wajah bete' melihatnya.
"Pulang sama aku saja"
"Bukankah kamu akan melakukan uforia kemengan bersama timmu? " Tanyaku pada David. Karena setelah kemenangan pasti akan ada perayaan dalam sebuah tim. Sama seperti yang dilakukan tim ku saat itu.
"Biarlah, ayo pulang denganku"
"Tidak, tidak, enak saja. Seharusnya kamu pulang denganku bukan bersamanya" Sekali lagi wanita itu menyela pembicaraan kami berdua. Dia bahkan melepas dengan paksa genggaman tangan David.
Mendengar kata wanita murahan, rasanya tanganku siap menampar. Saat ini genggaman kasar sudah mengeras dan ingin siap menghantam wajahnya yang suka menghina.
"Tenang saja, aku tidak mengambilnya. Lagipula kami tidak terlalu mengenal" Sahut ku dengan menahan sesak dalam hati yang kembali terluka.
Baru saja David menyembuhkan luka itu secara perlahan walaupun tak seutuhnya, tapi kali ini dia kembali membuat luka bahkan menusuknya berkali-kali.
"Ayo yur kita pulang" Aku menarik tangan Yuri dan kami pergi untuk pulang.
"Tunggu key, tunggu" David ingin mengejarku tapi tangannya ditahan oleh wanita itu. Bahkan dia tidak bisa berkutik dengan wanita itu. Aku menutup telinga dan pergi dari sana. Menghiraukan teriakannya yang terus memanggil namun langkahnya tidak bisa mengejar sedikitpun.
Masuk ke dalam mobil Yuri, mencari makan di tempat terdekat. Aku pikir kita akan makan di tempat biasa, tapi ternyata Yuri membawaku di tempat makan dekat pantai yang ada di kota.
"Kok kesini yur? " Aku terkejut saat Yuri membawaku di pantai dengan suasana yang indah. Suasana senja tepatnya, rayuan pohon kelapa kembali melambai.
"Aku ingin kamu tersenyum" Ucap Yuri dengan tingkah konyolnya dengan meletakkan jari telunjuk di pipinya.
"Aku tersenyum kok" Sahut ku
"Tersenyum apa, kamu lagi patah hati kan" Darimana Yuri tau jika hatiku benar-benar patah karena melihat David bersama wanita lain. Aku tidak bisa berkata apapun karena David sudah berada dalam dekapannya.
"Hey key" Yuri menepuk punggung ku yang sedang melamun
"Astaghfirullah Yuri, terkejut aku"
"Ayo turun, kita sudah sampai" Kami turun dan duduk di tepi pantai dengan memesan buah kelapa yang sehat. Menyegarkan tenggorokan dan juga menyegarkan hati.
__ADS_1
"Kita teriak sama-sama yuk key" Ajak Yuri padaku saat kita sudah berada tepat di tepi pantai.
Suasana yang sunyi hanya terdengar deburan ombak dan suara burung yang akan pergi. Aku menatap lekat langit-langit yang mulai merah. Perlahan akan pergi digantikan dengan petang. Aku mengangguk pada Yuri untuk mengisyaratkan bahwa aku mau berteriak bersamanya.
"Satu, dua, tiga"
"Aaaaaaaaaaaaaaaa" Teriakan dengan sekencang mungkin, sejenak membuat hatiku lega. Begitu juga dengan Yuri, aku tidak tau pasti apa yang ada dalam pikirannya tapi dia sudah selesai dalam teriakan yang panjang.
"Key maafin aku ya, gara-gara aku kamu dan Ari menjadi pisah seperti ini" Aku terkejut dengan perkataan Yuri. Segera wakahku menatapnya dengan lekat.
"Kamu gak salah yur, semua ini karena salahku. Aku yang tidak bisa membuktikan pada Ari bahwa kami tidak bersalah" Aku tau Yuri merasa bersalah karena Ari adalah sahabatku dari SMP. Yuri merasa bahwa dialah yang menghancurkan persahabatan ini tapi yang menghancurkan persahabata sebenarnya adalah Rena.
"Aku sayang kalian, bahkan aku juga menyayangi Ari walaupun saat ini kita berbeda jalan" Tanganku mencoba merangkul Yuri dari belakang. Duduk bersama menatap senja yang perlahan menghilang. Sambil mengucapkan curahan hati yang hancur karena perpisahan.
"Sudahlah, kita jalani berdua saja. Aku yakin kita bakalan menjadi hebat untuk menghadapi masalah" Yuri tersenyum mendengarkan perkataanku. Persahabatan kami berdua semakin erat, tapi di hatiku masih memikirkan Ari. aku tidak membencinya tapi aku membenci Rena.
Sampai kapanpun aku akan tetap menyayangi Ari dan memandangnya sebagai sahabat. walaupun aku tau bahwa dia sudah tidak menganggapku dan Yuri sebagai sahabatnya lagi.
Saat melihat langit-langit, aku mengingat gambaran kehidupan persahabatan tentang kami bertiga yang tenteram. Hingga akhirnya di rusak badai yang tiba-tiba datang hingga semua hancur berantakan dan hanya tersisa aku dan Yuri yang masih mengikat hati satu dengan yang lain.
"Kamu jangan pura-pura tenang key, aku tau kamu lagi sakit"
"Maksudmu Yur? "
"Kamu sakit karena melihat David dekat dengan wanita itu" Aku terdiam, darimana dia tau jika hatiku sangat sakit saat melihat mereka berdua.
"Bagaiman kamu tau" Tanyaku heran padanya. Tapi yuri malah tersenyum lebih dahulu daripada menjawab pertanyaanku.
"Jelas lah aku tau, karena aku merasa saat kamu bersama David hatimu sangat senang bukan" Aku tersenyum mendengar penjelasan Yuri.
Aku menjelaskan padanya bahwa aku sangat senang dekat dengan David. Ingin aku ceritakan semuanya tapi sepertinya cukup ini saja agar aku tidak terlihat sangat berharap dengan David. Lagipula sudah ada wanita yang akan dijodohkan dengannya.
Jika dilihat aku tidak lentas dengan David. Ibaratkan langit dan bumi, bulan dan tanah, serta rakyat dan pangeran. Semuanya berbeda sangat jauh tidak seperti wanita tadi yang terlihat sangat sempurna.
"Sudahlah, jangan berbicara tentangnya. Lebih baik kita bicarakan tentang persahabatan kita" Menghabiskan senja dan berganti dengan tatapan malam penuh bintang. Aku dan Yuri bergegas untuk pulang. Yuri mengantarkan aku ke rumah lalu diriku merebahkan diri di atas ranjang bersama bobo seperti biasa.
Sepertinya hubunganku dengan Ari semakin memburuk. Bagaimana aku bisa membuat Ari seperti dulu sedangkan Rena terus meracuni pikirannya. Aku tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan.
Ari, ayah, kak Dika dan terakhir David. Mereka membuat hatiku hancur, tapi berangsur-angsur akan membaik dengan tanganku sendiri serta bantuan orang-orang baik yang dekat dengan kehidupanku.
Aku juga selalu menghindar saat melihat ayah di depan sekolah. Aku tidak ingin kak Dika melihatnya. Aku lebih baik hidup dengan keadaan seperti ini, dengan kasih sayang keluarga ibu dan bapak serta mbakku yang paling aku sayang. Mereka adalah penghibur hatiku yang layu. Sama seperti Yuri, yang selalu ada dan membuatku tersenyum.
Pagi yang sangat cerah, di depan gerbang sekolah sudah ada banner penyambutan untuk tim sepak bola putra yang memenangkan juara 1. Penyambutan ini bahkan lebih besar daripada penyambutan tim kami sebelumnya.
Apel pagi diadakan untuk pemberian penghargaan bagi mereka semua yang sudah mengharumkan nama sekolah. Aku juga ikut senang dengan semua ini. Bahkan David semakin menjadi idola setelah mendapatkan penghargaan sebagai pencetak gol terbanyak.
Uforia yang sangat menarik dan sangat asik. Setelah itu aku meninggalkan semuanya untuk berdiam diri di dalam kelas. Lagipula tidak ada waktu untuk ikut memeriahkan perayaan, karena waktuku termakan oleh pikiran yang tidak menentu.
__ADS_1
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~