Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
73. Preman Pasar


__ADS_3

"Aaaaaaaa, ibu, bapak" Aku benar-benar menangis di hadapan mereka. Diluar rumah aku jutek, tapi saat berkumpul di hadapan mereka aku menangis seperti anak kecil. Disini aku sudah seperti anak bungsu di keluarga. Yang disayanagi, dikasihi dan juga dimarahi. Tapi semua karena kasih sayang.


Saat aku teriak dengan tangisan, mbak Yeni dan mbak Nike malah ikut menagis. Dan ujung-ujungnya pasti akan berpelukan seperti teletabis. Tapi inilah yang dinamakan keluarga, harta sederhana tapi kebahagian merajalela.




Pagi ini aku naik angkitan umum seperti biasa. Menyempatkan diri untuk berpamitan atau berbincang-bincang dengan Riki dan pak Abi. Mereka memang bukan siapa-siapa ku karena kami tidak ada hubungan darah. Tapi mereka adalah pendukung ku di balik layar. Mereka menjadi bagian dalam kehidupanku.



Sesampainya di sekolah aku berjalan sendiri melewati lorong kelas. Semua siswa menatapku dengan tatapan aneh. Saat aku berkaca di jendela kelas, tidak ada apa-apa. Aku baik-baik saja dan tidak ada yang salah juga dengan bajuku.



"Keyyyy" Yuri berlari mengejarku. Wajahnya menatapku dengan tatapan serius, aku tidak tau apa yang sedang terjadi saat ini.



"Buka ponselmu sekarang" Aku bingung tapi tanganku tetap mengikuti perintah Yuri. Membuka ponsel dan membuka grup kelas.



"Apa ini Yuri? " Mataku melotot saat melihat vidio ku tadi malam yang mencoba menggertak Rena. Tapi di vidio itu terlihat berbeda, seperti aku yang sedang membully dan menghajar mereka bertiga. Padahal kejadian pada malam itu tidak seperti ini.



"Ayo ikut aku ke taman" Yuri menarik tanganku dan bergegas ke taman belakang. Aku masih bingung dan tidak percaya, rasanya aku sangat jahat dan menjadi preman di vidio itu. Bahkan tidak ada sisi baikku di vidio itu.



"Key, aku tau kamu tidak melakukan ini" Yuri menatapku dengan tatapan yang paling dalam. Aku tidak tau bagaimana bicara pada Yuri. Tapi sungguh vidio itu berbeda dengan apa yang terjadi tadi malam.



"Kamu harus tenang, dan cerita padaku" Yuri. Menggenggam tanganku dengan erat. Dia tau bahwa aku Sudah dalam keadaan tekanan karena vidio itu telah tersebar ke seluruh sekolah.



"Jadi tadi malam aku......" Aku menceritakan semua kejadian awal hingga akhir pada Yuri secara detail. Tidak ada yang dikurangi dan tidak ada yang ditambahkan. Yuri berkata bahwa dia sangat percaya denganku. Dan semua ini pasti akal-akalan Rena agar menjatuhkan aku dengan mudah.



Aku mengerti sekarang, mengapa Rena teriak histeris seakan dia sangat tersiksa. Bahkan teriakannya terlihat berlebihan dibandingkan saat aku memukilnya di sekolah waktu itu.



Pandai sekali dia berganti wajah dan bermain lagi dalam episode yang dia buat. Bahkan wajahnya bisa mengalahkan artis sinetron untuk menipu semua orang. Rena salah satu orang dengan memiliki peran terbanyak di sekolah ini.



"Tenang key, kita selesaikan semua ini bersama-sama" Ucap Yuri, sedangkan aku masih larut dalam lamuan. Lalu bibirku mulai membuka beberapa kata padanya.



"Bagaimana bisa aku membuktikan bahwa vidio itu adalah rekayasa. Sedangkan aku tidak memiliki bukti apapun Yuri" Kali ini aku merasa tidak berdaya. Semua vidio tersebar dan mereka akan merunsungku dengan cacian. Bahkan suatu kesalahan akan jatuh padaku.



"Sekarang kamu tenang dan jangan berfikir apapun" Yuri mencoba menenangkanku. Rasanya sakit sekali hati ini diam membeku. Tidak tau apa yang akan aku lakukan. Mungkin tidak ada yang bisa aku lakukan.



"Keyy" Kak Dika dan David berteriak secara bersamaan. Mereka berdua langsung menghampiriku dengan Yuri.



"Key, kamu tenang saja. Kita akan bantu untuk menghapus semua vidio itu agar tidak tersebar kepada kepala sekolah" Kak Dika mencoba memeberikan setitik harapan padaku.



"Bagaimana caranya kak, semua akan tersebar dengan mudah melalui pesan whatsapp" Aku merasa putus asa. Dan tidak tau lagi apa yang akan dilakukan.



"Tenang key, aku akan membantumu agar anak-anak menghapus vidio itu"


"Sudah terlambat vid, satu sekolah sudah tau. Tapi aku tidak tau pasti apakah vidio itu telah sampai ke kepala sekolah atau tidak" Sahutku



Semua terdiam saat mendengarkan penjelasanku. Bahkan mereka juga tidak tau apa yang harus dilakukan. Aku beranjak dari tempat duduk dan berjalan menuju kelas. Yuri menahanku karena dia takut aku mendapatkan rundungan dari seluruh siswa.



Aku menghiraukan nya, langkahku tetap berjalan melalui lorong kelas. Setibanya disana ternyata benar perkataan yang Yuri bahwa mereka akan menyerangku. Kertas-kertas terlempar mengenai kepalaku. Dengan tulisan bahwa aku preman pasar yang melakukan kekekrasan.


__ADS_1


\*pluk, pluk, pluk\* beberapa kertas, gelas plastik dan botol plastik terlempar padaku. Untung saja ada kak Dika dan David yang menolong. David melindungiku dari serangan itu dan dia rela terkena lemparan keras dari mereka dengan tujuan yang paling penting yaitu agar aku tidak kena.



Sedangkan kak Dika mencoba menenangkan suasana. Meskipun dia menjadi mantan OSIS tapi masih banyak beberapa dari mereka yang menghormatinya. Dan pada akhirnya suasana kembali kondusif walaupun masih ada yang protes.



"Duduk saja disini dan kamu akan aman" Tubuhku terlihat sangat lelah, otakku juga tidak bisa berfikir dengan jernih lagi. David yang membawaku kedalam kelas.


"Makasih ya vid" Sahutku



"Ngapain sih vid nolongi preman kayak dia" Nyinyir salah satu teman sekelasku. Aku menatapnya namun rasanya sudah percuma lagi aku bicara.



"Kalian itu udah di sekolahin mahal-mahal tapi mudah percaya dengan vidio hoax seperti itu. apakah kalian tidak menggunakan pikiran yang jernih?" David menyikapi mereka dengan tenang.



"Ih apaan sih, itu bener kalo memang Key yang memukul" Terus saja perdebatan membuat kepalaku semakin pusing.



\*brakkkk\*



"Kalian bisa diam gak" Aku membentak mereka dengan keras. Pasti mereka akan benar-benar memberiku gelar preman pasar setelah melihat apa yang aku lakukan.



"Tuh kan, dasar preman" Masih saja membicarakan tentang preman pasar seperti tau sifatnya preman saja. Tidak lama kemudian bel masuk berbunyi. Semua siswa bergegas duduk di bangkunya masing-masing dengan tatapan yang sinis padaku.



Baru saja duduk, wali kelas memanggilku untuk menuju ke ruangan kepala sekolah. Aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kesal. Meletakkan telapak tangan di wajah dan mengusapnya. Berharap keadaan baik-baik sajaa.



"Pasti bakalan di skors"


"Iya kalo di skors, tapi menurutku di keluarkan sih"


"Wah gila banget, itu sudah termasuk kejahatan" Nyinyiran demi nyinyiran asik di lontarkan oleh seluruh kelas. Rasanya aku yang paling jahat disini




"Aduh sakit" Bisiknya kecil meringis kesakitan. Dia yang mukul sendiri dan dia juga yang merasa kesakitan. Emang dasar sahabat satu ini yang selalu membuat aku senang.



"Heh kalian bisa diam gak sih" Teriaknya untuk membuat seisi kelas diam tidak kembali menyinyir padaku. Lalu Yuri ikut denganku menuju ke ruangan kepala sekolah.



"Kamu yang tenang ya key, aku yakin kamu tidak bersalah kok" Hanya sebuah anggukan yang aku berikan. Karena saat ini sangat malas rasanya untuk berbicara. Bahkan mulutku sudah terbungkam keadaan yang tidak ada jalan keluar.



"Permisi pak, ijin untuk masuk"


"Duduk key" Di ruangan kepala sekolah sudah ada orang tua Rena. Aku tidak tau hukuman apa yang akan di berikan, sepertinya ini hal yang serius. Sedangkan Yuri kembali ke kelas untuk melanjutkan pembelajaran.



Aku dan Rena duduk secara berdampingan. Kepala sekolah juga berkata bahwa sudah memanggil orangtuaku datang kesini. Sepertinya aku akan membuat malu wajah bu Yanti yang bukan kedua orang tua kandungku. Aku tidak bisa berkutik apapun saat ini.



Tidak lama kemudian ibu datang. Di ruangan sudah lengkap ada keluargaku dan keluarga Rena serta wali kelas kami bu Tri. Wajahku semakin tegang, tapi harus bersikap tenang karena aku tidak bersalah.



"Rena, tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi" Kepala sekolah memberikan kami masing-masing kesempatan untuk menjelaskan kejadian yang sesungguhnya. Aku hanya bisa diam dan menyimak apa yang akan Rena bicarakan.



"Waktu itu......." Dengan wajah memelas Rena menjelaskan pada malam itu katanya dia asik berjalan dengan Dewi dan Puja untuk makan di kafe. Rena bilang aku tiba-tiba datang dan melontarkan kata-kata kasar. Rena melawannya tapi Key malah menghajar Rena seperti yang ada di vidio itu.



Cerita Rena sangat jelas berbanding terbalik dengan apa yang terjadi tadi malam. padahal dia dan kedua temannya yang membuat jersey ku terjatuh serta diinjak dengan sengaja.


__ADS_1


"Maaf Pak.. . "


"Sebentar Keyla, kamu jangan menyela pembicaraan. Nanti ada waktunya kamu menjelaskan" Aku tidak setuju dengan apa yang dibicarakan Rena.



Semua itu adalah fitnah. Bahkan saat ku menyela pembicaraan, kepala sekolah menegurku. Aku tidak tau apalagi yang harus aku katakan. Dia sangat pintar memutar balikkan fakta.



"Lanjut Rena" Ucap kepala sekolah mempersilahkan Rena melanjutkan ceritanya.


Rena kembali bercerita katanya Key menghajar Rena hingga tersungkur ke lantai. Padahal dia sudah meminta maaf dan memohon ampun untuk dilepaskan. Tapi Key menghajarnya lagi dengan membabi buta.



Wajahku sangat kesal dengan kebohongan yang semua Rena katakan. Tapi aku harus menahan emosi agar tidak membuat malu keluarga ibu karena ulahku yang ceroboh.



"Coba lihat pak, apa yang dia perbuat pada anak saya sudah brutal" Sahut mama Rena yang tersulit emosi saat mendengar penjelasan anaknya.



"Mohon bersabar bu, kita akan mendengarkan penjelasan dari masing-masing anak ibu dan bapak" Kepala sekolah menghadapinya dengan tenang. Sebentar lagi pasti giliranku untuk berbicara dan menjelaskan semuanya.



"Baiklah key, sekarang giliran kamu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi" Kepala sekolah mempersilahkan aku untuk menjelaskan.


"Baik Pak saya akan menjelaskan dengan jujur apa yang telah terjadi. Saya akan menerima apapun keputusan yang akan diberikan nanti"



Aku mencoba tenang dan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Itulah caraku untuk menyikapi apapaun dengan tenang walau kadang tersulut emosi.



"Jadi begini ceritanya pak" Aku menjelaskan semuanya mulai dari awal pertengkaran tersebut. Semua ini karena Rena, jika saja dia tidak membuang jersey yang aku beli dengan uang tabunganku mungkin aku tidak akan marah. Bahkan dengan angkuhnya Rena menginjak-injak jersey ku.



Memang dia anak orang kaya tapi setidaknya hargai barang miliki orang dan jangan sampai menghinanya seperti sampah. Bahkan mereka ingin membuang jersey yang aku punya ke tempat sampah. Dan aku menghalaunya dengan menggenggam tangan Rena.



Aku juga berkata bahwa memang benar aku memukul rena 1 kali saja. Aku mengaku salah karena juga sudah menjambak rambut Rena untuk memberikan peringatan agar dia tidak berperilaku seperti itu.



"Saya hanya manusia biasa yang bisa emosi pak, jadi saya tidak menutup kemungkinan bahwa saya ini bersalah. Tapi setidaknya bapak mengerti apa yang saya bicarakan bahwa vidio tersebut hanyalah potongan dan selebihnya merekalah yang melakukan hal yang tidak terpuji terlebih dahulu" Aku mencoba mengatakan apapun itu. Yang penting semua sudha terungkap tanpa kebohongan



"Key bohong pak, dia sendiri yang tiba-tiba menyerang saya tanpa sebab" Rena kembali mengatakan hal bodoh yang penuh kebohongan.



"Lihat kan pak, dia mengaku bahwa sudah memukul anak saya. Jadi dia bersalah" Wajah mama Rena juga ikut kesal. dia membela anaknya dan berkata bahwa akulah yang bersalah. Padahal sudah jelas jika anaknya yang melakukan hal konyol padaku.



"Tapi anak saya tidak seperti itu pak. Dia akan melawan jika disalahin terlebih dahulu" Ibu mencoba membela ku di depan kepala sekolah. Aku tersenyum bahagia, aku pikir ibu akan marah tapi dia lebih percaya padaku daripada orang lain.



"Sudah-sudah, tolong diam. Biar saya yang memutuskan" Suasana semakin gaduh karena pendapat masing-masing.


"Apa kamu punya bukti Rena bahwa key bersalah? " Kepala sekolah kembali menanyakan pada Rena.



"Ada pak, vidio itu sudah jelas bahwa dia yang salah" Dengan tatapan licik dia menunjuk padaku. Ingin rasanya aku tampar wajah dia.



"Tapi itu tidak bisa dibuat bukti, karena tidak ada kejadian jelas dari awal dan tiba-tiba vidio key yang langsung memukuli mu" Hatiku agak lega sedikit dengan perkataan kepala sekolah.



"Saya akan panggilan Dewi dan Puja untuk menjadi saksi pada saat kami berasa tempat itu" Sepertinya mereka akan berpihak pada Rena dan jelas sekali semua kesalahan akan jatuh padaku


"Silahkan kamu panggil mereka berdua"


"Baik Pak"



Aku hanya terdiam dan menunggu hal apa yang akan mereka jelaskan. Kejujuran ataukah kebohongan untuk menutupi kesalahan Rena padaku.

__ADS_1



~~~~ BERSAMBUNG ~~~~


__ADS_2