
Aku sudah ada di pinggir kolam untuk memberikan gelang ini ke Ani. Tapi dia tetap saja tidak pernah mendengarkan panggilan ku karena mereka berdua sepertinya asik mengenal seorang cowok yang juga berenang bersamanya.
"Anii, dasar budek" Kesal ku karena Ani masih saja tidak menoleh.
"Aku harus menghamprinya, kalo gelang ini hilang pasti Ani akan menangis" Ucapku dan berjalan menuju ke arah Ani.
Awalnya aku takut karina samping kolam yang licin dan takut terpeleset. Namun aku memberanikan diri karena takut gelang Ani tidak aman jika berada di tanganku.
"Aaaaaaa"
"Byurrrr" Ada yang mendorong ku hingga terjatuh ke dalam kolam.
Aku sangat takut karena tidak bisa berenang. Tanganku berusaha memberikan tanda meminta pertolongan dan mulutku berteriak minta tolong dengan suara samar, tapi tidak ada yang mendengar.
"Toll,.... "
*blukkkkk* terlalu banyak air yang aku telan. Nafasku sudah tidak kuat lagi untuk menahannya dalam air. Pandanganku juga kabur menatap dalam kolam. Dan sekarang semuanya gelap..........
POV ANI
"Hey tolong cepat ada yang tenggelam" Suara pengunjung ramai saling berteriak. Penjaga kolam juga panik dan segera berlari ke arah orang tenggelam tersebut.
"Ir, kita kesana yuk. Katanya ada yang tenggelam" Aku dan ira mengakhiri percakapan dengan lelaki itu.
"Ayo Ani, takutnya itu salah satu teman kita" Aku dan Ira bergegas merapat ke tempat itu.
Aku takut yang tenggelam adalah salah satu teman dari kami. Jadi kita berdua segera menghampiri tapi tidak terlihat siapa yang tenggelam karena banyak pengunjung yang ingin melihat.
"Permisi, permisi" Kami berdua menerobos masuk ke kerumunan orang.
"Haa, Keyla" Aku sangat terkejut karena yang terkapar lemah adalah Keyla
"Ani, dia Key" Teriak Ira padaku, padahal aku sudah ada disamping Key.
Penjaga kolam berusaha menolong Key, dia terus menekan perut Key agar airnya keluar. Semua orang yang melihatnya merasakan panik yang sama denganku. Aku terus memanggil-manggil nama Key tapi dia tidak bergerak.
"Key, cepatlah bangun key"
"Keyla bangun key" Aku dan Ira terus memanggilnya tapi tidak ada respon sedikitpun dari Keyla.
Tidak lama pelatih dan teman-teman juga mendekat untuk melihat Key. Semuanya khawatir dengan keadaan Key. Sungguh malang nasibnya, sampai sekarang dia belum bangun juga.
Penjaga kolam yang berusaha menolong key menggelengkan kepalanya. Sepertinya key tidak merespon apapun saat pertolongan diberikan. Aku tidak percaya ada apa yang terjadi dna mengapa bisa begini.
"Pak bagaimana pak? "
"Tidak bisa, nadinya lemah dan air tidak keluar dari tubuhnya. Dia terlalu banyak menelan air" Jelasnya padaku membuat semua orang melihat dengan rasa ibah.
Aku terpaku dan tidak bisa menahan tangis. Air mata lolos begitu saja saat melihat salah satu sahabat kami terkaoar lemah dan tidak ada tanda-tanda pergerakan sama sekali.
"Keyla, bangun Key. Key bangun" Aku terus mengoyak tubuh Key, begitu juga dengan Ira yang teriak keras pada Key. Pelatih juga menatap anak didiknya dengan tatapan sedih. Dia hanya terkapar dan diam tanpa gerakan apapun
*buk, buk, buk* Seorang lelaki datang dengan tiba-tiba dan langsung menyentuh untuk membantu key. Dia terus berusaha membangunkan key dengan cara mengeluarkan air dalam tubuh key.
"Ayo bangunlah, kamu pasti bisa" Teriak lelaki itu sambil berusaha membantu Key untuk segera sadar. Tangannya tidak berhenti sedikitpun untuk mengeluarkan air dalam tubuh Key.
"Uhuk, uhuk, uhuk"
"Alhamdulillah" Teriak para pengunjung yang melihat kejadian dramatis itu. Akhirnya key mengeluarkan air dalam tibuhnya. Tapi matanya masih tertutup.
"Keyla, syukurlah air itu keluar dari tubuhmu"
"Iya Ani, kalau tidak maka key... "
"Tutup mulutmu Ira" Aku langsung menutup mulut Ira agar tidak berbicara hal yang buruk.
"Akhirnya, pak dimana ruang kesehatannya" Ucapnya menanyakan ruang kesehatan pada penjaga wahana di sini.
"Di sebelah sana kak"Tanpa banyak bicara lelaki itu langusng menggendong key dan membawanya ke ruang kesehatan. Kami semua mengikutinya untuk melihat keadaan key.
"Kak dia mau dibawa kemana? " Tanyaku sambil berjalan di sampingnya yang sedang sibuk menggendong key.
"Tolong jangan berisik, saya harus membawanya ke ruang kesehatan" Seketika aku dan Ira terdiam dan tidak banyak bicara lagi.
Apalagi lelaki itu sangat tampan dan membuat kami berdua terpesona. Aku sangat berterima kasih padanya karena telah menyelamatkan nyawa sahabatku kali ini.
POV ANI SELESAI
"Ini dimana? " Aku membuka mata dengan ragu, yang aku lihat hanya gambaran putih. Padahal tadi air mengapa sekarang latar belakang putih. Apakah aku sudah ada di surga.
"Apakah ini di surga? " Ucapku ngelantur karena ingin tau apakah aku sudah di surga atau belum.
*plak* tamparan kecil mendarat ke mulutku dengan lembut.
"Mulutmu, kami semua khawatir menunggu kamu sadar"
"Iya key, kami takut" Ucap ira dan ani yang ada di sampingku.
"Aku kenapa? "
__ADS_1
"Kamu terbang" Aku tidak mengerti dengan ucapan mereka. Memangnya aku bisa terbang kemana, padahal aku hanya manusia bukan peri.
"Apa, terbang? " Sahutku terkejut dan sekaligus dengan tatapan bingung. Pasti mereka sedang berbuat konyol.
Kemudian pelatih datang memghampiriku yang terbaring lemah dengan selang infus terpasang di tangan. Sedangkan teman-teman di suruh untuk menikmati wahana agar liburannya tidak terganggu karenaku.
"Bagaimana keadaanmu key"
"Coach, alhamdulillah saya sudah mendingan" Sahutku dengan suara lirih karena keadaan tubuh belum sepenuhnya sehat total.
"Kamu istirahat beberapa jam disini dulu, nanti kita akan keluar dan langsung pulang ke kota" Aku hanya mengangguk dengan perintah coach Jaka karena tubuhku masih sangat lemah saat ini.
Coach Jaka berpamitan keluar sebentar untuk melihat teman-teman yang sedang menikmati wahana karena takut terjadi hal yang sama sepertiku. Di dalam ruangan ini hanya ada Ani dan Ira yang setia menjagaku.
"Kalian tidak ingin menikmati wahana? " Dengan kompak Ani dan Ira menggeleng.
"Lalu? "
"Kita akan menemanimu disini" Memang sahabatan terbaik karena akan menemani sahabatnya walau dalam kesusahan ataupun bahagia.
"Terima kasih" ucapku, membuat Ira dan Ani memeluk dengan erat.
"Hey key, kamu mau dengar tidak? " Sepertinya bau-bau gosip yang akan diceritakan oleh mulut Ira. Baru saja terdiam sejenak untuk menikmati pelukan hangat ini dan sekarang waktunya dia memulai.
"Apa memangnya? "
"Tadi kamu di tolong cowok tampan Key" Wajah Ira terlihat sangat girang dengan ucapannya.
"Benar key, ganteng sekali" Sambung Ani sambil meloncat-loncat kecil gemas sendiri melihatnya.
"Hmm, jadi kalian melihat orang ganteng sampai lupa kalau aku tenggelam" Ketusku dengan pura-pura memalingkan wajah.
"Sebenarnya bukan begitu sih, tapi aku benar-benar menyukainya" Sahut Ani yang mengagumi orang itu tapi aku tidak tau wajahnya.
"Iya key, tampan sekali besti" Sambung Ira. Mereka akan melotot jika melihat barang bagus.
Dan mereka membicarakan kegantengan lelaki itu dengan mengajakku. Sedangkan aku tidak tau wajahnya dan hanya menghayal dan membayangkan ciri-cir yang merka berikan.
Untuk mencairkan suasana, Ira dan Ani menghiburku di ruang kesehatan. Mereka menyuapi aku makan hingga keadaanku sedikit membaik kata dokter yang menjaga disana.
Beberapa menit kemudian dokter membolehkan aku untuk pulang dengan memberikan beberapa vitamin untuk diminum agar kelemahan tubuh ini berkurang.
"Ayo Key aku bantu, kita akan segera pulang ke kota kelahiran" Teriak Ani sambil memapahku.
"Iya key, kita akan pulang" Sambung Ira yang tertawa riang karena aku sudah membaik dan coach Jaka mengumumkan untuk pulang kampung.
Aku merasa ada yang aneh karena pada saat aku di samping kolam, kakiku santai saja tidak terpeleset karena berjalan secara hati-hati. Tapi mengapa ada yang bilang bahwa aku terpeleset ke kolam.
Aku merasa ada yang mendorong ku ke kolam. Jelas sekali tangannya mendorong tubuhku dengan sengaja. Tapi siapa yang mendorong, padahal aku sendiran menikmati makanan lalu memanggil Ani untuk memberikan gelangnya yang jatuh.
"Key, ayo naik. Bengong aja besti" Gertak Ira padaku yang sedang terdiam melamunkan pikiran kosong ini.
"Mikirin apa sih key" Tanya Ani padaku.
"Ah tidak, ayo kita naik"
Perjalanan pulang sangat menyenangkan tapi tidak denganku yang harus merasakan tragedi terlebih dahulu. Untung saja aku masih diberikan kesempatan untuk merasakan kehidupan dunia oleh sang pencipta.
"Key kamu mikirin apa sih"
"Kecelakaan ku ini seperti ada yang mengganjal Ani" Aku menceritakan sedikit keluh kesah dalam pikiranku tentang kejadian hari ini.
Aku mencerirakann pada Ani bahwa ada hal yang mengganjal dipikiranku tentang kejadian ini. Bahwa aku terjatuh ada seseorang yang mendorong dengan sengaja karena itulah yang aku rasakan sebelum tercebur ke dalam kolam.
"Siapa dia? "
"Aku melihatnya seorang wanita, tapi wajahnya tidak jelas karena aku tenggelam terlalu cepat" Jelasku padanya.
"Berrti kamu bukan terpeleset? "
"Tidak Ani, tapi sudahlah yang penting kita akan pulang" Aku menyudahi pembicaraan ini.
Untuk menghilangkan pikiran yang padat, mataku terpejam untuk melupakan tragedi tadi. Biarlah aku terlelap dengan mimpi-mimpi saja. Semoga saja bertemu dengan kakek dan memberiku isyarat lagi.
Ani juga tidur bersamaku di dalam bis. Bahkan dengkurannya semakin keras daripada aku. Untung saja telinga ini sudah biasa dengan semua suara Ani. Jadi tidurku tidak terganggu.
Perjalanan cukup lama, kami telah sampai di rumah pada malam hari. Aku langsung memeluk ibu dan memberikan oleh-oleh pada ibu dan bapak.
"Ibu, bapak" Pelukan yang erat dalam kerinduan dari seorang anak pada keluarganya.
"Alhamdulillah anakku sudha pulang. Ibu rindu denganmu nak" Senyuman mereka menghilangkan lelahku saat ini.
"Ayo masuk, karena waktu sudah malam"
"Siap pak"
Ingin aku ceritakan kemenangan tapi karena terlalu malam akhirnya aku menceritakan kemengan ini pagi hari. Sebelum berangkat ke sekolah.
Pagi
__ADS_1
"Lihatlah bu, indah tidak? " Aku menempelkan penghargaan ku di dinding ruang tamu juga menggantungkan kalung medali penghargaan.
"Iya bagus sekali, ibu suka melihatnya. Sebentar lagi rumah kamu akan penuh dengan macam-macam penghargaan yang sangat indah" Ibu memujiku dan tidak lupa memberikan pelukan hangat dan kecupan seperti anaknya.
"Kamu belajar yang rajin, lalu main bola jangan cepat merasa puas. Agar nanti menjadi pemain hebat"
"Siap bu" Nasehat yang tidak pernah lepas dari ibu. Nasehat itulah yang akan mengantarkan seorang anak ke tempat keberhasilan.
"Ya sudah pergi sekolah sana biar tidak telat"
"Siap ibuku sayang" Aku berpamitan untuk pergi ke sekolah. Untuk bertemu kedua sahabatku dan memberikan oleh-oleh ini pada mereka berdua.
Asing rasanya, karena sudah dua minggu lebih aku tidak masuk sekolah. Suasananya masih sama, tapi berbeda dengan rinduku yang belum datang. Yaitu David, apa kabar dia di kota sana. Yang melakukan seleksi timnas.
Sejak saat itu aku tidak memiliki nomor David untuk menghubunginya. Ini semua karena Adel yang tiba-tiba datang ke dalam kehidupanku dan menghancurkan kisah cintaku, kesal rasanya.
"Keyyyla, lihat teman-teman. Keyla sudah datang dan dia memenangkan pertandingan kemarin" Teriak salah satu siswa yang membuat semua siswa mengalihkan wajahnya dan berlari menghampiriku.
"Key, keyla, minta tanda tangannya dong" Aku heran dengan mereka, padahal aku bukan siapa-siapa tapi mereka agungkan seperti artis saja.
"Hey tenanglah, tenang" Aku mencoba menenangkan situasi.
Aku melakukan tanda tangan di buku mereka yang menghampiri. Satu persatu tanda tangan itu terlukis indah yang membuat senyum mereka juga semakin indah.
"Hey tenanglah, aku bukan pemain hebat jadi tanda tanganku tidak berarti buat kalian. Aku hanya pemain biasa" Sampai saat ini aku tidak pernah menganggap diriku hebat. Karena di atas langit masih ada langit.
Aku tidak pernah lupa bahwa pemain yang hebat adalah pemain yang rendah hati. Kata ibu jika ingin menjadi pemain hebat maka tetaplah merendah dan jangan sampai puas diri terlalu dini. Karena perjuangan masih panjang.
"Sekarang kamu bukan apa-apa key, siapa tau nanti kamu menjadi pemain hebat"
"Iya benar key, kalo kamu sudah menjadi pemain hebat aku akan tenang karena sudah memiliki tanda tangan sang bintang" Aku tersenyum mendengarkan semua itu.
Dalam hari aku mengucapkan syukur dan mengaminkan semua doa yang mereka ucapkan. Lalu aku kembali menandatangani buku mereka satu per satu.
\*tettttt\*
"Alhamdulillah sudah selesai" Bel masuk membubarkan masa yang mengerumuniku. Untung saja bukan satu kelas yang meminta tanda tangan, jadi tanganku masih tenang.
"Wuihhh, pemain hebat datang nih"
"Ari, Yuri" Aku langsung memeluk mereka berdua dengan rasa kerinduan yang teramat dalam.
Aku rindu celoteh mereka dan rindu akan kebodohan bila diri ini digabungkan. Tapi lebih tepatnya Aku dan Yuri yang bodoh sih.
"Huss, aku hanya pemain biasa yang memenangkan pertandingan. Bukan pemain hebat" Sahutku memberikan penjelasan.
"Selamat ya Key atas kemenanganmu"
"Iya Key selamat ya" Teman satu kelas mengucapkan selamat padaku. Ada juga yang meminta tanda tangan katanya biar jadi kenangan bila nanti aku menjadi pemain hebat.
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~
__ADS_1