
Bila dipegang isinya cukup berat, tapi kotak ini sangat besar. Isi di dalam kotak itu membuat aku menjadi penasaran. Lembaran demi lembaran kertas kado aku sobek. Tapi isinya masih belum kelihatan. Saat melihat Ari dan Yuri, mereka menahan tawa. Sepertinya mereka berdua sudah bersekongkol ingin mengerjai ku.
Dengan sabar aku membukanya, hingga di kertas terakhir aku melihat sebuah kardus ponsel genggam. Membuka secara perlahan dan hati-hati.
"Ponsel? " Aku terkejut dan ternyata itu ponsel genggam.
"Iya itu untukmu, jadi kita bisa berkomunikasi lewat ponsel apabila tidak bisa bertemu" Ari menjelaskan padaku alasan mereka membeli ponsel.
Yuri dan Ari sengaja menyisihkan uang sakunya agar bisa menbelikan ponsel untukku. Mereka tidak tega karena harus melihatku yang tidak punya ponsel sendiri di dalam kelas. Jadinya mereka berdua memiliki ide untuk membelikannya.
"Benar ini untukku? "
"Iya key, ini untukmu dari kami berdua" Ucapan Yuri masuk dalam relung hatiku. Mataku berkaca-kaca menatap mereka berdua secara bergantian.
"Terima kasih banyak" Aku tidak kuat menahan tangis. Air mataku terjun bebas tanpa tau arah. Aku tidak menyangka bertemu dengan orang baik di dunia ini.
"Sama-sama key" Ucap Yuri dan Ari secara bersamaan dan mereka berdua langsung memelukku. Suasana ini sangat haru, bibirku bingung ingin berkata apa.
"Aku tidak bisa membalas kebaikan dari kalian" Kebaikan hati mereka belum bisa aku balas saat ini. Karena uang yang aku miliki masih belum banyak.
"Sudahlah, seperti siapa saja" Ari dan Yuri kembali memelukku dengan erat. Persahabatan sejati yang tidak akan menghitung berapa banyak yang dikeluarkan. Tapi dia akan menghitung berapa banyak waktu yang terbuang jika tidak bersama. Bahkan kenangan kecil akan menjadi nyata yang dikenang selamanya.
Kami melanjutkan untuk belajar bersama. Ari selalu mengajari kami berdua untuk bisa menghadapi masalah soal yang ada. Karena hanya Ari yang memiliki otak yang encer, sedangkan aku dan Yuri kadang-kadang otaknya beku kadang-kadang pula otaknya encer.
Setelah selesai belajar, Ari dan Yuri mengajariku cara mendownload aplikasi media sosial dan mereka juga mengajariku cara memakainya. Dan mereka juga berkata bahwa aku bisa melihat pertandingan bola ataupun cara belajar bola dengan baik dari ponsel.
Aku tidak mengerti tentang semua itu, yang aku tau hanyalah menggunakan ponsel untuk belajar dan mencari sesuatu di media pencarian apabila kita tidak mengetahui suatu hal. Ternyata ponsel ini sangat canggih daripada bayanganku sebelumnya.
"Oh iya, aku ingin memberitahu sesuatu pada kalian berdua? "
"Sesuatu apa key" Tanya Yuri sambil membenarkan duduknya dan mengalihkan tatapannya padaku begitu juga dengan Ari melakukan hal yang sama.
"Kalian tau, bahwa tadi saat kalian ke kantin aku pergi ke toilet dan saat kembali aku melihat Rena sedang mencari sesuatu di tas kamu Yur" Mencoba menjelaskan kejadian tadi yang aku lihat pada Rena.
"Memangnya apa yang dia cari di tas Yuri key" Tanya Ari
"Aku tidak mengetahuinya, yang pasti dia ingin mencari sesuatu di dalamnya. Saat menemukan hal itu, dia langsung merubah senyumnya yang licik" Mencoba menjelaskan kembali dengan sedetail mungkin.
"Di tas ku hanya ada ini" Yuri mengeluarkan sebuah buku diary dari dalam tasnya.
"Lalu apa isinya? "
"Aku menuliskan tentang persahabatan kita dan kekagumanku dengan kak Dika. Itu saja sih tidak ada yang aneh" Jelas yuri
"Mencurigakan" Sahutku sambil meletakkan tangan di dagu seperti detektif saja.
"Sudahlah, mungkin dia meminjam pensil atau penghapus" Ari mencoba berfikir positif dan kami mengikuti pikiran tersebut agar tidak terjadi salah sangka pada Rena.
Karena Rena sendiri jarang berbicara atau bahkan janrang untuk berinteraksi dengan kami jadi tidak ada yang tau tentang Rena. Pribadinya yang tertutup juga susah untuk mengetahui perilaku yang sebenarnya.
Seperti biasa aku dan Yuri pulang dengan diantarkan oleh supir Ari. Kami sampai dengan selamat di depan rumah masing-masing. Benar kataku, Tuhan itu baik. Mengirimkan manusia-manusia baik di sekitar hidupku. Banyak rasa syukur yang aku ucapkan karena kebaikan Tuhan sang mencipta alam.
1 bulan kemudian
Ujian semester telah usai, kami hanya menunggu hasil dari ujian tersebut. Apakah akan naik kelas atau tinggal kelas. Tapi aku yakin jika kita bertiga pasti akan naik kelas. Karena Ari yang sabar mengajari aku dan Yuri untuk belajar. Semakin dilatih makan semakin mudah untuk mengerjakan.
Kakiku juga semakin membaik, jadi bisa bermain bola kembali. Akan tetapi aku masih membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk berlatih lebih keras. Hampir 2 bulan lebih aku tidak bermain bola, rasanya sperti belajar dari awal.
Untung saja ada buku David yang membantuku, serta dalam ponsel aku bisa melihat cara untuk membalikkan performa dalam bermain bola setelah cidera. Dari sana aku belajar kerja keras agar performa terbaikku kembali lagi.
Setiap pagi aku selalu melakukan hal dengan bermain bola. Berlatih untuk sekedar pemanasan di depan rumah. Mencoba melakukan hal yang terbaik untuk mengulang sejarah seperti kemarin. Sepertinya aku harus melakukan hal yang lebih berani, yaitu mencari klub bola tarkam yang mau menerimaku. Tidak perlu bayaran besar asalkan aku bisa bermain dan kembali ke performa terbaik.
"Aduhhh, bagaimana hasil belajar ku ya. apakah aku naik kelas atau tidak?" kepercayaan diriku mendadak ciut saat melihat beberapa orang tua keluar dari kelas sambil memegang raport.
Hari jumat pembagian rapot hasil belajar. Dengan senang hati bu yanti mengambilnya sebagau orang tuaku. Aku sangat bahagia ternyata kepanikan ku salah karena kami naik kelas. Bahkan ari menjadi peringkat pertama dengan nilai tertinggi di kelas. Bahkan nilai tertinggi dari seluruh kelas 10.
Begitu juga dengan yuri, mamahnya merasa bangga karena nilainya yang bagus beda dengan nilai-nilai saat ia duduk di SMP. Dan nilai ku juga baik yang membuat ibu sangat senang. Dengan bangga ibu memelukku di depan umum seperti anak sendiri. Ini semua berkat Ari yang selalu mengajariku dan Yuri. Aku harus berterima kasih padanya.
"Oh iya key, ibu mau pulang dulu soalnya mau belanja ke pasar sama bapak"
__ADS_1
"Ibu belanja di pasar kota kah? " Tanyaku
"Iya kan sekalian mumpung lagi deket dari sini"
"Iya sih bener juga, Hati-hati ya dijalan bu" Aku bersalaman pada ibu. Lalu ibu pergi berlalu menemui bapak yang menunggu di parkiran sana.
Aku duduk di bangku samping kelas. Melihat keakraban tante Maya dan Ari. Pasti tante Maya sangat bangga karena nilai Ari yang sangat bagus. Sedangkan Yuri disana pasti juga senang karena mamanya memuji nilai yang dia peroleh.
Tiba-tiba pandanganku tertuju pada kak Dika yang berbicara dengan seseorang. Sepertinya itu ayahnya yang mengambil raport kak Dika. Tapi sepertinya aku tidak asing dengan gerak tubuh yang dari belakang.
"Ayah" Benarkah itu ayah atau hanya pandanganku saja. Untuk lebih jelasnya aku mengejar kak Dika bersama orang itu. Tapi sayang orang itu sudah masuk ke mobil dan hanya ada kak Dika yang berdiam diri di sana.
"Kak Dika" Sapaku sambil menatap mobil yang sudah berlalu
"Eh key, ngapain lari-lari"
"Hmmm, anu kak. Oh iya itu siapa kak? " Tanyaku penasaran.
"Oh itu papahku key, kenapa memangnya"
"Ayah kak Dika? Siapa namanya"
"Aku memanggilnya papah Roy. Memangnya kenapa key kamu kenal? "
"Ah tidak kak, ingin kenalan saja sih sama papahnya kak Dika"
"Mau ngelamar jadi calon mantu ya" Ucapnya genit padaku. selalu saja dia menggodaku, malas sekali rasanya.
\*plak\* bibirnya sudah aku pukul dengan keras agar dia tidak berbicara terus.
"Sakit key astaga" Anehnya kak Dika tidak pernah marah padaku.
"Mau ke kantin sama Yuri dan Ari"
"Tunggu, aku ikut"
"Ngintilin aja" Aku pergi menghampiri Yuri dan Ari. Saat melihat kak Dika bersamaku, mata Yuri berbinar-binar seperti menemukan cahaya. Lalu kami pergi ke kantin untuk makan.
\*ting, ting\* Bunyi sendok berdenting karena bertemu dengan mangkuk bakso.
"Hey key, kenapa sih ngelamun saja"
"Ah tidak kok ri, cuman lagi menghayal heheheh" Padahal aku lagi memikirkan apa benar itu ayah, tapi kalau itu ayah mengapa muncul sekarang. Dan bila memang ayahku adalah ayah kak Dika berarti kita saudara tapi mengapa bisa demikian.
"Oh iya, aku ada kabar baru nih" Ari ingin mengumumkan sesuatu pada kami. Semua pandangan kini tertuju pada ari.
"Kabar baru apa? " Yuri bertanya karena penasaran dengan kabar yang dibawa Ari
"Di liburan semester ini kita akan kamping dan berkebun" semuanya menjadi diam lalu bertatap-tatapan.
"Dimana? " Tanyaku
"Di sebuah tempat yang berdekatan dengan vila mama" Sahut Ari
"Yeyyyyyy" Aku dan Yuri berteriak gembira. Inilah yang kami tunggu-tunggu, sebuah hiburan setelah otak diperas untuk berfikir. Kami membutuhkan ini untuk menyegarkan otak yang lelah.
"Wah asik dong" Sahut kak Dika
"Kak Dika mau ikut?, soalnya mama suka kalau kita ramai-ramai" Ucap Ari yang menawarkan kak Dika. sepertinya aku yang tidak setuju, tapi bagaimanapun ini kegiatan Ari jadi aku tidak bisa menghentikan ajakannya.
__ADS_1
"Boleh juga ri, biar aku refresing otak nih"
"Yesss" Ucap Yuri yang bahagia
"Husss, jangan macem-macem tapi" Kataku pada mereka berdua.
"Oh iya, aku juga mengajak Rena. Bolehkan? " Tanya Ari
"Kalau itu terserah kamu, kan yang punya acara keluarga kamu ri" Ucapku karena aku tau Ari menyukai Rena. Jadi tidak ada salahnya bila Ari harus mengajak seseorang yang dia sukai.
"Oke siap, kita akan berangkat minggu besok"
"Cepet amat sih" Aku protes padanya. Bagaimana bisa berangkat tapi aku belum memiliki persiapan yang sangat cukup.
"Tenang saja, aku yang menyiapkan semuanya dan kalian hanya menyiapkan pakaian saja"
"Benarkah, hmmm Ari baik banget" Ucap Yuri sambil memeluk tangan Ari dengan gemas.
"Gila, ini namanya acara" Sahut kak Dika yang memuji kesiapan Ari untuk semuanya
"Bagus banget ri, ternyata kamu sudah menyiapkan semuanya" Sambung ku yang memuji Ari karena dia telah mempersiapkannya.
"Jangan ngomong aja, ayo makan mumpung lagi seneng nih" Aku menghabiskan semangkuk bakso dengan semangat. Begitu juga dengan mereka menghabiskan makanan yang ada.
Bel pulang sudah dibunyikan, semua siswa pulang ke rumah masing-masing. Aku juga pulang menggunakan angkot sperti biasa. Berhenti di halte hanya untuk sekedar bertemu ataupun ngobrol bersama Riki dan pak Abi. Rutinitas yang selalu aku lakukan setiap pagi dan sepulang sekolah.
Aku juga menyiapkan diri untuk membawa barang-barang yang aku butuhkan saat kamping. memasukkan baju dalam tas, memasukkan bola agar bisa berlatih saat bersantai atau bermain bola disana.
Benda yang tidak boleh lupa saat bertahan pada waktu berkemah adalah tali dan juga pisau. Aku masukkan ke dalam tas kecil khusus. Entah mengapa aku lebih suka menyiapkan pisau dengan sarungnya dan juga tali untuk jaga-jaga. Menurutku lebih baik sedia payung sebelum hujan
Tidak lupa aku juga berpamitan pada ibu dan bapak jika hari minggu akan melakukan kemah bersama keluarga ari. Aku juga bercerita bahwa tempatnya tidak jauh dari villa milik keluarga ari. Kemah ini bertujuan untuk menghilangkan stress dan sekaligus refresing otak saat liburan semester. Bapak dan ibu setuju asalkan aku bisa menjaga diri baik-baik disana.
"Huhu, sok-sokan aja kemah palingan tidur di villa nya keluarga Ari" Tiba-tiba mbak Yeni datang dan mengejekku. Tidak enak rasanya kalau bertemu tidak bertengkar. Tapi pertengkaran ini akan dirindukan bila salah satu dari kita tidak ada di rumah.
"Ye,, memangnya mbak datang Kemah terus tidur doang, hahaha" Sahutku
"Mana ada, kamu tuh yang tukang makan aja" Selalu saja argumen yang tidak penting yang menjadi keriburan.
"Kalian, selau saja kalau bertemu ribut. Nanti kalau gak ada satu nyariin. Haduhhh pusing kepala ibu" Aku dan mbak Yeni tertawa bersamaan mendengar perkataan ibu. Begitu juga bapak tersenyum melihat kelakuan kami.
"Oh iya nih bawa, disana banyak nyamuk" Mbak Yeni mengeluarkan krim untuk melindungi kulit dari nyamuk.
"Makasih mbak cantik, muah" Ucapku sambil memonyongkan bibir padanya
"Memangnya kamu bawa apa aja kesana key" Ucap mbak Nike yang baru keluar dari kamarnya karena habis mandi.
"Banyak banget mbak ada tali, baju, bola, terus pisau"
"Hahahah, itu kemah apa mau pramuka" Ejeknya padaku
"Kan kita harus sedia payung sebelum hujan" Sahutku dengan nada sombong penuh keyakinan.
Lagipula di hutan pasti akan membutuhkan pisau apabila kita tersesat dan butuh makanan di hutan. Atau bahkan pisau juga bisa melindungi diri dari hewan buas.
__ADS_1
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~