
Doni terus saja berusaha memaksaku agar dia mampir ke rumah. namun aku tidak ingin dia datang ke rumah dan berakibat seperti sahabatku yang diserang oleh tetangga dengan ucapan teman dari anak sang pelacur.
"Kenapa tidak sekarang saja? "
"Jangan, lain kali saja ya don. Lagian ini sudah malam" Aku mencoba mencari banyak alasan agar dia tidak ke rumahku.
"Baiklah key, aku pulang dulu ya" Doni menyalakan sepeda motor dan berbalik ingin pergi.
"Makasih banyak ya Don, Hati-hati di jalan" Aku melambaikan tangan dan Doni berlalu pulang.
Lelah sekali hari ini, aku harus berkaca dulu di jendela warga, takutnya ada bekas tangisan tadi sore. Oh iya aku sampai lupa, apa tadi Doni melihat bekas tangisanku ya. Sepertinya jantung mataku tidak bengkak sih, jadi sangat aman hehehe.
"Syukurlah tidak ada" Setelah berkaca diam-diam di jendela warga. Akhirnya lega tidak ada bekas tangisan. Aku tidak ingin mereka khawatir saat melihat aku menangis. Pasti sekarang ibu dan bapak menungguku karena pulang telat.
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam" Benar saja, ibu dan bapak sudah ada di ruang tamu menungguku. Sepertinya aku pulang terlalu malam. Begitu juga mbak Yeni dan mbak Nike ada di sana.
"Kamu kemana aja nak, ibu khawatir" Ibu langsung beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri ku,
"Key tadi ngerjain tugas bareng temen bu" Sahut ku yang lagi-lagi berbohong.
"Kenapa tidak menghubungi mbak atau yang lainnya, disini kami khawatir denganmu" Sahut mbak Nike dengan mata yang menatap penuh kekhawatiran.
"Maaf mbak, key salah"
"Sudah-sudah, ayo pulang dan segera mandi" Ucap Ibu menenangkan suasana. Aku bergegas ingin pergi dari rumah ibu dan kembali ke rumah untuk beristirahat.
"Key tunggu, kamu hari minggu ada acara tidak?" Mbak Nike menghampiri ku
"Sepertinya tidak ada mbak"
"Oke baiklah, ikut aku ya ke kota" Aku mengangguk tanpa banyak basa basi apapun.
"Kok key aja sih mbak, aku juga mau ikut" Rengek mbak Yeni
"Tidak, tidak, kamu harus banyak belajar pokoknya" Alasan mbak Nike tidak mengajak mbak Yeni karena nilai dia yang kurang baik di semester akhir.
"Baiklah mbak, bapak, dan ibu key pulang dulu ya" Aku tidak lupa mengalami tangan mereka dan berpamiran untuk pulang.
Sesampainya di rumah aku membersihkan diri dan tidak ingin memikirkan apapun. Sat ini pikiranku sedang penuh dan tidak ingin memenuhinya lagi. Lebih baik merebahkan diri dan terlelap hingga pagi membangunkanku.
Di sekolah terdapat pengumuman bahwa akan ada event perebutan Piala SMA sepak bola putra. Poster itu ditempel di papan pengumuman. Aku melihatnya dengan senang, karena tahun kemarin tidak diadakan turnamen tersebut.
Hal tersebut dikarenakan ada kerusuhan sporter dan terjadi masalah pada tahun sebelumnya, yang menyebabkan turnamen dihentikan sementara. Dan hukuman itu kini telah berakhir, akhirnya tahun ini bisa diadakan kembali.
"Key"
"Eh Doni" Dia mengejutkan aku yang sedang fokus menatap poster tersebut.
"Kamu lihat apa? "
"Kamu tidak lihat aku sedang baca apa" Tatapanku kembali sinis padanya. Padahal sudah tau aku menatap poster yang sedang dipajang malah dia bertanya lagi padaku.
"Eh iya, kamu lihat poster ini ya? " Ucapnya nya sambil sneyum-senyum menatapku
"Iya, poster ini beneran kan? "
"Iya benar, ini nyata. Ada event bentar lagi, dan kamu harus lihat aku ya" Dia kembali menampilkan senyuman yang merayu. tapi aku tidak tertarik.
"Ngapain lihat kamu, aku juga punya kehidupan yang harus jalan" Sahut ku dengan ketus dan berjalan meninggalkannya
"Tunggu, aku bisa semangat kalo ada kamu" Doni mengejarku hingga sampai ke kelas.
"Asal kamu tau, semangat atau tidaknya itu dari hati" Tanganku memukul dadanya untuk memberikan isyarat bahwa kemauan dari hati yang akan membawa semangat dan kemenangan. Bukan harapan yang ditancapkan pada manusia.
"Tapi aku senang dekat denganmu key" Doni memegang tanganku yang ada di dadanya. Dia menempelkan dengan lama sambil mengatakan hal tersebut.
"Ihhh, apaan sih. Lepasin tangan aku Don" Bentak ku padanya dan merampas dengan paksa tanganku.
Saat itu juga ada David yang lewat di samping kami. Tatapannya menatap aku dan Doni dengan rasa kesal. Tapi aku tidak peduli. Langkahku segera pergi meninggalkan Doni dan berjalan di belakang David seakan membuntuti dirinya.
Aku mempercepat langkah agar lekas sampai ke kelas. Saking cepatnya, aku bisa mengejar langkah David dan berjalan di sebelahnya. Dan sekarang kami berjalan berdampingan.
__ADS_1
\*brakk\*
"Aduh, kamu gimana sih" Aku membentaknya saat kita berebut untuk masuk ke kelas. Padahal pintunya yang sempit dan tidak bisa dimasuki dua orang sekaligus. Sedangkan dia terus memaksa masuk.
"Ya kamu gimana, harusnya masuk satu-satu dong pintunya tidak cukup" Dia tidak mau kalah dan juga membentak ku. Kmi saling berhimpitan dan beradu argumen dengan badan yang melekat di tengah pintu.
"Coba kamu liat, yang jalan dulu itu aku" Kami masih saja bertengkar dan terus berbicara dengan pendapatnya masing-masing. Semua siswa di kelas melihat dan menertawakan kami berdua.
"Oke aku ngalah" David memilih mundur dan memberikan jalannya padaku
"Gitu dong dari tadi, kan enak" Ketusku sambil bergegas masuk lalu duduk di samping Ari.
"Hahahhaha" Tertawa kelas bergemuruh untuk kami berdua. Mereka tertawa karena kami berdua pagi-pagi sudah ngelawak berebutan masuk dengan pintu yang sempit seperti itu. Apalagi tubuh David yang tinggi dan bersisi, begitu juga denganku yang tidak kurus-kurus sekali jadi sangat susah bila berebut seperti tadi.
"Kalian ini kalau bertemu sering bertengkar, awas jodoh" Ucap salah satu teman sekelas kami yang membuat suara kelas bergemuruh lagi.
"Cieeee" Teriakan dari kelas membuatku pusing saja. Lebih baik duduk di bangku lalu diam.
Meskipun sudah duduk di bangku, Ari dan Yuri juga mengejekku. Mereka tidak berhenti menggodaku hingga aku menutup telinga dengan tas lalu berpura-pura tidur. Hingga waktu jam pelajaran dimulai.
Setelah pelajaran selesai, aku pergi ke kantin bersama Yuri dan Ari. Disana aku bertemu dengan Rega. Rega bilang bahwa latihan minggu depan akan digabung dengan latihan sepak bola putra.
Hal tersebut dikarenakan ada event sepak bola putra. Cocah Alam menginformasikan bahwa kami dari tim putri harus melihat permainan dan latihan yang baik. Karena kualitas permainan kita masih tertinggal jauh dengan tim putra.
Sebenarnya aku setuju saja, tapi mengapa harus bergabung. Bukankah tim putra sudah berlatih dihari-hari sebelumnya sebagai persiapan pertandingan. Tapi mengapa tim putri harus ikut dengan mereka. Aku tidak mengerti dengan konspenya. Sebaiknya aku ikuti saja perintah dari coach Alam.
" Wah asik key, kita bisa nonton" Ucap Yuri dengan semangat. Karena Yuri pasti akan menonton bersama kak Dika.
"Kamu ri, kemarin saat aku bertanding kamu menghilang tidak pernah datang" Sahut ku dengan nada malas. Karena Ari di pertandingan ini bersemangat sedangkan pertandinganku waktu itu dia tidak pernah datang.
"Ya soalnya aku lagi ada kesibukan key. Dan sekarang kita nonton sama-sama ya" Bujuk Ari padaku.
"Iya iya, kita bakalan nonton barengan bertiga. Awas saja kalian bawa gebetan masing-masing" Ketusku dengan nada peringatan pada mereka. Karena diantara mereka hanya aku yang tidak memiliki gebetan.
"Hahahhah, mungkin iya dan mungkin tidak" Jawab Yuri membuat dahiku mengkerut sambil menahan tawa..
"Hahahhaha" Ari dan yuri tertawa puas padaku. Mereka berdua sellau saja membuatku kesal dengan ucapannya. Tapi aku sangat sayang dengan mereka berdua.
Setelah makan, tiba-tiba perutku sakit dan harus pergi ke tempat yang membuatku nyaman, yaitu toilet. Selalu saja setiap hari tidak pernah absen untuk ke toilet. Dasar perut, kalo gak kencing yang buang sesuatu yang besar heheheh.
"Aku ke kamar mandi dulu ya, perutku sakit" Ucapku pada Yuri
"Ya ssudah nanti kami menyusulmu untuk kembali ke kelas" Sahut Ari
"Ide bagus" Aku bergegas pergi dan segera ke toilet. Membuang sampah yang ada di perut agar terasa lega.
"Kamu itu beneran suka sama si culun Ren? "
"Dia? Ya nggak lah. Kalau dia gak pinter atau kaya, aku gak bakalan mau deket sama dia" Perkataan itu membuat kepalaku panas. Ingin menghantam nya tapi aku belum selesai membuang hajat. Lebih baik aku menyelesaikannya.
"Wah bagus banget Rena, berarti kamu memanfaatkan dia aja dong"
"Iya lah, lagian aku sukanya sama David si anak baru bukan sama si culun" Geram sekali hatiku mendengar hinaannya pada sahabatku sendiri.
\*brakkk\* aku membuka pintu dengan keras.
Hal itu mengejutkan mereka bertiga yang sedang berbicara di depan cermin. Puja, Dewi dan Rena mereka adalah kumpulan orang jahat yang sekali lagi aku temui setelah Ana. Bahkan hanya untuk keperluannya sendiri, dia mendekati Ari dan pura-pura baik.
__ADS_1
"Key" Mata mereka terbelalak melihatku. Sedangkan amarahku sudah di ubun-ubun.
"Bagus banget ya kamu aktingnya, sampai Ari sangat percaya denganmu" Ucapku sambil mendekati mereka.
"Iya dong, aku bakalan buat Ari semakin jatuh cinta padaku. Lalu dia bakalan benci dengan kamu dan Yuri" Licik sekali pikirannya. Semakin membuat amarahku terbakar.
\*brak\* aku memukul pintu dengan keras.
Meluapkan amarah karena omongan Rena yang sangat menyakitkan.
"Kenapa, kamu sudah kalah ya denganku" Dia semakin mengejekku
"Aaaaa, sakit key lepas, lepasin" Aku menjambak rambutnya dengan kuat. Sehingga membuat Dewi dan Puja ketakutan. Mungkin mereka berdua akan mengingat kemarahanku terakhir kali bersama anak.
"Key maafin kita key" Aku memberi isyarat agar mereka berdua pergi. Dengan ras takut Dewi dan Puja mundur ke belakang dan keluar dari toilet dengan tergesa-gesa.
"Hey tunggu aku, kalian mau kemana" Rena mencoba memanggil mereka. Tapi sayang Dewi dan Puja sudah berlalu pergi.
"Kamu pikir aku tidak bisa marah, aku diam karena aku menghargai Ari. Dan aku membencimu Rena" Tanganku masih melekat di rambutnya. Aku tidak mengancamnya tapi aku ingin memberikan dia pengertian yang tidak akan dia lupakan.
"Key lepas key, key" Aku masih menatapnya dnegan tajam. Amarahaku sudah meluap, tapi aku harus menahan diri agar tidak terjadi hal yang bisa membunuhku sendiri.
"Aku ingatkan sekali lagi, aku tidak akan tinggal diam jika kamu menyakiti hati Ari. Kamu akan menghadapi ku di manapun dan kapanpun itu" Ancam ku padanya. Sedangkan Rena masih meringis kesakitan karena tanganku mencengkram erat rambutnya.
"Key lepasin" Dia masih meronta-ronta dan air matanya menetes diantara pipinya.
\*bruk\* aku melemparkan dia hingga terjatuh ke lantai. Kali ini aku tidak akan berbuat kesalahan lagi yang bisa menyebabkan masalah besar. Aku berbalik arah dan ingin meninggalkannya pergi. Ku rasa ini sudah cukup sebagai peringatan yang dapat membuatnya jera.
"Awas saja kamu key, aku akan membalasmu lebih dari ini" Aku tertarik dengan pembicaraannya. Lalu aku berbalik arah dan menatap Rena kembali dengan tatapan benci. Rena merasa ketakutan saat aku berjalan ke arahnya.
"Key, ti..tidak key" Sambil meletakkan tangannya di depan mata untuk meminta ampun.
"Apaan sih, aku belum cebok habis ke wc" Gertakan ku yang mencoba menakutinya. Padahal aku berbalik karena lupa cuci tangan setelah ke wc.
"Ih dasar jorok" Bibirnya berdecik kesal.
"Apa katamu? " Pandanganku kembali menuju arahnya.
"Ah tidak key, aku tidak bicara apapun" Aku tidak peduli dan pergi meninggalkannya sendiri. Aku sangat puas melihat wajahnya yang ketakutan dan ingin menangis. Makanya jangan pernah menggertak seseorang, sekali dia membalas maka akan hancur dirimu.
Saat keluar dari toilet, ternyata Puja dan Dewi masih menunggunya diluar. Aku menatap mereka dengan tatapan tajam. Mereka mengerti dengan isyarat mataku, sehingga mereka berdua bergegas pergi dari sana. Langkahnya begitu cepat karena rasa takut.
"Hahahah, dasar" Ketawa ku yang membawa semangat karena kekonyolan mereka. Siapa suruh ingin menipu sahabatku, maka kalian akan menanggungal akibatnya. Tidak akan aku biarkan siapaun menyakiti ari dan yuri. Kedua sahabat yang sangat aku sayangi.
"Key, kamu kemana aja. Lama sekali ke toiletnya" Saat aku memasuki kelas, Ari menegurku. Tapi hanya Ari dan aku tidak melihat Yuri
"Biasa ri, lagi sakit perutku. Oh iya Yuri mana? " Tanyaku saya memastikan bahwa Yuri tidak ada di kelas.
"Yuri lagi sama kek Dika di taman" Aku tersenyum mendengarkan penjelasan Ari. Sepertinya kak Dika dan Yuri akan segera jadian.
"Kamu senyum-senyum sendiri key, memangnya ada apa? " Aku segera duduk mendekat dengan Ari.
"Aku yakin kak Dika bakalan nembak yu,ri" Saatnya ngerumpi dimulai.
"Benarkah? " Aku mengangguk. Sepertinya ari masih tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Sebaiknya waktu saja yang menjawab tentang kelicikan Rena.
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~
__ADS_1