
Di sekolah
"Sepi banget, apa aku yang terlalu pagi ya" Suasana sepi menyelkmuti kelasku. Apalagi di bangku David yang masih kosong karena dia belum datang juga setelah pergi dan melakukan seleksi untuk pertandingan timnas Indonesia.
"Vid kamu kapan pulangnya sih, rindu sekali melihat wajahmu walau terkadang aku selalu menjauh" Gumamku berbicara sendiri pada bangku kosong.
Sudah beberapa waktu David tidak menghubungiku. Mungkin dia berlatih terus hingga lupa memberikan kabar tentangnya. Lagipula aku bukan orang yang paling penting dalam hidup David.
"Aku harap kamu segera kembali" Gumamku sambil memegang kalung yang sedang aku pakai.
Beberapa menit kemudian, siswa-siswi juga mulai berdatangan dan masuk ke dalam kelas. Begitu juga dengan Ari dan Yuri datang menghampiriku.
"Eh bentar aku mau cerita" Selalu saja ada cerita setiap pagi, siang sore atau bahkan sepanjang hari di sekolah. Siapa lagi kalau bukan Yuri yang selalu membawa berita apapun.
"Apa? "
"Sudah beberapa hari ini Rena tidak masuk sekolah"
"Mengapa? " Aku terkejut mendengar hal tersebut.
Aku tidak tau pasti keadaan Rena yang sekarang. Karena setelah aku datang dari luar kota, jarang sekali aku melihatnya lagi di sekolah. Aku hanya ingin tau kabar Rena apakah dia baik-baik saja ataukah masih ada hal yang menyelimuti dalam kehidupannya.
"Sepertinya dia stres key"
"Stres? " Ari dan aku terkejut secara bersamaan. Karena baru kali ini mendengar bahwa Rena stres.
"Dengar-dengar dia ada sesuatu masalah yang lebih besar"
"Apa? "
"Tidak tau"
*plak*
"Aku sudah mendengarmu secara benar-benar tapi kamu menjawab dengan santai bahwa tidak tau? "
"Iya" sambung Ari yang juga ikut kesal.
Ari dan aku menatap Yuri dengan sinis. Dia yang membakar otakku untuk bergosip tapi dia pula yang mematahkan untuk menjadi diam dan tidak melanjutkan perkataannya.
"Sudahlah, ayo kita bersiap untuk belajar" Ucap Ari pada kami berdua karena belum pelajaran sudha dimulai.
Benar saja saat jam istirahat aku juga tidak menemukan Rena. Bahkan Adel beserta gengnya juga tidak memperdulikan Rena. Bahkan mereka sudah benar-benar tidak mengurusi kehidupan Rena yang pernah menjadi angota geng mereka.
Aku jadi khawatir dengan keadaan Rena. Aku takut dia memiliki fikiran untuk mengakhiri kehidupannya lagi seperti dulu. Cepat atau lambat, aku ingin bertemu dengan Rena.
"Apa benar Rena hamil dengan Boby? "
"Iya benar, aku mengetahuinya dari mulut Boby"
Langkahku terhenti saat mendengarkan percakapan mereka yang membicarakan tentang Rena. Aku menghampirinya untuk mengetahui pasti apa yang sedang terjadi.
"Apa maksud kalian? Rena hamil?
" Iya key"
"Tau dari mana kamu jika dia hamil" Aku membentaknya dengan keras sehingga mereka menunduk.
"Cepat jawab"
"Boby bercerita telah menidurinya" Aku terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa dan mengapa hal itu bisa terjadi. Kepalaku masih bertanya-tanya.
"Aku harap kalian jangan menyebarkan gosip tentang Rena. Kalau sampai aku mendengarkan gosip ini menyebar satu sekolah, aku akan menemui kalian satu per satu"
Peringatan keras bagi mereka bertiga agar tidak menyebarkan gosip ini. Aku takut mereka akan merunding Rena tentang hal tersebut. Aku akan mengetahui kebenarannya tentang Rena dan Boby. Apakah benar Rena stres karena kejadian dengan Boby.
*brak*
Pintu terbanting dengar keras. Semua siswa di dalam kelas terkejut saat aku masuk secara tiba-tiba di hadapan mereka. Adel menghampiri ingin memaki tapi aku mendorongnya karena urusanku saat ini bukan pada Adel melainkan dengan Boby.
Amarahku memuncak saat melihat wajah Boby yang terlihat haik-baik saja. Wajahnya tenang seperti tidka memikirkan apapun.
"Ikut aku sekarang"
"Apa maksudmu Key"
"Cepatlah, sebelum aku bertindak disini"
Boby segera mengekori aku dari belakang. Aku membawanya ke tempat sepi tanpa ada yang mengetahui hal apa yang ingin aku lakukan padanya.
"Key kenapa sih"
"Cepat masuk" Aku mendorongnya dengan keras.
Salah satu ruang kelas kosong yang berada dekat gudang. Aku menutup pintu rapat-rapat agar tidak ada yang mengetahuinya.
*brak* pukulan keras mendarat ganas di pipi Boby hingga wajahnya memerah.
"Ada apa Key, apa kamu gila"
__ADS_1
Tatapanku semakin tajam menuju ke arahnya. Dia terjatuh dan duduk di atas lantai sambil memegangi kedua pipinya yang terkena kepalan ganas dari tanganku.
"Apa yang kamu lakukan pada Rena"
"Rena? Ada apa dengannya, aku tidak tau" Dia masih berbohong, membuat senyum licik ku bergeming.
"Jangan pura-pura, sebelum aku menghantam wajahmu kembali" Boby terdiam sejenak.
Aku ikut duduk dan menatap ke wajahnya yang mulai kebingungan. Aku tau dia sedang berfikir dan mencari alasan untuk menjawab pertanyaanku.
*brak* aku menendang meja dengan keras. Sepertinya kepalaku mendidih karena Boby menguji kesabaranku kali ini.
"Jawab Bob"
"Tidak ada apa-apa Key"
*brak* bongkahan segar kembali memukul wajah Boby.
"Oke, Oke, aku sudah menidurinya" Mataku terbelalak mendengarkan apa yang keluar dari mulut Boby.
"Apa? " Boby mengangguk dengan isyarat bahwa ucapannya adalah kejujuran.
"Aaaaaaa"
*plak, plak, plak* aku memukul wajah Boby dengan keras. Amarahku memuncak dan ingin segera menghabisinya sekarang. Tanganku mengambil ancang-ancang untuk memukul Boby menggunakan bangku.
"Aaaaaaa"
"Ampun key"
Sebuah tangan menahanku dari belakang agar kursi itu tidak terjatuh dan mendarat ke kepala Boby. Tangan kekar itu sangat kuat dan mengelus lembut padaku.
"Turunkan, jangan berbuat hal bodoh lagi. Aku tidak ingin kamu keluar dari sekolah"
"Kak" Aku berbalik ke arah belakang, ternyata itu tangan kak Dika.
*brak* Aku melempar kursi itu dengan keras karena gagal menghantam Boby.
Aku tidak mengerti mengapa dia ada disini dan megikutiku. Bahkan aku tidak merasakan saat dia masuk ke dalam kelas. Tapi kali ini dia menatapku dengan tatapan lembut seakan tau apa yang aku rasakan.
"Kak dia"
"Iya aku tau, tapi kamu jangan berbuat hal bodoh. Karirmu masih panjang" Aku mengangguk dan segera menarik nafas dalam-dalam dan duduk di bangku.
Kak Dika menenangkan aku yang sedang dalam amarah di atas puncak karena kelakuan Boby yang sangat bejat. Aku masih tidak mengerti kenapa dia melakukan hal ini pada Rena.
"Duduklah, biar aku yang akan mencari tau semuanya" Aku mengangguk dan kek Dika segera menuju ke arah Boby untuk menanyakan hal yang mengenai Rena.
Mengapa pemain sehebat Boby yang bisa menembus klub kota ini bisa berbuat hal yang sangat tidak senonoh. Bahkan hingga merenggut kesucian wanita yang masih duduk dalam satu kelas dengannya.
"Key, aku sudah mengetahui semuanya" Ucap kak Dika sambil sesekali menoleh pada Boby yang masih duduk di lantai bawah.
"Apa kak?"
Kak Dika menjelaskan bahwa Boby ingin membalas dendam pada Rena karena dia pernah menolak cintanya berkali-kali lalu dia juga pernah melakukan ejekan dengan berbicara bahwa Boby tidak tampan. Hal itu membuat dirinya dibutakan oleh dendam.
"Manusia gila" aku berdiri dan ingin memukulnya lagi. Telingakj panas mendengarkan ceritanya, dia boleh membenci tapi bukan untuk membalas dendam seperti ini.
"Duduklah, dengarkan aku" Kak Dika kembali menahan dan mencoba menenangkan amarah ini.
Kak Dika bercerita bahwa Boby sengaja menuangkan sebuah obat tidur pada diri Rena dan berhasil membuatnya terlelap dalam kungkungannya sehingga dengan leluasa dia bisa menjamah tubuh Rena.
"Gila, gila, gilaaaaaa" Teriakku dengan keras. Aku bangkit dari tempat duduk dan kembali menghampiri boby. Kali ini aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi.
Genggaman kuat tanganku dengan ribuan amarah dalam jiwa. Aku melemaskan jari-jari untuk siap menghantam wajahnya lagi dengan keras. Kali ini untuk memberinya pelajaran bahwa wanita tidak sepenuhnya untuk dijamah sembarangan.
*buk, buk,, buk* kedua tanganku sibuk memukul wajahnya secara bergantian.
Aku tidak ingin melepaskannya kali ini. Tapi kak Dika kembali menahanku, dia tidak ingin aku kembali melakukan hal bodoh yang akan berakhir dengan skorsing atau dikeluarkan dari sekolah.
"Key, tolong jangan lakukan hal bodoh lagi" Aku kembali terdiam saat tatapan kak Dika penuh dengan harapan untuk memohon padaku. Matanya mengatakan bahwa ingin melindungiku adik satu-satunya yang dia miliki saat ini.
"Bob, aku ingin kamu segera meminta maaf pada Rena dan kamu harus tanggung jawab atas perbuatan yang telah kamu lakukan" Boby mengangguk dengan nasehat yang diberikan kak Dika.
"Sekarang pergilah" Boby pergi dengan rasa ketakutan. Matanya sesekali menatapku dan kemudian bergegas pergi dari ruangan ini.
Wajahnya sudha bababk belur, bahkan bengkak di matanya akan membekas dan tidka hilang untuk beberapa hari. Tapi itu tidak sebanding dengan apa yang telah dia lakukan pada Rena.
Kak Dika juga berkata bahwa dia akan memantaunya tentang hal yang ingin Boby lakukan. Sedangkan aku hanya bisa meminta maaf pada kak Dika karena tidak bisa membantunya sebab hari ini aku akan membantu ibu untuk mempersiapkan pesanan nasi.
Kak Dika juga berkata untuk merahasiakan hal ini pada siapapun. Bahkan dia juga mengancam Boby agar tidak melakukan penyebaran yang bisa menyebabkan orang-orang tau tentang hal ini.
"Kak, aku takut Rena kenapa-napa"
"Tidak usah takut, semuanya akan baik-baik saja" Aku mengangguk mendengar ucapannya walau dalam lubuk hatiku masih belum tenang karena belum melihat pasti tentang keadaan Rena.
Tangan kekar itu memelukku den memberikan pengertian agar tennang dan tidak berfikir hal buruk lagi. Dia membelai lembut rambutku dan memberikan kata-kata nasehat.
Kami berdua keluar dari ruangan tersebut dan berjalan seolah-olah tidak terjadi apapun. Melewati kelas Adel dan disana melihat Boby sedang di introgasi oleh beberapa teman sekelasnya.
__ADS_1
Aku menatapnya dari luar jendela dan mengangkat kedua jariku serta menunjukkan ke arah mataku dengan memberikannya syarat bahwa aku mengawasinya.
"Key, kak Dika, kalian dari mana saja" Yuri datang menghampiri kami yang sedang berjalan menuju kelas.
"Aku dan Key sedang ke kantin untuk mengisi perut" Aku tersenyum dengan anggukan untuk mengajak Yuri percaya akan hal yang dibicarakan oleh kak Dika.
"Ihhh, jahat sekali. Aku tidak kalian ajak" Rengeknya seperti anak bayi dimulai.
"Iya maaf, lain kali kita ke sana bareng ya" Tutur lembut kak Dika sambil membelai rambut Yuri dengan gemas karena rengekannya. Sedangkan Yuri mengangguk terpaksa walau hatinya sedang marah.
"Ahhh, kalian selau menampilkan kemesraan. Mataku membencinya"
"hahaha" tawa kak Dika dan Yuri saat gemas melihatku menjadi obat nyamuk.
"Baiklah aku duluan ya, kalian tidak usah bertengkar" ucap kak Dika yang memilih pergi, mungkin dia tidak ingin terlihat mesra terlalu lama.
"Siap bos" Sahutku dengan lantang.
Kak Dika segera pergi dari hadapan kami berdua. aku mengajak Yuri masuk ke dalam kelas dan mengatakan bahwa tidak terjadi hal apapun hanya saja aku makan di kantin bersama kak Dika tadi.
Di Rumah
"Key tolong ambilin nampan yang ada di atas meja"
"Siap mbak"
Sore hari kami semua sibuk mempersiapkan pesanan orang. Sebentar lagi pesanan itu harus sudah selesai diangkat ke atas mobil pick-up untuk diantarkan kepada pemesan.
"Key kamu saja yang ikut ibu, aku lagi ada tugas kuliah dan besok harus dikumpul"
"Heleh.. Heleh..., palingan nonton drakor" Mbak Yeni meringis menatapku.
"Tidak, aku ingin mengerjakan tugas lalu selebihnya menonton"
"Huhuhuuu, dasar"
Akhirnya aku yang ikut ibu dan bapak untuk datang ke rumah orang yang memesan. Katanya kami juga disuruh ikut pengajian. Hitung-hitung aku merefresing isi kepala dengan ilmu agama agar tidak dirasuki para iblis yang selalu membuat amarahku memuncak. Walau sebenarnya memang kepalaku saja yang tidak bisa menahan amarah, heheh.
"Ini rumahnya bu? "
"Alamatnya sih disini, sebentar ya ibu turun dulu"
"Oke siap"
Ibu turun dan bertanya pada satpam, ternyata memang benar ini rumahnya. Pak satpam menyuruh kami masuk ke dalam untuk meletakkan pesanan tersebut. Kami semua menyusun pesanan di atas meja yang ditentukan.
Setelah itu kami bersantai dan mataku terpesona melihat rumah yang sangat mewah ini. Rumahnya hampir sama dengan rumah Ari, sangat besar dan luas.
"Hei, kamu? "
"Kamu, kamu ngapain disini? " Aku melihat Adit masuk ke dalam rumah ini. Apa yang sedang dia lakukan, apakah juga ikut pengajian yang diadakan.
"Ini rumah mamaku, dia mengadakan pengajian karena aku pulang dari kota" Aku masih belum mengerti apa yang dia bicarakan. Apakah betul dia anak dari pemilik rumah ini.
"Berarti kamu anak dari pemilik rumah ini? " Dia mengangguk, membenarkan apa yang telah aku ucapkan.
"Kamu sendiri sedang apa disini, apakah ikut pengajian juga? "
"Tidak, sebenarnya aku menantu ibu dan bapak mengantarkan makanan. Dan kami juga diundang untuk mengikuti pengajian yang ada" Ternyata dunia ini sempit, sehingga aku bertemu dengannya lagi.
__ADS_1
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~