Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
112. Pertarungan Konyol


__ADS_3

Aku harus memutar otak lalu pergi dari sini dan jangan sampai bos besar mereka datang dan bertemu denganku. Aku takut mereka melakukan hal buruk yang membuatku terluka.


"Aduhh, bang saya mau kencing" merengek pada mereka berdua.


"Ya sudah kencing disini saja" jawabnya santai, dasar otak kosong.


"Kalau saya kencing disini maka kalian akan mencium bau Pesing tau" perdebatan tentang hal kecil membuat ribut saja.


Pada akhirnya mereka mengikuti apa yang aku mau. Dengan terpaksa mereka membuka ikatanku dan mengantarkan untuk ke toilet. Saat ini aku akan melakukan hal terbaik untuk bisa keluar dari sini.


Aku melihat jendela di toilet cukup besar, aku bisa memanfaatkannya untuk kabur dari sini. Aku berusaha untuk membuka jendela dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara.


*Klek*


"Alhamdulillah" ucapku bersyukur karena jendela itu sudah terbuka. Perlahan aku keluar dan berlari sejauh mungkin untuk menjauh dari tempat ini.


Tempat ini sangat terpencil, aku tidak tau arah. Disini hanya banyak rerumputan liar dan bahkan tidak ada satu rumah pun yang ada di dekatnya. Aku terus berlari dan berlari sampai jauh.


"Aduhh, ini dimana ya" gumamku berbicara sendiri sambil melihat apakah ada jalan keluar yang bisa aku jejaki. Aku terus berlari tanpa arah tujuan, tidak ada arah yang didapat namun aku harus keluar dari tempat ini.


Akhirnya aku bertemu jalanan tapi tidak di aspal. Sepertinya masih ada orang yang melewati jalan ini karena banyak jejak roda baik itu roda motor dan roda mobil lainnya.


*Tinnnn*


*Brak* mobil itu menabrak ku, untung saja aku hanya luka ringan di tangan dan di kaki.


Supir itu keluar dan menghampiriku. Aku melihat ada tanda-tanda harapan yang bisa membuatku keluar dari sini.


"Kamu tidak apa-apa?" Dia bertanya dengan ramah. Sepertinya dia orang baik yang bisa menolongku.


"Pak, pak tolong. Tolong saya keluar dari tempat ini" aku memohon padanya agar bisa membawaku keluar dari tempat ini. Aku yakin dia pasti mau menolongku.


"Ayo masuklah ke mobil" ucapnya dan menuntunku untuk masuk ke dalam mobil.


Akhirnya aku bernafas lega dan bisa keluar dari tempat ini. Aku menyandarkan kepala sambil duduk dengan tenang di bangku depan.


Tiba-tiba mataku terkejut melihat mobil ini melaju dan berhenti di tempat gudang tadi. Aku tidak mengerti apa yang akan dia lakukan. Tapi sepertinya dia bukan orang baik.


"Ayo turun" bentaknya dan dia menyeret aku dengan kasar.


"Lepasin, lepasin" aku terus memberontak padanya. Tapi kekuatan dia sangat besar dan tidak sebanding dengan tenagaku yang begitu kecil.


Dengan mudahnya dia mengendong ku dan masuk ke dalam gudang. Dia melemparkan tubuhku dengan keras di hadapan kedua penjahat tadi.


"Bodoh kalian, mengapa anak ini bisa lepas dengan mudah. Memangnya kalian ngapain saja?" Dia membentak dengan keras dan rasanya amarah sudah ada di atas ubun-ubun.


"Maaf bos, kami tidak becus menjaganya hingga dia kabur" penjahat yang kekar saja tertunduk pada dia.


Lalu siapakah orang ini yang menculik dan menyuruh seorang penjahat untuk datang menangkap ku.


"Ikat dia" perintahnya yang membuat mereka berdua memaksa untuk mengikatku kembali. aku terus memberontak tapi tetap saja kalah karena aku berjuang sendiri dan mereka berdua.


Akhirnya aku kembali ke kursi ini. Duduk dengan tangan dan kaki terikat kuat. Aku hanya bisa terdiam kembali dan tidak dapat melakukan apapun. Orang itu mendekatiku dengan tatapan tajam.


"Kali ini kamu tidak akan lolos, kalau bisa kamu mati saja di sini" ancamnya padaku.


Aku tidak akan takut kali ini karena sudah melihat wajahnya. Aku pikir wajah dia seperti petinju di laut negeri, ternyata tidak menakutkan dan biasa saja.


"Kamu pikir aku takut?, Aku tidak akan takut dengan ancaman itu" jawabku dengan tegas.


"Dasar anak kecil, aku juga bisa mematahkan seluruh tubuhmu" dia semakin mendekat dan mencengkeram erat kedua pipiku dengan tangannya.


Dia terus mengatakan akan membuatku menderita. Ternyata dia salah satu orang yang ikut dalam kelicikan pertandingan ini. Dia adalah orang yang dengan sengaja mengatur hal buruk untuk membuat tim yang sedang aku bela menjadi kalah.


"Ambilkan aku kayu" perintahnya membuat si cungkring dan si kekar menjadi ketar-ketir.


Mereka langsung mengambil kayu dan memberikan padanya. Tangannya masing-masing memegang kayu yang cukup kuat.

__ADS_1


"Lihat apa yang aku pegang?"


"Kamu pikir aku orang bodoh, sudah jelas-jelas kamu memegang kayu bukan megang makanan" sahutku dengan keras.


"Hahahah, iya benar juga" Kenapa aku selalu bertemu penjahat bodoh, salah satunya adalah mereka.


*Brak* dia marah saat si cungkring menertawainya dengan polos.


"Diam, kamu bisa diam tidak"


"Maaf bos " aku tersenyum melihat kelakuan yang tidak ada habisnya.


"Aku akan menyiksamu agar tidak bisa bermain dalam pertandingan hari ini" orang ini benar-benar membuat rencana agar aku tidak bisa bermain di pertandingan hari ini atau di pertandingan selanjutnya. Aku harus benar-benar waspada.


"Lihat ini, yaa" dengan tersenyum dia mengarahkan kayu itu ke kepalaku.


Aku hanya bisa menghindarinya agar kayu yang keras tidak menghantam kepala ini. Karena sudah sering di hantam oleh penjahat, aku takut otakku lepas.


"Kamu masih belum takut?" Aku tetap memasang dengan wajah tenang dan waspada.


Tidak ada rasa ketakutan pada diriku karena aku masih punya Allah. Aku selalu berdoa agar diberikan keselamatan dari orang-orang sepertinya.


"Wah, wah, wah masih bisa melawan juga ya" senyum dia semakin licik. Tubuhnya mendekatiku dan mengambil ancang-ancang untuk bisa memukulku dengan ganas.


*Brak*


"Aaa" dengan keras dia memukulku di bagian bahu kiri.


Setelah memukul, dia menatapku dengan senyuman psikopat yang dia miliki. Sepertinya dia pembunuh darah dingin. Tapi aku harus tetap tenang.


Kematian sudah ada yang mengatur. Aku yakin Tuhanku tidak akan membiarkan hambanya berjuang sendirian. Pasti ada jalan keluar yang akan mengamankan ku dari orang kejam.


"Kamu lihat, satu tanganmu sudah lemas. Sekarang tinggal tangan satunya " ucapnya kembali sambil mendekatkan kayu itu ke bahuku sebelah kanan. Mengelus bahuku dengan kayu. Lalu ia ulangi lagi dengan memukulku sangat keras.


*Blak*


"Sakit kan?" Aku menatapnya dengan kesal. Emosiku sudah di puncak, andai saja tanganku terlepas maka akan aku pukul wajahnya hingga hidungnya patah.


"Satu lagi yaitu kakimu"


"Bos, apakah sebaiknya kita tidak memukulnya lagi" ucap si kekar yang tidak terima dengan pukulan bertubi-tubi yang di lakukan oleh tuannya padaku. Seakan dia ingin melindungi ku dengan cara lain.


*Plak* pukulan keras menghantam wajahnya yang membuat dia mundur dan Kembali diam di tempat tadi bersama si cungkring.


"Diam kamu" bentaknya dengan keras.


"Lihatlah, kakimu akan patah sebentar lagi. Aku tidak akan membiarkanmu bermain bola kembali" Orang yang snabat licik, tujuannya adalah mematahkan kakiku agar tidka bisa merumput lagi.


*Cuihhh* aku meludahi wajahnya yang mendekat di hadapanku.


"Aaaaa"


"Hahahaha" sepertinya orang ini sudah gila. Setelah menjerit lalu dia tertawa keras. Dia membersihkan wajahnya dan Kembali menatapku dengan tatapan yang sama.


Dia terus mengelilingiku sambil berkata bahwa aku akan pensiun dini menjadi pemain bola. Bahkan katanya aku akan mengubur mimpiku untuk menjadi pemain bola. Karena dia akan membuat kakiku patah dan tidak bisa di gunakan lagi.


"Satu....dua....ti" dia terus menghitung sambil mengangkat kayu besar untuk menghantam kakiku agar menjadi patah.


"Ti..." Dia terus bermain-main dengan ucapannya. Sedangkan aku dari tadi memilih diam dan menatapnya kesal.


Dari tadi aku terdiam karena mencoba melepaskan tali. Walaupun tali ini kuat dan sangat susah, tidak ada salahnya aku mencoba keberuntungan untuk membukanya secara perlahan.


"Tiga" aku menutup mata dengan hitungan ketiga karena tidak ingin melihat kakiku patah.


"Hahahah, akhirnya kamu takut juga ya" ternyata dia masih bermain-main dan belum memukul kakiku.


Dia hanya mencoba menyakitiku agar menambah rasa kesenangan. Sepertinya dia memang benar-benar psikopat yang akan membunuhku hari ini juga. Nafasku terus menarik udara dengan kasar dan jantungku terus berdetak lebih kencang. Aku harus bisa melawan dan tidak boleh diam.

__ADS_1


"Tenang-tenang, kali ini aku benar-benar mematahkan kakimu" dia kembali mendekat dengan membawa kayu lebih besar lagi. Tangannya sudah mengambil ancang-ancang untuk memukulku dengan keras.


"Satu...dua....ti..."


"Tunggu" mataku yang tertutup kembali membuka saat mengenali suara itu.


"Kakak" kak Dika datang dan masuk ke dalam gudang ini.


"Hey, siapa kamu. Berani-beraninya masuk ke wilayah ini" ucapnya pada kak Dika. Aku pikir dia sendirian ternyata bawa teman.


"Doni" gumamku lagi sambil tersenyum saat melihat mereka berdua.


Gaya mereka sudah seperti jagoan yang ingin mengganyam tikus di depanku ini. Aku juga berusaha membuka tali saat mereka sibuk berargumentasi dengan pertanyaan-pertanyaan dan jawaban dari masing-masing.


"Apa yang kalian lakukan, hajarr mereka berdua" Perintahnya pada anak buahnya. Tanpa basa-basi, mereka langsung menyerang kak Dika dan Doni. Akhirnya perkelahian tidak bisa dihindarkan.


Saat orang itu asik melihat perkelahian itu, tanpa aku sadari Ari dan Yuri datang membuka tali yang melilit tubuhku. Secara diam-diam aku terlepas dari ikatan tersebut dan memeluk kedua sahabatku dengan sangat senang.


"Kalian" Dia berbalik arah dan menatap kami bertiga yang sedang asik berpelukan.


Dia menghampiri kami dan akan memukul dengan kayu yang masih ada di tangannya. Aku segera menangkisnya dengan lenganku.


"Aaa" Teriakku menahan sakit. Aku tidak peduli tangan ini sakit asalkan kayu itu tidak sampai kepada kedua sahabatku ini. Aku mencoba merebut kayu yang dia pegang tapi sangat keras.


Akhirnya Yuri dan Ari membantuku untuk merebutnya. Kami berempat saling berebut satu sama lain. Secara bergantian kayu itu ada di tanganku lalu ada di tangannya lagi dan tidak ada habisnya.


"Aduhh, kenapa kalian menajdi gini. Berikan saja kayu ini padaku" ujarnya.


"Tidak akan" Sahut ku dengan nada menantang dan terus menarik kayu itu. Padahal kayu di bawah ada tapi kenapa lebih nyaman berebut kayu daripada mengambil kayu baru, dasar anak manusia.


Sedangkan kak Dika terus berkelahi dengan penjahat yang kekar. Dan yang paling kocak adalah Doni yang terus berkelahi dengan si cungkring. Mereka berdua mengepalkan tangan seperti petinju tapi tidak ada yang berani maju.


Sedangkan aku tidak ada waktu melihat mereka berdua. aku fokus untuk mengalahkan si raja tikus yang berdiri di hadapanku dan tidak mau mengalah untuk mendapatkan kayu tersebut.


"Ssst" Aku meberikan kode pada kedua sahabatku itu.


Mereka mengangguk mengerti dan dengan hentakan kaki kami melepaskan kayu tersebut dan membuat lelaku itu terpental sambil tertinduh kayu yang dia bawa..


"Hahahahah" Kami bertiga tertawa keras dan langsung mengahmpiri serta menghajarnya dengan keras.


*buk, buk, buk*


"Rasakan ini" Aku, Ari dan Yuri terus memukulnya dengan tangan kosong. Lalu tiba-tiba dia terbangun dan melemparkan kami semua dari hadapannya.


Tubuh kami yang tidak sebanding dengan kekuatan yang dimiliki, akhirnya terpental jauh. Ari terpental di bagian sampingnya. Yuri terpental di bagian pojok sedangkan aku dia lemparkan ke atas kursi hingga kursi tersebut patah.


"Makanya jangan sok jagoan denganku" Dia terus tertawa dan mendekati Ari.


Dia kembali mengambil kayu di tangannya, secara bergantian dia mentapa Yuri dan menatap Ari. Sepertinya dia mengambil ancang-ancang untuk memukul Yuri ataupun Ari.


Dengan rasa sakit yang ada di punggung, aku bangkit untuk menolong mereka berdua dari kekejamannya. Dia mengangkat kayu itu untuk memukul Ari. Aku menendangnya dengan keras sebelum kayu itu sampai ke tubuh Ari.


*brakk*


"Aduhh" Dia kembali terjatuh dan menabrak kayu-kayu yang tertata disana.


Aku menghampirinya dan melakukan suatu cara agar dia tidak kabur. Aku mencoba mendorong kayu dari belakang agar menimpa tubuhnya.


Dorongan ku tidak terlalu kuat, lalu aku mencoba mendorong dengan menggunakan kaki. Berulang kali aku melakukan hal yang sama. Lalu Doni datang menbantuku mendorongnya.


*brakk*


"Aaaaaaa" Teriakan kesakitan yang cukup keras. Dia terus merintih kesakitan saat kayu-kayu itu terjatuh di atas kakinya yang membuat dia berdiam diri dan tidak bisa berkutik.


Kak Dika juga sudah selesai melawan penjahat yang berbadsn kekar, begitu juga dengan si cungkring yang dapat dikalahkan dengan mudah oleh Doni. Mereka berdua sudah mengikat penjahat tersebut dengan tapi sehingga mereka tidak bergerak.


"Key" Kak dika langsung menghampiri dan memelukku dengan erat.

__ADS_1


"Kakak" Aku membalas pelukan itu yang sudah lama aku tidak merasakannya. Aku tidak tau mengapa mereka semua bisa datang kesini dan menemukanku. Tapi yang paling penting mereka semua sudah menyelamatkanku.


__ADS_2