Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
77. Hinaan


__ADS_3

Aku harus bermain lebih fokus lagi agar tidak menyebabkan kesalahan seperti tadi. Dan aku harus menutup telinga dari perkataan yang buruk baik dari tim ataupun penonton. Aku akan buktikan bahwa kaki bisa bermain yang lebih baik lagi.


*prittt* Hingga peluit akhir babak satu dibunyikan skor tidak berubah 0-1. Kekalahan sementara di babak satu yang kami Terima. Aku menunduk bersalah saat memasuki ruang ganti. Disana terasa hening dan sunyi.


"Ini semua gara-gara kamu key, kalau main itu fokus jangan salah umpan terus" Teriak sang kapten padaku, namanya Rani. Dia menyalahkan ku padahal umpan salah yang aku lakukan hanya satu kali saja.


"Iya benar, lebih baik kamu dikeluarkan saja dari tim ini" Semakin banyak provokasi dari mereka. Bentakan demi bentakan mereka luapkan amarah padaku. Untung saja aku tenang dan tidak terpancing.


"Iya kamu gak guna key"


"Apa mungkin karena kamu bukan berasal dari kampung ini sehingga permainanmu menjadi asal-asalan"


"Benar, sepertinya begitu" Hampir semua memberikan kesalahan padaku. Aku tertunduk dan mendengarkan semua cacian itu. Dan saat ini hanya ada kami para pemain sedangkan manajer dan coach masih belum masuk ke ruang ganti.


"Maaf aku salah, aku akan perbaiki semua" Ucapku meminta maaf pada mereka semua.


"Mulai dari kemarin maaf saja yang kamu bicarakan, tapi hasilnya kosong" Teriaknya lagi. Sepertinya mereka tidak terlalu suka denganku yang bergabung di tim tarkam ini.


"Katanya kamu lemain terbaik di tarkam dan sekolahmu, tapi setelah bermain disini hasilnya nol" Hinaan demi hinaan terus bergulir dari mulut-mulut mereka.


"Sudah cukup, kalian ngapain ribut sih" Coach Jaka masuk ke ruang ganti dan menegur pertengkaran yang sedang terjadi. Lebih tepatnya kekecewaan dari tim yang di lemparkan padaku.


"Ini cocah semua salah key, dia gak pantas bermain di sini"


"Benar coach, dia tidak pantas" Teriakan kembali memenuhi ruang ganti. Seakan mereka ingin mengeluarkan aku dari tim.


"Cukup, cukup hinaan kalian" Teriakku dengan kencang sambil berdiri dari tempat duduk ku.


"Aku akan buktikan bahwa ucapan kalian salah, aku akan buktikan untuk bermain lebih baik lagi. Dan satu lagi jika permainanku buruk di babak kedua, aku akan keluar dari tim tarkam ini" Amarahku meluap dalam dada, aku akan buktikan pada mereka bahwa aku bisa. Bahwa aku tidak seperti yang mereka pikirkan.


"Key" Teriak pelatih saat aku memutuskan untuk mundur jika permainan di babak kedua yang ditampilkan buruk serta tidak ada perubahan.


"Maaf coach" Aku sangat terbawa emosi hingga mengatakan hal tersebut. Tapi tekad ini sudah bulat dan aku akan berjuang mati-matian untuk menampilkan yang terbaik.


"Sekarang kalian harus fokus jangan saling menyalahkan. Saya ingin kalian semua bermain dengan baik dan kerja sama. Di babak kedua ini saya ingin mengganti strategi penyerangan"


Coach Jaka mengganti strategi penyerangan. Aku tetap di letakkan di bek kiri untuk menahan serangan. Karena mereka lebih banyak menyerang.


Katanya pemain belakang harus lincah bukan hanya bertahan tapi mampu membantu serangan dengan melakukan tekanan. Serta harus konsentrasi saat memberikan umpan. Semua pemain harus berani membawa bola hingga sampai ke tempat yang paling dekat dengan titik putih.


Coach Jaka juga menyuruh kami untuk bermain dengan tenang dan nyaman. Lakukan tembakan ke gawang saat ada kesempatan yang datang. Jangan menunggu, lakukan keputusan sendiri di tengah lapangan karena saat ini pelatih hanya memberikan intruksi dari pinggir lapangan.


"Baik coach" Semua konsentrasi dan mendengarkan dengan pasti penjelasan dari coach Jaka. Semoga saja strategi ini berhasil dilakukan sata pertandingan telah berlangsung di babak kedua ini.


"Bismillahirrahmanirrahim, ya Allah berikan aku kekuatan serta kemudahan dalam bertanding. aamiin"


Kami semua bergegas menuju lapangan, seperti biasa aku memanjatkan doa pada sang pencipta sebelum menginjak rumput hijau. Kali ini aku berdoa semoga bisa diberikan kelancaran. Apalagi aku menjadi tim inti yang memikul tanggung jawab besar sebagai pemain yang dibeli.


*prittttt* peluit panjang dibunyikan. Fokus pada mataku kali ini tidak main-main. Ada yang mendekat maka akan aku hantam bolanya dan ku rebut dengan ganas yang penting tidak menciderai lawan.


"Keyyy, tahan" Teriakan itu aku dengar dan mataku tetap fokus pada pemain lawan yang menyerang, kali ini tidak akan aku biarkan dia lolos dari hadanganku.

__ADS_1


*blukkk* bola bisa ku rebut, otakku mengingat saat coach Jaka menyarankan untuk berani memegang bola, membantu serangan, dan aku harus berani berlari ke depan.


"Aniii" Teriakku dengan kencang saat melihat Ani tanpa pengawalan dan dia berdiri bebas saat ini.


*blukkk* tendangan yang cantik, syukurlah bola tepat sasaran. Ani melakukan syuting langsung tapi masih belum berhasil menembus penjaga gawang.


"Mundur" Teriak coach Jaka dari belakang. Tendangan dari penjaga gawang lawan berhasil memberikan umpan yang tepat sasaran. Aku harus menjaga posisi yang aku tempati, bila perlu akan membantu di posisi lain.


Kali ini pemain lawan melakukan serangan lagi di sisi kiri, aku tidak mengerti menagapa mereka mengincar sisi kiri. Mungkin mereka pikir pertahanan ku lemah jadi mereka terus mengincarnya. Aku menatap tajam pada bola, seperti menghipnotisnya. Membidik sasaran bola dari pemain kaki lawan.


*Blukkk* Lagi-lagi bola berhasil aku halau, kali ini aku akan berlari membawa bola ke depan sejauh mungkin agar bisa dekat dengan titik putih. Melakukan beberapa skil yang pernah aku pelajari, akhirnya aku berhasil mengecoh pemain lawan bahkan sempat mengolonginya.


"Key, key" Teriak Rika yang berposisi sebagai penyerang. Sepertinya dia sudah siap menerima bola. Aku membidiknya dengan tenang berhasil melambungkan bola padanya.


*bluk* tapi sayang eksekusi terakhir Rika masih bisa ditahan. Untung saja membuahkan tendangan pojok.


Rani yang berperan sebagai kapten memberikan bolanya padaku. Dia tersenyum licik tapi aku tidak menghiraukan ekspresi yang dia berikan. Entah apa yang ada dipikiran Rani aku tidak peduli. Sekarang aku menerima bola itu dan melakukan kewajibanku sebagai eksekutor..


Saat meletakkan bola di sudut, aku mengingat bahwa setiap berlatih aku selalu gagal memberikan umpan lambung yang baik bahkan juga tidak bisa melakukan tendangan langsung mengarah ke gawang. Tapi aku yakin dengan usaha yang pernah aku lakukan dengan kesendirian, keyakinan ini besar bahwa aku bisa melakukan hal yang baik.


"Yakin pada dirimu bahwa kamu bisa key. Konsentrasi dan berikan yang terbaik" Batinku sambil menatap pada bola.


*prittt* pluit berbunyi, tatapanku fokus ke gawang untuk melakukan tendangan langsung mengarah ke gawang. Konsentrasi penuh dan mencoba mengingat dalam otak bahwa aku bisa, tidak ada yang tidak mungkin aku yakin pasti bisa.


"Bismillah" Dia adalah hal terbaik sebelum memulai.


*blukk*


"Gollllll" Semua melakukan selebrasi dengan gembira, tidak lupa aku sujud syukur pada sang pencipta yang memberikan kesempatan agar aku bisa membuktikan bahwa aku bisa.


"Alhamdulillah ya Allah" Sujud syukur tidak, lupa diucapkan pada sang pemilik hidup yang memberikan kemudahan.


"Coach" Aku tersenyum menghampiri cocah Jaka yang juga senang karena timnya saat ini sudah menyamakan kedudukan.


"Bagus key, sekarang mundur dan fokus saat serangan tiba. Bertahan bola perlu serang kembali, jangan takut menggiring bola" Coach Jaka memberikan beberapa intruksi pada pemain yang menghampirinya sambil minum di pinggir lapangan.


"Baik Coach" Aku kembali ke posisi. Dan harus tetap fokus untuk menampilkan permainan yang bagus. Dengan adanya gol tadi, tim semakin bersemangat. Seakan stamina mereka semangat untuk membuat gol dan gol.


Saat ini bola banyak dipegang oleh tim kami. Tendangan percobaan di gawang teras dilesatkan. Walaupun sering tertangkap oleh penjaga gawang. Tapi tidak ada kata menyerah, siapaun itu yang memegang bola dekat dengan gawang melakukan tembakan walau pada akhirnya belum juga membuahkan hasil.


"Naik, naik" teriakan penuh emosi yang membakar semangat dari pemain. Teriakan itu terdengar jelas dari pinggir lapangan.


Kali ini aku yang memegang bola setelah berhasil merebut dari kaki lawan. Mencoba keberuntungan menggiring bola dengan semangat ke depan hingga mendekati titik putih. Ingin aku memberikan pada Rika atau Ani tapi saat ini mereka dijaga ketat oleh pemain belakang lawan.


Hampir semua pemain lawan berada di lini belakang dan bertahan. Aku sangat kesulitan untuk menembus pertahan tim lawan. Tapi kakiku harus kuat membawa lari bola dan jangan sampai lepas.


Akhirnya aku memutuskan untuk menerobos dan melakukan assist pada Rani yang juga menerobos menggunakan taktik yang sudah dipelajari. Rani berhasil mengecoh pemain belakang dan sudah mendekat ke gawang lawan.


*blukk*


"Yes, tepat sasaran" Gumamku saat melambungakn bola tepat mengenai Rani.

__ADS_1


"Gollllll" Kontrol bola yang baik dari Rani dan memoleskannya sedikit untuk menendang dengan keras hingga menghasilkan gol satu lawan satu dengan pemain lawan. Untung saja tendangan itu terbebas dari offside.


"Gollll, Rani gollll" Aku memanggilnya untuk menyambut gol Rani dari umpan assist yang aku berikan. Ternyata dia berlari tidak padaku melainkan pada pemain yang lainnya. Aku hanya bisa tersenyum yang penting tim bisa memenangkan pertandingan.


"Yuk key" Ajak Ani yang menyambut memeluk dan membuatku tersenyum dengan ajakannya saat pelukan itu dihiraukan oleh Rani yang telah aku berikan umpan sebagai assist.


"Makasih" Ucapku dan kami berpelukan sebagai selebrasi lalu kembali sujud syukur berdua.


"Yuk semangat, semangat, waktu masih panjang" Ucap ani dan aku mengangguk tersenyum lalu kembali ke posisi.


Dengan adanya tambahan gol aku yakin mereka akan semakin semangat dan mengeluarkan semuanya. Benar saja mereka banyak menyerang di 10 menit terakhir. Kali ini aku hanya bisa berkata fokus untuk bertahan, bila pemain lawan mundur aku akan naik dan membantu serangan.


Kali ini kerjasama yang bagus, dan tim kami menambah gol 1 lagi. Tendangan keras dariku membuat tim lawan terkejut dan melakukan kesalahan yaitu gol bunuh diri ke dalam gawang.


Hingga pluit akhir dibunykkan, kemenangan ada di tangan tim kami yaitu dengan skor 3-1. Hal ini menambah semangat dan optimis bahwa kami bisa ke luar sebagai juara grup atau runner-up yang penting bisa melakukan pertandingan di luar kota.


"Kerja bagus" ucap Ani yang datang dari belakang dan memelukku.


"Kamu juga, sangat mantap" kembali memujinya dan kami berpelikan sambil berjalan ke ruang ganti.


Hanya 3 juara grup dan 2 runner-up terbaik yang akan menjelajahi pertandingan di luar kota melawan tarkam yang diunggulkan. Bahkan kompetisi tersebut merupakan kompetisi pertama untuk tim sepak bola di seluruh kota.


Coach Alam pernah bilang bahwa pelatih timnas akan turun ke lapangan langsung dan menyamar sebagai penonton untuk mendapatkan bibit-bibit unggul dari setiap kampung-kampung dan kota. Lalu dipoles sedikit agar menjadi bagus untuk bermain ke dalam timnas.


Suasana di ruang ganti sangat gaduh dengan uforia kemenangan tim tarkam kami. Semua bersorak gembira dan senang dengan hasil yang di dapatkan.


"Dengarkan sebentar anak-anak" Ucap Coach Jaka pada kami semua. Seketika semuanya terdiam dan duduk untuk memperhatikan apa yang akan dibicarakan oleh Coach Jaka.


"Saya sangat berterima kasih atas kerjasama kalian yang baik dan bagus hingga mendapatkan kemenangan" Ucapnya dengan senyuman.


"Yeyyyyyy" Semuanya bersorak gembira


"Dan saya juga kecewa pada kalian, karena tadi kalian melakukan perundingan pada salah satu teman tim kalian yaitu Keyla" Aku menunduk lesu saat mengingat perundungan tadi.


"Sekarang kalian sudah lihat bahwa keyla telah melalukan kerja keras untuk mendapatkan kemengan, dia berusaha agar tetap berada di sini. Keyla memang pemain dari luar kampung tapi dia memiliki jiwanya di tim ini" Ucapannya membuat wajahku kembali menatap Coach Jaka


"Keyla, keyla, keyla"


*prok, prok, prok*


"Keyla, keyla, keyla" Rekan-rekan bersorak namaku. Padahal aku bukan siapa-siapa disini, aku hanya pemain biasa yang memiliki jiwa kuat untuk membela tempat yang ku injak.


"Keyla, kemarilah" Coach Jaka memanggilku untuk berdiri disampingnya.


"Keluarkan perkataan yang ingin kamu katakan pada teman-teman yang sudah meremehkan mu tadi. Saya harap kamu bijak menyampaikannya" Coach Jaka memberiku kesempatan, sebenarnya aku tidak marah dengan mereka.


Menurutku pemain hebat akan tumbuh dari sebuah kritikan. Dan aku yang akan belajar melalui kritikan tersebut. Bahkan aku juga bisa menampung cacian agar semangatku menjadi bertambah.


"Ijin Coach, banyak yang ingin saya katakan pada mereka semua" Sambil menarik nafas dalam-dalam lalu memghembuskannya dengan keras untuk menenangkan diri saat berbicara pada mereka.


Mataku sesekali menatap mereka secara berurutan. Mengingat kembali hinaan mereka yang ingin aku keluar dari tim ini. Namun sekarang aku bersyukur bisa membuktikannya.

__ADS_1



__ADS_2