
Menunggu sambil berbicara pada diri sendiri memang asik tapi tidak asik bila dilihat orang karena akan disangka kita orang gila.
"Yuk udah selesai" Ajaknya yang membawa sebungkus makanan dalam kantong plastik
"Eh bentar-bentar" Tangannya menahanku saat aku ingin menggunakan helm
"apalagi, katanya sudah selesai "
"Ih galak amat sih, aku kan mau ngomong sama kamu"
"Ngomong apa? " Tanyaku penasaran
"Kenalin aku Dika, anak kelas 11 IPA dan menjabat sebagai ketua OSIS, nama kamu siapa?" sejenak aku diam mendengarkan pertanyaannya.
"Kan tadi sudah kak"
" Tapi kamu belum berbicara langsung saat aku bertanya" Perdebatan untuk menumpang pulang dengannya dimalam ini. Lebih baik aku tidak ikut pulang dengannya kalau tau ujung-ujungnya berdebat lagi. Padahal perdebatan ini selalu terjadi karena hal-hal kecil.
"Oke, nama saya keyla adara dan bisa dipanggil key"
"Hmm, eh tapi.. "
"Apalagi? Kalau masih ada lagi mendingan saya jalan kaki untuk pulang nih"
"Eh iya-iya ayo kita pulang" Aku langsung naik ke atas motornya dan kita bergegas untuk segera pulang.
Aneh rasanya sekaligus lucu, padahal aku yang menumpang pulang tapi kenapa aku yang mengancamnya. Dan dia juga ketakutan bila aku turun di tengah jalan. Bukannya itu bagus jadi tidak mereporkan dirinya untuk mengantarku, dasar senior yang aneh.
"Kak berhenti di samping sini" Tanganku menunjuk ke simpangan perkampungan
"Rumahmu mana? "
"Eeee, rumah saya masih jauh disana dan motor gak bisa masuk" Alasanku kembali muncul.
Entah kenapa aku selalu malas bila ada orang yang datang kerumahku. Mungkin masih ada ketakutan bila ada tetangga yang melihatnya dan akan bergosip serta membawa nama pelacur.
"Masa yang nganterin gak dikasih minum sih" Tangannya nemegang leher, seakan memberikan syarat kehausan
"Kapan-kapan aja ya kak, saya berterima kasih banyak" Mencoba untuk tersenyum walau sebenarnya masih kesal dengan kak Dika.
"Eh tapi"
*rington lagu bahasa Inggris* ponsel kak Dika berbunyi dari sakunya.
"Halo ma, iya ma iya dika baru nganterin temen kok ini dika sudah mau pulang" Ucapnya saat mendengarkan suara dari telepon
"Oke ma, siap"
"Tuh kan, mama kakak menelpon jadi sebaiknya kaka pulang"
"Baiklah aku pulang dulu ya, lain kali aku akan mampir" Tapi aku tidak peduli.
Yang penting aku tidak akan membiarkan dia masuk ke rumahku. dia bergegas pergi pulang dan aku juga bergegas untuk menuju rumah. Dasar orang yang aneh, paginya marah-marah tapi saat malam tiba berubah jadi baik.
*klek*
"Baru saja masuk sekolah sudah dipulangkan sampai malam begini. Ini sekolah apa lembur" Celoteh ku sambil melemparkan tas di atas kasur.
"Sudahlah, mending aku mandi saja biar swegerrr" Bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri lalu bersantai di kamar.
"Bo mau denger gak? Ada senior aneh di sekolahku, tadi marah-marah dan sekarang malah baik nganterin aku. Sepertinya kepala dia lagi terbentur kayaknya deh" Ucapku yang menatap langit-langit kamar. Bergumam sendiri sambil memeluk bobo.
Bercerita bersama bobo dalam kesunyian dan diterangi sinar rembulan. Asik juga bisa cerita walau bobo bisu tidak menjawab dan berkomentar atas apa yang aku bicarakan. Ah biarlah, malam sudah larut dan aku terlelap bersama bobo yang setia menemani hingga pagi.
Seperti biasa pagiku selalu sibuk. Tidak ada waktu untuk malas-malasan. Apalagi ke sekolah harus berlari dulu untuk sampai di halte dan menunggu angkot. Setelah semuanya siap, aku periksa kembali perlengkapan MOS dan perlengkapan sekolah. Karena MOS akan dilaksanakan selama 3 hari. Jadi perlengkapan harus dipakai tidak boleh ada yang ketinggalan atau lupa.
"Semua sudah beres, waktunya aku berangkat" Ucapku sambil terburu-buru memasang sepatu.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.05. Aku segera bergegas untuk berangkat agar tidak telat. Apalagi takut ada kemacetan dijalan sana. Sesampainya di halte aku menyapa riki dan pak abi seperti biasa. Lalu bergegas pergi saat angkot sudah tiba.
"Bang kiri bang"
\*crittt\*
"Makasih bang" Memberikan ongkos angkot pada supir dan bergegas turun takut telat masuk ke dalam barisan.
"Sama-sama neng" Sahutnya
Aku segera berjalan menuju sekolah. Sampai di depan gerbang aku baru ingat bahwa Ari pasti tidak akan masuk sekolah hari ini. Pasti dia masih istirahat akibat serangan ular kemarin. Ingin rasanya menjenguk tapi kemarin belum ada waktu. Dan nanti sore sepulang sekolah aku akan menjenguk keadaan Ari.
Jadwal hari ini adalah pembagian kelas bagi seluruh siswa baru. Aku berharap satu kelas dengan Ari.
\*brakkkk\*
__ADS_1
Tong sampah kecil mendarat di kepalaku. Rambutku berantakan dan bau dengan kotoran sampah. sejenak aku berdiam diri dan mendengus kesal. Tanganku segera mengambil tong sampah dan membersihkan rambut.
"Hahahahha" Gelak tawa tersebar di seluruh lorong sekolah. Sudah pasti ada yang melakukan hal jali padaku
"Gimana? Ih, bau ya? Hahahha, makanya jangan sok jagoan dan sok kecantikan ya" Ingin rasanya aku meremas kepala Ana dan aku lemparkan ke tembok. Tapi aku harus berfikir jernih agar tidak melakukan hal yang fatal.
\*brakkk\*
"Makan nih tong sampah" Ucapku setelah mengembalikan tong sampah di kepala Ana.
"Aaaaaaaa, awas saja aku tidak akan tinggal diam" Jerit nya kesal padaku.
"Hahahhahah" Satuan tawa kembali terdengar keras di lorong sekolah.
Sedangkan aku sudah berlalu dari hadapannya menuju toilet untuk segera membersihkan rambut yang berantakan dan bau. Salah sendiri memberi tong sampah tanpa ijin, jadinya aku kembalikan tanpa ijin juga biar impas.
Tidak ada sampo di sekolah, sabun cuci tangan pun jadi untuk membersihkan kotoran dan bau di rambutku. Setelah itu aku keluar dengan rambut basah. Berdiri di samping taman untuk mencari angin agar rambutku lekas kering.
"Jemur rambut kok di sekolah sih mbak" Suara laki-laki yang mencoba mendekat padaku.
"Bodo amat" Ucapku sinis
"Bentar lagi peserta MOS kumpul loh"
"Iya sudah tau, bentar lagi saya ke lapangan kok. Lagian bel belum berbunyi" Aku membalikkan badan.
"Eh kak, maaf-maaf saya pikir siapa" Ternyata yang dari tadi berbicara denganku adalah kak Dika, ketua OSIS. Aku tidak tau kalau itu dia, padahal udah dari tadi aku berbicara ketus. Tapi tidak apa-apa sih biar sekalian melampiaskan kekesalanku pagi ini.
"Kamu ngapain disini, rambut basah lagi. Kalau mau sekolah rambutnya tuh di keringin dulu"
"Iya maaf kak, saya mau ke lapangan sekarang" Ucapku sambil bergegas pergi.
"Iya kak, saya mau kelapangan nih"
"Hmmm, iya iya. Lain kali keramas jangan disekolah" Tatapan licik yang mencoba menggoda. Tanpa menjawab aku langsung melemparkan genggamannya dan pergi meninggalkan kak Dika.
"Untung saja topi bolaku tidak rusak. Kalau rusak pasti dihukum" Kesal ku yang bergumam sendiri sambil menuju ke kelas, padahal semua siswa sudah ada di lapangan tapi aku malah menuju ke ruang kelas. Mataku baru sadar ternyata aku salah arah dan segera berlari ke lapangan upacara untuk persiapan. Lagian bel masih belum berbunyi.
\*teeeeettttt\*
"Bel sekolah sudah berbunyi, tapi aku belum sampai ke lapangan upacara. Aku langsung bergegas cepat untuk segera datang kesana. Benar saja ternyata aku sudah terlambat.
"Hey kamu yang terlambat" Ucap kakak senior yang melihat aku baru datang.
"Saya kak"
"Iya kamu, memangnya siapa lagi? " Aku langsung menghampiri mereka di depan barisan teman-teman.
Sudah ada jajaran dari semua OSIS termasuk kak Dika dan Ana yang selalu tengil. Bibirku sedikit tersenyum saat melihat bahwa rambut Ana juga basah. Pasti dia juga keramas di sekolah karena sampah yang di buat sendiri.
"Kenapa kamu senyum" Bentak salah satu senior wanita di hadapanku
"Memangnya senyum gak boleh apa, senyum itu kan ibadah" Sahut ku dengan tegas
"Berani ngebantah lagi, karena kamu telat maka ada hukuman buat kamu" Dengan tenang aku mendengarkan apa yang dia bicarakan walau sebenarnya tidak terlalu penting
"Kamu harus berlari keliling lapangan dan jangan berhenti sebelum aku menyuruhmu berhenti" Aku menerimanya dengan lapang dada. Lagian ini juga salahku karena telat masuk kedalam barisan. Jadi aku menerimanya dengan tenang, hitung-hitung ini latihan lari di pagi hari. Kalo tambah bola pasti akan lebih sip lagi sih.
__ADS_1
"Kamu dengar nggak? " Bentak nya padaku
"Dengar kok, kuping saya gak budek" Jawabku santai dan langsung berlari keliling lapangan.
Aku berlari dengan senang hati tanpa beban, aku menganggapnya ini pemanasan sebelum pertandingan bola. Sedangkan ditengah lapangan dilakukan beberapa arahan lalu setelah itu mereka semua di suruh masuk ke kelas masing-masing untuk melakukan pengenalan pada guru yang akan menjadi wali kelasnya dan guru yang mengajar, kecuali aku yang masih berlari.
Berlari terus hingga keringat bercucuran. Bajuku juga basah tapi bodo amat adalah hal terpenting untuk pura-pura tenang. Di samping lapangan aku melihat kak Dika dan senior cewek yang menyuruhku berlari, mereka sedang berbicara dengan kepala sekolah sambil sesekali menarapku. Sepertinya mereka bertiga sedang membicarakanku.
Rasa cuek dan tidak peduli yang aku tampakkan. Walaupun sampai nanti aku jabanin untuk terus berlari. Memang mereka tidak ada otak menghukmku seperti ini. Awas saja nanti, bukan tanganku yang akan membalas kalian tapi prestasi ku yang akan membalaskan semuanya.
"Key, sudah berhenti" Teriak kak Dika di samping lapangan. Sedangkan pak kepala sekolah sudah pergi berlalu. Dan senior cewek itu hanya diam saja menatapku.
"Key apa kamu mendengarku?, cepat berhentilah" Teriaknya semakin kencang dan aku tidak peduli itu.
\*brek\* Aku memberhentikan lariku saat kak Dika tiba-tiba menghalangi dari depan.
"Kamu tidak dengar kalau aku menyuruhmu untuk berhenti berlari" Sentaknya padaku
"Saya dengar, tapi lebih dengar lagi kalo dia bilang saya harus berhenti jika dia yang menyuruh saya berhenti" Tanganku menunjuk senior cewek yang ada di sebelah kak dika.
"Aku ketua disini, kamu harus berhenti" Ucapnya lagi dan aku hanya melirik sinis pada cewek di samping kak Dika
"Iya iya, kamu berhenti berlari" tuturnya sambil menatap dengan kesal padaku.
"Oke Terima kasih" Aku bergegas pergi dari hadapan mereka dan beristirahat sejenak di pinggir lapangan sambil bersantai dan membuang keringat yang semakin banyak. Kaki berselonjor agar tidak terkena varises.
"Nih minum" Kak Dika memberikan sebotol air. Secara cepat aku langsung mengambilnya dan meneguk nya dengan kasar. Sedangkan senior cewek itu sudah pergi entah kemana.
"Kenapa kamu tidak berhenti saat aku memerintahmu? "
"Kenapa memangnya, takut saya pingsan seperti di film-film kah? " Tanyaku
"Ditanya malah balik tanya"
"Sudahlah, saya mau masuk kelas kak. Oh iya makasih ya minumnya kak" Tanpa basa-basi lagi aku langsung pergi meninggalkan kak Dika di lapangan sendirian.
\*tok tok tok\*
"Ijin masuk bu"
"Iya silahkan, kamu darimana? "
"Saya menjalani hukuman karena telat tadi bu"
"Oh iya sudah, silahkan cari tempat duduk disana masih ada 4 bangku yang kosong.
" Baik bu, Terima kasih" Aku terkejut saat melihat ke arah teman-teman. Ternyata disana ada Yuri dan aku satu kelas lagi dengannya. Hmm memang jodohku selalu bersama Yuri kali ya.
Aku memilih duduk di bangku paling belakang yang kosong. Dan satunya aku persiapkan untuk Ari. Aku duduk dengan tenang mendengarkan penjelasan yang dilakukan oleh guru di depan. Namanya bu Susi, mengajar bahasa Indonesia sekaligus wali kelas dari kelas MIPA 1. Semua siswa baru fokus melihat kedepan dan mendengarkan dengan tenang. Tapi berbeda dengan Yuri yang sesekali melihatku, dan aku hanya terdiam mengikuti pergerakan yang dia lakukan.
\*tetttttt\*
"Baik anak-anak, penjelasan yang ibu berikan akan dilanjutkan setelah istirahat selesai"
"Baik bu" Bu Susi keluar dari kelas. Semua siswa juga ikut keluar dari kelas, ada yang pergi makan di kantin dan lain-lain.
"Hey key" Sapa Yuri membuka pembicaraan kami yang sunyi.
"Hay" Jawabku singkat
"Key, kamu mau gak jadi sahabatku" Muka Yuri memelas menatapku
"Bukannya kamu sudah punya sahabat ya? "
"Mereka meninggalkan aku, katanya gak ada guna berteman denganku yang bodoh. Terus mereka memilih sekolah di tempat yang lebih bagus daripada harus satu sekolah denganku lagi" Aku mengangguk ngerti dengan penjelasannya. Ternyata ini alasan Yuri satu sekolah denganku tapi tidak ada teman-teman satu gengnya di sekolah ini.
__ADS_1
~~~BERSAMBUNG~~~