Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
9. Ibu masih menyayangiku?


__ADS_3

Aku bergegas mendekatkan diri ke jendela. Melihat suasana luar ternyata hujan sudah reda. Tapi tidak seutuhnya, masih ada beberapa rintik tetesan gerimis yang nembasahi tanah. Segera aku keluar dari dalam kamar dan ingin merasakan udara segar setelah hujan. Langkahku kini menuju ke teras rumah. Melihat langit yang diiringi gerimis.


"Subhanallah" Sungguh besar ciptaan Allah yang memanjakan mata. Semburan warna warni pelangi di atas langit. Benar kata orang, setelah ada hujan pasti akan ada pelangi. Bibirku melebarkan senyum kebahagiaan. Menikmatinya sambil duduk di teras rumah.


Tidak peduli walaupun aku sendiri, tapi setidaknya masih ada gerimis yang menemani. Serta langit yang memberikan suguhan, bukan kopi melainkan pelangipelangi yang membentang indah diantara awan-awan yang keruh.


"Aaaaaaa" Aku menjerit senang, sambil mengulurkan tangan menadah air hujan yang turun perlahan dari genteng. Menikmati suasana indah dan nyaman, bermain-main dengan hujan yang damai. Asik menari walaupun hanya tangan saja yang dibasahi oleh air hujan. Tapi setidaknya aku menemukan kesenangan yang disaksikan oleh pelangi, awan, bahkan gerimis.


Aku mengadukan kisah dan menari-nari di dalam embun air hujan. Membasahi sedikit dan menyerap dalam jiwa yang mengukir kebahagiaan dalam diri sendiri. Aku bisa merasakannya dengan tenang, sebab syukur dalam jiwaku terlukis karena semua nikmat yang Allah berikan.


Tidak terasa gerimis sudah benar-benar hilang. Dan hujan sudah berakhir tapi tidak dengan pelangi yang masih setia memancarkan warna-warni parasnya memanjakan mataku walaupun sudah samar-samar.


Sejenak aku memejamkan mata dari pikiran yang paling dalam. Merasakan hayalan yang aku gambar dalam benakku. Seakan bermain-main diantara pelangi serta menari-nari bersama bidadari. Tersenyum sendiri bagaikan orang gila, padahal aku hanya menikmati indahnya pelangi dari bumi saja.


Setelah aku membuka mata, kekecewaan menghampiri karena pelangi sudah menghilang. Kini hanya tinggal senja yang memancarkan jingga nya yang samar-samar tertutup awan di ufuk barat. Suara burung juga bersautan untuk kembali ke sarang diatas pepohonan.


Aku juga bergegas untuk masuk kedalam rumah. Bersiap diri dan memasak untuk makan malam. Setelah itu aku menunggu ibu dan berharap ibu pulang. Tapi rasanya tidak mungkin, karena jika ibu bekerja maka pulangnya akan larut atau pagi hari. Jadi aku hanya bisa kembali makan sendiri, membersihkan sendiri dan akhirnya tidur sendiri.


*tok, tok, tok, tok*


*tok, tok, tok, tok*


*brakkkk* suara benda yang menabrak pintu dengan keras.


Terkejut bukan main, aku langsung lompat dari tempat tidur dan mencari tau dari mana asal suara itu. Sepertinya dari pintu depan, pikir ku was-was. Saat aku melihat jam dinding ternyata masih pukul 2 pagi.


"Apa ini ibu? " Pikir ku bertanya-tanya sendiri. Langkahku dengan waspada sesegera mungkin menuju ke pintu depan. Memberanikan diri dengan badan tegap walau sebenarnya takut. Saat tangan ini menyentuh gagang pintu, langkahku kembali mundur.


"Jika ini bukan ibu bagaimana, atau orang jahat, atau mungkin hantu, atau bahkan hantu menjadi orang jahat. Aduhhh gimana ini" Keluh ku menjadi bimbang. Bertanya pada diri sendiri sambil melihat gagang pintu yang masih terkunci.


Ingin rasanya mengintip melalui jendela tapi aku tidak berani. Jika ini ibu sudah dari tadi pintu ini terbuka. Karena ibu memegang kunci sendiri jadi tidak perlu membangunkan aku. Kakiku maju mundur di depan pintu, lalu kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambil sapu. Jika ada orang jahat, setidaknya aku memiliki senjata untuk memukulnya.


Lalu aku kembali mundur dan mengambil benda yang lebih banyak, yaitu spatula di tangan kanan dan sapu di tangan kiri. Rasanya sudah siap aku bertarung jika yang ada di depan pintu adalah penjahat.


*klek, klek, klek* perlahan aku membuka kunci pintu dengan rasa waspada. Jantung juga mulai jedag-jedug seperti ditabuh.


"Bismillahirrahmanirrahim" tarik nafas dalam-dalam lalu membuka secara perlahan.


*krekkkk*


"Astaghfirullah, ibu, ibu kenapa? " Mata ini terkejut saat melihat ibu di depan pintu. Tubuhnya sempoyongan, bahkan untuk berdiri saja susah. Aku memapahnya masuk kedalam rumah. Bau mulut ibu aneh dan aku tidak tau itu bau apa.


Saat aku mencoba menbangunkan ibu, bicaranya meracau tidak karuan. Aku tidak tau ibu kenapa, apa mungkin ibu mabuk. Katanya bila sedang mabuk akan berbicara tidak jelas dan seperti orang tidak sadar. Tanpa pikir panjang aku langsung membuatkan air hangat untuk mengompres ibu. Membuatkan teh hangat untuk ibu minum.


"Bu, ini teh minumlah agar ibu merasa nyaman" Segelas teh hangat aku suguhkan pada ibu. Tapi badannya susah untuk bangun, lalu aku membantunya untuk minum.


"Weeeekkkk, weeeeeeekkkk" Baru saja seteguk air teh masuk kedalam mulut ibu dan ja memuntahkannya. Aku yang mengurusi ibu sendirian khawatir dengan keadaanya. Aku bingung mau meminta tolong siapa, karena semua orang pasti sedang beristirahat di waktu yang selagi ini. Akhirnya aku mengurus ibu seorang diri.


Membersihkan muntahan ibu di lantai. Lalu menyeka kulit ibu dengan air hangat dan mengompres nya. Berharap ibu kembali sadar. Aku pijat telapak kaki ibu yang terletak surga dengan senyuman. Ku pijat-pijat tubuhnya agar cepat siuman. Hingga tak terasa aku terlelap di samping ibu.


*petok, petok, petok* suara ayam yang teramat ramai seperti sedang bertelur. Mereka menbangunkanku yang terlelap di kamar ibu. Saat perlahan aku membuka mata, betapa terkejutnya melihat ibu sudah tidak ada di tempat ini. Ke dapur, ruang tamu, bahkan setiap sudut aku mencari tapi tidak ku temukan ibu dimanapun.


*krekkkk* Suara pintu terdengar, sepertinya ada orang masuk. Ternyata itu ibu, ditangannya menggenggam kantong plastik yang berisi makanan.

__ADS_1


"Nih makan, nasi biar kamu gak kurus" Aku tersenyum saat ibu memberiku sebungkus nasi. Mataku berbinar keceriaan, lalu bergegas memeluk ibu.


"Terima kasih bu, karena masih menyayangiku"


"Ihhh, sudah makan sana gak usah lebay" Tangan ibu melemparkan ku dari pelukannya.


Tapi aku masih senang karena hari ini aku bisa makan bersama ibu. Saat aku makan, tatapanku tudak fokus karena melihat ibu yang juga makan bersama dihadapanku. Aku tidak percaya karena ibu mau makan bersamaku lagi sepeti dahulu.


Inilah yang aku rindukan, kasih sayang dan perhatian ibu. Aku berharap ibu kembali seperti dulu lagi. Malaikat tanpa sayap yang melindungiku dengan hati yang paling dalam.


"Ngapain kamu kayak gitu, sudah makan sana"


"Eh, i.. Iya bu ini key makan" Santapan ku kali ini sangatlah nikmat. Tidak ada yang membandingkan sarapan pagi ini. Karena aku makan bersama ibu berdua tanpa pengganggu. Setelah nasi kami berdua habis, ibu bergegas berkemas diri dan bersiap untuk bekerja kembali.


"Ibu mau kemana" Aku memeluk tangan ibu yang hendak mengambil tas dan sepatu.


"Kamu apan sih, ibu mau kerjalah"


"Tapi ibu kan sedang sakit" Aku merengek sambil menatap ibu. Sebetulnya hati ini sangat khawatir karena baru tadi pagi ibu sadar dan langsung bekerja kembali. Aku yakin bahwa dirinya belum sepenuhnya sembuh.


"Kalo ibu gak kerja, kamu gak bisa makan" Tangan ibu kembali melemparkan ku hingga tubuh ini tersungkur di atas lantai.


"Bu, key gak mau ibu pergi kerja terus. Key ingin ibu menyayangi key seperti dulu" Tangisku pecah saat berkata pada ibu. Tapi ibu masih asik memasang sepatu dan mengambil anting-antingnya untuk dipasang.


"Udah ya key, kamu itu udah besar jadi wajarlah ibu tinggal"


"Bu, key janji gak bakalan nakal dan key bakalan jadi anak ibu yang baik"


"Key dengerin ibu, kamu tuh udah bisa memilih mana yang baik atau tidak. Jadi gak usahlah lebay seperti ini. Dan kamu itu anak yang hebat karena bisa ngurus diri sendiri" Tangan ibu menggenggam erat kedua bahuku. Memberikan pengertian padaku yang masih menangis. Tapi bukannya malah mendengarkan perkataan dariku, ibu malah bergegas ingin pergi.


"Cukup key, oh iya ada uang di atas meja buat kamu makan"


*gubrakk* Ibu menutup pintu dengan keras. Sekarang dia pergi meninggalkanku lagi. Sampai saat ini aku tidak tau apa pekerjaan yang ibu geluti hingga tidak ada waktu untukku.


Hari yang sangat membosankan, baru saja aku tersenyum kebahagiaan tapi tidak lama kemudian kebahagiaan itu direnggut paksa oleh waktu. Dan sekarang aku sendiri lagi. Berdiri di depan cermin. Menatap dengan teliti di setiap sudut wajahku.


Ternyata bekas dari pukulan itu masih ada. Beberapa titik biru masih membekas tapi tidak separah di hari kemarin. Sekali lagi aku mengambil air hangat untuk mengompres lebam yang masih ada.


Berharap besok sudah menghilang agar aku dapat kembali ke sekolah. Setelah selesai aku kembali berkaca, berbicara dengan bayanganku sendiri.


"Kamu salah apa sih sama ibu? Kenapa ibu sekarang tidak baik denganmu?" Tapi bayangan itu hanya diam. Mata ku dan matanya bertatapan, seakan aku berbicara dengan seseorang padahal itu hanya sebuah bayangan.


Memang gila karena kesunyian, berbicara dengan bobi, berbicara dengan hujan, berbicara dengan bayangan, lalu berbicara kepada lagi. Keluhku mengadu resah di sepanjang waktu. Sejenak duduk bersama bayangan untuk membiarkannya mendengar sedikit saja keluh kesah yang aku rasakan. Hidup bagai remaja tapi dimakan waktu yang memaksaku untuk dewasa.


"Aaaaaaaa" Jerit ku frustasi dalam kamar. Kesunyian merajalela dan tidak membiarkan aku menikmati kesenangan walau hanya sebentar. Lagi-lagi aku menjalani waktu sepi di dalam rumah seperti biasa. Hingga petang memaksaku untuk terlelap di dalam pangkuan rembulan.


Suara jangkrik mengiringi bagaikan alunan lagu yang membuatku terlelap panjang. Berharap merajut mimpi-mimpi indah yang aku harapkan. Dan masih sama, selalu saja berharap tapi harapan itu tak kunjung berujung dengan tawa.




\*kukuruyuk\* suara ayam memanggiliu untuk bangun. Pagi nersorak ramai diantara burung-burung yang sudah berkeliling mencari makan. Aku bergegas untuk membersihkan diri lalu memasak. Sesekali melihat ke cermin untuk memastikan bahwa lebam di wajahmu sudah memudar.

__ADS_1



Aku senang karena akan kembali bersekolah. Setelah 2 hari tidak masuk tanpa ijin karena drama yang terjadi kemarin. Sudah pasti aku akan ditegur oleh ibu guru karena tidak mengirim surat.



Setelah semua masakan selesai, aku memakannya dengan lahap. Hanya satu porsi saja cukup buatku mengganjal lapar. Sisanya aku letakkan di meja makan, jika ibu pulang nanti bisa langsung menyantap makananku.



Langkahku menuju kamar untuk menyiapkan buku pelajaran. Melihat ada tas bola yang diberikan David. Aku membukanya secara perlahan. Di dalam ada sebuah bola dan ada selembar surat yang tidak aku sadari. Membukanya secara perlahan lalu membaca dengan tenang.



\*\*\*\*


Hai key, ini adalah bola pertama yang aku beli pada saat ingin menggeluti bola. Aku membelinya dengan uangku sendiri. Aku merawatnya dengan baik agar bola ini tidak usang dan rusak. Aku juga memberikan tandatangan di samping sisi bola tersebut. aku harap kamu juga menandatanganinya di samping.



Bola ini sengaja aku serahkan pada kamu, karena kamu adalah perempuan pertama yang aku temui dan menyukai bola. Aku berharap kamu bisa bermain dengan bola ini.



Semangat keyyyyyyy



David. P



\*\*\*\*



Begitulah isi surat yang David tulis. Aku menyimpan surat itu dengan rapi sebagai tanda Terima kasih kepada David yang memeberikan bola pertamanya padaku. aku segra menandatanganinya di samping tanda tangan David sesuai dengan permintaannya. Suatu saat nanti aku akan membalas kebaikan David.



Saat aku melihat bola, benar tandatangan David sangat indah selayaknya pemain dunia. Aku menyimpan bola itu kembali ke dalam tas. Lalu ku letakkan diatas lemari.



Jam dinding menunjukkan pukul 06.00. Aku segera bergegas untuk berangkat ke sekolah. Seperti biasa aku berlari-lari kecil. Tapi jantungku kembali berdegup kencang, mungkin ini efek karena sudah 2 hari aku tidak berlari. Jadi aku mengimbanginya dengan lari-lari perlahan agar jantung ini tidak terkejut. akhirnya sampai juga aku ke sekolah setelah melewati perjalan yang indah.



"Huhhh, capek juga ternyata hehehe" Gumamku sendiri sambil berjalan menuju kelas. Melewati lorong-lorong sekolah dengan rasa percaya diri. Masuk ke kelas lalu duduk dengan santai di sana. Mengamati papan tulis yang belum dihapus.



Sisa tulisan itu menerangkan tentang perhitungan matematika yang membuatku bosan. Baru saja memasuki kelas sudah disuguhi dengan indah ukiran angka-angkan diantara perhitungan dan rumus matematika, tapi aku tidak menyukainya.

__ADS_1



~~~ BERSAMBUNG ~~~


__ADS_2