Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
23. MOS Sekolah Baru


__ADS_3

Mencoba memakai seragam putih Abu-Abu yang di beli tadi lalu berdiri di depan cermin dan aku pandangi dari ujung kaki hingga ujung kepala. Lucu juga diri ini yang sudah mulai beranjak dewasa. Sebentar lagi aku memakai seragam putih Abu-Abu.


"Ayah, ibu, anakmu sudah dewasa. Sebentar lagi akan menjelajahi dunia sekolah putih Abu-Abu. Aku harap kalian nanti sadar untuk kembali menemui anakmu walaupun sudah tidak mau bersama lagi" Ucapku pada dinding dengan bayanganku yang berdiri sambil memakai seragam sekolah.


Tidak terasa air mata kembali menetes. Entah sedih atau senang yang aku rasakan saat ini. Tapi yang pasti aku harus menjadi anak kuat yang mampu mengalahkan kepedihan dalam hidup.


"Tenang key, tidak selalu hidupmu menjadi hampa. Berjalanlah untuk menggapai bintangmu karena keyakinan dan doa diatas segalanya" Kembali aku bercakap-cakap dengan bayanganku sendiri.


Menyemangati diri sendiri untuk menjalani hidup yang selalu diselingi kepiluan. Aku harap pilu itu pergi dan menghilang lalu genggaman bahagia segera datang suatu saat nanti agar aku bisa menjelajah dunia dan bertumpu pada kakiku sendiri walaupun saat ini belum sepenuhnya berdiri tegar.


"Oohhhhh, malam ini hujan turun lagiii..... " Bernyanyi sebuah lagi terkenal dari salah satu band Indonesia yaitu last child yang berjudul diary depresiku. aku bernyanyi dengan lantang sambil menikmati setiap penggalan bait yang menusuk kalbu.


Lagu yang paling aku suka dari semua lagu. Meskipun tidak ada ponsel atau TV di rumah, setidaknya aku masih bisa mendengarkan di sekolah atau dimanapun. Lagu ini juga berkaitan dengan hidupku. Tapi syukur alhamdulillah hidupku tidak terjerumus pada hal yang negatif. Karena cita-citaku yang tinggi maka selalu menjaga tubuh ini untuk menjadi pemain timnas nanti.


Teriakan sangat keras di dalam rumah. Menghancurkan kesepian, lagipula tidak ada orang di dalam rumah ataupun di sekitar rumahku. Hanya ada sebuah rumah paling ujung rumah yang berdekatan dengan sawah. Jadi tidak masalah jika konser sendiri disini.


"Oh iya aku lupa, belum mempersiapkan untuk masa orientasi siwa" Ucapku sambil menepok jidat. Aku segera bangun dan mempersiapkan semuanya agar besok bisa berangkat dengan tenang ke sekolah. selanjutnya aku kembali beristirahat untuk menenangkan hati.




Senin pagi yang sangat sejuk. Aku bangun di pagi buta untuk mempercepat bersiap diri. Beribadah, memasak, makan dan bersiap untuk pergi ke sekolah. Sekolah yang sangat jauh dari sekolah SMP sebelumnya, jadi aku harus berangkat pagi dengan menggunakan angkutan umum.



06.00 pagi aku sudah ada di halte untuk menunggu angkutan. Tidak lupa aku mampir ke pak Abi untuk sekedar menyapa sekaligus berpamitan. Dan aku juga melihat Riki yang sudah siap untuk berjualan. Rasanya seperti kembali ke masa lalu, berkumpul bersama Riki dan pak Abi. Tapi kali ini aku berangkat bukan untuk menjajakan koran melainkan untuk sekolah.



Perjalanan yang memakan waktu sekitar 25 menit. Karena sekolahku yang sangat jauh dan berada di perbatasan kota. Duduk dengan tertib di dalam angkut, dan dengan tenang mendengarkan lagu-lagu lawas yang di putar oleh sang supir.



"Pak kiri pak"


\*critt\*



Aku sudah sampai di depan sekolah. Suasana yang bersih dan indah, mataku terkesima melihat pemandangan ini. Spanduk selamat datang untuk siswa baru sudah terpasang. Banyak anak baru yang diantarkan oleh kedua orang tuanya. Ada yang mendapatkan ciuman dari ayah, ada juga yang mendapatkan pelukan kehangatan dari sang ibu. Sedangkan aku hanya memperhatikan dengan senyuman saja. Lalu bergegas untuk masuk ke dalam sekolah.



"Hey kamu" Teriakan itu terdengar saat aku baru melangkah di depan gerbang


"Iya saya" Aku langsung terkejut dan menoleh ke suara itu.



"Iya kamu, mana topi bolamu" Tanganku sibuk meraba kepala dan ternyata aku lupa membawa topi bola yang sudah diperintahkan untuk MOS (Masa Orientasi Siswa).



" Aduh, pake lupa segala dan rumahku jauh banget lagi" Gumamku sambil menunduk



"Sini kamu" Bentak senior laki-laki itu. Aku langsung bergegas ke arahnya dengan tenang


"Baru pertama masuk sudah buat ulah, sekarang sebagai hukumannya kamu jalan jongkok dari sini" bentaknya dengan ketus



"Jalan jongkok?, ini kan cuman topi bola saja dan siswa harus jalan jongkok memangnya ini sekolah militer apa" Bantah ku saat disuruh jalan jongkok menuju lapangan upacara



"Kamu nyolot ya, mau saya tambahin" Bentak salah satu teman perempuannya yang ada di samping dengan tatapan kesal. Disini aku mencoba bersabar karena baru pertama kali masuk ke sekolah ini.



"Eh key tunggu" Suara yang tidak asing dari arah belakang. Suara itu datang saat aku ingin jongkok


"Ari" Ucapku sambil menatap seorang anak laki-laki yang berlari ke arah kami


__ADS_1


"Maaf kak, topi teman saya ketinggalan di dalam mobil. Soalnya dia suka pikun kak" Ari memberikan topi bola padaku. Sedangkan aku masih tercengang melihat Ari dengan senyuman seakan memberikan isyarat untuk aku agar segera mengambilnya.



"Ya sudah sana pakai dan langsung kumpul di lapangan, awas sampek lupa lagi" Aku langsung pergi dan menarik tangan Ari.



"Iya kak" Jawab Ari sambil berjalan denganku. Sedangkan Aku tidak menjawabnya karena masih merasa kesal. Hanya karena topi bola saja dihukum sampai jalan jongkok, padahal ini sekolah umum bukan sekolah militer. Dan wajah mereka rasanya ingin aku gampar saja.



"Kok kamu bisa ada 2 topi bola sih" Tanyaku heran pada ari


"Jelas ada lah" Jawabnya sombong.



Ari mengatakan bahwa dia memang sengaja membuat 2 topi bola untuk jaga-jaga takut nya ada kerusakan. Ternyata pas sudah sampai di gerbang, dia melihatku. Langkahnya langsung berlari dan mendekat padaku yang ternyata tidak membawa topi tersebut, untung saja sudah ada topi di tas Ari jadi dia langsung memberikannya.



"Makasih banget ya ri, maaf ngerepotin"


"Tenang aja, sakit satu sakit semua dan senang satu senang semua. Yaudah yuk ke lapangan" Kami langsung bergegas menuju ke lapangan. Sebentar lagi akan dilaksanakan pembukaan MOS untuk siswa baru oleh kepala sekolah.



"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


" Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh" Jawaban serempak dari semua warga sekolah.



"Di pagi yang cerah ini saya akan melakukan peresmian pembukaan MOS siswa baru di SMA A............."



Berdiri di tengah lapangan mendengarkan kepala sekolah yang sedang melakukan arahan dan berpidato. Tidak ada pidato yang sedikit, selalu saja panjang lebar. Membuat para siswa yang mendengarkan selalu bosan. Begitu juga aku yang bosan. Tapi tetap saja harus mendengarkan hingga semuanya selesai.



" Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh"



"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga"



Semua peserta upacara dibubarkan, kecuali kami siswa baru yang masih berjemur dilapangan. Lalu ada salah satu OSIS (organisasi siswa) wanita selaku panitia memberikan arahan untuk melakukan kegiatan selanjutnya. Kegiatan tersebut yaitu membagi semua siswa menjadi 10 kelompok. Setelah terbagi maka setiap kelompok harus mengikuti para OSIS yang memimpin. Katanya akan dilakukan pengenalan sekolah.



Ternyata aku satu kelompok bersama Ari. Dan tidak aku sadari juga ternyata satu kelompok dengan Yuri. Aku juga terkejut karena Yuri sekolah di SMA ini juga. Entah mengapa aku dengannya masih diam-diam saja, hanya akur pada saat itu saja. Padahal aku ingin berteman tapi ternyata Yuri masih kembali ke teman lamanya saat itu, jadi aku diam dan menjauh takutnya dia malu berteman denganku.



Berkeliling sekolah dengan melakukan perkenalan lingkungan sekolah. Setelah itu kita duduk di sebuah tempat yaitu lapangan bola di bagian belakang. Mendengarkan permainan atau arahan yang dilakukan oleh para kaka senior. Awalnya aku santai-santai saja mendengarkan arahan dan permainan yang mereka berikan, tapi semakin lama semakin aneh. Sebenarnya bukan permainan dan lebih tepatnya ingin mempermalukan siswa baru dengan melakukan apapun yang mereka mau.Berbagai cara yang mereka suruh harus dilakukan oleh para siswa baru.



"Siapa disini yang takut kucing" Ada beberapa anak mengangkat tangan karena takut kucing, tapi malah disuruh untuk mengambil kucing dan membawakannya ke depan mereka. Jika tidak ada yang menurutinya maka akan dihukum. Ada yang rela melakukannya meskipun mereka takut. Begitu juga dengan Yuri ternyata dia sangat takut kucing.



"Cepat bawa kucing itu disini" Bentaknya pada Yuri yang masih terdiam dan menatap kucing dengan rasa ketakutan paling besar. Aku tidak tau bila Yuri takut kucing, jika dilihat dari matanya dia sangat trauma dengan kucing.



"Ta, ta pi saya takut kak" suaranya terbata-bata sambil bergetar karena rasa takut dalam dirinya.



"Kalau kamu tidak mau, maka kamu harus merayap dilapangan ini" Yuri lebih memilih untuk merayap daripada harus memegang kucing. Aku geram melihat ini semua tapi aku memilih diam.


__ADS_1


Rasanya lucu saja, ada perlakuan seperti ini tapi sekolah memperbolehkannya. Bagaimana bisa latihan militer diterapkan dalam sekolah yang pada umumnya untuk belajar. Tapi jika memang sekolah tersebut berbasis militer ya wajar-wajar saja. Sedangkan ini tidak ada sangkut pautnya dengan sekolah yang berbasis militer.



"Selanjutnya, di semai-semak sana ada buah warna merah dan menjadi makanan untuk ular. Saya ingin 3 dari kalian mengambilnya"



Pandangan semua siswa tertuju pada semak-semak yang terlihat sangat padat. Duri-duri tumbuh leluasa di sana. Dan yang paling menakutkan pasti akan ada ular. Iya ular yang akan memangsa bila kita mengganggu ketenangan tidurnya.



"Kamu, kamu dan satu lagi kamu silahkan berdiri" Tangannya sibuk memilih tiga siswa yang mereka sukai. Dan salah satunya adalah Ari.



"Kak biar saya aja kak" Aku mencegah Ari untuk berdiri. Dan aku menawarkan diri untuk menggantikan Ari. Tubuh Ari denganku berbeda, aku takut dia kenapa-napa jadi lebih baik aku yang menghadapi semua.



"Oh kamu mau jadi pahlawan ya? " Ari mencegahku dan memaksa aku untuk duduk kembali. Ingin aku menjawab dari senior itu tapi tangan ari menahanku dengan tatapan merelakan.



"Tidak kak, dia sedang bercanda biar saya saja yang melakukan" Ari memberikan isyarat mata agar aku merelakan dia melakukan apa yang diperintaholeh para senior tersebut.



"Yasudah ayo cepat kesana jangan terlalu lama" Ari dan 2 siswa lainnya berjalan ke semak-semak dan masuk untuk mencari buah yang diperintahkan.



Pikirku cemas, karena bila melihat semak-semak itu sangat dirundung kegelapan. Entah kegelapan dari hewan buas atau apapun. Tatapanku tersisa saat memperhatikan ari yang semakin masuk kedalam untuk mencari buah itu. Mereka bertiga sedikit meringis kesakitan karena terkena duri dari semak liar. Sedangkan para senior itu malah asik berbicara dan bercanda melihat siswa yang meringis tersebut. Pikiranku sudah panas ingin menghantam mereka tapi mataku tidak bisa lepas dari pandangan Ari.



"Yes, kak saya menemukannya" Salah satu siswa sudah keluar dan menemukan buah yang dicari. Di dalam masih ada Ari dan satu siswa lainnya. Pikirku semakin cemas, mengapa Ari masih belum menemukan buah tersebut.



\*bruk, bruk, bruk\*



"Ini kak, saya sudah menemukannya juga" Salah satu siswa menyusul dan menemukan buah yang diperintahkan. Sedangkan Ari masih ada di dalam sana. Pikirku menjadi tidak karuan, takut ada sesuatu hal yang terjadi pada Ari.



"Maaf kak, teman saya belum keluar juga dari semak-semak itu" Aku berdiri dan mengacungkan tangan untuk mengatakan hal tersebut pada mereka



"Ya berarti dia belum menemukan buah, hahahaha" Ringan sekali bicaranya seakan memang sengaja menjebak para siswa masuk dalam semak berbahaya tersebut.



"Kalau terjadi apa-apa dengan teman saya bagaimana kak" Tanyaku dengan tatapan kesal


"Ya tinggal di angkat, terus masuk rumah sakit"



\*plak\* pas sekali, mendarat di pipi seorang senior perempuan yang berbicara seenaknya.



Aku sudah mebahannya daritadi tapi amarah itu meledak dan tidak melihat siapapun yang berbicara kasar akhirnya tangan itu mendarat pada wajah yang tepat.



"Heh kamu kurang ajar sekali ya" Tangannya menjambakku lalu aku kembali melawan dengan memukul lengannya agar tangan dia terlepas dari genggaman rambutku.



"Hey hey, sudah sudah kalian ngapain bertengkar. Kamu juga Ana ngapain bertengkar. Kamu itu kan senior harus mencontohkan yang baik" Ucap salah satu senior lelaki yang tiba-tiba datang saat kami berdua bertengkar.


__ADS_1


~~~BERSAMBUNG~~~


__ADS_2