Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
22. Belanja Ke Pasar Besar


__ADS_3

Suatu saat nanti akan aku pastikan bahwa ada sebuah jersey yang turun ke lapangan membantu serangan untuk timnas. Sebuah jersey timnas dengan nama "Adara. K" Yang akan menjadi oemiaj timnas dan sedia bertanding untuk memgharumkan nama negara di kancah dunia.


Sekaligus untuk mencari ayah dan ibu, agar mengenali anaknya yang berjuang sendiri tanpa mereka dampingi.


Latihanku setiap hari terasa sepi. Karena David yang pergi tapi entah kapan akan kembali. Aku selalu belajar tentang skil dengan buku yang David berikan. Bisa atau tidak, aku hanya melakukannya sendiri. Beda saat ada David, dia yang selalu memberikan aku semangat serta memeberikan aku pengetahuan untuk otakku agar mudah dicerna.


Waktu terus berlalu, hari libur aku lewati dengan latihan dan melihat pertandingan tarkam. Kadang juga aku bermain, tetapi tarkam ini bukan di kampungku melainkan kampung orang. Mungkin jika aku main di kampungku, maka akan ada teriakan anak pelacur. Lebih baik bermain di kampung orang untuk mencari aman.


Setiap pertandingan tidak selalu menang, akan tetapi setiap pertandingan selalu memiliki tekad untuk meraih kemenangan. Meskipun terkadang aku kalah membela sebuah tim, tapi aku masih bisa mendapatkan uang sebagai bayaran untuk pemain dadakan.


Dari uang itu aku membelanjakan kebutuhan, bahkan aku hanya menggunakan uang ibu sedikit. Dan aku juga sudah berjanji akan memgembalikannya suatu saat nanti.


"Tenang saja bu, aku tidak akan lupa dengan janjiku mengembalikan uang-uang ibu" janji itu terus terikat pada pikiranku dan tidak akan pernah lupa.



Pada suatu hari di sebuah pertandingan tarkam. Hal mengerikkan kembali terjadi. Padahal kalah menang dalam sebuah pertandingan sudah biasa dalam sepakbola, tapi yang tidak biasa adalah penonton yang melakukan aksi provokator hingga membuat kericuhan.



Saat itu tim ku kalah, tapi kita tetap main sportif. Akan tetapi provokator dari tim lain membuat para pemain di tim yang aku bela memiliki amarah yang tinggi. Mereka melakukan berbagai pelanggaran, mungkin karena emosi yang tidak terkontrol hingga melakukan pelanggaran yang tidak baik.



Membuat penonton dari tim lawan menjadi geram. Bahkan sebelum pertandingan selesai, ada beberapa yang masuk kelapangan untuk memukul pemain dari tim kami. Aku bingung harus bagaimana, karena hanya aku perempuan sendiri yang ada di tengah lapangan.



"key, berlindung lah" teriak dari pelatih yang sudha berlindung diantara badan pengamanan.



Saat itu mataku bingung mencari jalan, aku benar-benar buntu tidak bisa melawan. Karena semua laki-laki yang menyerang, padahal aku sendiri tidak pernah bermain kasar pada saat berada di tengah lapangan. Tapi permainanku yang sportif tertutupi oleh para pemain yang satu tim denganku.



Hampir 80% pemain yang melakukan pelanggaran. Hal itulah yang membuat amarah penonton memuncak. Hampir saja aku kehilangan nyawa di tengah kericuhan. Untung saja ada salah satu teman tim yang membantuku keluar dari sana.



"ayo key cepat lari, berlindung lah di tubuhku"Aku lari dan terus mencari tempat aman. Akhirnya aku sampai di sebuah tempat toilet, lalu mengganti baju pertandingan menjadi baju biasa.



"Makasih raka"


"cepatlah pulang dan hati-hati di jalan karena saat ini situasinya memburuk" aku mendengarkan ucapan raka dan segera pulang.



Mengerikkan dan sungguh mengerikkan, aku tidak peduli lagi gajiku yang aku pedulikan adalah nyawaku. Berlari hingga ke ujung yang lebih nyaman. Tapi keributan masih saja terus terngiang-ngiang di telinga. Hingga akhirnya ada polisi yang bergerak untuk menghentikan masa. Aku hanya bisa memantaunya sampai jauh.



Jadi itulah kerusuhan, untungnya masih bisa dicegah agar tidak sampai terjatuh nya korban jiwa. Hingga saat ini aku tidak mau main di kampung itu lagi. Tapi lebih memilih bermain di kampung yang lainnya. Banyak yang mengincar ku untuk bermain di tim yang mereka kelola. Tapi tidak ada yang memiliki niatan mau merekrutkut sebagai pemain tim inti. Mereka hanya mengincar ku untuk bermain sebagai pemain bayaran saja.


__ADS_1


Aku ingin sekali memiliki klub inti, tapi sayang untuk memasuki klub terlalu banyak aturan. Bahkan mereka juga menyuruhku membayar dengan uang yang lumayan banyak jumlahnya. Sedangkan aku tidak memiliki uang sebanyak itu. Jadi inilah yang membuat aku bertahan untuk menjadi pemain bayaran.



Hari-hari berlalu, aku dan Ari juga sudah mendaftar ke suatu SMA yang favorit. Ibu juga mengirimkan uangnya untukku melanjutkan sekolah. Setiap uang yang ibu berikan selalu aku catat dan setiap uang ibu yang aku gunakan juga tercatat rapi agar dapat mempermudah perhitungan ku dalam mengembalikan uang ibu nanti.


Hari senin besok aku akan masuk ke sekolah yang lebih tinggi. Menginjak.i dewasa dalam arti umur, tapi aku sudah menjelajahi nya di saat umurku masih dibilang muda.


"Ibu, assalamu'alaikum"


*tok, tok, tok* ku ketuk perlahan rumah bu Yanti untuk mengajaakknya ke pasar membeli peralatan sekolah.


"Waalaikumsalam, iya nak"


"Bu, jadi berangkat kan? " Tanyaku


"Jadi dong, ibu ganti baju dulu ya"


"Siap bu"


Beberapa menit kemudian ibu sudah bersiap. Kami pergi menggunakan sepeda motor yang dikendarai oleh ibu. Menuju pasar tradisional yang jaraknya lumayan jauh dari pelosok desa. Pasar yang bagus dan indah, beda dari pasar di kampungku yang kumuh.


Di dalamnya sangat luas dan banyak penjual berbagai macam bahan pangan dan juga penjual baju dan lainnya. Rasanya senang sekali bisa jalan-jalan ke pasar ini dan ibu sekaligus membeli bahan-bahan untuk jualan besok. Meskipun jaraknya yang jauh, tapi harganya lebih murah jadi bisa berhemat.


Selain membeli perlengkapan sekolah, aku juga membeli bahan pokok di rumah untuk persedian ku ke depan mumpung disini bahan-bahan nya cukup murah. Membeli cabai, tomat, tahu, tempe dan bahan pokok lainnya yang bisa diawetakn di dalam kulkas. Ternyata asik sekali berbelanja dengan keadaan pasar yang bersih. Rasanya nyaman disini, bisa tawar menawar dengan pedagang yang ramah.


"Oh iya bu, key juga mau beli baju bola" Ucapkunoada bu yanti pada saat kota berkeliling di pasar baju


"Memangnya ada key? "


"Key gak tau juga bu, hehehhe"


Dari dulu aku ingin membeli baju bola timnas Indonesia, tapi baru kali ini kesampaian. Karena pasar dirumahku tidak ada pasar penjual baju, mereka banyak menjual bahan pokok makanan saja. Jadi aku tidak bisa membeli baju bola seperti yang aku inginkan.


Setelah mencari di beberapa toko, banyak yang mengatakan stoknya habis. Hanya ada baju bola dari luar negeri seperti baju bola barcelona, manchester city, manchester United, real madrid dan masih banyak lagi. Aku cukup kecewa karena tidak ada baju bola timnas disana. Jadi aku memutuskan untuk tidak beli baju. Hanya membeli pakaian untuk sekolah dan peralatan sekolah saja.


"Kenapa pasar sebesar ini tidak menjual baju timnas bu" Kesalku mengadu pada bu yanti


"Bukan tidak jual sayang, tapi tidak ada stok" Sahutnya yang sabar mencoba memberiku pengertian


"Padahal key pingin baju bola bu"


"Kamu tidak perlu beli baju bola, nanti kamu sendiri yang akan diberi baju bola dengan namamu key. Katanya key mau jadi pemain bola timnas" Tangannya memegang kedua bahuku dan kita saling bertatapan.


"Iya bu, key pingin menjadi pemain timnas"


"Kamu harus berusaha dan berdoa agar keinginanmu tercapai anak baik" Aku mengangguk dan memeluk bu yanti penuh dengan senyuman.


Meski tidak ada baju bola yang aku cari, setidaknya ada pelukan hangat dari seorang ibu yang selalu menjadi penasehat dalam hidupku.


Semua belanja sudah beres, tangan kanan dan kirimu penuh dengan belanjaan baik itu bahan pokok ataupun perlengkapan sekolah. Bahkan bu yanti juga memwgang belanjaan yang sama banyaknya.


"Duh, berat sekali ya bu" Keluh ku, saling menatap dengan ibu


"Hahhahah" Kami berdua langsung tertawa lepas saat melihat satu smaa lain. Lebih tepatnya menertawakan diri sendiri karena berbelanja sebanyak itu, padahal naik motor bukan naik mobil.


Langkah demi langkah kami berjalan walaupun hanya perlahan saja. Sesampainya di parkiran, aku dan ibu melihat warung bakso dan mie ayam yang begitu menggiurkan. Akhirnya kami berdua mampir untuk makan meskipun barang belanjaan terlalu banyak.

__ADS_1


"Bu, mampir beli bakso yuk" perutku sudah lapar, apalagi melihat bakso dan mie ayam siang-siang begini


"Ayo, lagipula ibu juga lapar nih" Keluh nya sambil tersenyum.


Abang-abang baksonya sangat ramah. Melayani kami dengan ramah sekali. Meskipun lokasinya di pasar, tapi tempatnya sangan nyaman dan bersih. Jadi anak untuk menikmati bakso atau mie ayam disini.


"Bang, saya pesan 1 mie ayam dan 1 bakso ya"


"Oke siap neng"


"Oh iya sama es tehnya 2 ya bang"


"Oke laksanakan" Aku tersenyum melihat keramah tamahan penjual bakso itu. Senang rasanya.


Tidak lama kemudian bakso itu sudah tersedia di meja. Aku dan bu yanti melahaonya karena sudah lapar berkeliling di pasar yang sangat luasluas dan besar. Aku juga sampai nambah karena merasa masih lapar. Jadi menambah 1 mangkuk lagi untuk menghilangkan rasa lapar ku. Tidak biasanya aku makan 2 mangkuk mie ayam, padahal 1 mangkuk saja sudah kenyang. Tapi ini berbeda, mie ayamnya sangat enak dan perutku juga lapar jadi tidak masalah makan dia mangkuk kan, hehehhe.


*bruk* setelah makan aku malah mengantuk hingga kepalaku terbenrur ke meja.


"Kamu kenapa nak, pusing, atau sakit? " Tanya ibu yang khawatir saat melihatku


"Tidak bu, key terlalu kenyang jadinya mengantuk"


"Astaghfirullah, yaudah ayo kita pulang"


"Sebentar bu, key bayar dulu" Aku berdiri untuk membayar makananku sebelum pergi


"Sudah sudah, ibu ajaa yang bayar kamu simpan saja uangnya" ibu menyuruhku untuk memasukkan kembali uang itu katanya dia saja yang mentraktir hari ini.


"Tapi bu.... "


"Sudah, sudah, ayo kita pergi ibu sudah bayar semuanya kok"


"Makasih banyak ya bu" Ucapku yang merasa sungkan pada ibu


"Ihhh, kamu ini seperti ke siapa saja, kan ibu sudah pernah bilang kalau ibu ini adalah orang tuamu" Aku mengangguk sambil mengekor.i langkah bu yanti.


Beliau terlalu baik padaku, membayarkan aku makan, memberi aku makan tidak ada perhitungan sedikitpun dalam kamus kehidupannya. Hanya membantu dengan rasa ikhlas yang amat dalam. Selalu saja menganggapku anaknya meski tidak pernah lahir dari rahimnya. Ibu juga selalu mendukung apapun keputusanku asalkan di jalan yang benar.


Dia juga selau mendukungku dalam bermain di sepak bola, akan tetapi bisa aku cidera walau hanya sedikit maka dia akan khawatir. Bu yanti dan keluarganya sangat menyayangiku. Aku bersyukur bertemu dengan mereka, mereka semua adalah malaikat tanpa sayap yang dikirm Tuan setelah malaikat tanpa sayapku yang asli pergi entah kemana.


Perjalanan pulangku kali ini sangat susah, karena terlalu banyak barang belanjaan kami. Untung saja sepeda motor ibu adalah metik, jadi bisa menempatkan belanjaan di depan lalu aku menggendongnya di belakang. Rasanya ingin tertawa tapi berat merasakan semuanya.


Begitu juga ibu yang ikut tertawa walau kecil, karena terasa susah untuk menyetir. Tapi sudahlah, yang penting sampai ke rumah dengan selamat walau hanya berjalan dengan kecepatan 20km/jam. Pelan-pelan saja asalkan sampai dengan selamat.


Ribet memang, tapi tidak apalah yang penting mendapatkan bahan pokok yang murah kata ibu. Saat sampai di rumah menurunkan semua barang bawaan, untung ada bapak yang sudah siap siaga dan membantu kami berdua.


"Astaghfirullah bu, bu, belanjanya banyak sekali" Protes pak mamat saat menurunkan belanjaan kami


"Iya Pak soalnya murah-murah di sana" Jawab bu hanti pada suaminya dengan senyuman


"Tau gini bawa truk biar gak ribet gini"


"Hahaha" ibu tertawa kencang, aku malah ikut tertawa melihat kelakuan lucunya.


Katanya keluarga akan harmonis bila selalu menurunkan Ego dan menganggap sesuatu dengan santai. Ya begitulah keluarga bu yanti selalu saja santai seperti ada es di keluarga mereka karena selalu menyiram api keluar rumah.


"Key pulang dulu ya pak, bu" Pamit ku kepada mereka berdua sambil bersalaman seperti biasa.

__ADS_1


Sesampainya di rumah aku membuka semua barang belanjaan ku, berbagai macam peralatan sekolah dan bahan makanan. Ku letakkan satu per satu bahan makanan ke dalam kulkas, ku tata rapi agar kelihatan lebih cantik. Lalu aku membuka perlengkapan sekolah. Di dalamnya berisi buku, sepatu, tas dan baju sekolah putih biru.



__ADS_2