Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
7. Amarah ibu padaku


__ADS_3

Aku mengajak Riki berlari menuju ke lapangan. Tapi sayang nafas Riki tidak sampai karena sudah lama juga dia tidak berlatih untuk berlari. Jadi aku mengajak Riki untuk berlari kecil saja agar membiasakan jantungnya berlatih. Akhirnya kami sudah sampai di tempat lapangan pelatihan. Kami bersembunyi di tempat semak-semak seperti biasa.


semak-semak kecil di tempat aliran sungai akan akrab dengan keberadaanku yang bersembunyi saat menonton latihan. jika dia bisa berbicara mungkin akan mengatakan malas karena selalu bertemu denganku di waktu yang akan datang.


"Wah akhirnya aku bisa melihat permainan bola lagi key" Aku terdiam dan mengerti, betapa rindunya Riki pada bola setelah beberapa tahun belakangan ini ia meninggalkannya. Mengubur sedalam mungkin cita-citanya yang menjadikan dia bergelut lelah menjadi tulang punggung keluarga.


"Sering-sering ajak aku kesini key, biar bisa bermain bola lagi" Matanya menatap dengan berbinar-binar. Seakan memunculkan harapannya kembali untuk bertemu bintang.


"Iya ki, aku akan mengajakmu" Sahut ku untuk meyakinkan Riki agar tetap semangat. Walaupun cita-citanya sudah terkubur, setidaknya masih ada harapan untuk bermain dengan bola.


"Andai saja ayah tau key, pasti aku akan menonton bersama ayah" perkataannya menusuk jantung ku, rindu manakah yang bisa di tahan. tidak akan ada yang bisa membandingkannya, karena rindu oada seseorang yang sudha tiada memang menyakitkan.


"Ayah kamu pasti sudah senang di surga ki, kamu jangan lupa doakan ya" ucapku sambil tersenyum padanya. menentukan hatinya yang luka jika mengingat sosok seorang ayah. Aku mengeluarkan lembut bahunya untuk membuat riki tenang.


"iya key"


Latihan serta permainan di lapangan sudah kami perhatikan dari tadi. Mulai dari lari, pemanasan, juggling dan menggiring bola kami perhatikan. Aku sudah mengerti beberapa tentang bola. Walaupun tidak sepenuhnya, setidaknya aku memahami sedikit demi sedikit. Latihan mereka sudah selesai, semuanya bergegas pulang kecuali David yang masih berdiri dan menunggu sesuatu.


"Hay vid" Sapaku saat kami nerdua keluar dari persembunyian bagaikan mata-mata dan menghampiri David disana.


"Ehh, Hay key" David terkejut saat aku datang, tetapi senyuman manis di bibirnya tetap menyambutku dan Riki dengan lembut. Selama ini mungkin David sudah mengetahui bahwa aku akan datang dan berlatih di lapangan setelah mereka pergi. Padahal yang tidak David ketahui adalah aku selalu datang dari awal tetapi bersembunyi di semak-semak.


"Oh iya, vid kenalin dia Riki temanku" David mengulurkan tangannya untuk berjabatan dengan Riki. Riki menyambutnya dengan senyuman.


"Riki"


"David"


"Oh iya, kami berdua mau latihan seperti biasa vid" Sambungku pada David.


"Oh iya key, sebelum latihan aku punya sesuatu buat kamu" dia mengatakan hal tersebut smabik tersenyum, sedangkan aku tidak tau sesuatu apa yang ingin ia berikan.


"Sesuatu apa vid? " Tanyaku dengan rasa penasaran. Sedangkan David pergi ke tempat tasnya yang berada di sana dan membawa tas itu kepada kami.


"Nih, di dalam tas itu ada bola dan kamu bisa belajar dengan bola itu" Ucapnya sambil memberikan sebuah tas yang berisi bola.


"Beneran vid" Mataku yang masih tidak percaya berkata pada David untuk mengatakan bahwa yang aku pegang adalah benar-benar bola yang dia berikan kepadaku.


"Iya bener, jadi kamu bisa latihan juggling bola" sahutnya smabil tersenyum kembali.


"Alhamdulillah, akhirnya aku punya bola ya Allah" Ucapku sambil sujud syukur. Karena apa yang aku inginkan sudah ada di depan mata. senang bukan main melihat sebuah bola yang benar-benar bagus seperti bola yang ada di pertandingan biasanya dan itu bukanlah bola plastik.


"Gila key, kamu bisa berlatih lebih keras" Sahut Riki dengan tatapannya yang juga memberikan perkataan bahwa dirinya juga senang melihat aku senang mendapat bola.


Aku senang melihat bola itu, beribu syukur aku ucapkan pada Allah sang Pencipta seluruh alam yang maha pengasih lagi maha penyayang. Lagi-lagi aku menemukan orang baik dimanapun aku berpijak. Dan kali ini Allah menitipkan sebuah bola lewat David untuk diberikan kepadaku.

__ADS_1


"Bola ini pertama kali aku beli dan aku jaga hingga sekarang key, mungkin umur bolanya sudah lama tapi masih bagus dan aku rawat key"


"Makasih vid" Aku sangat senang bukan main hingga secara spontan memeluk David dengan tidak sengaja. Saking senangnya aku lupa batasan hingga memeluk David.


"Eh, eh, eh maaf vid soalnya aku sangat senang" Ucapku sambil melepaskan pelukan itu dari David setelah kesadaran ini kembali. Sedangkan David hanya tersenyum saja tanpa ada perkataan apapun.


"Mengapa kalian masih diam? Bagaimana kalo kita coba bola baru ini" Ucap Riki mencairkan suasana.


"I, iya ide bagus. Lagian aku juga tidak bisa juggling ataupun passing bola"


"Yaudah ayo" Kami semua bergegas menuju tengah lapangan.


Sebelum melakukan permainan tentang bola, aku dan riki melakukan lari serta pemanasan. Sedangkan David saat ini menjadi pelatih kita berdua, karena David sudah melakukannya tadi. Lagipula aku tidak akan rugi bila di latih David karena dia sudah banyak mendapatkan ilmu di klub bola yang dia pelajari. Sedangkan aku dan Riki hanya anak baru kemarin sore yang ingin bergelut dengan sebuah bola sepak di kampung ini.


David mengajari kami beberapa trik dalam sepak bola. Mulai dari juggling bola yang baik dan benar, kemudian menendang bola menggunakan kaki dalam, menggiring bola, mengoper bola dari kaki satu dan kaki lainnya. Memang tidak cukup untuk kita berlatih sebanyak itu. Hanya beberapa saja yang kami lakukan dan akan dilakukan selanjutnya esok waktu.


Saat ini senja kembali muncul, desir angin dingin memanggil bahwa hari akan petang. Kami bertiga akhirnya pulang ke rumah masing-masing.


"Latihan hari ini kita selesaikan, dan besok akan berlatih lagi" Ucap David pada aku dan Riki.


"Oke siap" Sahut ku dan Riki bersama-sama.


"Ayo kita pulang karena hari sudah mau petang" Kami bertiga bergegas untuk pulang. David pulang menaiki sepedanya sedangkan Riki pulang bersamaku.


"Ayo Riki, kamu harus semangat biar cepat sampai" Riki kelelahan dan dia tertinggal di belakang. Karena Riki masih pertama kalo berlari-lari seperti ini. Apalagi keadaan setelah latihan begitu capek. Tidak sakit besok saja sudah beruntung.


"Tungguin key, nafasku terengag-engah" Aku berlari mundur kebelakang untuk menghampiri Riki yang kelelahan.


"Yaudah aku dorong"


"Hahahaha" Aku mendorong Riki dari belakang dan kami tertawa berdua di sepanjang jalan.


Malam yang petang, waktunya untuk kembali pulang. Tapi pikirku bimbang karena tidak mengerti kemana aku akan pulang. Sejenak aku berfikir sambil menyusuri jalanan yang sudah terang dengan beberapa lampu jalanan. Jajaran lampu remang-remang mengikuti langkah kami di malam yang dingin ini.


"Hmmm, Riki kamu duluan aja ke jalan ya soalnya aku langsung pulang" Pikirku mendapat kepastian untuk pulang dan mengecek keadaan. Sedangkan Riki pasti akan kembali ke jalanan untuk mencari uang.


"Oke key, kamu hati-hati yah" Kami terpisah di persimpangan perkampungan. Riki menuju jalan besar dan aku masuk kedalam kampung yang padat. Berharap lelaki itu sudah pergi dari rumah agar hidupku tidak dirundung ketakutan oleh kekejamannya yang semena-mena padaku.


"Hmmmmffuuuuuu" Menarik nafas dan menghembuskan secara perlahan adalah cara yang terbaik untuk membuat hatiku tenang.


*klek* ku buka perlahan pintu rumah dengan rasa takut yang menghantui kembali. Betapa terkejut bukan main ternyata lelaki itu masih belum pergi. bahkan dia sangat menikmati suasana rumah ini, selayakanya pemilik rumah.


"Wah bagus sekali yah, pergi tidak ada pamit dan pulang pun terlalu malam" Langkahnya perlahan menuju ke tempat aku berdiri. Badannya yang tinggi dan tegap membuat jiwaku bergetar bukan main. Ku pandangi ruangan rumah tapi tidak melihat ibu dari sisi manapun.


*plakkk* tamparan keras melayang di pipiku yang mungil.

__ADS_1


"Anak kurang ajar, tidak memasak dan pulang terlalu malam" Tangannya yang keras menampar pipiku hingga merah. Cenat-cenut rasanya dan sangat sakit bukan main. Tamparan ini 5x lebih sakit dari tamparan ibu.


"Ampun om, ibuuuuu" Teriakku dan berharap ibu keluar untuk menolongku.


"Oh rupanya kamu sudah pulang yah, kamu itu anak durhaka"


*brukkkk* ternyata pikiranku salah, ibu malah mendorongku hingga aku tersungkur di atas lantai.


"Ampun bu, ampun" Kaki ibu kembali menendang ku, hingga badanku menindih bola yang ada di dalam tas. Tepat sekali bola itu menyakiti perutku. Bibirku merintih kesakitan, tapi tidak akan aku biarakan mereka tau bahwa aku membawa bola.


*brakkk*


Lagi-lagi tangan lelaki itu memukul kepalaku hingga terbentur pada meja makan. Sedikit darah bercucuran pada kepalaku tapi ibu malah pergi tidak mempedulikan aku. Apakah ibu sudah membenciku dan tidak sayang lagi padaku?.


Pertanyaan itu berputar-putar sendiri di kepalaku. Saat darahku masih menetes, ibu dan lelaki itu langsung pergi entah kemana. Ibu tega meninggalkanku sendiri di dalam rumah ini pada saat tubuhku dan hati terluka parah. Tangan ibu tidak lagi sama, yang biasanya membersihkan ku dari luka tapi kini malah memberiku luka.


*Klakk* mengambil sepanci air lalu dipanaakan agar aku bisa membuat air hangat. Sambil menunggu, aku menahan keluarnya darah dan mengelap dengan kain seadannya. Perih sekali rasanya, bahkan bukan hanya kulitku yang terkoyak tapi hatiku sama-sama terkoyak dari cinta yang menghilang pergi.


Beberapa menit aku menunggu akhirnya air sudah mendidih. Air hangat sudah aku siapkan di dalam sebuah baskom plastik. Mengambil kain bersih lalu memeras dan mengompres luka sekaligus membersihkan sisa darah. Mengelap sesekali sambil mencoba untuk melupakan tadi. Melupakan kenyataan bahwa tangan ibu yang sempat ikut melukai.


Ingin menangis tapi rasanya aku harus kuat dan menerima keadaan yang dari dulu audha menyakitkan. Tapi rasanya snagat hancur bahwa yang menyakitiku bukan hanya orang lain melainkan ibuku sendiri.


Di sebuah ranjang kecil ini aku terbaring. Mengompres beberapa luka memar di kepala ataupun di wajah. Berharap besok akan kembali sehat seperti sediakala. Melihat dinding sudah menunjukkan pukul 9 malam. Sebuah drama baru kali ini aku menjadi peran, apakah aku adalah peran utama. Karena pada saat terpukul aku belum mati, hanya saja terluka di sana dan di sini.


"ya Allah, kuatkan hambamu yang lemah ini. hamba yakin bahwa hidup di dunia ini masih banyak orang baik yang membuat bibir ini kembali tersenyum indah. jika bukn kali ini, mungkin lain waktu di masa depan" gumamku sendiri di atas ranjang.


Mungkin Allah masih memberikan aku kesempatan waktu untuk melanjutkan beberapa episode selanjutnya untuk bertahan hidup. menjelajahi kehidupan yang tidak bisa di prediksi oleh siapapun.


Dengan beberapa rasa sakit aku berjalan perlahan, mencari bahan makanan yang dapat aku masak. Di dalam kulkas kecil hanya menemukan telur, tahu, dan kangkung.


Mengambil telur dan tahu dicampur menjadi satu bagaikan perasaanku yang saat ini bercampur aduk. Lalu aku tambahkan cabai serta merica biar aku merasakan lebih baik pedasnya cabai atau merica daripada pedasnya perkataan ibu yang membuat hati terluka.


Aku memasak lalu menyantapnya hanya dengan kecap. Tidak ada nasi dan tidak ada sayur, karena untuk memasak nasi dan sayur akan membutuhkan tenaga ekstra dalam mengolah. Sedangkan saat ini tenagaku masih tidak stabil. Jadi mau tidak mau memakan seadanya saja yang ada disini.


Saat perut sudah kenyang, aku kembali ke ranjang kecilku. Memeluk boneka bobo dan mengadu kisah padanya.


"Bo, kenapa ibu kejam ya apakah aku punya salah pada ibu?" Bobo hanya diam, tapi dia selalu setia mendengarkan isi relung hatiku paling dalam mulai dari A sampai Z.


Bobo tidak pernah menyangkal lesu saat mendengarkan aku bercerita panjang lebar. Ya sangat jelas karena bobo adalah benda mati. Bahkan sampai sekarang aku sangat susah mengadu kisahku pada manusia.


Meski aku dekat dengan ari dan Riki, aku jarang bercerita terlalu mendalam kepada mereka. Hanya saja aduan ku pada angin biar berhembus kencang dan terbang diantara langit-langit serta rembulan lalu menghilang. Aku juga mengadu pada ombak, agar nanti bisa disampaikan pada karang di desa seberang. Yang memeberiku setitik harapan walaupun secuil.


Dalam malam yang semakin larut, mataku mencoba untuk terlelap. Membiarkan kantuk mengerubungi pikiranku. Agar aku bisa tidur menggapai bunga mimpi-mimpi yang akan ku rangkai indah malam ini di tengah hati yang tersakiti. Agar aku juga bisa melupakan kejadian tadi. Tapi susah sekali mataku terlelap, padahal kantuk sudah datang menjadi-jadi. Hingga aku paksa untuk terlelap. Pada akhirnya mataku terlelap juga dalam genggaman sakit yang aku tahan.


__ADS_1


__ADS_2