Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
63. Fitnah Rena


__ADS_3

Tapi yang sangat kejam lagi adalah dirimu ayah. Aku harap engkau mengerti keadaan hidup yang aku jalani saat ini. Aku harap engkau bisa membaca, bagaimana sakitnya hatiku menemukanmu setelah sekian lama belati ditancapkan pada hatiku.


Sekarang ayah sudah naik ke dalam mobilnya sambil membuka air mata yang menetes dan telah berlalu. Aku hanya menatap kepulan asap knalpot yang tidak berguna seperti dirinya yang menghancurkan kehidupanku dulu. Apakah di otaknya masih bisa berfikir bahwa aku kehausan kasih sayang seorang ayah. Tapi sepertinya tidak ada catatan kasih sayang dalam hatinya untukku.


"Key, kamu liat apa"


"Astaghfirullah, Yuri buat kaget aja tau" Yuri tiba-tiba datang dan menegurku. Aku terkejut dan segera mengusap mataku yang berkaca-kaca. Aku takut air mata itu terjatuh.


"Kamu kenapa? " Pasti Yuri memperhatikan saat aku mengusap sedikit air mata yang megambang


"Tidak ada, ayo kita pergi" Aku berjalan melewati lorong sekolah dengan Yuri. Tiba-tiba kak Dika datang di hadapan kami berdua.


"Hai, mau jalan bareng? " Kak Dika menatap Yuri dengan bahagia.


"Boleh, ayo key" Yuri meraih tanganku dan menggandengnya. Tapi aku melepaskan gandengan itu dan menyuruhnya untuk berjalan berdua saja dengan kak dika. Dengan beralasan bahwa aku ingin ke toilet.


Yuri dan kak Dika berlalu pergi. Sedangkan aku berjalan sendirian tapi bukan ke arah kelas melainkan ke taman sekolah. Duduk disana sambil menikmati udara pagi. Yang seharusnya udara ini sejuk tapi membuatku gerah dengan kedatangan ayah.


Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Aku yakin ayah akan datang lagi menemuiku besok. Aku harus mencari cara agar ayah tidak menemuiku. Aku tidak ingin bertemu dengannya, cukup hidup ku berjalan dengan ini adanya. Karena aku sudah nyaman bersama bapak, ibu, mbak Nike dan mbak Yeni.


*bluk*


"Aaduh"


"Ini bola siapa sih" Kesal ku karena melihat bola mendarat tepat di kepalaku. Bola ini membuyarkan semua lamuananku pagi ini


"Aduh sakit banget lagi" Tanganku terus mengusap kepala dan mengambil bola tersebut


"Kamu gapapa?" Masih sama, wajahnya bertanya dengan ekspresi dingin yang dia miliki.


"Gapapa gimana, udah tau masih pagi malah main bola lagi" Gumamku dengan kesal pada David yang menghampiriku. Bagaimana bisa dia bermain bola dekat taman sekolah pagi ini. Memangnya tidak ada waktu lain selain pagi ini.


"Mana yang sakit? " Dia mendekatiku dan mencoba memegang kepalaku. Aku mundur dan menjauh darinya


"Banyak" Banyak yang sakit vid, salah satunya hatiku.


"Yasudah, ayo kita obati ke UKS"


"Tidak ada yang bisa diobati, semua luka parah" Kesal ku padanya, aku memberikan bola di tangannya dan langsung pergi dari hadapan dirinya.


Luka di hatiku parah sekali vid, apakah kamu bisa memperbaiki hati ini. Tapi sepertinya tidak, karena kau sangat berubah dan benar-benar berubah. Harapan apa lagi aku padamu, sedangkan harapanku sudah hancur.


Aku pergi meninggalkan taman, mencari tempat yang sepi dan menyendiri mungkin itu yang lebih baik. Duduk di pohon besar belakang sekolah. Nyaman sekali sambil menikmati semilir pagi. Tapi karena waktu, aku harus beranjak pergi masuk ke dalam kelas.


Di pertengahan jalan aku melihat Rena, Puja dan Dewi. Berbincang-bincang sambil tertawa. Sepertinya mereka sedang riang dan aku tidak memperdulikannya. Namun saat dia mengucapkan nama Ari, langkahku berhenti.


"Apa yang kamu lakukan dengan Ari tadi malam" Bentakku pada mereka.


"Aku lagi jalan dan makan mewah, kenapa kamu iri karena gak di ajak" Suara Rena menggemaskan, ingin sekali aku tampar.


"Ingat ya, jangan sampai kamu sakiti dia. Jika kamu berani maka kamu akan berurusan denganku" Aku meremas bahunya untuk memberikan peringatan. Lalu melemparnya dengan keras karena kekesalan.


"Awww, sakit" Rena meringis kesakitan. Tapi aku tidak peduli apapun.

__ADS_1


"Awas aja, aku akan membalasmu key" Teriaknya saat aku berlalu meninggalkan Rena. Aku tidak peduli dengan ucapan Rena tapi yang aku pedulikan adalah sahabatku saat ini. Aku tidak ingin Ari terluka.


Aku berjalan menuju kelas sendirian. Dan lagi-lagi bertabrakan dengan David saat ingin masuk ke dalam kelas. Entah mengapa selalu saja dengan David, padahal aku sudah berjalan lebih cepat darinya tapi masih saja bersamaan masuk dengan pintu yang sekecil ini.


Dan kali ini aku yang mengalah agar dia masuk ke dalam lebih dulu. Tapi dia malah berbalik dan menyuruhku untuk masuk lebih dahulu. Akhirnya akulah yang masuk dan David menunggu lalu dia mengekoriku masuk ke dalam kelas.


Sontak saja hal itu membuat perhatian kelas dan teman-teman kembali menyoraki kami. Banyak yang bilang kami sangat cocok dan jodoh. Satunya yang dingin, dan satunya yang panas. Karena aku adalah pemarah sedangkan David yang selalu memasang wajah dinginnya.


"Heyyyy, sudah diam. Lebih baik kalian siapkan untuk pelajaran pertama" Teriakku pada satu kelas yang masih gemuruh. Seketika suasana menjadi hening tanpa suara. Tidak lama kemudian guru masuk ke kelas untuk mengajar.


Pembelajaran yang membosankan, karena terus saja mengulang-ngilang kata bahasa Inggris. Aku tidak suka karena tidak bisa menguasai bahasa asing itu. Padahal sudah bertahun-tahun mulai dari SD tapi sampai sekarang aku tidak pernah mengerti. Lebih baik melakukan sesuatu yang aku suka daripada telingaku panas mendengar percakapan yang asing itu.


Hingga bel berbunyi, aku tetap tidak memeprhatikananya. Biar nanti Ari saja yang menjelaskan. Karena penjelasan Ari yang ringan membuat otakku berputar paham.


"Yuk ke kantin" Ari mengajak kami berdua. Tapi aku dan Yuri menolak karena ingin ke toilet dulu.


"Aku mau ke toilet dulu ri, nanti aku nyusul" Ucapku padanya dan berangkat terlebih dahulu.


"Aku juga ikut" Yuri mengejarku yang sudah beranjak dari tempat duduk.


"Ayo"


Kami berdua berjalan bersama ke toilet. Sedangkan Ari sudah berangkat pergi ke kantin. Sebenarnya aku ingin cuci muka saja untuk menyegarkan mataku hari ini yang mengantuk gara-gara belajar bahasa asing.


"Key"


"Hmmm" Kami berdua berada di depan cermin toilet. Ternyata Yuri juga tidak kebelet, tetapi ingin berbicara saja denganku tentang Rena.


"Sudahlah, jangan pikirkan dia. Lebih baik kita diam dan ikuti permainannya" Sahutku sambil membasuh wajah.


Yuri berkata dirinya kesal dengan Rena. Saat mendengar perkataan yang aku ucapkan kemarin. Bahkan Yuri juga ingin menamparnya jika melihat Rena berkata seperti itu lagi pada Ari.


"Sudah yuk, kita ke kantin saja" Aku dan Ari berjalan menuju kantin. Lihat Ari sendirian, kami menghampirinya dan duduk bersama. Rupanya ari sudha memerankan makanan kami tanpa disuruh.


"Lama sekali, keburu dingin makanannya"


"Ya sabar, kita kan gak tidur di toilet" Jawabku


"Iya bener, gk sabar amat pak" Sambung Yuri padanya. Lalu kami menikmati makanan tersebut.


"Hikkkkssss, hikksssss, jahat kamu key" Rena tiba-tiba datang bersama Puja dan Dewi. Dia menangis keras sambil mengatakan bahwa aku jahat. Aku tidak mengerti skenario apa lagi yang akan dia ciptakan.


Yuri, dan Ari melihat rena dengan tatapan heran. Begitu juga denganku, tapi lebih tepatnya aku sudah merasakan bau-bau akting di sekitaran ini karena hari ini saja aku tidak memukulnya.


"Kamu kenapa Rena? " Ari mencoba bertanya padanya. sedangkan siswa di kantin sudah mengalihkan pandangan dan menatap kami semua.


"Dia ri, dia bersama Yuri mengunci ku di gudang" Aku terkejut dan langsung berdiri saat mendengar pernyataan Rena yang memfitnah aku dan Yuri.


"Apa maksudmu"


"Hey key, tidak usah pura-pira ya. Aku tau kamu yang melakukan ini" Dewi membuka suara dan melontarkan tuduhan padaku.


"Kalain ini bodoh, aku dan key ada di toilet tadi" Wajah Yuri sudah mulai kesal saat mengatakan hal tersebut. Amarahku juga sudah mulai melonjak ketika mendengar intonasi dari bibir merek.

__ADS_1


"Bagaiaman bisa key mengunci kamu Rena? , sedangkan dia dan Yuri ke toilet" Ari juga tidak mudah percaya dengan perkataan Rena. Karena tadi aku dan Yuri berpamitan pergi ke toilet bukan ke tempat lain


"Aku terkunci di gudang, dan yang selalu ke gudang olahraga adalah Key dan Yuri. Mereka sering kesana untuk bermain bola. Dan tidak ada siapapun yang berani ke gudang kecuali mereka berdua" Rena mengatakan tuduhan besar padaku dan Yuri.


Memang benar aku terkadang ke ruang olahraga untuk sekedar bermain bola bersama Yuri. Sedangkan Ari tidak pernah ikut kami takutnya ada fitnah dan hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi hari ini aku tidak ke gudang.


"Tutup mulutmu Rena, aku tidak pernah menguncimu di gudang" Aku mulai kesal dengan ucapan Rena, Dewi dan Puja. Mereka terus menyudutkan aku dan yuri bahwa kami berdua bersalah. Ucapannya terus mengadu domba antara persahabatan kami bertiga.


"Kalau bukan kamu siapa lagi? Aku menemukan ini di gudang" Aku terkejut saat Rena memegang gelang persahabatan kita. Gelang itu milikku yang kemarin waktu sempat hilang. Mungkin terjatuh tapi aku tidak menemukan saat mencarinya.


"Ini punyamu kan key" Ari mulai luluh dengan Rena. Sepertinya dia akan berpihak pada remaja setelah melihat gelang itu.


"Itu memang gelang ku ri, tapi gelang itu hilang kemarin dan saat aku mencari namun tidak menemukannya ri" Aku mencoba menjelaskan pada Ari. Tapi dia tidak mau mendengarkan apapun yang aku ucapkan.


"Cukup key, kamu keterlaluan. Aku tau kamu tidak suka dengan Rena tapi bukan begini caranya" Akhirnya Ari terpengaruh dengan perkataan Rena yang penuh fitnah padaku.


"Aku akan membuktikannya, kita lihat CCTV yang ada di sekolah ini" Ketusku pada Ari dan berjalan ingin menemui kak Dika untuk mencari tau hal apa yang sebenarnya terjadi dengan otak Rena.


"Tidak usah, aku lebih percaya Rena daripada kamu. Mulai kemarin kamu sudah menampakkan wajah kebencian pada Rena. Aku tidak menyangka bahwa kamu seperti ini key, Yur" Dia mengatakan kekecewaannya padaku dan Yuri. Padahal semua itu tidak pernah aku lakukan. Meskipun aku membencinya, tapi mengurung dia di gudang bukanlah hal yang baik.


"Ari tunggu, dengarkan penjelasanku dan key" Yuri mencoba memegang tangan Ari tapi dia tidak mau mendengarkan dan meniggalkan kami berdua di sini. Dia berjalan bersama Rena entah kemana. Dan Ari juga melemparkan gelang persahabatan milikku yang dipegang oleh Rena.


Sedih sekali rasanya, memungut gelang persahabatan yang diberikan dengan sebuah nasehat bersama. Bahkan gelang ini adalah warna kesukaan Ari, dan hari ini dia melemparkan padaku dengan kebencian.


"Sudah bubar semua, tidak ada yang perlu ditonton" Teriakku pada mereka yang asik menonton pertengkaran kami.


"Key tega banget sih"


"Iya, aku gak nyangka key berbuat seperi itu"


"Iya kok bisa ya key jahat" Karena Rena aku menjadi buah bibir di kantin sekolah pada detik ini. Tidak menutup kemungkinan akan terdengar lebih jahat lagi hingga menyebar ke seluruh sekolah.


"Sudah key jangan dengarkan mereka. Aku akan mencari tau kalau kita tidak salah" Yuri mencoba menenangkan aku dengan tuduhan ini.


Hatiku sangat sakit karena perkataan Ari yang menurutku cukup buruk pada kedua sahabatnya. Bagaimana bisa sahabat ku mulai dari dulu kini berubah hanya karena seorang wanita yang baru dia kenal. Aku tidak habis pikir dengan Ari yang lebih mempercayai Rena daripada aku.


"Kalian gapapa? " Kak Dika tiba-tiba datang menghampiri kami. Aku sudah malas untuk berbicara. Otakku dan hatiku semuanya sangat sakit. Bahkan Ari membenciku hanya karena Rena. Saat ini Yurilah yang menjadi sandaran ku.


"Kita tidak apa-apa kak, tapi hati aku dan key sangat sakit dengan fitnah yang diberikan Rena" Yuri mencoba menjelaskan pada kak Dika.


Aku hanya terdiam dan memegangi kepala saat ini. Yuri menceritakan tuduhan itu tentang penguncian Rena di dalam gudang. Dan Ari percaya hanya dengan sebuah gelang persahabatan yang ditemukan.


"Key kamu tenang saja, aku akan membereskan semuanya. Oh iya Yuri kamu ikut aku ya"


"Kemana kak Ke ruang CCTV" Yuri mengerti dan langsung mengikuti Kak Dika. Sebenarnya dia tidak tega meninggalkan aku sendiri tapi aku memaksanya agar dia bersama kak Dika dan memberikan bukti sebenarnya.


Aku beranjak dari tempat duduk dan pergi ke taman belakang sekolah. Tepat di bawah pohon besar aku bersandar sendirian. Bersandar kan lelah dari masalah hidup yang aku miliki. Masalah satu belum usai tapi masalah baru mendatangiku tanpa permisi.


Tanganku memegang gelang itu dan membolak-balikan seperti melihat kenangan antara aku, Ari dan Yuri. Masih teringat jelas tentang nasehat dari masing-masing pemilik warna ini.


"Nih air" David tiba-tiba duduk di sampingku. Kali ini aku tidak ingin bertengkar dengannya karena pikiranku sudah penuh. Aku mengambil air yang dia berikan, lalu meneguknya dengan kasar.


__ADS_1


__ADS_2