
Mereka hanya fokus dengan layar laptop daripada kedatangan ku. Apakah mereka tidak rindu denganku yang sudah berada di luar kota selama itu. Mungkin aku yang datangnya di waktu tidak tepat.
"Lebih baik aku pulang karena mereka lagi sibuk" Gumamku dalam hati sambil berjalan menuju pintu untuk keluar.
"Mau kemana? " Suara mbak Nike menghentikan langkahku. Aku berbalik menatap mereka kembali.
"Mau keluar lah" Ketusku dengan kesal karena mereka berdua berdiam diri tanpa menghiraukan aku.
"Ya sudah sana" Mataku melotot saat mendengar jawaban mbak Nike yang mengusir ku.
Tidak seperti biasanya mereka seperti ini. Mungkin mereka sedang lelah, sepertinya aku harus melakukan sesuatu agar mereka kembali ke setelan pabrik.
"Sepertinya aku tidak jadi keluar, aku sudah bilang pada ibu untuk tidur disini" Aku kembali ke atas ranjang.
Mengambil baju di dalam lemari dan menggantinya. Lalu merebahkan diri seperti tidak terjadi apa-apa. Otakku sedang bekerja agar bisa mengerjai mereka.
"Katanya mau keluar tapi malah tiduran" Sindir mbak Yeni sambil memainkan laptopnya.
"Kalian tidak rindu denganku, kita tidak bertemu selama itu loh" Sahutku sambil menatap mereka secara bergantian.
"Tidak" Jawaban yang sangat kompak.
"Hmmm, baiklah. Dahhh mbak, aku tidur dulu ya" Ucapku sambil melambaikan tangan lalu memejamkan mata sambil memeluk guling kesayangan mbak Yeni.
Kali ini aku tunda dulu untuk mengerjai mereka karena sepertinya aku sedang mengantuk berat dan terlelap di kasur ini adalah pilihan terbaik.
"Keyy..., mandi sana. Kamu sudah pergi selama itu dan pulang semalam ini. Padahal kami berdua sudah menunggumu untuk mendengar cerita kemarin" Bentaknya sambil menarikku dengan paksa.
Sekarang aku tau ternyata mereka berdua marah karena aku keluar bersama Ari dan Yuri dahulu hingga pulang terlalu malam. Dan ternyata mereka menungguku untuk mendengar cerita tentang bola.
"Dasar adik tidak tau diri, aku dan mbak Nike sudah menunggu tapi kamu belum datang juga" Kesalnya sambil menarik kembali bajuku.
"Iya, iya, maaf. Key tadi ada urusan sebentar" Kegaduhan kembali terjadi.
Mbak Yeni dan mbak Nike memarahiku dan kami melakukan pertarungan kecil seprti biasa. Tapi sekarang aku korban mereka berdua karena telah membuat mood mereka menjadi buruk.
"Ampun, ampun. Maafin Key" Teriakan itu tidak mereka dengarkan.
Tapi pada akhirnya kami kembali berpelukan dan sambil tertawa keras bersama-sama. Mereka bukan hanya marah padaku namun juga sayang padaku yang menjadi anak paling bungsu di keluarga ini.
"Makanya kalau keluar jangan terlalu malam, ijinnya sampai jam 6 dan ternyata pulangnya jam 7" Ucap mbak Nike sambil menjitak kecil kepalaku.
"Kan masih telat 1 jam mbak" Sahutku santai sambil tersenyum.
*bluk* bantal mendarat tepat di kepalaku.
"Aduh sakit kak" Gumamku dengan tatapan kesal.
"Biarin, hahahah" Kegaduhan sambil tertawa dengan keras. Kemudian tawa itu kembali membuat kami akur.
Hingga malam semakin pekat dan kami bertiga terlelap bersama-sama dalam satu ranjang karena kerinduan yang sudah lama tidak bertemu. Katanya rindu itu membuat mereka berdua tidak bisa menggodaku dan berkelahi dengan bantal.
Jadi rasanya rumah semakin sepi dan sunyi. Awalnya nyaman karena tidak ada adik bungsu yang buat gaduh tapi pada akhirnya rindu juga semakin berkembang menjadi pilu dan menyiksa mereka.
Pagi Cerah
"Bangun, bangun, bangun" Pagi-pagi paling enak membuat gaduh dengan membangunkan mereka berdua. Meloncat-loncat sambil menari di atas kasur.
"Aaaa, keyyy"
"Mbak bangun, ayo olahraga" Di minggu pagi seharusnya mereka bangun tapi kenyataannya mereka berdua asik menggelayut tubuhnya dengan manja di dalam mimpi yang mereka rajut.
"Kita harus olahraga biar kuat, aku saja sudah mandi dan mau olahraga pagi ini mbak. Ayolah bangun" Aku teriak sambil membangunkan mereka. Tapi tidak ada yang menjawab.
"Baiklah, aku akan olahraga sendiri" Ucapku dan keluar dari rumah. Tidak lupa membantu ibu dan bapak terlebih dahulu dengan mengangkat barang dagangan untuk dibawa ke warung. Setelah itu berpanitan pergi olahraga pagi.
Kali ini aku ingin lari pagi ke lapangan dekat taman di sana. Berlari menikmati suasana pagi yang cerah. Kalau bisa aku lari menuju ke lapangan alun-alun kota. Jauh sih tapi setidaknya aku olahraga.
Udara pagi yang masih segar, aku di suguhi oleh pemandangan sawah dengan jajaran padi yang menguning. Ada pula tanaman cabai dan tomat yang sudah matang dan siap panen. Indah sekali dunia ciptaan sang Maha pencipta.
"Sepertinya aku kuat ke lapangan alun-alun deh, siapa tau di sana ada yang bermain bola" Gumamku sambil berlari.
Semangatku semakin bertambah karena perjalannaku sudah melebihi lapangan di samping taman.
Sepertinya aku bisa berlari hingga menuju ke lapangan dekat alun-alun kota. Memang sangat jauh tapi bila di tempuh sambil mendengarkan lagu makan tidak menutup kemungkinan aku bisa sampai disana.
"Dudududu, " Bersenandung sambil berlari. Mataku juga tidak lupa melihat suasana indah dan menikmatinya tanpa rekayasa. Pagi yang cerah, walaupun sebentar lagi akan dikepul oleh asap kendaraan yang tidak ramah.
\*critttt\*
"Aaaaa"
\*brak\* teriakan keras saya sebuah mobil melaju kencang dan hampir saja menabrak ku. Walaupun tidak tertabrak, tapi dia sudah membuatku jatuh.
"Keluar kamu, sudah tau aku di pinggir masih saja ingin di tabrak. Cepat keluar" Teriakku sambil mengebrak mobilnya di bagian depan. Untung saja aku bisa menghindar secepat kilat jadi tidak ada yang lecet di tubuhku.
__ADS_1
"Cepat keluar" Bentakku
"Iya iya tunggu" Ucapnya dari dalam mobil. Mentang-mentang orang kaya dia seenaknya datang dan ingin menabrak ku secara tiba-tiba.
Memangnya dia pikir jalan ini milik neneknya apa. Sampai tega mau menabrak ku tanpa melihat kanan kiri. Untung tidak ada polisi, kalau ada sudah pasti akan aku laporkan biar tau rasa.
"Maaf, maaf saya tidak sengaja" Mataku langsung terbelalak melihatnya.
Wajahnya tampan dan lugu. Dia tidak membosankan dan sungguh pemandangan pagi yang indah. Mataku tercengang dan bibirku terdiam saat mengamati wajah yang tampan.
"Maaf kak, saya akan ganti rugi. Kak permisi"
"Astaga" Aku jijik sendiri dengan pikiranku yang mengatakan bahwa dia tampan. Tapi memang benar wajahnya tampan sih.
Aku tidak boleh terpengaruh oleh wajahnya. Dia sudah hampir menabrak ku dan membuat jantungku berdebar kencang karena ketakutan.
"Kamu gimana sih, aku hampir saja terluka" Bentakku dengan kesal kepadanya.
"Kamu" Ucapnya sambil menunjukkan ke arahku.
"Kenapa? " Ketusku dengan wajah kesal seakan ingin menantang.
"Bukannya kamu yang hampir tenggelam di wahana itu ya?" Aku terdiam dan bingung.
Bagaimana bisa dia tau, padahal kejadian itu di luar kota. Apa mungkin dia juga liburan di sana. Lalu di apakah lelaki yang ada di depanku ini, membuat otak bertanya-tanya.
"Bagaimana kamu bisa tau? "
"Kenalin, aku Adit. Kemarin aku sempat menolong kamu untuk mengeluarkan air yang ada di tubuhmu itu" Sahutnya dengan menjelaskan sedikit.
Aku masih terdiam karena tidak mengingat kejadian hal itu. Yang aku ingat hanyalah pingsan dan terbaring di ruang kesehatan dengan di jaga oleh Ani dan juga Ira.
"Hmm, nama kamu siapa?" Aku masih terdiam dengan pertanyaannya.
"Aku Keyla, panggil saja Key. Hmm terima kasih atas pertolonganmu dan soal yang tadi lupakan saja" Sahutku dan berbalik untuk pergi meninggalkannya.
"Tunggu, tunggu, ini kartu namaku. Kamu bisa menghubungiku agar kita bisa menjadi teman dekat" Dia memberikan selembar kartu nama. Ternyata dia seorang mahasiswa di Universitas ternama di kota ini.
"Oke, aku pergi dulu" Dia hanya tersenyum dan mengangguk. Senyumnya melenting tidak jelas menghiasi bibirnya. Senyum yang manis, tapi aku tidak menyukainya.
Aku menyimpan kartu nama itu, siapa tau nanti aku bisa meminta bantuan dirinya. Aku melanjutkan berlari dan tanpa menghiraukan nya lagi. Sebentar lagi aku akan segera sampai ke tempat tujuan.
"Tidak, tidak, dia memang tampan tapi David lah yang memenangkan hatiku" Gumamku sambil mengikuti jalanan dan kembali berlari kecil.
Saat melihat lelaki itu, aku jadi ingat David. Apa kabar dia disana dan apakah seleksi masuk timnas lolos atau tidak. Aku ingin mengubungi David tapi nomorku sudah dia blok.
Aku mengerti mengapa dia melakukan hal itu. Dia pasti takut dengan orang tuanya yang terus melakukan hal yang membuat David menuruti semua perkataan mereka. Dan salah satu biang keroknya adalah Adel.
"Semoga saja kamu lolos dan bisa bermain di timnas vid. Doaku tidak akan pernah putus, karena kamu aku bisa menjadi seperti sekarang" Gumamku sambil berlari kembali dan hampir sampai.
Benar saja saat aku sampai ke lapangan dekat alun-alun kota, disana banyak anak yang bermain bola. Tapi tidak ada yang perempuan dan mayoritas lelaki saja.
Aku berlari dan mendekat untuk gabung bersama mereka. Usianya tidak jauh berbeda denganku. Ada juga yang lebih kecil atau yang lebih dewasa umurnya. Tapi itu tidak penting, yang penting sekarang aku bisa bermain bola.
"Hey, aku bisa ikut main gak? " Teriakku pada mereka yang sedang asik bermain bola.
"Kamu wanita, jangan bermain ini. Lebih baik bermain ayunan disana" Sahutnya meremehkanku.
"Hahah, benar sekali" Semua tertawa sambil melihatku. Mereka ingin mempermalukan aku disini. Tapi mereka lupa jika aku sudah bersahabat dengan bola sejak dulu.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara, aku berlari dan merebut bola dari kaki mereka. Lalu menggiringnya dan mereka yang terkejut langsung mengejar dan ingin mengambil bola itu kembali.
Gocekan yang aku perlihatkan membuat mereka kesulitan mengambil bola. Aku menunjukkan skil pada mereka dengan menggiring bola menuju ke gawang. Banyak dari mereka yang frustasi karena tidak bisa amerebut bola itu.
"Gollllll" Aku berhasil memasukkan \*\*\* ke dalam gawang.
Bahkan penjaga gawang dari mereka tidak bisa menghalau tendanganku yang cukup keras. Tipuan tendangannya juga mengecoh mata mereka.
\*prok, prok, prok" Tepuk tangan dari mereka juga diikuti para pengunjung yang tidak sengaja melihat skilku. Mereka tercengang sambil menatap ke bola. Matanya masih tidak percaya bahwa aku berhasil melewati mereka semua.
"Gimana, apakah aku bisa ikut bermain"
"Bisa" Mereka mengangguk setuju. Akhirnya aku berolahraga kembali dengan bermain bola bersama mereka yang ada di sini.
Kami bermain dengan asik, tidak ada beban pikiran di pagi hari. Kami bermain seperti sudah mengenal satu sama lain. Padahal perkenalan kami singkat di pagi ini.
Permainan yang lucu seperti jaman dulu, ceria dan penuh tawa saat salah satu berhasil memasukkan bola dalam gawang lawan. Tidak ada kata permusuhan atau permainan keras yang diperlihatkan.
"Golll" gol yang tercipta anatara persahabatan, bukan permusuhan. Andai saja mas kecilku indah seperti ini, mungkin sekarang aku tidak akan merasa kehilangan masa kecil.
Aku juga sangat menikmatinya karena permaianan ini sangat berbeda dengan tarkam ataupun turnamen yang diadakan. Permainan ini adalah pembuang rasa sumpek yang menggerogoti kehidupan masing-masing.
"Sudah ya aku pamit" Sepertinya sudah cukup aku bermain.
"Oke siap. Terima kasih ya" Teriak mereka yang membuatku semakin tersenyum. Senang rasanya memiliki teman yang lucu dan baik seperti mereka.
Sekitar satu jam aku menikmati permainan itu. Kini saatnya aku menikmati pemandangan dan keindahan di alun-alun ini. Selanjutnya aku berkeliling kembali untuk membeli makanan dan minuman untuk menunda lapar.
"Wah, sepertinya es itu enak" Gumamku saat melihat penjual es cincau. Aku segera berlari menuju gerobak tersebut.
"Pak satu ya, di bungkus"
"Oke siap neng"
Tidak lama kemudian es cincau segar sudah dibuatkan. Aku menikmatinya sambil berjalan kembali untuk membeli makanan. Mataku kali ini tertuju pada tukang siomay dan batagor. Sepertinya sangat cukup menunda lapar kali ini.
"Bang, beli batagor satu ya"
"Dibungkua neng? "
"Iya bang" Aku menunggu sambil duduk di samping gerobak dan memainkan ponsel.
"Mama aku mau batagor ini, cepat, cepat"
"Pak batagor nya satu ya"
"Tapi tunggu sebentar ya buk, karena neng ini duluan"
"Boleh saya duluan gak pak, karena anak saya sedang menangis" Aku langsung mengangkat kepala dan melihatnya.
"Pak, berikan adek ini dulu ya. Biar saya menunggu lagi"
"Tapi neng, kan kamu dulu yang menunggu"
"Tidak apa-apa, lagipula kehidupan saya sudah terbiasa direbut" Ucapku yang membuat semuanya terdiam.
Aku kembali duduk dan bapak itu langsung memberikan batagor buatannya pada ibu dan anak tersebut. Mereka tidak lain adalah ibu kandungku dan anaknya dengan suami saat ini.
Aku menatapnya tapi kali ini mungkin tidak ingin mengenalnya. Ibu terus menatapku dengan tajam saat aku mengatakan hal tadi. Aku tau hatinya hancur tapi yang seharusnya lebih hancur adalah hatiku.
"Ini neng batagor nya"
"Makasih bang" Aku langsung pergi dan melewati ibu dengan suaminya yang asik bergurau mesra bersama anak mereka. Kehangatan keluarga kecil yang tidak pernah aku miliki.
Dan gadis kecil itu yang merebut semuanya. Bukan hanya ibuku yang dia rebut, tapi juga duniaku. Sehingga cukup rumit aku melewati tanpa pendamping orang tua.
__ADS_1
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~