
Aku melemparkan diri di atas ranjang dengan keras. Sekaligus melemparkan lelah hari ini yang bercampur dengan kekesalan tadi. baik kesal pada David, pada doni, dan pada om-om gendut itu. Ingin rasanya mengempeskan dirinya.
"Aaaa, mengapa susah sekali mencari keberadaan ibu" Kesal ku teriak pada ruangan kamar. Mataku terus menatap langit-langit yang sudah kusam. Petunjuk hanya satu yang aku miliki yaitu alamat yang membawaku ke neraka. Dan sekarang bertemu seseorang yang pernah bersama ibu, tapi dia hanya bungkam.
POV DAVID
"Bagaimana bisa aku melupakanmu, sedangkan aku menyukaimu dari dulu key" Gumamku yang menyendiri di atas balkon sambil memegang gitar dan meminun kopi. Bukan anak senja, hanya anak biasa yang ingin menikmati cinta tapi sangat susah.
Andai kamu tau key, di luar negeri aku selalu menulis surat untukmu, tapi tak pernah aku kirim. Jika nanti aku mengirimnya, maka karirmu akan hancur dan semua mimpimu menjadi pemain timnas akan sia-sia.
Aku sengaja mengikitimu dengan Doni, karena firasat ku buruk saat melihatmu berjalan dengannya. Maka dari itu aku mengikutinya, dan benar saja yang terjadi sangat mengagetkan pandanganku. Aku tidak pernah ingin melukai hatimu, aku hanya ingin jauh sementara walupun sebentar atau mungkin akan selamanya. Agar kau merasa tenang dan aman tanpa tekanan.
Suatu saat aku akan menyatakan cinta, bila cinta itu mati maka setidaknya kenanganku hidup bersamamu. Bola, sepatu atau buku aku berikan padamu untuk disimpan. Agar setiap melihatnya engkau akan mengingatku.
Aku tau hatimu membenciku, tapi setidaknya kamu aman. Suatu saat kamu akan mengerti mengapa aku melakukan semua ini key. Di hati ini namamu yang selalu ku tulis, bukan nama siapapun.
"David, makan dulu sayang"
"Iya ma, tunggu sebentar" Aku menyimpan semua kenangan ini dalam lemari ku. Aku menguncinya agar tidak ada yang tau, bahwa kenanganmu hidup bersamaku key.
POV DAVID SELESAI
Ku sandarkan kepalaku di dinding-dinding kamar. Memerintah malam agar jangan pergi terlalu cepat. Aku ingin memandangnya, sebuah bulan dan ribuan bintang. Senyumku akan engkau saksikan, tapi sedihku juga kau saksikan bahkan lebih sering.
"Apakah kalian tau dimana ibu? Pasti kalian tidak ada yang tau" Gila rasanya berbicara sendiri, tanpa teman yang sanggup mengerti. Biasanya saat aku bosan ataupun galau, aku akan pergi ke rumah ibu dan bapak. Bergurau bersama mbak Yeni dan mbak Nike. Tapi mereka gak ada di rumah sekarang.
Sepi rasanya, karena mbak Yeni pergi untuk tugas kuliah dan mbak Nike ke kota melaksanakan tugas pekerjaannya. Bila kumpul selalu ramai dan bertengkar, tapi bila mereka pergi hanya ada aku sendirian berdiam diri. Kalua aku kesana, pasti ibu dan bapak akan istirahat karena mereka berdua capek berjualan sepanjang hari.
Biarlah tubuh ini bersandar sunyi dengan dinding-dinding tembok yang menjadi saksi. Dan langit-langit yang menatapku walau hatiku tidak pernah pasti.
"Malam, temanilah aku terlelap di bawah rembulan" Sengaja tirai kamar aku buka agar cahaya rembulan masuk dan menembus kaca-kaca kusam yang mulai retak. menemaniku dalam lelao yang lelah.
06.00
Sengaja aku berangkat lebih pagi. Ingin menikmati pemandangan pagi ini di pinggir jalan, sambil berbincang-bincang bersama Riki dan pak Abi. Biarkan kebisingan motor menutup telingaku agar tak ingat tentang kepedihan seorang anak mencari ibunya.
Sepertinya ujung dunia tidak sanggup mempertemukan aku dengan ibu. Atau mungkin perpisahan ini tidak akan pernah mendapati ujungnya. Karena semua usaha yang aku lakukan tetap saja sia-sia.
"Pak Abi"
"Key" Aku menghampiri pak Abi saat bersantai di warung. Pandanganku menatap sekitar tapi tidak aku temukan Riki dimanapun.
"Riki kemana pak? "
"Rili sedang sakit key? "
"Hah sakit, sakit apa pak? " Aku terkejut saat pak Abi bilang Riki sedang sakit. Padahal kemarin aku melihatnya berjualan tapi sekarang dia sakit.
"Dia sakit demam, karena kemarin badannya sudah panas namun dia tetap memaksa untuk berjualan" Jelasnya.
"Baik pak, makasih infonya Assalamu'alaikum" Aku pergi berpamitan pada pak Abi. Tapi bukan untuk pergi ke sekolah melainkan pergi ke rumah Riki.
"Waalaikumsalam, kamu mau kemana key"
"Ke sana" Teriakku menjawab pertanyaan pak Abi sambil menunjukkan tangan ke arah depan.
Memasuki perkampungan sebelah, sebuah rumah yang berdiri tapi hanya dengan anyaman bambu. Seorang anak kecil bermain-main bersama ibunya yang sedang menyapu halaman. Suasana kampung yang tenang dan juga berdekatan dengan persawahan.
"Assalamu'alaikum bu, "
"Waalaikumsalam, eh kamu key" Ibu Riki sudah mengenaliku, karena dahulu aku sering bermain disini bersama Riki saat pulang berjualan. Ibu Riki juga salah satu wanita baik yang selalu perhatian saat aku sedang sedih. Aku sudah menganggapnya keluargaku sendiri.
__ADS_1
"Riki sakit apa bu? "
"Riki demam nak, ayo masuk " Aku masuk untuk menjenguk Riki. Dia terbaring lemah di atas kasur. Tubunya menggigil kedinginan, tapi hanya bisa di kompres dengan air dingin untuk menurunkan panas. Ibunya berkata untuk pergi ke dokter biayanya sangat mahal.
"Bu, key punya uang tapi tidak terlalu banyak. Dan key akan bawa Riki ke dokter bu biar dia cepet sembuh"
"Tapi nak, uangmu simpan saja untuk keperluan kamu saja. Biar nanti ibu yang akan bekerja lebih keras lagi" Ibunya Riki tidak pernah mau merepotkan orang lain. Dia selalu merasa sungkan, padahal aku sudah menganggapnya sebagai ibuku sendiri.
"Tapi nak"
"Ibu tunggu disini saja, key bakalan bawa Riki untuk berobat" Untung saja aku membawa uang lebih hari ini. Dan aku bisa menolong Riki untuk berobat. Kami berdua bergegas ke tempat berobat di puskesmas terdekat.
Aku meminjam baju Riki yaitu kaos dan celana pendek sebagai baju ganti, karena tidak mungkin bila aku memakai baju sekolah yang akan dapat menambah masalah. Untuk kembali ke rumah aku tidak ada waktu, dan juga takut ditemukan oleh ibu bahwa aku bolos sekolah. Tapi demi Riki apapun aku lakukan dengan ikhlas.
Kami berdua sudah sampai di puskesmas, dokter memeriksanya. Untung saja Riki hanya demam biasa dan tidak ada yang parah. Hanya minum obat dan dokter berkata bahwa dia akan sembuh beberapa hari kemudian. Hatiku senang mendengarnya dan tidak akan ada kecemasan lagi yang menghantuiku.
"Alhamdulillah kamu cuman demam saja dan tidak ada yang serius. Ayo kita pulang" Tuturku pada Riki yang hanya menjawab dengan senyuman. Aku menuntunnya karena saat ini keadaan riki begitu lemah.
"Key maaf ya, gara-gara aku kamu bolos sekolah" Wajahnya seakan merasa bersalah karena sudah membuatku bolos sekolah demi mengantarkan Riki ke puskesmas.
"Sudahlah, lagian aku bolos sekolah memang mauku sendiri kok bukan karena kamu" Sahut ku sambil menuntunnya ke dalam angkot untuk pulang.
Hari ini aku akan mengurus Riki hingga sore hari. Karena tidak mungkin juga aku pulang di jam segini. Apa yang harus aku katakan jika ditemukan oleh ibu. Dia memang bukan ibu kandungku, tapi dialah yang merawatku. Katanya aku harus jadi sarjana kayak mbak Nike dan harus kuliah kayak mbak Yeni. Jadi menurut ibu, pendidikan adalah nomor satu.
"Waalaikumsalam" Hati seorang ibu mana yang tidak cemas melihat anaknya dalam kondisi yang sangat lemah.
"Bagaimana keadaan Riki kata dokter nak? "
"Dokter bilang hanya demam hiasa kok bu, nanti biar key yang membantu riki untuk memberikan obat padanya"
"Alhamdulillah, ayo masuk saja dulu" Kami masuk ke dalam rumah. Riki langsung beristirahat di atas kasur. Sedangkan aku menikmati suasana rumah Riki yang asri di atas bale bambu depan rumahnya.
"Nak terima kasih banyak ya atas pertolonganmu"
"Kita ini saudara bu, jadi sudah sepantasnya kita saling memgasihi"
"Makasih ya nak, kamu baik sekali. Hikss..... Hiks..... "Ibu Riki menangis haru sambil memelukku dengan erat. Hatiku juga tersentuh, jadi ingat dengan ibu kandungku. Hatiku akan terasa sakit bila sesuatu akan menyangkut hati seorang ibu.
" Bu, jangan menangis. Air mata ibu sangat berharga jadi tersenyumlah ya" Tanganku memegang lembut bibirnya agar tersenyum. Tanganku juga menyeka air matanya agar tidak menangis lagi. Suasana baru sekali lagi tercipta dan disaksikan para padi yang menguning.
Aku bercerita pada ibunya Riki dan tidur di pangkuannya. Menceritakan masa laluku bersama Riki yang suka bermain batang pohon yang berada di tengah sawah. Kami beradu kecepatan untuk mengambil mangga. Tapi hal itu tidak terlalu sering karena Riki memiliki tanggung jawab besar untuk mencari uang, dan begitu juga aku yang harus berjualan koran bersamanya.
Tidak terasa aku tertidur di bale bambu, saat aku bangun ternyata ibu Riki sudah berada di dalam rumah dan hari menjelang sore. Waktunya aku berpamit untuk pulang ke rumah. Karena terlalu nyaman tidur dengan angin yang sepoy-sepoy, aku sampai lupa memberi obat pada Riki. Untung saja ibunya Riki dengan sigap dan langsung memberinya obat jadi aku sudah tenang tidak cemas lagi.
Panas riki juga sudah menurun, dan aku berlamitan untuk pulang. Sebelum pulang aku mengganti baju dengan baju sekolah. Berdandan seperti siswa yang baru pulang sekolah. Padahal hari ini aku sedang bolos.
__ADS_1
"Bu, Riki, key pulang dulu ya" Pamit ku pada mereka yang berada di rumah.
"Iya key makasih banyak ya" Ucap Riki
"Iya nak, makasih karena sudah membantu keluarga ibu" Sambungnya. Aku hanya tersenyum dan memeluk ibu.
Aku juga berpamitan dengan adik-adik Riki yang sudah mulai besar.Tidak lupa memberi beberapa lembar uang pada adik Riki untuk membeli jajan.
"Oh iya, jangan lupa minum obatnya sahabat" Ucapku sambil melambaikan tangan ke keluarga mereka. Seharusnya aku banyak bersyukur, rumahku tidak bocor, makan tidak kekurangan dan bahkan aku tidak ada beban hidup yang menjalar di pikiranku.
Sedangkan Riki harus menjadi tulang punggung yang membantu ibunya membiayai adik-adiknya untuk sekolah. Riki selalu memikirkan pendidikan adiknya harus nomor satu. Katanya dia tidak ingin bila adik-adiknya menjadi seperti dirinya yang putus sekolah. Gila, perjuangan Riki adalah perjuangan orang hebat.
Lihatlah ki, suatu saat aku akan membangun rumahmu yang dari anyaman bambu menjadi rumah dengan tembok kokoh. Aku akan berusaha menjadi pemain hebat dan uang itu juga akan akun kumpulkan agar rumahmu tidak lagi kebocoran ki. Aku makan berusaha sekuat tenaga ku untuk bisa membantumu hidup dengan kehidupan yang layak.
"Nak, kamu sudah pulang sini kemarilah" Waduh ibu memanggilku, apa jangan-jangan dia tau kalau aku bolos sekolah tadi.
"Iya bu" Aku menghampirinya yang sedang berada di dalam warung. Berusaha tenang agar tidak ketahuan kalau aku tidak sekolah
"Kok tumben pulang jam segini" Mataku langsung mencari jam dinding dan menemukannya. Ternyata jarum jam masih menunjukkan pukul 15.30. Seharusnya aku masih berada di sekolah menunggu angkot, lalu jawaban apa yang harus aku keluarkan.
"Eee, itu bu tadi di boncengin sama temen key" Maaf Bu, key berbohong lagi pada ibu. Padahal key tidak sekolah.
"Oh ya sudah, ini makan dulu mumpung ibu lagi masak kesukaanmu" Menyuguhkan sepiring nasi dengan ikan tongkol kuah pindang. Makanan yang sangat aku suka. Ibu tidak pernah ada capek-capeknya, padah dari pagi sudah jualan hingga sore tapi masih menyempatkan diri memasak untukku.
"Wahhhh, rasanya enak banget bu" Aku selalu memuji maskana ibu, karena masakan ini sangat aku sukai. Dan makanan paling nikmat Allah makanan ibu yaitu kuah pindang.
"Alhamdulillah, kalau mau nambah silahkan" Ibu memberiku sebaskom besar nasi. Padahal aku bukan pemakan besar, dia malah memberiku hidangan yang banyak
"Iya bu" Aku menghabiskan sepiring nasi saja karena perutku tidak cukup bila menghabiskan semuanya. Lalu aku membantunya mencuci piring di warung setelah itu aku bergegas untuk pulang. Karena warung ibu biasanya tutup setelah maghrib, tapi tergantung juga sih kalau ada suatu hal maka tutupnya akn lebih sore.
\*ting\*
\*ting\*
"Astaghfirullah" Aku terkejut saat melihat riwayat panggilan dan pesan. Yuri dan Ari menghubungiku banyak sekali. Tapi aku lupa karena ponsel aku matikan agar tidak ada yang menghubungiku. Aku segera menghubungi mereka dengan grup yang hanya berisi kami bertiga.
"Assalamu'alaikum, Ari, Yuri maaf tadi aku tidak menghubungi kalian karena sedang terjadi hal yang tidak bisa aku tinggalkan"
"Kamu kemana saja key, kami khawatir. Memangnya hal apa yang terjadi" Ari langsung membalasnya.
"Iya key, kami khawatir denganmu"
Kami melakukan perbincangan, aku hanya berkata ada hal yang tidak bisa aku tinggalkan. Akan tetapi aku tidak terlalu jujur pada mereka tentang Riki. Karena menurutku kehidupan Riki adalah privasi yang tidak boleh diumbar-umbar.
__ADS_1
~~~~ BERSAMBUNG ~~~~