
Entah mengapa rasanya kesal melihat kak Dika. mungkin karena dia tidak bertanggung jawab dengan keadaan aku tadi. Saat darahku hampir habis saja dia tidak muncul. apa mungkin dia pura-pura tidak tau, dasar ketua gila.
"Gimana key keadaanmu" Bapak kepala sekolah tiba-tiba masuk dan menanyakan keadaanku.
"Key masih sangat lemah pak" Sahut Yuri saat melihat aku yang pura-pura tertidur.
"Yuri, apa kamu bisa menjelaskan pada bapak tentang kejadian yang kalian alami di lapangan tadi?" Yuri mengangguk setuju.
Yuri mencoba menjelaskan tentang keterlambatan aku dengannya yang tidak sampai tepat waktu di lapangan perkumpulan hingga Ana yang memaksa untuk terus melakukan hukuman merayap walaupun bibirku sudah berkata bahwa tangannya terluka tapi Ana terus memaksa hingga terjadilah hal yang tidak diinginkan.
"Jadi semua karena Ana" Tanya kak dika menyela perbincangan antara yuri dan kepala sekolah. Sedangkan yuri hanya mengangguk ketakutan.
"Ana yang melakukan semua ini, saya akan memberikan pelajaran buat dia" Pikir kepala sekolah naik pitam hingga suaranya meninggi, begitu juga kak Dika dengan wajah yang memerah karena menahan amarah saat mendengar nama Ana.
"Baiklah, kamu jaga Key di rumah sakit dulu, nanti kalau dokter engijinkan untuk pulang telpon bapak ya"
"Baik Pak, saya akan melaksanakan tugas yang diberikan untuk menjaga Keyla dan Yuri disini" Sahut kak Dika dengan sopan.
Lalu dia mengantarkan kepala sekolah untuk keluar dari ruangan. Entah apa yang dia lakukan pada Ana aku masih belum mengerti. Tapi dari nada bicara yang dikeluarkan, sepertinya dia sangat marah dengan kelakuan yang Ana perbuat.
"Yuri, kamu istirahat di sofa saja biar aku yang menjaga key. Sepertinya wwajahmuterlihat sangat lelah"
"Hmmm, baik kak" Yuri duduk di kursi sofa. sedangkan dia malah membiarkan kak Dika duduk disampingku. Ingin rasanya buka mata tapi aku takut langsung berhadapan dengannya. Jadi aku terus saja pura-pura tertidur agar dia tidak menggangguku dengan pertanyaannya.
"Aku tau kamu sudah sadar, bangunlah" mataku langsung terbuka dan berpaling menatapnya dengan tatapan kesal.
"Oh iya apakah ada nomor ponsel orang tuamu yang bisa aku hubungi? " Aku hanya menggeleng saja.
"Lalu? "
"Boleh saya meminta kertas? " Tanyaku
"Oke" Kak Dika mengeluarkan kertas dan pulpen. Aku segera menulis alamat warung bu Yanti. Karena aku tidak punya nomor ponsel, jadi aku tidak menyimpan nomor ibu hingga saat ini.
"Ini alamat rumah orang tua saya, namanya bu Yanti"
"Oke, aku akan Menjemputnya"
"Tunggu kak" Spontan menahan kak Dika dengan memegang tangannya saat dia beranjak dari tempat duduknya untuk pergi.
"Apa? "
"E... Eh maaf" Aku langsung melepas genggamanku karena merasa malu.
"Saya mau minta tolong, jangan bilang ke ibu kalau saya sedang terluka, saya takut ibu sedih kak" Kak dika mengangguk dan langsung pergi meninggalkan aku dan Yuri, sedangkan Yuri sudah terlelap dengan nyaman di sofa rumah sakit.
Sepertinya dia sangat lelah karena tadi juga ikut merayap bersamaku apalagi dia yang paling panik saat tanganku keluar darah. Sementara ini aku membiarkan yuri terlelap dengan tenang. Begitupun aku yang akan terlelap juga.
Beberapa menit kemudian, suara tangisan membangunkan aku dari tidur yang lelah.
"Hiks..... Hiks.... Hiks.... Kenapa bisa terjadi sama anakku" Suara tangis itu membuatku terkejut dan tiba-tiba pintu terbuka dengan lebar.
"Ibu, key gapapa kok" Aku melihat ibu datang dengan tangisan dan masuk ke dalam untuk melihat keadaanku.
"Gapapa gimana, kamu saja sampai masuk rumah sakit" Aku mencoba menjelaskan pada ibu bahwa dokter bilang hanya kecapean saja.
Luka di tangan sudah di lakukan perawatan dengan baik. Sehingga nanti sore sudah boleh pulang yang penting luka itu tidak tergores lagi ataupun terkena air. Karena jahitan luka itu masih basah. Palingan menunggu 3-4 hari baru bisa dibuka jahitannya.
Sedikit tenang menyelimuti hati ibu yang sedang gelisah. Tangisnya masih ada tapi sudah meredup dan tidak keras seperti tangisan tadi. Tangannya terus mengusap lembut kepalaku. Begitu juga bapak yang ikut memijat kakiku dengan lembut. Mereka berdua sangat menyayangiku. Mungkin kak Dika dan Yuri menganggap mereka adalah orang tua kandiungku, tapi mereka tidak akan tau kebenarannya.
__ADS_1
Dengan kompak bapak dan ibu merawatku di rumah sakit. Menyuapi ku, merawatku dengan lembut. Sedangkan kak Dika dan Yuri keluar dari kamar. Entah kemana mereka pergi aku tidak tau.
"Bu, sebentar lagi saudari key sudah diperbolehkan pulang oleh dokter" ucap salah satu perawat yang datang dan mencoba untuk membuka jarum infus yang ada di tanganku.
"Alhamdulillah, Terima kasih ya Allah" Rasa syukur diucapkan oleh bapak dan ibu secara bersamaan.
Kak Dika dan Yuri juga ada di dalam ruangan. Mereka setia menungguku hingga sore hari. Sedangkan ibu sibuk membantuku untuk membereskan semua.
"Oh iya pulangnya key naik angkot aja ya nak" Ucap ibu dan aku membalasnya dengan anggukan yang diselingi dengan senyuman.
"Kok naik angkot bu, bapak naik motor sendirian?" Tanya bapak
"Iyalah pak, masak iya kita bonceng tiga kayak cabe-cabean" Seisi ruangan tertawa keras. Bahkan dokter yang baru saja masuk untuk memeriksa ku terakhir kali juga ikut tertawa.
"Bu, biar saya saja yang mengantar kalian pakai mobil"
"Tidak usah repot-repot nak, ibu bisa sendiri kok" Aku juga mengangguk setuju dengan ucapan ibu.
"Tidak bu, saya tidak repot kok. Lagian ini sudah menjadi tanggung jawab saya"
"Baiklah kalau begitu" Semua sudah selesai. Ibu setuju untuk ikut dengan mobil kak Dika. Yuri juga ikut mengantarkan aku. Sedangkan bapak naik sepeda motor sendirian.
Kak Dika banyak membantuku mulai dari membawaku ke rumah sakit hingga mengantarkan aku pulang naik mobil ini. Aku sebenarnya senang karena selalu bertemu dengan orang baik. Tapi di lain sisi aku kesal dengannya, karena menjadi ketua OSIS tapi tidak becus dengan aturan yang ada.
Bahkan dia tidak bisa mencegah anak buahnya untuk melakukan hal yang tidak perikemanusiaan. Dia hanya memerintah tapi dia tidak memantau secara jelas keadaan dilapangan. Aku masih terdiam di mobil karena sangat malas berbicara dengan kak Dika.
"Bu, kita berhenti di persimpangan saja ya? " Ucapku pada ibu.
"Loh kenapa key, kan.... " Aku mengedipkan mata pada ibu. seketika wajah ibu berubah dan mengetahui isyarat yang aku berikan.
"Oh iya nak, kita berhenti di persimpangan saja ya soalnya mobil kamu tidak cukup masuk ke rumah kami"
"Hm, iya bu biar nanti saya membantu key jalan ke rumah ya bu".
"Tapi key kamu kan lagi sakit" dia masih ngotot ingin mengantarku sampai ke rumah.
"Saya bisa sendiri kok, lebih baik kak Dika antar Yuri saja sampai ke rumahnya dengan selamat. Dan saya minta tolong untuk bilang ke ibu Yuri bahwa dia lagi mengantarkan temannya ke rumah sakit, Terima kasih banyak kak"
"Hmmm, baiklah, lain kali aku ke rumahmu ya"
"Hmm" Kami berbicara lewat pantulan kaca yang ada di mobil.
Sesampainya di persimpangan, aku turun dengan ibu. Sedangkan kak Dika juga menurut untuk mengantar Yuri sampai ke rumahnya.
"Makasih ya kak, makasih ya Yuri. Kalian hati-hati di perjalanan jangan ngebut"
"Iya sama-sama key" Jawab Yuri sambil melambaikan tangan. Aku membalasnya dengan lambaian tangan juga.
"Siap key sama-sama" Kak Dika juga menjawabnya dan melambaikan tangan padaku, tapi aku terdiam dan menghiraukan nya.
Aku dan ibu segera masuk ke dalam rumah, disusul dengan bapak serta mbak Nike dan mbak Yeni. Mereka menjenguk keadaanku, berkumpul bersama dengan asik. Saling berbincang-bincang agar aku tidak kesepian. Bahkan ibu, mbak Nike dan mbak Yeni memilih untuk menginap di rumah. Sedangkan bapak memilih untuk pulang.
Tertidur pulas diatas pangkuan seorang ibu. Terlelap di diringi suara jangkrik yang bersautan. Malam ini senyap, desiran angin terdengar menghembuskan dingin menusuk telinga seorang anak di atas pangkuan ibunya.
Paginya aku dilarang masuk sekolah oleh ibu, sedangkan mbak Nike sudah berangkat bekerja dan mbak Yeni mempersiapkan diri untuk melakukan kuliah online dari kampusnya.
__ADS_1
Setelah memasak dan merawatku di pagi hari, ibu langsung berpamitan untuk pulang karena akan menjaga warungnya. Aku sendiri lagi, bosan jika dirumah. Sekolah juga memberiku libur selama 3 hari agar keadaanku menjadi pulih sepenuhnya.
Tanganku mencoba meraih bola diatas lemari. Lalu pergi ke halaman depan dan mencoba bermain bola. Karena menurutku yang sakit adalah tangan bukan kaki yang untuk menendang. Jadi setidaknya masih bisa aku lakukan meski agak sulit dari latihan biasanya.
"Hey langit, kali ini kamu akan menjadi saksi bahwa nanti aku menjadi pemain bola terkenal"
Walaupun lagi sendiri, setidaknya masih ada langit dan burung yang selalu aku ajak bicara. Berlatih dan bermain bola sendiri. Lalu aku duduk di atas rerumputan yang basah oleh embun. Disinari panas mentari yang mulai agak meninggi.
Rasanya rindu dengan David yang sudah pergi selama 2 tahun lebih. Aku tidak tau bagaimana kabarnya sekarang di sana. Andai kamu tahu vid, permainan bolaku sudah berkembang lebih baik. Ini semua berkat buku trik tentang bola yang David berikan. Aku selalu berlatih tanpa lelah karena aku ingin menjadi pemain hebat suatu saat nanti.
Aku ingin masuk ke klub yang tidak berbau dengan uang atau penipuan. Bahkan klub-klub yang pernah menawari ku selalu memberikan kontrak dengan syarat-syarat tertentu. Beberapa ikatan yang merugikan untukku. Itulah sebabnya aku menunggu David untuk membatuku menginformasikan masuk klub bola yang terbaik.
Hingga saat ini aku hanya berkecimbung di klub bola tarkam. Gajinya cukup besar karena ada beberapa yang sangat membutuhkanku. Ada pula yang merekrut ku hanya dengan 1 pertandingan penuh ataupun pertandingan hingga akhir. Ada pula yang kecewa karena timnya tidak menang lalu membuangku begitu saja.
Padahal dalam sepak bola tidak ada satu pemain yang bersalah atau satu pemain yang menjadi pemenang. Semua kerjasama tim yang bagus hingga membawanya menjadi juara. Tapi biarlah, aku harus sabar untuk menghadapinya. Karena pemain hebat adalah dia yang mau merangkai dari hal kecil menjadi yang lebih besar.
"Ingatlah key, perjalannmu masih panjang. jadi butuh beberapa pengetahuan dan pembelajaran untuk mempermudah perjalanan hidup ini" celoteh ku sendiri menghadap ke langit-langit sambil rebahan di atas rumput.
Suatu hari nanti akan aku pastikan untuk bisa menembus klub-klub besar dan bisa bermain dengan tim sepak bola wanita. Atau bahkan bisa menembus timnas putri Indonesia seperti yang aku impi-impikan. Diri ini hanya bisa berdoa dan selalu berusaha dalam setiap langkah yang aku lakukan di hari-hari yang berjalan dengan hebat.
Selama libur 3 hari, sangat membosankan dirumah. Kadang aku ke lapangan tanpa memberi tau ibu. Karena jika ibu tau pasti dia akan memarahiku. Aku mencoba mengintip latihan yang dilakukan. Banyak siswa baru di sana yang tidak aku kenal. Ada juga teman David yang masih berlatih disana. Aku hanya bisa melihatnya dari semak-semak hingga latihan selesai.
Lalu saat senja mulai tiba, aku bergegas pulang. Bila bertemu dengan ibu, maka aku akan berbohong jika sedang jalan-jalan sebentar di persawahan sana. Padahal aku melihat latihan bola. Jika mereka tau pasti akan memarahiku karena luka yang belum sembuh. Marah bukan pertanda benci, tapi kemarahan adalah tanda bahwa mereka menyayangiku.
Lukaku juga sembuh dengan cepat. Jahitan sudha dilepas, ini semua berkat obat yang ibu berikan untuk mempercepat pengeringan luka. Akhirnya aku senang karena akan bersekolah lagi besok. Biar aku tidak sumpek mengelilingi rumah, melakukan ini, melakukan itu rasanya sangat bosan sekali.
Pagi pukul 06.00
Aku berangkat ke sekolah dan berpamitan pada ibu. Berlari kecil untuk melatih otot-otot yang tertidur selama 3 hari hingga sampai di halte untuk menunggu angkot. Melambaikan tangan pada Riki dan pak Abi tidak pernah aku lupakan.
Senyum mereka adalah senyumku yang selalu aku ingat sampai kapanpun. Sebagian hidupku pernah ada dalam diri hidup mereka.
Angkot yang sangat panas dengan polusi yang sangat tidak ramah di pagi hari. Membuatku terbiasa dengan kesederhanaan. Tidak ada kata kesal karena ini adalah perjalanan yang mengajarkan aku untuk menjadi kuat.
"Pak kiri pak"
__ADS_1
Berhenti di depan sekolah lalu masuk dengan senyuman bahagia. Kali ini aku kembali belajar dan berinteraksi bersama teman-temanku. Hari yang sangat indah. Meskipun jahitan sudah dilepas, tapi terdapat perban yang masih terpasang untuk melindungi luka sementara.