
Langkahku berhenti saat mendengarkan sesuatu. Awalnya aku berfikir bahwa telingaku salah mendengar percakapan tersebut yang menyebut namaku. Namun setelah aku mendekat ternyata benar ada seseorang yang sedang berbincang-bincang disana.
"Sudah saya bilang, kamu jangan memainkan anak itu lagi"
"Tapi Key memiliki potensi yang baik pak"
"Meskipun memiliki potensi, tapi anakku yang kamu ganti dan dia tidak bermain. Bagaimana bisa anakku berkembang" ketusnya dengan campuran amarah sedikit.
"Tapi pak.... "
"Sudahlah, aku ingin dia tidak bermain di pertandingan besok, aku sudah membayarmu mahal". Aku berhenti saat mendengar percakapan mereka di ruangan kosong. Ternyata aku melihat coach Alam tapi satunya lagi aku tidak tau dia siapa karena wajahnya tidak terlihat.
Wajahku sangat tertegun saat mendengarkan semuanya. Bagaimana bisa dia memaksa coach Alam untuk tidak memainkan aku. Dan bagaimana bisa coach Alam menerima uang untuk sogokan.
Saat aku mendengarkan percakapan mereka dengan selesai. Sekarang aku mengerti mengapa aku tidak bermain di awal pertandingan dan selalu diberikan permainan di akhir. Ternyata memang benar aku hanya pelengkap saja dan pembangun untuk menambah kemenangan saja. Sepertinya coach Alam sudah bekerja sama dengan orang itu. Lalu buat apa aku dimasukkan ke dalam tim jika hanya sebagai pelengkap saja.
"Siapa orang itu" pikirku masih bertanya tentang pasangan yang berbicara dengan coach Alam.
Saat aku mencoba mengingat-ingat perkataan coach Alam tadi, dia mengatakan bahwa aku memiliki potensi. Tapi dia tidak bisa membantah dan harus menuruti orang itu agar aku tidak dimainkan.
Apakah ini salah satu cara kotor dalam permainan bola. Apakah ini salah satu yang membuat sepakbola semakin rendah hanya karena uang. Aku semakin mengerti bahwa kemampuan bisa dibeli dengan uang. Coach Alam juga mengambil uang itu dan mengorbankan aku agar tidak dimainkan saat pertandingan.
Lalu mereka berdua pergi dan aku bersembunyi agar tidak ketahuan bahwa saat ini aku sudah mendengar semuanya. Tapi tetap saja wajah seseorang itu tidak terlihat dengan jelas. jika orang itu warga sekolah, seharusnya aku tau ciri-cirinya. Sedangkan orang itu asing bagiku, tapi mengapa dia bisa masuk ke dalam sekolah. Biarlah, semuanya akan terjawab dengan berjalannya waktu.
Dari sini aku semakin paham bahwa aku tidak sangat dibutuhkan. Aku hanya dimainkan untuk mendongkrak kemenangan saja saat tim tertinggal skornya.
"Loh key, kamu kok disini katanya mau main bola di gudang" Ucap Yuri yang datang membawa dua gelas minuman.
"Eh iya, aku nunggu kamu"
"Ya sudah ayo kita berangkat" Kami berdua berangkat ke dalam gudang. Seperti biasa aku berlatih bola disana. Mengasah sedikit demi sedikit agar ilmu yang sudah ada tidak terbuang sia-sia.
Saat bel istirahat sudah selesai, kami masuk dan melanjutkan pelajaran seperti biasa. Aku dan Yuri fokus dengan pelajaran yang diberikan hingga jam pulang berbunyi.
2 hari kemudian, aku bersiap untuk mengikuti pertandingan selanjutnya. Meskipun aku sduah tau bakalan tidak dimainkan tapi aku pura-pura tidak tau saja. Aku akan mengikuti semua skenario yang dibuat. Dan kita lihat saja hasil akhirnya nanti.
Di pertandingan ketiga lawan yang kami hadapi adalah salah satu lawan yang tidak diunggulkan. Karena sudah 2 kali bertanding dan 2 kali kalah.
Permainan terus dilanjutkan dengn baik, di babak pertama kami memimpin 2-0. Kemenagan sementara berada di pihak kami.
"Alhamdulillah ya Allah, engkau telah memberikan kemenangan pada tim ini" meskipun aku tidak bermain, rasa syukur yang ada pada diriku tidak pernah berkurang.
Selanjutnya saat berada di dalam ruang ganti, aku hanya pura-pura mendengarkan apa yang coach Alam katakan. Hatiku juga sudah tau bahwa tidak akan dimainkan di pertandingan kali ini.
"Kalian harus tetap mempertahankan permainan ini. karena dalam segi taktik dan penyerangan mereka kalah. dan hari ini kita harus mendapatkan 3 poin"
__ADS_1
"siap coach" Arahan yang mneggema untuk semua pemain.
Selanjutnya memasuki babak kedua, beberapa pemain untuk digantikan oleh pemain cadangan yaitu Mega, Ika, Rega dan Vena. Ban kapten saat ini dipegang oleh Ana. Aku hanya menikmati saja di bangku cadangan. Dan syukur alhamdulillah tim kami berhasil meraih kemenangan di babak kedua dengan skor 4-0 dan bertahan hingga menit akhir.
Kemenangan permainan saat ini membuat tim kami sukses menempati juara grup klasemen sementara di Piala SMA sepak bola putri. Skenario coach Alam sudah aku baca semenjak saat dia berbicara dengan orang itu. Tapi biarlah berjalan dengan apa adanya, tetap saja kita harus fokus melakukan pertandingan terakhir 2 hari lagi untuk merebutkan kedudukan juara grup dan bisa berhasil masuk ke semifinal final.
Hatiku bimbang, antara harus keluar dari pelatihan yang toksik atau harus tetap bertahan dengan cara-cara kotor yang masuk dalam tim ini. Pertandingan ini adalah jalan satu-satunya untuk memgasah bakatku lebih banyak lagi. Apalagi aku sudah merasakan senang memiliki pelatih yang sesungguhnya. Tapi dia menghancurkan semuanya dengan menerima uang hanya untuk keperluannya sendiri.
Aku merahasiakan semuanya pada Ari dan Yuri. Aku tidak ingin mereka menjadi marah dan terlibat tentang semua ini. Tapi pada akhirnya aku tidak kuat menyimpan semuanya. Dan sahabatku juga tau jika dalam wajahku ini sudah terlihat seperti menyimpan sesuatu. Dengan berat hari aku menceritakan semuanya. Tentang permainan coach Alam yang rela menerima uang hanya untuk memainkan seseorang tersebut dan rela tidak memainkan aku dalam tim.
"Permainan kotor, aku akan membantumu untuk membongkar semuanya key"
"Iya aku juga" Kami berkumpul di rumah Ari. Dan aku berani menceritakan semuanya pada mereka. Ari dan Yuri sangat geram seketika mendengar ceritaku.
"Biar saja, nanti bakalan kebongkar sendiri kok"
"Tidak key, dari mulai SMP kamu sudah memiliki bakat yang sangat bagus, dan aku terkejut saat mendengar bahwa kamu hanya dijadikan cadangan tim saja" Jawab Ari dengan wajah serius
"Karena dukungan dan masukan kalian. Di pertandingan besok aku akan memutuskan semuanya"
"Kamu mau memutuskan apa key?" Tanya Ari
"Mundur" Jawabki singkat
"Tapi key" Ucapan Ari dan Yuri secara bersamaan.
Mereka tau bahwa aku sangat mencintai bola, hanya karena kecurangan coach Alam dan salah satu seseorang membuat aku memiliki niat untuk mundur dari bola. Meskipun resikonya sangat besar karena tim sekolah akan kalah jika aku tiba-tiba mundur.
Pertandingan terakhir untuk perebutan juara grup sudah dimulai. Ada 2 pernyatan bila kami kalah di pertandingan ini kami akan tetap masuk semi final sebagai runner-up. Dan bila menang, kami akan keluar sebagai juara grup.
Menjadi juara grup adalah impian dari tim bola kami, tapi apapun yang kami peroleh yang penting bisa melangkah ke semi final. Kami akan berangkat menuju tempat pertandingan. Setelah sampai di sana semuanya bersiap untuk berganti pakaian bola. Hanya aku yang terdiam dan tidak melakukan apa-apa.
"Key, kenapa kamu tidak ganti baju"
"Saya mau mundur coach"
"Apa maksudmu, ini adalah pertandingan untuk menentukan juara grup agar kita sampai di semifinal final" Bentak coach Alam padaku. Sejenak aku terdiam dan mengumpulkan semuanya dalam pikiran agar bisa leluasa mengungkapkan rasa penuh di pikiranku.
"Buat apa saya di tim, jika tidak dibutuhkan. Apalagi saya hanya sebagai penopang saja kan coach. Dan lagipula saya bukan pemain inti jadi tidak usah dipertahankan dan tidak memiliki posisi yang penting" Aku mencoba mengungkapkan semuanya yang ada di benakku, tapi baru beberapa saja kataku sudah berhenti.
__ADS_1
"Baguslah, kalau kamu keluar. Lagian posisimu tidak dibutuhkan dan kamu hanya cadangan tim. Lebih baik kamu jadi anak gawang saja" Ocehan tidak bermakna keliar dari mulut Ana yang terbuka lebar. Senyumnya puas saat mencaci ku yang ingin keluar disaat-saat pertandingan yang genting.
"Tutup mulutmu Ana, aku sudah muak denganmu. Kamu hanya bisa mencaci seseorang tanpa harus berkaca. Menurutku key lebih baik darimu. Dia tidak pernah blunder, passingnya akurat, bahkan fisiknya kuat saat mengajak lari lawan dan yang lebih penting dia bermain dengan hati. Daripada kamu yang selalu melakukan kesalahan dan membuat tim kami beberapa kali kebobolan" Rega meluapkan semuanya. Ruang ganti menjadi ricuh dengan suara kami.
"Maksudmu apa, kamu tuh kapten tim yang tidak ada gunanyanya" Jawab Ana dengan nada yang tinggi.
"Sudah cukup semuanya, tidak penting kita bertengkar karena sebentar lagi pertandingan dimulai. Dan kamu Key, jika ingin keluar silahkan saja keluar"
"Apa Key keluar? Coach ini tidak adil. Andai coach tau bahwa yang membantu aku mengatur serangan ataupun membaca taktik lawan itu adalah Key. Dia yang selalu membantuku saat kami dalam kesusahan ataupun dalam ketertinggalan skor! Dan key juga yang membangun semangat kita"
"Iya coach, Rega benar. Key yang membuatku semangat berlari walaupun skil mereka sudah bagus tapi key meyakinkan bahwa kita bisa" Sahut Mega meneruskan perkataan Rega.
Mega membuka kembali pembicarannya, padahal dia tidak pernah memihak ku. Tapi sekarang dia berani mengungkapkan di depan coach aylam.
"Iya coach" Jawab beberapa pemain inti yang pernah merasakan bermain denganku.
Ruang ganti penuh dengan adu argumen ada yang suka dan ada yang membenci. Ada pula yang tertawa senang karena keoerfianku dari tim ini.
"Kalian lebay banget sih, sudahlah kita main saja tanpa dia" Ucap Ana yang membakar suasana di dalam ruang ganti. Sedangkan coach Alam hanya terdiam saat mendengarkan pernyataan Mega dan Rega tentangku.
"Sudah-sudah, lebih baik aku pergi dan untuk pulangnya aku bisa pulang sendiri. Dan untuk kalian, aku yakin kalian bisa main dengan baik semangat ya" Keluar dari ruang ganti adalah hal yang lebih baik untuk menahan emosi bahkan mencairkan suasana mereka agar tidak semakin panas.
Berjalan menjauh dari tempat pertandingan. Duduk di bangku sekitar taman yang dekat di sana. Merenung sendiri mentap langit-langit dan burung dara bertebangan disana. Mencoba mendinginkn pikiran dan melupakan semuanya.
Kali ini aku pasti gagal untuk masuk tim dan gagal juga menunjukkan bakat agar terlihat oleh pelatih-pelatih kelas atas. Bermain di sini adalah jalan yang pertama aku miliki untuk menambah wawasan dan bisa belajar dari skil lawan.
Membeli sebotol air minum di toko terdekat lalu kembali lagi duduk di sana sendiri. Bersantai dengan kesendirian sangat baik. Ingin rasanya teriak sekeras mungkin untuk meluapkan kekesalan yang ada. Tidak bisa berbicara lagi hanya tentang apa yang sudah terjadi. Tiba-tiba air mata menetes sedikit karena kegagalan yang aku rasakan. Baru saja aku senang Tuhan, tapi sudah berakhir semuanya.
"Kamu tidak pantas disini Key, kamu lebih pantas di dalam untuk bermain" Aku terkejut dan langsung mengusap beberapa air mata yang nenetes. Tidak ingin ada yang lihat bahwa aku sedang bersedih.
"Kak Dika" Ucapku, dan dia langsung duduk disampingku.
"Kamu memiliki skil yang sangat bagus dari yang lain, tapi setelah mendengar di ruang ganti aku menjadi sedih bahwa kamu memutuskan untuk mundur" Aku hanya diam dengan menatap burung-burung yang sibuk mencari makan di taman.
"Kamu tau, pertahanan saat ini sangat hancur, semua bermain sangat kacau tanpa kamu Key. Bahkan banyak yang bermain dengan emosi tanpa hati key" Kak dika mencoba menjelaskan kejadian yang menimpa tim kami di dalam pertandingan.
"Itu bukan urusanku kak" Jawabku singkat
"Itu urusanmu, karena kamu yang bertanggung jawab untuk membakar semangat teman-teman Key"
"Saya sudah mundur kak, dan lagipula........ "
"Tolong lupakan itu key, dan kembalilah ke dalam tim. Apa kamu tidak ingin mengharumkan nama sekolah dan membuat sejarah baru untuk sekolah kami"
"Tapi kak.. . . . .. . "
"Keputusan ada padamu Key, aku akan masuk melihat pertandingan yang benar-benar hancur di dalam Key" Kak Dika bergegas pergi meninggalkan aku sendiri.
Aku kembali berfikir tentang kata-kata yang kak Dika ungkapkan padaku. Sepertinya aku yang salah. Memejamkan sejenak mataku lalu berfikir secara dingin untuk beberapa saat dan bergegas pergi.
"Semangat,, ayo jangan kendor fokus-fokus" Semua menoleh pada suaraku. Aku memutuskan untuk menganti baju beberapa menit yang lalu dan masuk ke dalam lapangan dan duduk di bangku cadangan.
Berteriak semangat pada semua teman yang mendukungku untuk tidak mundur. Senyum yang tadinya menghilang dan murung kini kembali terlihat dari beberapa bibir mereka.
Permainan yang tadi seenaknya malah menjadi semangat. Seperti kebakaran energi, mereka bermain dengan giat. Aku senang melihatnya dan saat menatap coach Alam aku menunduk sedikit dan di bibirnya ada sedikit senyum untukku. Baru kali ini dia memberikan senyum padaku. Nanti aku akan meminta maaf padanya setelah pertandingan telah usai.
__ADS_1