Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
138. Rena Pergi


__ADS_3

Entah mengapa hariku sangat senang karena David akan bersekolah kembali. Tapi di satu sisi aku malu bertemu dengannya setelah kejadian kemarin. Aku takut dia marah dan meledek ku.


"Benar Yur, sang bintang akan datang dan sang ratu menyambutnya" Ledek Ari sambil tersenyum padaku.


"Hahahha, benar katamu ri. Dia sudah menunggunya dari abad yang lalu"


"Hey kalian kurang ajar sekali, awas saja ya" Mereka berdua sangat puas meledek ku hari ini. Kali ini tidak akan aku lepaskan kalian. Aku terus berlari mengejar Yuri dan Ari yang akan menuju ke lapangan.


Bel berbunyi, kami melakukan apel penyambutan sang punggawa garuda muda. Beberapa menit kami berdiri tapi David belum datang juga. Dan pada akhirnya David datang dengan wajah senyum yang sangat sumringah.


"Mari kita sambut dan beri tepuk tangan yang sangat meriah tepuk tangan untuk punggawa garuda"


Sorakan yang sangat meriah dan semuanya senang. Sambutan diberikan dengan kalungan bunga serta beberapa arahan dan ucapan dari kepala sekolah serta David.


"Hari ini adalah hari spesial, diamah salah satu tan kalian sudha menembus punggawa garuda dan berhasil membawa nama baik sekolah ini. Saya harap akan ada david-david lainnya yang membawa nama Indonesia untuk kancah internasional"


*Prok, prok, prok*


"David, David, David" sorakan yang gembira, dan aku ikut mendengar serta bahagia dengan hal tersebut.


Saat semuanya sudah usai, para siswa banyak yang meminta foto pada David. Biasalah orang-orang akan merasa bangga dengan meminta foto padanya untuk di jadikan kenang-kenangan.


"Kenapa kamu tidak meminta foto? "


"Foto? Bukankah dia akan masuk ke kelas ini" Sahutku saat Yuri bertanya, padahal mereka berdua juga mengikutiku berjalan di lorong kelas untuk masuk dan bersantai di dalam kelas.


"Iya juga yah, lebih baik kita meminta foto di dalam saja"


"Sudahlah, ayo kita pergi" Kami bersantai di kelas yang kosong.


Anak-anak sibuk meminta foto dan berebut. David dikelilingi oleh banyak siswa. Banyak wanita yang memuji permainannya dan selebihnya ketampanan David.


Sedangkan para lelaku banyak meminta tanda tangan serta foto, katanya untuk meminta saran agar bisa masuk ke dalam skuad timnas Garuda mengikuti jejaknya. Ternyata David telah menginspirasi banyak orang.


"Nih kue dari mama"


"Wah enak banget di" Kebiasaan kami jika ada makanan maka langsung menyantap nya dengan rakus.


"Eitsss bentar dulu, baca doa sebelum makan"


"Eh iya lupa" Makan kue bolu buatan tante Maya yang sangat enak. Ari sering membawanya kesini, katanya untuk bekal lalu dibagian padaku dan Yuri.


" Enak banget hari ini tidak ada pelajaran, kedatangan David membawa berkah"


"Bener Yur, jadi otakku bisa bersantai"


*Plak*


"Aduh"


"Dasar otak udang" Ketus Ari, dia kesal karena tidak belajar dan membuang-buang waktu aja. Sedangkan aku dan Yuri bersikap sebaliknya. Kami sangat senang karena mendapatkan jam kosong.


"Hahhahaha" Tertawa keras di ruang kelas yang sepi. Hanya ada kami bertiga dan selalu menyenangkan di setiap pertemuannya.


Kami bertiga asik sendiri sampai lupa bahwa hari ini penyambutan David. Sepertinya perasaan hati memang tidak peduli karena keramaian. Sedangkan aku yang sangat berbunga-bunga mendengar kabar ini.


Tapi seketika hatiku sakit saat baru pertama kali David datang dan di serbu oleh para fans, si nenek lampir itu terus memeluk David dan mengumumkan bahwa dia adalah kekasihnya.


"Key, jangan bengong"


"Astaga, Lama-lama ku potong tanganmu ri" Aku terkejut saat Ari menepuk bahuku dengan keras. dia kembali menghancurkan lamuannku yang panjang tentang David.


"Hahahha, potong saja key. Geram sekali aku melihatnya" Sambung Yuri yang mendukungku kali ini.


Tadi dia mendukung Ari sekarang berubah mendukungku, dasar anak aneh. Biasalah anak labil yang baru saja menjejaki dunia.


"Aku ke kamar mandi dulu ya, kalian selesaikan makan bolu nya tapi ini milikku" Aku berlari keluar sambil mengambil sepotong bolu yang cukup besar karena tidak ingin berebut dengan mereka jadi aku berlari sekencang mungkin.

__ADS_1


"Keyla, awas saja kamu"


"Key, dasar" Aku masih mendengar suara Yuri dan Ari yang teriak begitu kencang.


"Bodo amat" Sahutku sambil berlari.


*brakkk*


"Aduh" Aku terjatuh menabrak kerumunan orang yang sedang sibuk meminta foto pada David.


Sepotong bolu itu terjatuh dan memenuhi wajahku. Sekarang wajahku serba bolu dan tidak terlihat wajah asli.


"Isss, sial sekali. Aku tidak jadi memakannya" Ketusku kesal karena bolu itu sudah hancur di wajahku.


"Hahahahahah" Mereka semua tertawa saat melihat aku terkapar di atas lantai


"Dasar cupu, memang pantas kue itu di atas wajahmu. Karena kalian berdua memang menyatu" Dengan bangganya Adel berbicara seperti itu serta ejekan keluar dari mulut jahatnya.


Aku masih terdiam dan mencoba membersihkan sisa bolu yang ada di wajahku. Memang tidak bersih sepenuhnya tapi setidaknya wajahku tidak tertutup bolu kembali.


Tiba-tiba ada sebuah tangan yang mendekat dan membantiku untuk berdiri. Kembali aku mengingat kenangan itu bersama David, aku tersenyum dan menyambung tangan itu lalu bergegas berdiri.


"Kamu gapapa" Benar saja ternyata itu tangan David yang membantuku di depan kerumunan.


Sejenak aku tersenyum menatap David, seakan aku kembali ke masa itu masa dimana awal muka tangan David menolongku dan pas sangat persis dengan adegan tadi.


"Tidak apa-apa hanya kotor saja" Sahutku. Kemudian David membantu membersihkan bolu yang masih tersisa di wajah ini membuat semua orang iri melihatnya.


Dia sangat telaten membersihkan bolu di wajah serta rambutku. Terlihat sangat romantis seperti sepasang kekasih baru. Dalam hati rasanya ingin teriak bahwa aku bahagia.


"Wahhh, enak sekali kamu Key. Aku juga ingin"


"Aku ingin juga diperhatikan oleh David"


"Benar, aku juga"


"Ehhh, lepas-lepas. Kalian ini apa-apan sih. Memang kamu ini gatal sekali jadi cewek" Nenek lampir itu mengganggu aku dan David ynag sedang memacu tatapan kami berdua.


Dia selalu merusak momen yang indah di manapun dan kapanpun. Mengapa dia tidak menghilang dari muka bumi ini saja. Kesal rasanya saat tangannya memisahkan aku dan David lalu dia kembali menggandeng David.


"Sepertinya bibirmu yang gatal, huuuu" Geregetan sekali tanganku ingin meremas bibir Adel namun dihadang oleh David. Aku menatapnya sebentar lali meninggalkan mereka semua.


"Key tunggu"


"Apaan sih, gak usah di kejar kali" Adel menahan David yang sedang ingin mengejarku. Aku tidak peduli lagi yang penting aku sampai ke kamar mandi untuk mencuci wajah ini.


Perlahan aku membasuh muka dan membersihkan coklat-coklat yang masih menempel. Lalu kembali berkaca agar terlihat bersih semuanya.


"Ihh, ingin buang air kecil eh malah ketimpa bolu" Kesalku berbicara sendiri di depan kaca.


Aku juga snagat kesal dengan Adel, dia tidak bisa melihat aku dan David bahagia. Rasanya ingin aku tampar, tapi hatiku harus tenang dan menahan hanya agar tidak terjadi masalah. Apalagi tadi banyak waetawan yang ingin mengekspos keseharian David hari ini.


"David juga, dia menurut begitu saja dengan Adel. Dasar"


*buk, buk, buk* Tanganku sibuk memukul wastafel dengan kekesalan. Sakit memang seperti hatiku hari ini yang sakit melihat David di gandengan oleh Adel seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih.


"Nenek lampie itu tidka pernah sadar diri, awas saja karma akan membalas dia nanti" Kesal ku berguman sendiri.


Sepulang sekolah disini masih snagat ramai dengan para fans dan wartawan yang sedang mengerubungi kehidupan David. Aku lebih memilih untuk pulang dan pergi dari hadapan mereka semua.


"Key, tunggu"


"Rena, ada apa? " Dia datang dan langsung memelukku dengan erat. Tidak biasanya dia begitu karena kami selalu menjadi musuh sejak saat itu. Tapi sekarang mengapa dia bersikap seperti ini padaku, memang aneh.


"Terima kasih"


"Untuk apa? "

__ADS_1


"Kamu menolongku...."


Dia menceritakan bahwa Bobby sudah meminta maaf pada Rena serta keluarga. Dan sekarang dia juga sudah mendapatkan hukumannya. Karena yang mereka tau saat ini adalah Bobby pergi ke luar negeri tapi yang sebenarnya terjadi yaitu Bobby di penjara meski hanya beberapa bulan.


"Di penjara? " Rena mengangguk, aku terkejut saat mendengar boby dipenjara. Ternyata isu tentang dirinya ke luar negeri adalah kebohongan besar.


"Apa yang dia perbuat, dia juga yang akan menanggungnya key" benar, apa yang mereka tanam maka mereka juga yang akan menuai.


Kata Rena q itu semua berkat kak Dika yang mau membantu keluarga Rena dengan menggertak Bobby untuk segera mengaku. Dan juga kak dika berkata bahwa dia menceritakan jika kak Dika dibantu olehku.


Rena juga menceritakan bahwa Bobby telah memperkosa tapi yang dia syukuri adalah Rena tidak hamil, karena Bobby menggunakan alat ko*tra*eps* saat melakukan hub*ng*n terlarang itu.


"Kamu yang tenang ya, aku yakin semuanya ada jalan"


"Iya key, aku sempat stres karena kesucian tubuhku telah terenggut olehnya" Dia kembali memelukku dan menangis sejadi-jadinya.


Untung saja kami duduk di halte sepi. Jadi tidak ada yang mengetahui dan mendengarkan apa yang telah Rena ceritakan padaku. Sepertinya saat itu wajahnya terpuruk dan tidaa ingin bersekolah karena hal ini.


"Sabarlah Rena, di balik kesusahan pasti akan ada jalan kemudahan" Aku menenangkannya sambil mengelus lembut punggung Rena.


Allah masih sayang padanya, walau kesuciannya telah terenggut setidaknya dia masih bisa melanjutkan hidup dengan banyak meminta maaf pada yang maha pencipta.


"Key aku minta maaf ya karena selama ini aku telah berbuat salah padamu"


"Santai saja, semua manusia tempatnya salah" Aku tau karena semua itu tempatnya salah, jadi tidak ada manusia yang baik kecuali dirinya sendiri yang belajar menjadi baik.


"Besok aku akan sekolah di luar kota, karena mama dipindah tugaskan disana"


"Apa? Kenapa secepat itu" Aku terkejut dengan pernyataan yang Rena berikan.


Baru saja aku bertemu dan berbicara dengannya dan sekarang dia berpamit untuk pergi. Apakah secepat itukah pertemanan? saat kita mulai bernaikan maka mereka akan pergi. Itulah hal menyakitkan yang aku rasakan.


"Itu tidak penting Key, dan yang paling penting sekarang adalah kamu harus menjauhi Adel dan David. Karena mereka adalah sumber masalah" Aku terdiam mendengar penjelasan Rena karena masih belum mengerti tentang apa yang dimaksud.


Rena menceritakan bahwa dia selalu disuruh oleh Adel untuk mencelakai aku. Tentang Yuri yang masuk ke dalam jurang, serta aku yang hampir meninggal di dalam air.


Saat Rena menjadi siswa baru, dia sudah mengenal Adel dari lama. Dan Rena juga sudah mengetahui bahwa Adel akan satu sekolah dengan kami begitu juga David. Dia juga bercerita bahwa David telah datang lama di Indonesia sekitar 2 bulan sebelum dia melanjutkan sekolah di kota ini.


"Benarkah? Bagaimana bisa kamu mengetahui semuanta Ren? " Aku sqngat terkejut mendengarkan cerita Rena dan berarti David sudah berbohong padaku.


Aku tidka tau apapun tentang itu, dan sekarang aku mengerti bahwa ada seseorang yang bermuka dua untuk melakukan kejahatan padaku. Salah satunya adalah adel.


"Aku mendengar semuanya dari Adel. Dan satu lagi Key, aku harap kamu menjauh dari David"


"Mengapa? "


"Ayahnya" Tidak lama sebuah mobil datang menjemput Rena. Dia memberikan nomor ponselnya sekaligus salam perpisahan denganku.


"Mamaku sudah menjemput, besok aku sudah tidak sekolah disini lagi. Jaga dirimu baik-baik key, dan terima kasih atas kebaikanmu selama ini"


Rena memelukku snagat lama. Dia menangis hingga membuat bajuku basah. Begitu juga denganku yang ikut bersedih melepas kepergian Rena. Tidak terasa air mata ini terjatuh secara perlahan.


"Jaga dirimu baik-baik Rena. Aku harap kamu akan senang di lingkungan baru" Aku memegang wajahnya dengan penuh kasih sayang. Memberikan dia tatapan dengan rasa yakin bahwa hari-harinya akan membaik setelah ini.


"Dahhh key" Dia melambaikan tangan sambil menangis tersedu-sedu.


"Hati-hati Rena" Teriakku dengan tangisan yang mengalir dan tanganku sibuk menyemangati karena air mata ini terlalu deras.


Aku masih belum percaya Rena pergi meninggalkan sekolah ini tanpa ada kata pamit kepada seluruh teman-temannya. Entah sampai kapan dirinya suka menyendiri apalagi setelah keluar dari geng Adel.


Aku juga tidak habis pikir mengapa David berbohong padaku. Dia juga datang ke Indonesia tapi tidak menemuiku. Dia memberikan aku rasa rindu teramat dalam saat itu.


Dengan rasa kecewa aku pulang, memblokir nomor David agar dia tidak menghubungiku lagi. Sakit rasanya memendak rindu begitu lama. Apalagi Adel yang begitu jahat menjadikan Rena sebagai bonekanya.


"Bobo, dunia ini kejam" Aku membelai lembut bobo sambil menatap ke jendela dengan tatapan kesedihan.


Aku yakin Ari dan Yuri tidak tau tentang semua ini. Tentang Rena, tentang Adel, dan tentang David. Ternyata Rena adalah anak baik, dia hanya boneka percobaan dari Adel. Kejam sekali anak itu padaku, entah apa keinginannya sehingga ingin membuatku pergi secepat ini dari dunia.

__ADS_1



__ADS_2