Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
132. Pembalasan pada Mbak Yeni


__ADS_3

Lagi-lagi surat ini membuatku sedih. Kak Dika sangat menyayangi diriku sebagai adiknya. Di lain sisi dia bahagia karena memiliki adik setelah beberapa tahun menjadi anak tunggal. Di lain sisi aku juga sangat menyayanginya sebagai kakak kandungku walau beda ibu.


Kini senyumnya menghilang dan tiada lagi. Tiada lagi yang menyayangiku setulus kak Dika sebagai seorang kakak bahkan tidak ada lagi yang mencintaiku serta melindungiku seperti hari-hari kemarin.


"Dan ini nomor ponsel kak Dika yang baru" Yuri memberikan selembar kertas lagi saat wajahku ingin menangis kembali.


Raut kesedihan menyelimuti hariku saat ini. Ulang tahun yang sangat malang, bahagiaku bercampur pilu. Dan tidak ada hal yang ingin aku lakukan.


"Sudahlah, ayo kita pulang" Aku mengajak mereka berdua pulang.


Rasanya aku ingin menangis yang sangat kencang, tapi tidak disini. Aku malu bila dilihat oleh banyak orang saat sedang menangis. Apalagi di lihat mereka berdua


"Baiklah" Ari dan Yuri mengantarku pulang ke rumah. Tanpa banyak bicara aku segera pergi dari hadapan mereka berdua dan masuk ke dalam rumah.


"Key" Panggil Ari, wajahnya cemas menatapku. Tubuhku segera berbalik kembali menatapnya.


"Ada apa ri? "


" Aku tau kamu ingin menangis, dan aku tau kamu ingin teriak. Tapi aku mohon, jangan berbuat hal aneh lagi. Aku tidak ingin kehilanganmu " Ari memelukku dengan erat.


Hatinya sangat mengerti keadaanku. Mereka selalu ada saat aku bersedih dan saat aku terluka walau selebihnya aku tidak pernah bercerita padanya.


"Key, Ari" Yuri ikut kembali memelukku dengan erat. Kami kembali berpelukan seperti teletabis.


"Aku butuh istirahat, kalian jangan lupa istirahat. Dan Terima kasih atas semuanya" Ucapan Terima kasih tidak akan pernah cukup untuk kebaikan Ari dan Yuri yang sudah diberikan.


Mereka adalah bunga yang selalu membuatku tersenyum dengan keindahannya saat bermekaran. Dan aku tidak ingin melihat mereka layu karena diriku.


"Baiklah, kamu harus segera istirahat dan kami berdua akan segera pulang" Ucap Ari dengan senyumannya yang khas.


Mereka berdua masuk ke dalam mobil dengan tatapan pilu. Aku mencoba pura-pura tersenyum agar mereka juga ikut tersenyum. Tapi mereka tau bahwa senyumanku palsu.


"Dah Key" Lambaian tangan pergi dari hadapanku bersama lajunya mobil yang telah berlalu.


Kali ini aku segera pergi ke rumah. Tidak mampir ke warung atau rumah ibu. Aku butuh sendiri saat ini, karena hariku sangat kacau. Ulang tahun hari ini tidak berarti, karena ayah pergi tanpa penjelasan pasti begitu juga kak Dika yang menjadi kebahagiaaku karena telah menjadi kakak yang baik.


"Bo, umurku sudah besar dan terima kasih banyak sudah menemaniku hingga saat ini" Curahan hati yang aku bicarakan tentang arti kebahagian pada bobo dia selalu setia menemaniku dan mendengarkan isi hatiku.


Aku memeluknya dengan erat dan penuh kebahagiaan serta tangisan pilu. Aku bercerita banyak hal, tentang kepergian ayah dan kak Dika yang aku ingat kembali saat ini. Serta surat kecil dari kak Dika.


Hingga aku terlelap begitu saja bersama datangnya sedih yang berulang-ulang tanpa pergi.


*tok, tok, tok*


Suara ketukan pintu yang sangat keras membangunkan aku dari tidur. Ternyata hari sudah sore. Aku terbangun dan segera menuju ke pintu untuk membukanya.


*klek*


"Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun, selamat ulang tahun Key" Nyanyian yang indah.


Ibu, bapak dan kedua kakak ku yang usil. Mereka membawa kue tar serta lilin ulang tahun. Mereka semua memberikan wajahnya yang indah dengan senyuman khas hingga membuatku bahagia.


"Ibu, Terima kasih bu" Pelukan pada seorang ibu, membuat hariku tersentuh pilu.


"Selamat ulang tahun ya nak, semoga kamu menjadi anak baik dan hebat" Kecupan pada kening diberikan oleh ibu.


Secara bergiliran aku memeluk bapak, mbak Nike dan mbak Yeni. Pelukan dari mereka membuatku bahagia. Setiap pelukan selalu ada ucapan selamat serta doa dari mereka semua.


"Kamu tiup dulu ya lilinnya, dan jangan lupa berdoa sebagai rasa syukur" Ucap mbak Nike yang membawa kue serta lilin.


Doa dalam hati yang sangat khusyuk untuk mendapatkan jawaban yang terbaik dari sang pencipta.


Lilin sudah tertiup dan kami masuk ke dalam rumah dengan merayakan pesta sederhana untuk keluarga kecil yang bahagia. Tapi setiap perkumpulan selalu ada saja keusilan dari kedua saudara ku.


"Key kemarilah, coba kamu baca tulisan di kue ini" Aku mendekatkan wajah dan membaca tulisan apa yang dimaksud.

__ADS_1


"Selamat ulang tah....... "


*plek*


"Aaa, mbak Nike, mbak Yeni" Teriakku dengan kencang saat mereka berdua mengerjai ku dengan mendorong wajahku hingga terbenam di dalam kue.


Ternyata kue yang mereka bawa adalah palsu. Karena hanya ada tumpukan krim buatan yang mengotori wajahku hingga berubah menjadi putih semuanya. Dan kue yang asli masih ada di tangan bapak.


"Hahahhahaha" Mereka berdua tertawa keras karena berhasil membuat wajahku cemong dan tidak beraturan. Tanganku reflek membersihkan mata dan mulut agar bisa melihat dan berbicara.


"Ibu.... " Rengekku pada ibu karena aku tidak bisa membalas mereka kali ini.


Bapak dan ibu segera membersihkan wajahku yang kotor. Tangannya lihai dengan belaian lembut padaku menggunakan tisu yang ada. Membelai dengan kasih sayang tiada habisnya. Aku tersenyum karena pada mereka berdua.


"Ya Allah, inikah keluarga bahagia itu? Dan benar, sekarang aku memilikinya. Jagalah mereka dari hal buruk yang ada di dunia ini" Doaku dalam hati saat melihat senyuman mereka semua.


Aku memang kalah karena tidak bisa membalas mereka berdua. Tapi aku menang karena berhasil mendapatkan kasih sayang dan belaian lembut dari ibu dan bapak.


"Wekkkk" Ejek ku pada mereka berdua yang membuat pertengkaran asik dan sangat seru.


*ting* (pesan masuk)


"Key, doakan aku ya karena nanti malam akan segera bertanding. Aku sangat butuh semangat darimu" (David)


"He'em" Suara mbak Nike membuat perhatian tertuju padaku.


"Hmm, sepertinya ada yang sedang jatuh cinta nih. Membaca pesan saja pakai senyam-senyum lagi" Aku sadar jika orang yang dibicarakan mbak Nike adalah aku.


"Tidak, ini teman ku sedang mengatakan bahwa dia akan bertanding nanti malam melawan Singapura"


"Hah Singapura? " Semuanya terkejut saat mendengarkan kata Singapura. Aku lupa bercerita bahwa salah satu teman ku yaitu David masuk ke tim skuad timnas Garuda muda dan melawan Singapura nanti malam.


"Wah, wah, wah. Kita harus nobar nih nanti malam"


"Iya benar, kita harus nobar" Semuanya sangat antusias mendengar ceritaku. Apalagi bapak yang sangat senang bila menonton bola tentang timnas Garuda.


"Eitsss, sebelumnya kamu harus membuka kado dari kita dahulu" Ucap mbak Nike sambil melemparkan kado yang dia bawa. Begitu juga mbak Yeni melemparkan kado yang di bawanya.


Kelakuan mereka berdua memang selalu membuatku kesal tapi tidak pernah membuatku merasa marah atau tersinggung. Karena aku akan membalas semua kejahilan mereka padaku.


Tapi rasanya saat kita jauh, rindu itu menggebu ingin cepat bertemu. Setelah bertemu pasti bertengkar kembali.


"Baiklah, aku akan membukanya" sahut ku, walaupun dalam hati ini masih ada rasa ragu karena kejahilan mereka.


Mataku melirik tajam pada mereka berdua. Aku takut kejahilan mereka disembunyikan pada kado ini adalah benar. Dengan sangat hati-hati aku membukanya. Walau hati ini tidak tenang, aku mencoba tersenyum meski terpaksa.


"Aaaaaaa" Jeritan bahagia keluar dari mulutku. Kado itu benar-benar nyata dan aku membukanya.


Sepasang baju yang mungkin harganya tidak terlalu mahal tapi tulisannya yang sangat mahal. Ternyata pikiranku tentang kejahilan mereka adalah kesalahan besar.


*ITU ADIKKU, JANGAN DI USIK* tulisan sederhana ini adalah bukti kasih sayang mbak Nike padaku. Bukan kemewahan tapi kesederhanaan penuh arti.


"Makasih banyak mbak Nike" Aku memeluknya dengan erat serta senyuman yang licik.


"Aaa, ibuk. Key mencekik ku"


"Mana ada, tidak bu mbak Nike berbohong" Sesekali aku melirik padanya sambil tersenyum licik. Untung bukan paikopat, hehehe.


"Sudah, sudah. Tidak usah bertengkar kalian ini kebiasaan" Ibu selalu menjadi penengah yang baik.


Selanjutnya aku membuka kado mbak Yeni, tidak ada rasa curiga karena telah membuka kado dari mbak Nike aman-aman saja. Dengan percaya diri aku langsung membukanya.


*buk*


"Ibu,,"

__ADS_1


"Hahahhahaha" Mbak Yeni dan mbak Nike tertawa puas saat mainan itu meninju wajahku.


Bahkan ibu dan bapak juga ikut tertawa. Melihat mereka berdua tertawa, rasa amarahku seketika hilang karena kebahagiaan ibu dan bapak.


"Awas saja, aku akan membalasnya" Gumamku dalam hati sambil menatap mbak Yeni yang masih asik tertawa terbahak-bahak.


"Kamu gapapa kan nak? "


"Tidak bu, tenang saja. Selama ibu dan bapak tertawa maka duniaku akan baik-baik saja" Sahutku dengan santai.


Sedangkan tangan ibu mengelus lembut wajahku karena sudah memerah akibat tonjokan mainan itu. Tidak usah berobat, belaian lembut penuh kasih sayang saja sudah cukup.


"Dan ini kado dari ibu dan bapak. Kamu buka ya nak"


"Siap bu, dengan senang hati" Sahut ku diselingi senyuman.


Kado selanjutnya aku buka. Kado sederhana dari ibu dan bapak. Dua buah boneka yang saling bergandengan. Aku memang tidak menyukai boneka seperti layaknya anak perempuan, tapi sebuah boneka bisa menjadi temanku untuk berbicara.


Aku langsung menangis melihat boneka itu. Mengingat boneka bobo yang telah diberikan oleh ibu sewaktu kecil dan juga diberikan di hari spesial yaitu hari ulang tahunku.


"Ibu, bapak. Ini kado terindah, Terima kasih banyak" Rasa tangis mendalam dalam setiap jiwa seseorang.


Bukan tangisan yang dibuat sengaja, namun ada juga tangisa datang secara tiba-tiba bila mengingat sesuatu. Dan itu adalah aku.


Aku mememluknya bapak dan ibu dengan erat. Mataku juga sembab menangis terus tanpa henti, tapi kedua tangan mereka mampu merefakan dan membuatku nyaman dalam pelukannya.


Begitu juga mbak Yeni dan mbak Nike ikut berpelukan dengan kami. Dan inilah keluarga teletabis yang sesungguhnya.


"Kamu anak kuat dan hebat, bapak akan selalu bangga denganmu begitu juga anak-anak bapak semuanya" Pelukan kembali aku dapatkan dari seorang ayah yang mencintai anak perempuannya dengan tulus.


"Ingat, ibu akan selalu ada di setiap langkahmu nak" Tangan ibu memberikan pengertian yang sangat jelas. Dalam dekapannya aku sangat senang.


Hingga senja perlahan mulai tenggelam, ibu dan bapak kembali pulang ke rumah. Sedangkan mbak Nike dan mbak Yeni masih sibuk menjahili ku hari ini. Dan mereka akan menuju kamarku lalu membuat kekacauan dari semuanya hingga puas.


Begitulah mereka jika bermalam di sini. Tapi yang lebih parah adalah tingkah laku mbak Yeni selalu membuat ulah dan rasa usilnya yang tinggi. Untung kesabaranku pada mereka berdua tidak setipis tisu, heheh.


Malam


"Ayo mbak kita nonton bola" ajakku setelah membersihkan diri dan sudah rapi. Sekarang aku siap untuk menonton David bertanding.


"Ah tidak ah, lebih asik disini"


"Mbakku, cepetan. Timnas akan segera bermain" Penolakan itu selalu diucapkan hingga pada akhirnya mereka berdua mau walaupun harus mendengar rengekanku dulu.


Memang seorang kakak selalu berbuat jahil pada adiknya. Namun rasa sayang mereka lebih besar dari rasa jahil itu. Katanya nanti kalo mbak Nike dan mbak Yeni menikah maka tidak akan ada yang bisa diributkan lagi bertiga.


Ucapan itu selalu terngiang dalam benakku, karena itulah aku selalu memanfaatkan rasa bahagia bersama mereka berdua. Walau terkadang aku selalu menjadi sasaran kejahilan mereka. Tapi mereka lupa bahwa kejahilan ku juga sama besar daripada kejahilan mereka.


Malam telah tiba, waktunya bersiap diri menonton timnas Indonesia vs Singapura pada pukul 20.00 WIB. Banyak makanan yang sudah ibu siapkan untuk menonton. Katanya biar seperti di bioskop pada umumnya. Suasana yang benar-benar asik.


"Aaaa, itu David" Teriakku saat melihat David bernyanyi Indonesia Raya. Ternyata dia menjadi pemain inti di timnas Indonesia.


"Sebentar, bukankah dia orang yang kamu suka Key" Mataku berhenti dan membeku. Lidah ini menelan saliva dalam-dalam memang mulut mbak Yeni selalu bikin ulah.


"Tidak kok, dia hanya teman ku"


"Ahh, kamu bohong. Kamu kan pernah cerita bahwa anak itu yang kamu suka. Lagian dia juga pernah kesini kan" Rahasia yang diceritakan padanya pasti akan bocor.


"Iya, dia pernah bertemu ibu kan? Wah hebat sekali bisa masuk timnas" Ternyata ibu masih mengenalinnya.


"Ahh, iya bu. Dia teman ku. Marilah kita menontonnya saja karena aku ingin melihat taktik yang baik untuk dipelajari" Aku ingin mengalihkan pembicaraan tentang David.


Ini semua karena mbak Yeni yang memiliki mulut ember. Dia tersenyum senang dan berbisik-bisik bersama mbak Nike. Aku curiga bahwa mereka membicarakan dan berusaha membangun rencana untuk mengusir aku lagi.


"Tunggu pembalasanku mbak Yeni" batinku sudah mengambil ancang-ancang untung melakukan pembalasan pada mereka. Aku tau jika kedua saudaraku sudah bersekongkol.

__ADS_1



__ADS_2