Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa

Bola Dibalik Cinta Sang Punggawa
158. Lolos Timnas


__ADS_3

Pagi 05.00


"Pagi dunia" Gumamku sambil menatap indahnya pemandangan di luar asrama. Walaupun yang terlihat jelas hanya atap-atap rumah dengan lingkungan yang padat.


Pemandangan yang belum biasa aku nikmati namun harus tetap dinikmati demi kenyamanan. Karena selama disini aku sudah menyatu dengan pemandangan rumah yang berjajah tanpa halaman dan juga lapangan seperti di desa.


*Pengusaha kaya ditangkap oleh polisi di kediamannya karena telah melakukan KDRT pada istrinya sendiri sehingga mengalami beberapa luka di sekujur tubuhnya*


Artikel pagi ini mengejutkan mataku saat baru saja membuka ponsel dan mendapati artikel tersebut.


"Dia? " Ucapku sambil tersenyum kecil.


Fotonya terpampang jelas di media, dia terjerat kasus KDRT dan aku sangat bahagia karena polisi berhasil menangkapnya. Wajahnya tidak asing, namun dia telah memberiku kepuasan pikiran dan kebahagiaan pagi ini.


"Mampus, ini karena kamu telah membahayakan hidup ibuku. Aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang tuan" Senyum licik kembali dalam raut wajah yang menatap dengan dendam.


Tapi aku masih bingung siapa yang melaporkan ini, lalu aku terus mencari tahu tentang artikel tersebut dan mengetik namanya. Ternyata dia juga salah satu pemilik klub malam yang ilegal.


Bahkan dia juga yang menabrak ibu sehingga masuk rumah sakit dan membuatnya lumpuh. Tapi yang jelas tujuan dia adalah menabrak ku, tidak mungkin ibu menjadi incaran dia karena saat itu aku yang berdiri di pinggir jalan.


"Satu per satu kasusmu terungkap dan kekejamanmu akan mendapat upah tuan yang kaya" Aku sudah geram melihatnya.


Kali ini tidak ada yang bisa meringankan hukumannya walaupun uang yang dia miliki sangat banyak. Karena dia sudah tersandung banyak kasus. Mulai dari klub malam ilegal, menabrak ibu, dan KDRT.


*drettt..... * (dering ponsel)


(Memanggil ari)


"Halo Assalamu'alaikum ari aku senang sekali. Sungguh sangat senang dan akhirnya dia tertangkap juga"


"Waalaikumsalam, bisakah berbicara pelan-pelan saja. Karena mataku sangat mengantuk pagi ini"


"Bagaimana bisa? Apakah kamu begadang"


"Iya, sudah dari kepergianmu seleksi aku terus begadang" Sekarang aku mengerti dari jawaban Ari.


"Kamu yang melakukannya? "


"Hmm" Aku kemabli tersenyum. Ternyata kasus ini terungkap karena Ari.


Dia sangat bekerja keras hingga meluangkan waktu tidurnya untuk menyelamatkan keluargaku. Bahkan dia tidak peduli apapun, dan karenanya kasus orang jahat telah terbongkar.


Aku hampir saja lupa jika salah satu temanku ini adalah hacker yang handal namun membisu dalam ruangan saja. Karena yang mengetahui hal tersebut hanyalah aku dan Yuri.


"Sudahlah aku mau istirahat dulu"


"Baiklah, Terima kasih sahabatku tersayang. Sekarang tidurlah dengan nyenyak dan jangan begadang lagi" Ucapku dengan hati yang bergembira ribuan kali.


"Apakah tugasku sudah selesai? "


"Sudah pak, silahkan anda kembali dalam bunga tidurmu" Seperti laporan pada atasan saja.


"Yessss"


"Brisik" Aku langsung terdiam.


Padahal aku tadi hanya meloncat kegirangan karena dia sudah tertangkap. Namun ternyata suaraku juga terlalu berisik. Jadinya beberapa dari mereka yang tidak menyukaiku berteriak dan menghardik.


"Maaf, maaf" Ujarku dan harus tetap rendah hati serta sabar. Karena itu salah satu kunci untuk kesuksesan.


"Key kenapa? " Tanya Tara yang baru datang dari kamar mandi.


"Hah, gapapa. Aku hanya senang hari ini" Jawabku sambil memegang pundak Tara dengan tatapan penuh kebahagiaan.


"Apakah hasil seleksi sudah keluar"


"Belum"


"Lalu? "


"Aku senang karena kehidupanku saja"


*plak* dia memukul pundakku.

__ADS_1


"Ah kamu ini, aku kira hasil seleksi sudah keluar" Wajah Tara kembali lesu dan langsung naik ke atas ranjangnya serta bermain ponsel.


Sedangkan aku kembali mencari kasus lelaki itu dengan sangat bersemangat serta mencari bagaimana proses hukum yang akan dijalani. Dan dia juga telah terjerat dalam berbagai undang-undang.


"Ini semua kesalahanmu sendiri, aku tidak tau mengapa dirimu sangat membenciku dan ibu. Aku harap kamu akan sadar saat hakim mengetuk palu dan kau akan mendekam dalam kurungan" Gumamku dengan tenang.


Aku benar-benar bersyukur karena dia telah menerima balasannya dan ditahan dipenjara. Namun aku masih belum tenang karena ada rasa cemas apabila dia keluar dengan mudah dari penjara tanpa adanya hukuman.


Tidak lama ada suara yang memanggil untuk berkumpul di lapangan karena pembacaan hasil seleksi akan diumumkan secara langsung.


"Hey, cepatlah berkumpul untuk makan pagi dan selanjutnya ke lapangan. Karena sebentar lagi pengumuman seleksi akan diberitakan" Teriak salah satu dari mereka.


Aku bereggas membersihkan diri lalu segera berangkat untuk makan. Dan tibalah saatnya berbaris dan duduk di sebuah halaman asrama untuk mendengarkan pengumuman seleksi yang akan dibacakan.


Awalnya pelatih memberikan arahan lalu kemudian memberikan informasi satu per satu tentang pemain yang masuk dalam timnas. Dari sekian banyak pemain, hanya 33 yang berhasil dipilih karena kemampuan mereka sangat dibutuhkan oleh tim.


"Baiklah, saya harap kalian mendengarkan baik-baik tentang pengumuman ini. Dan ingat jangan berkecil hati jika tidak lolos dan jangan juga tinggi hati jika lolos. Karena perjalanan kalian masih panjang"


"Siap coach"


Aku menundukkan kepala sambil berdoa, berharap namaku masuk dalam tataan timnas Indonesia dan mewujudkan mimpi yang telah lama aku impikan.


Harapan begitu besar, tertunduk fokus mendengar dan aku yakin tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak maka semuanya bisa terjadi walau yang mustahil sekalipun.


"Karin, Gea, Cahaya, Arin, Tara..... " Aku tersenyum saat Tara masuk dalam susunan pemain timnas.


"Selamat Tara kamu lolos"


"Terima kasih key" Dia memelukku dengan sangat erat. Terlihat wajah bahagia dari mereka yang namanya telah dipanggil oleh pelatih.


Sedangkan aku dan lainnya masih berharap cemas karena belum mendapatkan panggilan. Aku berharap di nama selanjutnya adalah namaku namun hingga akhir nama itu di panggil, tidak ada catatan namaku disana.


Saat aku menunggu ternyata pelatih pergi dan tidak melanjutkan kembali pembacaan pemain yang lolos. Rasanya jantungku tersetrum dengan cepat.


"Sepertinya sudah selesai ya? "


"Benarkah? Aku belum lolos, hiks... Hiks.... " Beberapa dari mereka menangis.


Sedangkan aku terdiam dan tertunduk. Memegangi kepala dengan penuh kecewa. Ternyata aku belum mampu untuk tembus di timnas, mungkin tahun depan akan mencoba lagi.


"Key kamu yang sabar ya, permainan kamu sangat bagus kok dan tidak mungkin namamu tidak tertera" Ucap Tara untuk menghiburku.


Namun kenyataannya namaku tidak dipanggil seperti nama peserta lainnya yang lolos, salah satunya adalah Tara. Aku tidak bisa menangis, tidak bisa tertawa pula. Hanya senyum dengan kepalsuan yang ditampakkan sambil menyusun masa depan kembali demi masuk ke timnas untuk seleksi selanjutnya.


"Iya tara, mungkin ini bukan rejeki untukku" Berpura-pura tersenyum adalah cara terbaik untuk mengusir perih.


"Maafin Key bu, karena tidak lolos" Aku kembali tertunduk dan menyembunyikan kesedihan ini diantara dua kaki dan meringkuk.


"Ayolah, sepertinya sudah selesai dan kita harus pulang" Ucap salah satu peserta seleksi.


Beberapa dari mereka tidak sabar ingin beranjak pergi walaupun belum ada instruksi dari para pelatih untuk membubarkan barisan ini. Sedangkan di lain sisi sorakan kesenangan bagi mereka yang dipanggil lolos.


Sedangkan aku masih terdiam dan melawan banyaknya pikiran di dalam otak saat ini. Aku tidak mengerti hal apa yang selanjutnya aku lakukan setelah kegagalan ini. Sepertinya akan berusaha kembali untuk yang lebih baik lagi.


"Tunggu, kalian mau kemana? " Ucap pelatih yang tiba-tiba datang kembali di hadapan kami. Aku mengangkat kepala dan menatap ke arahnya.


"Bukankah kita sudah tereliminasi coach?" Ucap salah satu peserta seleksi.


"Siapa bilang, saya masih mengambil berkas yang ketinggalan. Bukankah kalian menghitung pemain yang saya bacakan tadi? " Beberapa dari mereka menggeleng dan begitu juga denganku.


"Aduh kalian ini seharusnya menghitung, apakah sudah pas atau belum para pemain yang timnas butuhkan" Ujarnya


Aku terdiam sejenak dan tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh pelatih. Seketika semuanya terdiam dan mulai mendengarkan pelatih. Ternyata adalah 5 nama lagi yang belum disebutkan.


Aku masih memiliki setitik harapan untuk masuk di timnas. Semoga 5 nama tersebut terdapat namaku yang bersanding dengan 4 pemain lainnya.


"Baiklah saya akan membacakan lagi nama selanjutnya"


"Zahra, Agatha, Keyla, Kiki, dan Selvia. Dan kalian berlima berhak masuk ke timnas"


Aku masih tercengang dan setengah percaya, ternyata aku juga lolos masuk ke dalam timnas. Mereka semua bersorak sedangkan aku masih terdiam dan terpaku merasakan semua itu.


"Kamu lolos Key, teriak lah" Tara berteriak kencang padaku. Seketika kesadaran itu mulai kembali.

__ADS_1


Aku bangkit dan berteriak atas pengumuman yang telah berkata aku lolos. Aku benar-benar senang bercampur haru. Ingin rasanya berlari dan memeluk kedua ibuku yang sedang menunggu berita ini.


Kepala ini menatap langit dengan sangat berterima kasih. Tuhan telah mendengar doaku, dan semua ini adalah kejutan yang terindah di akhir doa itu.


"Ya Allah Terima kasih banyak atas nikmatmu ini" Sujud syukur adalah cara untuk bersyukur atas nikmat Tuhan karena telah diberikan kesempatan.


"Ibu, keyla lolos bu" Teriakku sambil berpelukan dengan Tara.


Pemain yang lolos menangis haru begitu juga denganku, bohong bila aku tidak menangis setelah mengingat perjalanan panjang hingga akhirnya lolos ke dalam mimpiku.


Aku memeluk beberapa pemain yang pulang membawa kecewa. Sedikit aku memberikan pelukan kehangatan serta bisikan semangat karena masih ada tahun depan dan perjalanan mereka masih sangatlah panjang.


"Bu, anakmu lolos" Air mata kembali menetes saat aku terdiam sendiri menatap langit.


Semua perjalanan yang sangat berliku tidak akan berakhir di jalan buntu melainkan akan berakhir di satu titik tujuan kita. Intinya tetap berjalan di arah yang benar hingga sampai tujuan.


Malam 07.30


"Assalamu'alaikum bu"


"Waalaikumsalam"


"Buk, Key lolos dan masuk ke dalam timnas" Berita yang membawa haru sekaligus menyenangkan.


Saat aku melakukan vidio call dengan mereka, kedua ibuku, bapak dan saudaraku semua berteriak kemenangan atas keberhasilan aku yang masuk ke dalam timnas.


Memang kita akan berpisah sementara karena aku harus berlatih dan mengikuti TC (Pemusatan Latihan). Aku akan menahan rindu ini demi menjadi punggawa garuda.


"Kemarilah, cium ibumu ini walau dari jauh" Ucap bu Yanti, dia sangat sayang padaku dan rasanya antara ibu dan anak kandung.


Aku menciumnya walau dari kamera saja. sedangkan ibu kandungku hanya terdiam karena dia tidak pernah merasa begitu dekat denganku.


"Ibu, apakah ibu tidak ingin mencium anakmu juga? " Ucapku untuk menghilangkan kecanggungan antara kami.


Aku hanya ingin keluarga kembali utuh. Antara aku dan keluarga bu Yanti serta antara aku dan ibu kandungku sendiri. Bahkan juga menginginkan antara aku dan ayah.


"Iya nak, iya, ibu ingin menciummu walupun dari jauh sayang. Hiksss... Hiks... " Suasana gembira menjadi haru.


Ibu menangis atas kesalahan masa lalu yang dia ingat kembali. Padahal aku sudah melupakannya karena kehidupanku sudah kembali menjadi keluarga yang hangat walau belum sepenuhnya aku rasakan saat ini.


Tidak lupa berita ini aku beritakan pada kedua sahabatku yang konyol, kepada David dan juga kepada kak Dika.


Mereka semua bergembira mendengar kabar ini. Mereka janji akan datang bila aku mengadakan pertandingan resmi. Katanya ingin memberikan semangat untukku dan berteriak sekencang mungkin.


"Berarti kamu akan absen lama dalam sekolah key? " Tanya ari padaku.


"Iya karena harus melakukan TC dan beberapa latihan lainnya" Seketika Ari dan Yuri terdiam.


Kami melakukan vidio call dan rasanya sekarang sunyi saat aku bilang harus absen sekolah karena pemusatan latihan dalam mempersiapkan turnamen internasional.


"Kenapa? Apakah kalian tidak suka? " Tanyaku dengan lirih.


Tiba-tiba air mata Ari dan Yuri terjatuh. Mereka berkata bahwa sangat bahagia karena mendengar bahwa aku masuk dalam timnas. Dan di satu sisi mereka sedih karena harus berjauhan lagi.


"Tenang saja, aku akan selalu menghubungi kalian di waktu yang senggang" Bohong bila aku tidak sedih, namun aku hanya bisa menyembunyikan kesedihan saat sendiri.


Aku tidak ingin menangis di depan mereka, baik itu keluarga sahabat dan teman dekat. Aku hanya bisa mennagis jika hal itu sudah benar-benar memilukan.


"Apakah kamu akan melupakan kami? " Pertanyaan lucu dari Yuri.


"Bodoh, mana mungkin aku melupakan kalian. sedangkan tawaku, sedihku, gembira ku ada pada kalian berdua"


"Benarkah?" Tanya Yuri kembali.


Sekarang aku tidak meragukan lagi bahwa Yuri benar-benar lemot. Dan ternyata aku masih lebih baik daripada sahabatku satu ini. Dan selebihnya kita adalah duo lemot.


"Yuri ku tersayang, aku tidak akan lupa darimana aku berasal. Karena kalian berdua tempatku di saat kehidupan ini berada di bawah"


"Aaa, keyla aku ingin memelukmu" Dia menciun layar kamera beberapa kali. Memberikan kecupan dari bibirnya.


"Singkirkan ciumanmu, ludahmu menempel di layar ponsel" uacpku membuat mereka berdua tertawa.


Banyak yang akan aku rindukan selama bermain di timnas. Bukan hanya itu saja bahwa aku juga akan menangis dalam kesendirian jika rindu itu datang dan mengingatkanku.

__ADS_1



__ADS_2